|
Dialog pada Masyarakat Majemuk: msg#00065culture.region.indonesia.ppi-india
Lampung Post Sabtu, 15 Januari 2005 OPINI Dialog pada Masyarakat Majemuk * A. Fauzie Nurdin, Kandidat Doktor Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dosen Pascasarjana IAIN Raden Intan Pemerintah bersama masyarakat sepakat menggunakan istilah kerukunan dengan konsep kerukunan hidup beragama yang mencakup kerukunan intern umat beragama (kondisi rukun dalam satu agama); kerukunan antarumat beragama (kondisi rukun antarumat yang berbeda-beda agama); dan kerukunan antara (pemuka) umat beragama dan pemerintah (kondisi rukun dalam hubungan antarkelembagaan, lembaga majelis-majelis agama dan pemerintah; presiden, menteri, gubernur, bupati, atau pejabat-pejabat lain. Sudah banyak kebijakan pemerintah mengatur pembinaan kerukunan hidup umat beragama; baik mengenai kebijaksanaan penyiaran agama, pendirian dan penggunaan rumah ibadah, upacara hari besar keagamaan, hubungan antaragama dalam bidang pendidikan, perkawinan, penguburan jenazah, dan wadah musyawarah antarumat beragama. Bahkan, Departemen Agama telah merumuskan kebijaksanaan dalam pembinaan kerukunan hidup umat beragama, di antaranya melalui pemantapan kerukunan umat beragama, langkah-langkah strategis, dan strategi pembinaan kerukunan umat beragama. Dialog intern umat beragama merupakan bagian tidak terpisahkan dari trikerukunan kehidupan umat beragama, yang pada dasarnya merupakan upaya mempertemukan hati dan pikiran dikalangan sesama penganut agama, baik sesama umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara kasatmata pemimpin agama berperan penting merancang dan melaksanakan dialog intern umat beragama, antarumat beragama, dan antara umat beragama dan pemerintah. Baik dari kalangan pemuka agama Islam; ulama, cendekiawan muslim, mubalig, dai, dan kiai maupun pemimpin kelompok keagamaan dari kalangan penganut dan pemimpin agama Kristen/Katolik, Hindu, maupun Buddha. Realitas menunjukkan dalam kehidupan umat beragama terdapat beragam kelompok dan komunitas keagamaan, baik dilihat dari aspek suku, budaya, pendidikan, pengalaman, maupun orientasi keagamaan. Untuk itu diperlukan dialog dan bahkan kini menjadi kebutuhan dalam upaya memahami, mengidentifikasi, dan menyosialisasikan kebijakan, konsep, dan langkah-langkah kerukunan umat beragama dalam upaya mendukung keberhasilan pembangunan pada era otonomi daerah. Sebab, dialog dapat difungsikan sebagai wahana komunikasi antarorang-orang yang percaya pada tingkat yang relatif sama. Dialog juga dapat dijadikan jalan bersama untuk menjelaskan kebenaran atas dasar kejujuran dan kerja sama dalam kegiatan sosial untuk kepentingan bersama membangun masyarakat madani. Masyarakat madani kini sedang menjadi perbincangan aktual, yang secara konseptual dapat dirumuskan pembebasan manusia dari perangkap struktur kekuasaan yang terlembaga melalui birokratisasi. Istilah madani menunjuk pada tata sosial yang bersumber pada nilai-nilai keagamaan dan menjadi paralel dengan ide mengenai gerakan Islamisasi birokrasi. Kata madani lebih tepat dilihat dari aspek makna yang berarti keberperadaban yang bebas strukturalisme dan birokratisme. Dalam konteks ini berarti, pemahaman religiusitas seharusnya merupakan wacana sosiologis untuk menempatkan doktrin keagamaan sebagai alasan pemuliaan kemanusiaan. Atas dasar itu, kualitas keimanan menjadi mutlak bersentuhan dengan hak asasi manusia, keadilan politik dan ekonomi serta kebebasan kreatif dan demokrasi sebagai nilai-nilai universal kemanusiaan. Tegasnya, pemberdayaan kelembagaan Islam merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya membangun harmoni sosial atas dasar kualitas keimanan merupakan prasyarat kerukunan hidup umat beragama dan relevan dengan upaya menuju masyarakat madani. Jika fenomena perilaku sosial dalam masyarakat masih menunjukkan pertentangan, kerusuhan, dan konflik sosial, serta hegemoni yang berarti penguasaan atau dominasi terhadap pihak lain terdapat di berbagai bidang kehidupan, jelas masyarakat madani yang menjadi cita-cita dan harapan itu belum dapat terwujud. Misalnya, ketika pemerintahan Soeharto melakukan hegemoni penafsiran atas Pancasila, di mana BP7 difungsikan sebagai lembaga indoktrinasi Pancasila versi pemerintah, tentu berdampak terhadap bidang pembangunan lainnya. Termasuk juga pembangunan agama yang terkesan lebih didominasi penguasa negara atau pemerintah yang mengatasnamakan kedaulatan rakyat. Dalam praktek pemerintahan, kebijakan pemerintah dilakukan penguasa tanpa mendengarkan dan menyertakan aspirasi rakyat. Bahkan, kekuasaan negara hampir sempurna masuk dan mengambil wilayah publik. Dampaknya, sosial kontrol sulit dilakukan; sehingga korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela. Dari aspek perencanaan pembangunan terindikasi lebih bersifat dari atas (top-down). Sedangkan dalam perkembangan politik pembangunan di era reformasi terdapat perubahan kebijakan pembangunan agama yang mengutamakan aspirasi dan kebutuhan konkret masyarakat lapisan bawah di daerah, meskipun kenyataanya masih diperlukan pemonitoran dan evaluasi. Fenomena itu menunjukkan kesadaran dan pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari saling terkait berbagai aspek kehidupan lainnya, baik aspek ideologi, ekonomi, konflik sosial, politik, pendidikan, kesehatan, maupun keamanan; dan bahkan beberapa tahun mendatang ini cenderung penuh dengan ketidak pastian dan tantangan berat. Banyak peristiwa konflik sosial yang saling terkait dengan politik, ekonomi, dan budaya. Sehingga memerlukan paradigma baru untuk penyelesaian konflik dan penguatan ketahanan masyarakat lokal dan sekaligus menuntut adanya kemampuan retensi, adaptasi dan kebijakan operasional yang tinggi baik dari kalangan umat beragama maupun aparat pengelola pembangunan agama di daerah, sehingga dialog kerukunan umat beragama makin penting diposisikan sebagai subsistem dalam kerangka pembangunan daerah. Misalnya, pemberdayaan kelembagaan Islam untuk meningkatkan kualitas kerukunan kehidupan umat beragama perlu diprogramkan terencana dan berkelanjutan, yang diawali pendataan potensi konflik keagamaan, pelatihan penyuluh agama untuk penanganan daerah berpotensi konflik, dan sosialisasi manajemen kelembagaan agama yang difokuskan kepada memperkenalkan konsep dan kedudukan kerukunan umat beragama dalam kerangka persatuan dan kesatuan bangsa di berbagai daerah kabupaten maupun kota. Kemampuan masyarakat dalam memberdayakan organisasi dan kelembagaan Islam masih banyak dipengaruhi budaya tradisional, terutama di kalangan masyarakat petani, nelayan, dan berbagai komunitas lapisan bawah, di mana hal itu menunjukkan kondisi yang relatif masih rendah. Dampaknya, ketika terjadi perubahan sosial, ekonomi, politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat dan makin canggih, mereka mengalami shock budaya dan guncangan hebat, di mana nilai-nilai dan norma lama sudah ditinggalkan, sementara nilai-nilai pengganti yang bercorak modern belum ditemukan. Misalnya, budaya gotong royong (kolektivistik) bergeser menjadi kerja dengan sistem upah yang setiap kegiatan diukur dengan uang (pamrih) dan sikap individualistik. Konflik merupakan persoalan sosial yang kompleks dan rumit. Situasi yang melatari dan menimbulkan konflik dalam masyarakat majemuk relatif berbeda. Konflik terjadi disebabkan adanya situasi ketidakselarasan kepentingan dan tujuan dalam masyarakat. Perbedaan struktur sosial, nilai sosial, suku budaya, kelangkaan saluran aspirasi, kompetisi, perubahan sosial, merupakan sumber-sumber konflik yang berpengaruh terhadap kerukunan umat beragama dalam masyarakat majemuk. Dalam upaya memahami makna konflik dan integrasi pada masyarakat majemuk dapat dikemukakan beberapa pemikiran. Pertama, persoalan pluralitas masyarakat tidak dapat dikatakan menjadi sumber konflik bagi umat beragama karena hal itu sangat bergantung berbagai macam faktor-faktor penyebab terjadinya konflik. Integrasi relevan dengan kerukunan umat beragama dalam masyarakat plural. Fakta menjelaskan meskipun setiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan keselarasan hidup, realitas menunjukkan pluralisme agama bisa memicu pemeluknya saling berbenturan dan bahkan terjadi konflik. Sementara di pihak lain, integrasi sosial keagamaan dapat terbangun jika pemeluk agama mampu mengekspresikan kebenaran agamanya secara universal dan inklusif, dalam arti subjektivitas kebenaran yang diyakini tidak menafikan kebenaran yang diyakini penganut agama yang lain. Kedua, konflik yang pernah terjadi di antaranya (a) konflik antarumat beragama; pendirian rumah ibadah dan penyiaran agama, yang lebih berdasarkan kepentingan golongan atau kelompok; (b) konflik internal umat beragama; perbedaan paham terhadap ajaran agama dan penyimpangan dari ajaran agama, yang menimbulkan keresahan di masyarakat (aliran sempalan); (c) konflik di luar masalah keagamaan; perebutan tanah perkebunan, perkelahian, dan pembunuhan. Bentuk-bentuk konflik dan integrasi dalam interaksi sosial keagamaan sering berubah-ubah dari bentuk asosiatif (rukun) ke bentuk disasosiatif (tidak rukun), dan bahkan secara relatif sering terjadi tumpang tindih di antara keduanya. Selain itu, interaksi sosial keagamaan baik intern umat beragama maupun antarumat beragama relatif lebih menunjukkan sifat integratif. Hanya masalah-masalah khilafiah yang sering muncul di kalangan intern umat bergama, baik antarumat Islam sendiri maupun pada umat Kristen. Namun, hal itu tidak sampai memecah belah intern umat beragama. Ketiga, pengendalian konflik untuk pembinaan kerukunan umat beragama telah dilakukan, di antaranya dialog antarumat beragama, intern umat beragama dan antara umat beragama dan pemerintah. Dengan pembinaan keurukunan itu, integritas sosial terkondisi dan mendukung pembangunan daerah, yang diawali peningkatan pemahaman ajaran agama secara utuh dan komprehensif sejalan dengan dinamika masyarakat beragama. Paradigma pengendalian konflik dipadukan dengan model penyelesaian partisipatif baik dari aspek politik, moral, agama, ekonomi, maupun sosial. Jika paradigma baru dirancang atas dasar kajian empirik (data: akurat dan analisis konflik), dan dilakukan sebagai rasa tanggung jawab kolektif untuk menciptakan kerukunan umat beragama guna mengangkat derajat manusia, dengan dialog dapat dibangun harmoni dalam kehidupan umat beragama baik secara internal, antarumat beragama maupun antara umat beragama dan pemerintah. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: ppiindia-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Weah, hello! :-): 00065, bapakjewel-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w |
|---|---|
| Next by Date: | Menggagas Ilmu Hukum Indonesia: 00065, Ambon |
| Previous by Thread: | Weah, hello! :-)i: 00065, bapakjewel-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w |
| Next by Thread: | Dialog pada Masyarakat Majemuk: 00065, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |