logo       

Investor Khawatir Proyek Infrastruktur Dikorupsi: msg#00224

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Investor Khawatir Proyek Infrastruktur Dikorupsi


http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/18/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Investor Khawatir Proyek Infrastruktur Dikorupsi
JAKARTA - Sejumlah peserta yang mengikuti Infrastructure Summit masih
mengkhawatirkan korupsi dan lemahnya transparansi pemerintah dalam mengelola
berbagai proyek infrastruktur dan berbagai bantuan asing untuk membangun
kembali Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang hancur akibat gempa dan
tsunami.

Pada sesi tanya jawab pertemuan tersebut yang menghadirkan pembicara Menteri
Koordinator bidang Perekonomian Aburizal Bakrie dan Menteri Negara PPN/Ketua
Bappenas Sri Mulyani Indrawati, muncul pertanyaan dari peserta yang meresahkan
praktik korupsi di Indonesia. Demikian pula pada konferensi pers, empat pelaku
bisnis asing menekankan aspek transparansi sebagai kunci sukses dalam
pembangunan infrastruktur Indonesia.

Menanggapi hal itu, Aburizal secara terbuka mengakui bahwa di Indonesia memang
banyak terjadi korupsi, tetapi pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono telah bertekad untuk memerangi korupsi. Korupsi tidak
mungkin dituntaskan dalam satu atau dua tahun, tetapi setidaknya pemerintah
akan menekannya seminimal mungkin.

''Kami tidak menutup-nutupi dan lebih baik terbuka saja. Yang penting adalah
kami mampu menekan korupsi serendah mungkin. Kami optimistis, korupsi di
Indonesia dapat ditekan karena pemerintah telah dan akan menciptakan
transparansi pengelolaan keuangan negara. Dengan sistem yang transparan itu
diharapkan dapat mengurangi tingkat korupsi di Indonesia," katanya.

Aburizal menjamin dana kemanusiaan untuk korban tsunami NAD dan Sumatra Utara
(Sumut) akan dikelola dengan transparan dan bebas dari unsur korupsi. Untuk
itu, dana asing yang masuk melalui pemerintah akan diperlakukan sebagai dana
bujeter. Sementara dana sumbangan dari pihak swasta yang pemerintahnya melarang
disalurkan melalui pemerintah akan dikategorikan dalam of budget. ''Kita akan
ciptakan sistem setransparan mungkin sehingga dana bantuan itu sulit
dikorupsi,'' katanya.

Sementara itu, Sri Mulyani mengatakan, pihaknya hingga kini belum dapat
memastikan tingkat kerugian akibat gempa dan tsunami di NAD dan Sumut.
''Menteri terkait masih terus menyampaikan laporan dan datanya terus di up
date,'' katanya.

Menyangkut penanganan soal NAD, Sri Mulyani mengemukakan, prioritas utama
pemerintah sekarang adalah membangun shelter untuk korban tsunami yang tersebar
di berbagai lokasi pengungsian. Bila dibangun rumah permanen, biayanya
diperkirakan mencapai Rp 3 triliun.

Untuk kebijakan jangka menengah dan panjang, pemerintah akan berkoordinasi
dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. ''Seperti untuk lokasi
pembangunan rumah akan kita konsultasikan dengan masyarakat NAD,'' katanya.
(L-7)


Last modified: 18/1/05

++++
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/18/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Utang Baru RI Lampaui Batas Nilai Ekonomi

Paris Club Pahami Sensitivitas Publik Indonesia

Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno

MORATORIUM - Menteri Keuangan Jusuf Anwar (kanan) didampingi Wakil Presiden
Bank Dunia Jemal-ud-din Kassum memberikan keterangan pers seputar rencana
moratorium utang beberapa negara pada acara "Indonesia Infrastructure Summit"
di Jakarta, Senin (17/1).





JAKARTA - Pernyataan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Menneg
PPN) sekaligus Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati untuk meminta pinjaman
dari Consultative Group on Indonesia (CGI) direspons negatif. Pengajuan utang
baru senilai US$ 2,8 miliar tersebut dianggap sudah melampaui batas nilai
ekonomi.

Hal itu terlontar dalam Diskusi Publik dan Pernyataan Sikap Bersama dengan tema
''Indonesia Tanpa CGI'' di Kantor Pusat PB Nahdlatul Ulama (NU), Senin (17/1).
Diskusi menghadirkan pembicara Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) Kusfiardi,
Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy, Guru Besar FEUI/Penasihat Ketua
Bappenas Sri-Edi Swasono, Ketua Lembaga Studi Kapasitas Nasional (LSKN) Hartojo
Wignjowojoto, dan ekonom Revrisond Baswir.

Menurut Ichsanuddin, jumlah utang luar negeri Indonesia sudah melampaui batas
nilai ekonomi. ''Jangan dulu bicara RUU manajemen perutangan, tapi lakukan dulu
pengurangan utang,'' ujarnya.

Dikatakan, penggunaan utang luar negeri masih belum dapat dipertanggungjawabkan
dengan baik. Dalam rencana pembangunan infrastruktur, alokasinya masih belum
jelas. Dikhawatirkan, sebagian besar proyek pembangunan infrastruktur lebih
banyak memprioritaskan jalan tol daripada jalan umum.

Sementara itu, ekonom Revrisond Baswir mengatakan, niat sesungguhnya pemerintah
untuk mengajukan utang baru harus diketahui. Selama ini, alasan pemerintah
hanya mengada-ada. Patut dicurigai, kaitan utang dengan proyek, dominasi asing
dan masuknya investasi asing.

Hal serupa juga dikatakan oleh Hartojo. Dia mengatakan, utang luar negeri
Indonesia akan semakin menjerat bangsa ke dalam perbudakan baru. Utang luar
negeri telah menjelma menjadi perangkap perbudakan. Karena itu, menurutnya, CGI
harus ditolak.


Moratorium Utang

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda mengungkapkan,
sampai saat ini belum ada kepastian berapa nilai moratorium (penundaan
pembayaran utang) yang akan diberikan oleh Paris Club kepada Indonesia. Hal itu
masih menunggu hasil dari perkiraan besaran dana (assessment) oleh Bank Dunia
dan Dana Moneter Internasional (IMF), mengenai berapa kebutuhan dana untuk
merekonstruksi dampak bencana tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan
Sumatera Utara.

Selain menunggu hasil assessment yang dilakukan oleh Bank Dunia dan IMF itu
selesai, Paris Club juga akan menghitung berapa besaran hibah dan pinjaman yang
telah diperoleh Indonesia. Dari perhitungan itu baru dapat diketahui berapa
plafon moratorium utang.

Menurut Menlu, terlampau spekulatif bila mengatakan Indonesia kehilangan
kesempatan US$ 3 miliar dari Paris Club. Karena sampai saat ini pun plafon dari
moratorium itu belum disepakati oleh Paris Club.

Berkaitan dengan hal itu, sambungnya, pemerintah akan berhati-hati karena bisa
jadi akan menurunkan rating utang luar negeri Indonesia. ''Mereka memahami
sensitivitas publik kita dengan kekhawatiran masuknya program IMF,'' ujar Menlu.

Keputusan yang diambil Paris Club pada 12 Januari 2005 lalu, merupakan
keputusan sementara, karena pihak Paris Club masih menunggu assessment dari IMF
dan Bank Dunia yang diperkirakan dapat selesai pada 1 hingga 3 bulan. Hingga
saat itu, Paris Club tidak mengharapkan pembayaran cicilan dari Indonesia.

Indonesia memiliki beban biaya pembayaran pokok dan bunga utang untuk 2005
sebesar US$ 7,2 miliar, di antaranya US$ 4,6 miliar merupakan cicilan
pembayaran utang ke Paris Club. (U-5/L-10)


Last modified: 18/1/05

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/







<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise