|
JURNAL KEMBANG KEMUNING: REVITALISASI PANTUN: msg#00944culture.region.indonesia.ppi-india
JURNAL KEMBANG KEMUNING: REVITALISASI PANTUN Prakarsa milis apresiasi-sastra-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx untuk melangsungkan perlombaan menulis pantun dalam rangka solidaritas dengan korban tsunami,dari segi sastra, saya kira merupakan inisiatif yang sangat baik. Pantun merupakan genre sastra yang sangat hidup di kalangan masyarakat dan ia merupakan salah satu alat pengungkap diri yang paling populer pada masa tertentu dan bahkan sampai sekarang. Pantun sebagai genre sastra, sangat berakar dalam masyarakat berbagai pulau nusantara, termasuk semanjung Malaya. Pantun bukan hanya terdapat dan hidup di kalangan etnik Melayu seperti yang sering diduga bahkan dipastikan oleh sementara pakar dan penulis dalam negeri. Hanya saja genre sastra ini di berbagai pulau disebut dengan nama-nama yang berbeda, tapi berhakekat sama. Misalnya "karungut", "deder" yang sangat hidup sampai sekarang ini di kalangan komunitas Dayak di Kalimantan Tengah [Kalteng]. Karungut dan deder adalah puisi yang dinyanyikan dengan berbagai iringan instrumen seperti kecapi atau katambung [sejenis gendang kecil] atau rebana untuk mengiringi mamanda di Kalimantan Selatan.Hanya saja seperti yang pernah saya kemukakan dalam pertemuan Ikatan Sastrawan Indonesia [ISASI] Kalteng, sekali pun karungut dan deder demikian hidup di kalangan masyarakat Dayak Kalteng, tapi terus terang, saya merasa genre sastra yang tadinya lisan sekarang bergeser menjadi sastra tulisan ini, tetap amat monoton dan gampang membosankan. Deder menjadi lebih memikat selain karena dialog antar orang-orang yang sedang berdeder, juga karena kita dihadapkan pada pertandingan ketangkasan bersastra. Bertolak dari kesan ini, paling tidak apa yang saya rasakan saban mendengar terutama karungut, timbul pertanyaan: Tidak bisakah karungut direvitalisasi? Yang saya maksudkan dengan revitalisasi adalah bagaimana menciptakan karungut tipe baru dengan menggunakan unsur-unsur khas karungut? Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan lama. Muncul ketika saya masih berada di Yogyakarta dan turut bersama-sama dengan teman-teman se Jawa Tengah melakukan penelitian tentang sastra-seni di daerah ini. Riset berawal dari pertanyaan bagaimana merevitalisasi bentuk-bentuk sastra-seni yang paling hidup dalam masyarakat Jawa Tengah agar lebih tanggap zaman. Dasar alasan pertanyaan adalah karena bentuk yang sudah ada sebenarnya sudah mencapai puncak. Sedangkan sesuatu yang sudah berada di puncak akan tidak lagi bisa berkembang lebih jauh, kecuali menurun atau statis. Revitalisasi tidak bermaksud menggangugugat hal yang sudah berada di puncak, tapi bagaimana dengan menggunakan unsur-unsur genre sastra yang sudah mencapai puncak itu menciptakan sesuatu yang baru atas dasar unsur-unsur puncak itu.Untuk mewujudkan tujuan ini maka Saptoprio mengaransir kroncong seperti kroncong Kemayoran, Jali-jali, Bandar Jakarta, Suwi Ora Jamu, Bengawan Solo, Tembok Besar [karya Gesang], dan lain-lain dalam bentuk paduan suara serta solis, sedangkan Jony Trisno, seniman yang serba bisa, menciptakan lagu-lagu seperti "Holopis Kuntul Baris", "Pabrik" dan lain-lain... Sayangnya percobaan-percobaan ini terputus oleh meletusnya Tragedi Nasional September 1965. Pantun, saya kira, adalah bentuk sastra lama yang sudah mencapai puncaknya. Masalah pantun pun barangkali sama dengan masalah yang dihadapi karungut, atau tembang Jawa dan bentuk-bentuk sastra-seni lainya yang sudah mencapai puncak. Karena itu agar pantun bisa lebih tanggap zaman, barangkali ia pun perlu direvitalisasi. Untuk bisa melakukan revitalisasi pertama-tama dari penulis, ditagih penguasaan tekhnik atas bentuk pantun itu sendiri terlebih dahulu. Dalam usaha meningkatkan taraf tekhnik kepenyairannya, waktu masih tinggal di Jalan Sukun [sekarang Jalan Mangunsarkoro] Yogyakarta, Rendra banyak sekali menulis sanjak-sanjak latihan dengan menggunakan berbagai bentuk sastra lama seperti gurindam, seloka, syair dan juga pantun. Penguasaan tekhnik atas bentuk-bentuk lama, merupakan syarat untuk merevitalisasi bentuk-bentuk sastra lama tersebut. Apabila mengamati sanjak-sanjak Agam Wispi, penyair asal Aceh, nampak ia pun sangat dekat dengan pantun. Sebagai orang asal Aceh agaknya tekhnik pantun sudah menyatu dengan diri Wispi. Sebagai contoh saya ambil baris-baris yang ditulisnya pada tahun 1957 ini: "kain ini kain sutra kalau mandi disesah jangan main ini main berdua kalau mati disesal jangan" Atau bait berikut: "kecitak kecitung jakarta-bandung terasa jauh, terasa jauh jika kau gubuk di kaki gunung singgahku tidak untuk berteduh" Baris lain lagi: "mengembarai bukit-bukit dab hutanrimbamu gemuruh nafasmu curahan airterjun seluruh cinta detik ini hanya deta-detak jantung kita berburu sudah tenggelam amsterdam, sudah lenyap jakarta [dari: "Pulang, 1996]. Warna pantun dan syair pun menandai sanjak Wispi ini: "kupancing kau masuk hutan, kekasih sayang dan kau ikuti aku seperti bayangan tinggal pantai hilang lautan bertimbun bangkai di kota rebutan pita merah dan matahari cinta berdarah sampai mati" [Dari: "Revolusi", 1957]. Sedangkan penyair anonim lain seangkatan Wispi menulis: "berdebur ombak berdebur berdebur di pasir basah hancur hatiku hancur karena petani tak bertanah" Wispi merevitalisasi pantun melalui pilihan kata, perbandingan-perbandingan baru dan tema olahannya sehingga sanjak-sanjaknya menjadi sejenis pantun yang tanggap zaman serta menggelitik jiwa dan pikiran. Pantun kekinian Wispi serta sanjak-sanjaknya yang dipengaruhi oleh pantun dan atau bentuk-bentuk sastra lama, telah membuat puisi Wispi menjadi hidup dan tidak boyak. Percobaan ini dilakukan dengan berhasil pula oleh Emha dalam karya dramanya "Si Nandang" yang kental dengan tanda-tanda pantun atau syair yang merdu. Revitalisasi pantun adalah revitalisasi khazanah budaya yang kita miliki, masalah berpijak pada akar budaya kita sendiri sehingga karya-karya mempunyai corak lokal, masalah penguasaan dan peningkatan tekhnik bersastra. Dari segi inilah saya menghargai perlombaan menulis pantun yang sekarang diselenggarakan oleh milis apresiasi-sastra-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx . Barangkali di sinilah letak inti permasalahan. Pelestarian merupakan taraf awal usaha kita mengenal apa-apa yang kita miliki, apa-apa yang secara tidak sadar merasuki jiwa kita. Sedangkan taraf berikutnya adalah revitalisasi. Paris, Januari 2005. ------------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Food for the brain: 00944, rahardjo mustadjab |
|---|---|
| Next by Date: | Re: PANTI PIJIT BULE DI ACEH: 00944, radityo djadjoeri |
| Previous by Thread: | Food for the braini: 00944, rahardjo mustadjab |
| Next by Thread: | Fearful report for IT services workers ?: 00944, rahardjo mustadjab |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |