logo       

JURNAL KEMBANG KEMUNING:WOLAK-WALIKE ZAMAN: msg#00918

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: JURNAL KEMBANG KEMUNING:WOLAK-WALIKE ZAMAN


JURNAL KEMBANG KEMUNING:

WOLAK-WALIKE ZAMAN


Di zaman Perang Dingin dengan protagonis dua kubu: kubu imperialis yang
otoproklamasi menyebut diri sebagai kubu dunia bebas, dan kubu sosialis,
Bangkok menjadi markas besar SEATO. Pemerintah Bangkok pada masa-masa itu
dikuasai oleh diktatur militer yang sangat anti komunis, sikap yang dikokohkan
dengan UU Anti Komunis. Penindasan terhadap golongan kiri di dalam negeri
merajalela. Penindasan ini kemudian menyulut pemberontakan mahasiswa dari
berbagai universitas di seluruh negeri berkordinasi dengan dengan gerakan
buruh, tani, pedagang dan perjuangan bersenjata yang berlangsung di bawah
pimpinan Partai Komunis Muangthai di provinsi Timur Laut . Pemerintahan anti
komunisThanom Kitikachorn ditumbangkan sekali pun harus dibayar dengan darah
oleh para mahasiswa dan lapisan-lapisan masyarakat lainnya yang dimasakre oleh
tentara. Pemberontakan massa ini kemudian membawa Muangthai memasuki pe
riode baru dalam sejarah perkembangannya.


Kasus di atas tentu saja adalah sebuah contoh besar. Sebuah contoh kecil tapi
mengandung hakekat sama yaitu sikap pemerintah Orde Baru [Orba] Indonesia
terhadap Koperasi Restoran Indonesia di Paris di mana juga tercatat sejarah
Indonesia j,ika meminjam ungkapan sastrawan Goenawan Mohamad yang khusus
berkunjung ketika berada di Paris untuk menemui teman-temannya yang bekerja di
situ. Sejak berdirinya 25 tahun lalu, Koperasi Restoran Indonesia Paris, sangat
ditekan dan dipandang sebagai musuh oleh Orba. Semasa Kolonel Politon menjadi
Atase Pertahanan di KBRI Perancis, ancaman-ancaman fisik seperti ancaman dengan
melakukan praktek Petrus [penembakan misterius], penculikan dan pemboikotan
dilakukan selama bertahun-tahun kehidupan Orba. Praktek begini bukanlah tidak
mungkin dan sering terjadi di Perancis yang menyebut diri sebagai negeri Hak
Asasi Manusia. Terjadi misalnya terhadap Septem
ber, perwakilan ANC [African National Congress] dari Afrika Selatan yang
ditembak mati di dalam lift ketika akan pulang ke apartemennya. Terjadi
terhadap oposan Raja Hassan II dari Maroko, terjadi terhadap oposan Pinochet
dari Chili [Cile]. Dalam melakukan tekanan dan ancaman ini, malangnya, ada
sementara wartawan yang bergabung dengan pihak penekan dan penindas terutama
sekedar untuk mendapatkan tempat nyaman bagi diri sendiri. Ini pun sesungguhnya
suatu nilai. Nilai yang dijunjung sekalipun untuk mendapatkan tempat itu ia
tidak segan berdiri di atas bangkai orang sebangsa dan setanahair. Apa yang
dikatakan oleh wartawan ini masih tercatat di koran-koran Indonesia di Jakarta
seperti Sinar Harapan. Perobahan bertolakbelakang terjadi ketika Gus Dur
menjadi Presiden Republik Indonesia [RI] dan Adian Silalahi menjadi dutabesar
di KBRI Perancis dan kemudian dilanjutkan oleh Kuasa Usah
a Lucia Rustam. Sejak itu, hubungan antara KBRI Paris dan Koperasi Restoran
Indonesia menjadi akrab. Kerjasama pun tergalang. Koperasi Restoran Indonesia
dipandang oleh KBRI Paris sebagai salah satu komunitas Indonesia yang
diperhitungkan di Paris dan selalu diajak serta dalam berbagai kegiatan untuk
kepentingan Indonesia.


Melihat sejarah hubungan antara KBRI Paris dan Koperasi Restoran Indonesia,
saya sedang menyaksikan "wolak-walike zaman". Dua puluh lima tahun yang lalu,
keadaan begini terbayang pun tidak, sekali pun saya tahu benar, tidak semua
orang Kedutaan setuju dengan Orba. Tapi mereka diam dan tiarap -- hukum keadaan
yang wajar ketika kekuatan sipil lemah. Diam dan tiarap menunggu peluang
bangkit adalah suatu sikap. Bicaranya orang-orang yang diam, bangunnya
orang-orang yang tiarap dan perobahan drastis dalam hubungan antara KBRI Paris
dan Koperasi Restoran Indonesia Paris adalah ujud dari wolak-walike zaman.


Wolak-walike zaman atau hukum bathara kala adalah kesimpulan masyarakat Jawa,
khususnya Jawa Tengah, atas pengalaman mereka yang oleh Hegel dan Karl Marx
disebut sebagai perkembangan dialektis . Tentu saja "wolak-walike zaman" memang
kurang ngintelek dibandingkan dengan istilah hukum dialektika atau hukum gerak
sehingga tidak sedikit orang bersekolah lebih menyukai penggunaan kata
dialektika sebagaimana kesukaan berbicara dengan bahasa serta kosakata yang
sulit dipahami umum. Kesukaan yang jika diusut-usut, mencerminkan keterasingan
diri akan budaya diri sendiri, keangkuhan mentalitas cendekiawan yang suka
menggagahi dan menggertak orang dengan perkiraan dirinya berilmu tapi secara
mental dan pola pikir menyiratkan rasa rendah diri --awal dari kemungkinan
menempuh jalan membelakangi kepentingan negeri dan bangsa. Dari wolak-walike
zaman, yang dengan kata lain menunjukkan bahwa s
egalanya berkembang [entah itu berkembang maju atau mundur], saya juga melihat
adanya masalah saling hubungan antar unsur-unsur yang membentuk suatu
hal-ikhwal. Dalam saling hubungan antar unsur-unsur yang membentuk hal-ikhwal
itu, maka pilihan politik sebuah pemerintah sebenarnya tidak lain dari
merupakan kendaraan pengangkut reaksi dari kalangan yang diperintah. Hal ini
pun sudah disimpulkan oleh tetua kita dalam kata-kata: "menepuk air di dulang
memercik ke muka sendiri", "tangan mencincang bahu memikul", dan secara puitis
oleh rakyat Tiongkok dirumuskan dalam kata-kata: "Yang menabur angin akan
menuai badai". Dari sini saya melihat bahwa tidak sedikit kesimpulan para
sosiolog kekinian atau mutakhir dari negeri mana pun, sebenarnya bukan sesuatu
penemuan atau kesimpulan baru seperti metode partisapasi, turun ke bawah,
sebenarnya sudah dipraktekkan sejak zaman Yesus dan murid-mu
ridnya [kader] menyebarkan idenya. Yang baru hanyalah perumusannya berdasarkan
sederetan bibliografi sedangkan bibliografi kearifan lokal yang lisan tertuang
di pepatah-petitih, tidak dijadikan dasar hitungan dan indahan. Yang ingin
saya katakan dengan kalimat-kalimat ini sebenarnya adalah keinginan untuk
memperlihatkan bahwa masyarakat kita di berbagai pulau mengandung banyak
kearifan. Barangkali kita saja yang meremehkan kekayaan ini sehingga tidak
jarang kita berbicara seperti bergumam sendiri karena bahasa yang kita gunakan
tidak dimengerti oleh orang lain dan kita bangga akan keadaan demikian. Mengapa
kekayaan budaya dan pikiran ini tidak kita acuhkan? Dengan kebanggaan demikian
kita tidak jarang seperti "orang bermain kecapi di depan lembu". "Kita lebih
suka dan lebih bangga bicara tentang Yunani Kuno dari Tiongkok ", ujar Mao
Zedong. Tidakkah kita lebih suka bicara tentang A
merika Serikat daripada Indonesia? Tidakkah sekarang kita sangat didominasi
oleh orientasi Amerika? Masalah orientasi ini pada zamannya sangat menjadi
perhitungan Mahatir dari Malaysia dalam usahanya mengangkat taraf Malaysia.
Sejalan dengan pikiran Mao ini adalah pertanyaan Sun Tzu, strateg Tiongkok Kuno
yang tetap relevan: "Siapakah dirimu?" Sekarang: apa-siapa Indonesia?


Wolak-walike zaman adalah salah satu contoh dari kayanya khazanah budaya dan
pemikiran serta kesimpulan orang kampung sederhana atas pengalaman sejarah
mereka berabad-abad. "Kampungan", "ndeso" dan ungkapan-ungkapan sejenis
lainnya lebih menunjuk kepada penindasan spiritual kepada mayoritas penduduk,
bahwa bahasa dan kebudayaan tidak lain di mana berbagai konsep berlaga.
Dengan mengutip Marx, Presiden Soekarno mengatakan bahwa kebudayaan suatu zaman
adalah kebudayaan kelas-kelas yang berkuasa. Kebudayaan apakah yang sekarang
berdominasi di Indonesia? Apa bagaimana kebudayaan Indonesia yang kita
harapkan?! Halim HD dan kawan-kawannya menjawab pertanyaan ini dengan
sastra-seni dan kebudayaan kepulauan. Lepas dari kita setuju atau tidak akan
gagasan ini, tapi pandangan ini merupakan suatu jawaban tawaran. Praktek
mewujudkannya akan mengisi ruang-ruang kosong. Praktek adalah guru ya
ng bijak bagi yang mau belajar.


Paris, Januari 2005.
---------------------------
JJ.KUSNI





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise