logo       

Belajar dari Kasus Farid Faqih: msg#00924

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Belajar dari Kasus Farid Faqih


http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/29/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Tajuk Rencana

Belajar dari Kasus Farid Faqih
ANGGROE Aceh Darussalam (NAD) pascagempa harus disadari masih menjadi perhatian
masyarakat. Sorotan terhadap NAD tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga
dunia internasional. Sudah barang tentu yang disoroti, hingga kini, adalah
upaya penanganan bantuan kemanusiaan dan langkah-langkah rehabilitasi wilayah
yang porak-poranda dilanda bencana. Adalah wajar publik menyoroti dua hal
tersebut. Sebab, masyarakat yang secara spontan segera memberikan bantuan ke
NAD ingin sumbangan itu benar-benar sampai ke tangan saudara-saudara kita di
sana. Bantuan tersebut dikumpulkan melalui relawan-relawan, yang juga secara
spontan bahu-membahu menghimpun dan mengemasnya sebelum dikirim.

Namun sangat disayangkan, dalam perjalanannya, lagi-lagi terjadi benturan.
Kendati sejak awal sudah diwanti-wanti agar benturan tak terjadi, tetap saja
hal yang tidak diinginkan itu terjadi. Farid Faqih, Koordinator Government
Watch (Gowa), yang juga terjun menjadi relawan di NAD, dibawa ke Polres Banda
Aceh dengan tuduhan mencuri bantuan. Bahkan polisi sudah menetapkannya sebagai
tersangka. Yang lebih mengejutkan lagi, wajah aktivis itu babak belur ketika
dibawa ke Mapolres. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun kaget dibuatnya.

Mengapa aksi kekerasan harus terjadi di tengah sorotan publik ke NAD masih
begitu kuat. Kalau pun Farid dituduh mencuri, apakah harus didahului pemukulan
sebelum diproses secara hukum? Sepertinya, kita sering kali mudah lupa bahwa
perhatian ke NAD masih begitu besar.

SEBUAH kenyataan, sebelum Provinsi NAD dilanda gempa tektonik dan gelombang
tsunami, status darurat sipil masih berlaku di sana. Selain itu, perseteruan
antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah belum reda. Manakala bantuan
mulai dialirkan ke NAD, tak berapa lama bencana alam melanda, sempat terhambat
masalah transportasi. Ketika kendala tersebut sudah bisa diatasi, persoalan
dengan GAM muncul.

Belum tuntas menangani bantuan kemanusiaan, ketegangan mulai muncul. Hal
tersebut sudah barang tentu menyulitkan penyaluran bantuan. Apalagi sejumlah
lokasi, yang juga dilanda gempa, diklaim sebagai kantong-kantong GAM. Sehingga
untuk memasuki kawasan tersebut menjadi tidak mudah.

Sejak awal berbagai kalangan sudah mengingatkan agar ketegangan tersebut tidak
sampai menjadi kendala bagi lembaga sosial dan relawan untuk menjalankan misi
kemanusiaan pascagempa. Sebab, selama ego untuk saling menguasai kembali
dominan, keinginan bersama untuk merehabilitasi Aceh tidak akan pernah terwujud.

Dan ego itulah yang patut diduga menjadi pemicu dalam kasus Farid Faqih. Kasus
itu, sekali lagi, harus dijadikan bahan pelajaran berharga agar ke depan hal
serupa tidak terulang.

BERBAGAI pendapat atau pemikiran sudah disampaikan, tujuannya supaya
saudara-saudara kita di NAD tidak terlalu lama menderita. Selain meredam ego
untuk kembali saling menguasai, berkait ketegangan antara GAM dan pemerintah,
penyaluran bantuan sebaiknya tidak perlu berlama-lama tertimbun di satu lokasi.
Apalagi untuk menyalurkannya harus pula melalui birokrasi yang berbelit-belit.

Karena begitu besar bantuan yang disalurkan, pengawasannya harus terbuka. Siapa
saja bisa ikut mengawasi sambil membangun saling percaya di antara relawan,
baik yang berasal dari instansi pemerintah, militer, polisi, maupun dari
spontanitas masyarakat. Sebab sejak awal sudah diingatkan pula agar sumbangan
dari masyarakat tidak digerogoti, dikurangi, disunat, apalagi mengarah pada
korupsi.

Pada intinya, koordinasi dalam penanganan bencana diharapkan semakin
sistematis, tidak tumpang-tindih yang bisa memicu saling curiga. Memang ke
depan dibutuhkan undang-undang tentang bencana mengingat sejumlah daerah rawan
gempa.

Berkait dengan kasus Farid Faqih, penyelesaiannya pun jangan sampai berat
sebelah. Tuduhan pencurian kepadanya harus dibuktikan melalui proses hukum
secara jujur. Namun para pelaku yang membuatnya babak belur pun harus dimintai
pertanggungjawaban. Bila memang terjadi kesengajaan, yang berbuat harus pula
dijatuhi sanksi.


Last modified: 29/1/05

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise