logo       

Skenario Dwisula Kepemimpinan: msg#00955

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Skenario Dwisula Kepemimpinan


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/31/opini/1527362.htm
Senin, 31 Januari 2005

Skenario Dwisula Kepemimpinan
Oleh Darwis Darwis

SETELAH Soekarno-Hatta, bangsa ini lama tidak terbiasa dengan duet
kepemimpinan yang sama-sama karismatik, sejajar, dan saling mengisi. Semasa
Orde Baru, posisi wakil presiden tak lebih dari pelengkap dan urusan
seremonial. Ketika rezim Orde Baru tumbang, sedikit banyak ada perubahan
menjanjikan.
Duet Abdurrahman Wahid- Megawati dan Megawati-Hamzah Haz ramai
memproklamasikan diri bahwa posisi wakil presiden (wapres) amat strategis
sebagai mitra kerja. Tentu masyarakat merindukan masa- masa pemerintahan
Soekarno- Hatta dulu meski tak jelas apakah pembagian kerja dwitunggal
kepemimpinan RI saat itu cukup ideal dan efektif. Yang pasti, pasangan itu
akhirnya berpisah tahun 1956 mengingat Bung Hatta merasa tidak cocok lagi
dengan Bung Karno.

Belum tiba kita pada fase hadirnya dwitunggal baru yang dirindukan itu,
hari-hari ini masyarakat justru dipertontonkan kemungkinan terjadinya
kerenggangan hubungan, atau pada satu titik ekstremnya, persaingan antara
presiden dan wapres dalam menjalankan roda pemerintahan.

Banyak yang mempertanyakan, ada apa sebenarnya hubungan SBY-JK menyusul
berbagai kejadian, mulai dari yang sederhana seperti kehadiran mereka yang
hampir bersamaan saat KTT tsunami di Jakarta, Januari 2005, hingga kejadian
lebih serius seperti surat keputusan wakil presiden (Bakornas) 30 Desember
2004 dan surat sekretaris wapres 27 Desember 2004 yang muncul belakangan.
Situasi ini mulai menyeret rasa penasaran meski sebenarnya jauh-jauh hari
sudah banyak kekhawatiran potensi konflik hubungan antarkeduanya setelah JK
mengajukan diri (dan menang) dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar lalu.

PASANGAN SBY-JK memang unik. Pada awal pemilihan Presiden-Wapres RI 2004,
ketokohan dan posisi SBY dalam percaturan politik nasional tak bisa
dikatakan jauh lebih kuat daripada JK. Mereka sama-sama mantan menteri
koordinator pada pemerintahan Megawati.

Dalam urusan perpartaian, JK adalah politisi kawakan dan salah satu kandidat
konvensi calon presiden partai politik (parpol) pemenang pemilu legislatif,
sedangkan SBY diusung partai pendatang yang di luar dugaan berhasil mencapai
syarat minimal untuk mencalonkan presiden. Pertama kali pasangan ini secara
resmi menyatakan sebagai salah satu kandidat Presiden dan Wapres RI, muncul
banyak harapan keduanya akan menjadi dwitunggal baru.

SBY boleh saja tetap memiliki tingkat popularitas jauh lebih tinggi di mata
rakyat daripada JK, tetapi dalam elite perpolitikan saat ini JK jauh lebih
superior. JK adalah ketua umum parpol terbesar di DPR dan partainya
merupakan mesin politik terkuat, sedangkan SBY hanya didukung parpol satu
digit (one-digit) persen, dengan kebanyakan pendukungnya adalah konstituen
partai lain yang kecewa. Tidak ada yang berani memastikan angka ini akan
meningkat pada Pemilu 2009 kelak meski SBY berkuasa saat ini, jangan-jangan
malah turun mengingat pemerintahan sekarang jelas bukan pemerintahan Partai
Demokrat, tetapi pemerintahan SBY.

IHWAL Pemilu 2009, inilah pangkal soal kemungkinan persaingan SBY-JK.
Masalahnya, jangankan terbiasa mengutamakan kepentingan rakyat di atas
kelompok, setelah menduduki posisi pemerintahan, untuk mengembangkan etika
politik yang baik saja politisi kita kini belum memadai. Kita tidak berharap
mereka sudah sekelas Bung Hatta yang legowo mengundurkan diri, tetapi kita
juga tidak menginginkan permasalahan ini berlarut-larut dan berimbas pada
rakyat yang terlanjur menaruh harapan pada duet SBY-JK. Tetapi, sepertinya,
skenario yang akan tercipta dalam dwitunggal kepemimpinan ini ke depan akan
amat terbatas.

Skenario pertama tetap seperti saat ini, status quo, dengan kecenderungan
kian memburuk setiap saat hingga Pemilu 2009. DPR boleh saja menggunakan hak
bertanya. Media massa bisa jadi ramai menulis dan membuat analisis, tetapi
SBY-JK tak sulit untuk membantah bahwa tidak ada masalah di antara mereka.
Dan jika mereka sudah menyatakan tidak ada masalah serius, tidak banyak lagi
yang bisa dilakukan pihak-pihak itu sepanjang renggangnya hubungan ini tak
berakibat fatal, seperti melanggar konstitusi.

SBY berkepentingan memperlihatkan bahwa periode pemerintahannya berjalan
baik sesuai harapan. Dengan tercapainya janji-janji politik semasa kampanye
dulu, memenangi Pemilu 2009 akan jauh lebih mudah. JK juga berkepentingan
menunjukkan bahwa ia sudah melakukan banyak hal sebagai wapres, dan pesannya
pada rakyat menjadi sederhana: ia bisa melakukan banyak hal lagi jika ia
yang menjadi Presiden RI 2009-2014. Mereka masing-masing memiliki afiliasi
menteri dalam kabinet, juga dalam lembaga tinggi lain. Terlalu jauh
mengatakan akan terbentuk fraksi-fraksi dalam pemerintahan, tetapi
pengelompokan pendapat akan segera terlihat.

SBY bisa memaksakan semua komando tetap ada di tangannya sebagai presiden,
tetapi dengan kian kuatnya posisi JK, ia bisa jadi memutuskan jauh lebih
nyaman membiarkan situasi ini berjalan apa adanya sepanjang tidak secara
serius mengganggu kepemimpinannya, dan itulah yang mungkin terjadi saat JK
minta restu mengikuti pemilihan Ketua Umum Partai Golkar. Dalam skenario
ini, isu terbesar bagi keduanya adalah bagaimana mengelola persaingan secara
baik agar tidak terlalu tampak. Bukankah persaingan itu baik jika dilakukan
secara sehat?

SKENARIO kedua, ada itikad baik antarkeduanya untuk memperbincangkan ulang
posisi dan tanggung jawab masing-masing. Apalagi dengan adanya bencana
tsunami, beban kerja pemerintahan kini menjadi kian berat. Memang tak perlu
ada undang-undang yang secara rigid dan detail mengatur job desc presiden
dan wapres, tetapi pembagian wilayah kerja yang jelas harus ada. Bentuknya
seperti apa, bisa meneladani negara-negara yang telah maju dalam urusan ini.

Dulu rakyat berpikir, dwitunggal kepemimpinan ini akan saling melengkapi
sesuai kelebihan masing-masing, SBY menangani isu politik dan keamanan, JK
fokus soal ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Tetapi, saat itu tak ada yang
berpikir soal saling menutupi kelemahan masing-masing. Yang pasti, dalam
skenario ini, semua pihak diuntungkan.

Skenario ketiga dan terburuk, pasangan ini pecah di tengah jalan.
Kemungkinan pecahnya pasangan ini bisa karena JK mengundurkan diri (meski
sulit membayangkan JK legowo mengundurkan diri) atau karena keduanya diminta
berhenti dan kita melakukan pemilihan presiden lebih cepat.
Harus diakui, naif sekali berbicara soal kemungkinan ini di saat usia baru
genap 100 hari masa pemerintahan SBY-JK, tetapi potensi terjadinya tak bisa
dikesampingkan, dan jika itu sampai terjadi, kita akan belajar lagi soal
berdemokrasi dengan harga yang amat mahal.

Betul, pemerintahan kini cukup kuat, tetapi jangan lupa petuah lama, tak ada
yang abadi dalam politik. Sayang, skenario ini tidak bisa memastikan siapa
yang akan paling diuntungkan, SBY, JK, atau pihak lain. Yang pasti, pihak
yang paling dirugikan adalah rakyat.

Darwis Darwis Alumnus Ekonomi UI



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise