logo       

PANTI PIJIT BULE DI ACEH: msg#00939

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: PANTI PIJIT BULE DI ACEH



Kasih Sayang, Relaksasi Mujarab bagi Korban Tsunami


DI samping pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, terdapat deretan tenda
yang tiap hari dipenuhi relawan maupun korban tsunami. Begitu ada orang yang
masuk ke tenda, dari kejauhan terlihat orang-orang bule berseragam kuning
mempersilakan tamunya telungkup di pembaringan.

SEPERTINYA bule- bule itu melakukan praktik "pijat" di bawah tenda tersebut.
Lalu, mengapa para bule itu jauh-jauh dari negerinya hanya bekerja jadi tukang
"pijat"?

Jangan salah, mereka bukan tukang pijat biasa. Mereka adalah relawan
International Scientology Assist Team. Para relawan yang didominasi dari
Australia itu berada di Aceh untuk membantu pemulihan trauma para korban
tsunami.

"Apakah Anda ingin diterapi," begitu sapa ramah seorang relawan kepada tiap
tamu yang masuk. Semua tamu yang benar-benar menginginkan terapi atau hanya
sekadar mencoba metode terapi ini bisa mencobanya, gratis tentu saja.

Harry William Crowford, relawan International Scientology Assist Team dari
Sydney, Australia, mengatakan, selain melakukan relaksasi metode assist bagi
korban bencana, International Scientology juga melatih para relawan agar
memiliki keterampilan melakukan terapi assist.

"Perwakilan dari korban juga bisa dilatih agar nanti bisa menerapi korban
lainnya ketika pulang," kata Crowford. Ia menegaskan, terapi assist memang
seperti memijat, tetapi sebenarnya bukan memijat, lebih tepat jika dikatakan
sebagai memberikan sentuhan.

Sentuhan-sentuhan itu diberikan pada sekeliling tubuh untuk mengangkat
elemen-elemen spiritual menuju kesembuhan. Terapi akan membantu memulihkan
trauma psikologi para korban bencana yang selamat, yang biasanya mereka merasa
putus asa dan mengalami disorientasi lingkungan.

Crowford mengatakan, para relawan juga telah memberikan pelatihan kepada
relawan lainnya yang ingin belajar. Mulai dari psikolog, mahasiswa, hingga juru
dakwah jemaah tablig.

Pria-pria berjubah dan berjanggut hampir tiap hari bisa ditemui di posko
tersebut. Setelah bisa melakukan relaksasi, mereka ikut membantu merelaksasi
pasien yang datang ke posko itu dan ketika pulang, mereka juga akan merelaksasi
para korban bencana lainnya di tempat berbeda.

Fenomena itu menarik perhatian para wartawan karena terbukti relawan lintas
agama, ras, dan negara bisa bersama- sama memberikan terapi untuk para korban
tsunami.

RIBUAN korban tsunami yang selamat kini membutuhkan terapi untuk memulihkan dan
menenangkan pikirannya. Di antara sistem terapi yang kini mudah diterapkan para
relawan adalah relaksasi sistem assist.

Menurut International Scientology di situs internetnya, www.scientology.org,
teknik assist dikembangkan L Ron Hubbard, pendiri scientology. Teknik assist
sebenarnya sederhana dan bisa dilakukan siapa pun untuk menghilangkan rasa
stres dan rasa sakit secara fisik, termasuk juga menyembuhkan perasaan bingung
dan kehilangan orientasi.

Dilaporkan, setelah para korban menjalani terapi, beberapa "keajaiban" terjadi.
Para korban merasa lebih fresh, seperti baterai yang selesai di- charge.
"Korban yang selesai diterapi akan kembali bisa tersenyum," kata Crowford.

Psikolog, yang juga Direktur Eksekutif Yayasan Psikodista, Nur Janah Nitura
mengatakan, lembaganya kini juga memberikan pelayanan penyembuhan trauma dengan
menggabungkan teknik assist untuk relaksasi. "Kami belajar teknik ini dari
International Scientology juga," katanya.

Psikodista sudah berdiri sejak tahun 1988 yang bergerak dalam mendampingi usaha
kecil serta rehabilitasi psikologis korban konflik. Pascatsunami, Psikodista
ikut membuka trauma center dan memberikan pelayanan gratis kepada para korban.

Psikodista melakukan "jemput bola" dengan mendatangi lokasi pengungsian dan
penampungan anak-anak untuk diterapi. Psikodista tidak hanya melakukan
relaksasi, tetapi juga melakukan layanan konseling, konsultasi, dan menjadi
kawan curhat bagi para korban tsunami yang selamat.

Menurut Nur, dari beberapa pengalaman memberikan terapi, lembaganya kini
memiliki metode yang dirasa tepat untuk menyembuhkan trauma korban tsunami.
"Salah satu metode itu memasukkan relaksasi model assist untuk mereka, dan
ternyata berhasil," katanya.

Seperti halnya International Scientology, Psikodista juga melatih relawan
lainnya yang ingin mendampingi para pengungsi korban tsunami. "Kami akan
berbagi pengalaman kepada relawan agar mereka memiliki keterampilan mendampingi
pengungsi sekaligus bisa memberikan konseling untuk memulihkan trauma para
korban," kata Nur.

Tidak hanya International Scientology dan Psikodista yang kini sedang menggelar
trauma center. Belasan hingga puluhan lembaga dan bahkan relawan secara
personal kini menyumbangkan keahliannya untuk memberikan perhatian dan kasih
sayangnya kepada para korban tsunami yang selamat.

SEBENARNYA, apa sih yang membuat metode assist yang sederhana itu menarik
perhatian? Apakah karena menawarkan "pijat" gratis? Kompas sempat merasakan
terapi yang dilakukan salah satu didikan relawan International Scientologi, M
Ikhsan Tualeka.

Ikhsan, yang mengaku Ketua Front Aksi Mahasiswa Jawa Timur, adalah relawan di
Banda Aceh yang bekerja untuk mengajar dan mendampingi anak- anak. Setelah
dilatih selama satu hari, dia memiliki keahlian merelaksasi pasien.

Teknik "memijat" yang diperagakan Ikhsan memang sederhana, tetapi mampu
memberikan kesan berbeda pascaterapi. Begitu datang, pasien disuruh telungkup.

"Pejamkan mata, Bang, tenangkan pikiran, rileks saja," kata Ikhsan memulai
merelaksasi. Jari-jari Ikhsan ternyata tidak memijat. Dia hanya memberikan
sentuhan, meletakkan tangannya di punggung begitu saja dan srett., dia kemudian
menariknya dengan halus ke arah kaki.

Begitu juga yang dia lakukan terhadap tangan. Tiga kali Ikhsan menyuruh
telungkup dan kemudian telentang. Tiga kali juga Ikhsan merelaksasi
bagian-bagian tubuh, seperti punggung, pinggang, kaki, dan tangan.

"Hasil dari terapi ini bergantung pada konsentrasi untuk menenangkan pikiran
dan sugesti pasien," kata Ikhsan. Serupa dengan prinsip tersebut, Indonesia
sebenarnya memiliki teknik assist versi lain yang bisa digunakan untuk terapi.

Secara tradisi, Indonesia telah mengenal pijat atau urut atau pengobatan
alternatif lainnya yang bisa digunakan sebagai sarana memberi perhatian dan
kasih sayang kepada korban bencana. Masalahnya, modal itu tak diberdayakan
sebagai sistem terapi psikologis.

Di balik berbagai teknik relaksasi, sebenarnya obat paling mujarab untuk terapi
itu bernama "perhatian dan kasih sayang". Indonesia sering mengabaikan jenis
"obat" ini. Namun, bagaimana jika Indonesia mengaku telah memberikan "obat"
itu, tetapi ternyata gagal juga? Tidak ada jalan lain kecuali lipat gandakan
dosisnya. (Amir Sodikin)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/30/Geliat/1512234.htm


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise