|
Re: Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan tionghoa lagi.): msg#00239culture.region.china.budaya-tionghua
Kepada Yth, Bpk. Erik rsn cc di tempat, dengan hormat, saya tertarik membaca pengetahuan Bpk. Erik yang begitu luas tentang dinamika sikap politik masyarakat Budhis Indonesia. saya melihat sikap defensif mau menang sendiri yang ditampilkan oleh bpk. Arifin Tanzil yang berceloteh mewakili komunitas budhis terkait dengan masalah pemberangusan kultur budaya Tionghoa. bpk. Arifin Tanzil tidak seharusnya bersikap berat sebelah dan terlihat amat defensif terhadap negatifitas yang pernah dilakukan oleh kalangan ummat Budha. sikap ini hanya melecehkan dan mencemarkan nama baik ummat budha yang tidak berpartisipasi dalam proses pemberangusan adat istiadat Tionghoa. bersikaplah terbuka dan jujur, seperti yang ditekankan oleh Bpk. Erik. tidak perlu mempergunakan siasat macam-macam untuk menutup keburukan diri sendiri sambil begitu galax menghardik rival. mungkin sikap seperti yang diperlihatkan oleh Bpk. Erik malah akan menambah bobot kebaikan ummat Budha. dan tentunya, sikap itu akan memicu pujian dan menjadi alasan kita bisa bilang kalo ummat Budha Indonesia itu berwatak lain dengan orang-orang kristen yang cenderung membela diri dan tidak mau mengakui kesalahan dengan jujur. saya sendiri anti-kristen. tapi saya juga selalu berusaha untuk bersikap objektif. seanti-antinya saya terhadap kristen tetapi saya tidak pernah membenci manusia yang beragama kristen. karena mereka juga manusia yang perlu dihormati dan dikasihi. perilakunya yang mesti dikecam dan secara terbuka dikritik apabila ada yang salah. ttd, Michelle Erik <rsn_cc-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: Terima kasih atas tanggapan Anda bung Arifin: Setelah saya baca teliti bantahan atau tanggapan Anda itu, ternyata anda berpandangan sama dengan saya, yakni Pemberangusan Budaya Tionghoa di Indonesia pada zaman Orde Bau dilatar-belakangi oleh kebijakan regim Orde Bau yang memang rasis dan anti Cina. Itu titik temu kita! Dengan adanya titik temu itu, saya berharap antara kita semua, Anda, saya dan juga rekan-rekan Tionghoa lain (baik Nasrani maupun Buddhis atau yang beragama lain) tidak terjebak dalam kubu-kubuan yang saling konfrontatif, saling maki, saling serang serta saling bela diri saat berdiskusi tentang Pemberangusan/Pelunturan Budaya Tionghoa pada masa-masa lampau, kita semua adalah korban kebijakan rasis diskriminatif dari regim diktator otoriter yang sama. Saya mohon maaf pada Anda bung Arifin, rasanya seperti ada kekacauan perspektif sejarah dalam Anda mengomentari perjuangan kelompok San Kauw Hwee (Kwee Tek Hoay) melawan pelunturan Budaya Tionghoa yang terjadi di masa lampau. Anda katakan "Umat Buddha (Tridharma) justru adalah korban langsung dari kebijakan anti Cina masa itu, dan ? karena kondisi ? menjadi pelindung dan pemelihara kepercayan Budaya Tionghoa pada masa-masa suram saat itu. Sampai satu masa muncul seorang sastrawan Tionghoa Kwee Tek Hoay yang menggalang persatuana vihara/kelenteng dalam satu jaringan yang kemudian hari menjadi cikal bakal Sam Kauw Hwee." Setelah itu, Anda meneruskan dengan kalimat berikut "Mau nangis rasanya saat melihat kelenteng dan atau vihara dijadikan tempat pembuangan Sampah Sementara (waktu itu anda berusia berapa??)" Terus terang, saya menjadi bingung dengan pernyataan Anda itu. Tak tahu rentang waktu mana yang Anda maksud dengan "masa-masa suram saat itu". Apakah itu Masa Penjajahan Belanda atau Masa Orde Bau? Kalau yang dimaksud adalah Masa Orde Bau, saya sudah berusia remaja, ikut mengalami masa-masa selagi pekarangan luar vihara Jin De Yuan difungsikan jadi tempat penampungan sampah permanen (bukan sementara), memang itulah "Masa paling suram" dan "paling bau" bagi kebudayaan Tionghoa di Indonesia karena adanya kebijakan anti Cina dari regim Orde Bau yang merampas hak hidup budaya Tionghoa. Tapi, yang membuat saya bingung adalah Anda mensitir "Sampai satu masa muncul seorang sastrawan Tionghoa Kwee Tek Hoay ................" berarti yang Anda maksud adalah masa sebelum tampilnya Kwee Tek Hoay dan masa perjuangan Kwee Tek Hoay dan kawan-kawan? Kalau itu yang Anda maksud, saya kira itu adalah zaman Penjajahan Belanda, saya belum lahir. Pun pula Budaya Tionghoa ketika itu tidak dapat dikatakan berada dalam "Masa Suram", "hak hidup'-nya tetap terjaga karena tidak diberangus secara politis oleh penguasa, demikian pula yang dilakukan Kwee Tek Hoay dkk di masa Penjajahan Belanda itu bukanlah perlawanan terhadap kebijakan rasis yang merampas hak hidup budaya Tionghoa (sebagaimana yang kita lakukan sekarang), tetapi sebuah upaya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Tionghoa (pada waktu itu) untuk mengenal kembali dan menghargai budaya nenek moyang sendiri, dalam rangka membendung gempuran budaya dan agama barat terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia. Bentuk perjuangan kita melawan politik rasis diskriminatif Orde Bau sekarang ini adalah perjuangan POLITIK. Tetapi, dengan melakukan Polemik Budaya di Moestika Romans melawan Tiemersma misalnya, bentuk perjuangan Kwee Tek Hoay, Lie Kim Hok dkk kala itu adalah perjuangan BUDAYA. Selain banyak menghasilkan karya-karya sastra Melayu Tionghoa seperti `Boenga Roose dari Tjikembang' yang pernah dipentaskan di hadapan presiden Soekarno oleh kelompok sandiwara Sin Min Hui (kalau tak keliru, Pak Kamil Setiadi d/h Lay Hun Kui yang pengurus PSMTI itu adalah salah satu pemain di kelompok sandiwara Sin Min Hui waktu itu), prestasi lain Kwee Tek Hoay dan kawan-kawan dalam membela budaya Tionghoa yang tidak boleh dilupakan adalah terbentuknya Sam Kauw Hwee di kemudian hari sebagai tandingan terhadap lembaga agama Nasrani. (Perlu dicatat, bahwa pertarungan budaya antara kubu Barat/Nasrani vs kubu Tionghoa waktu itu terjadi di tengah masyarakat, tanpa intervensi politis dari yang berkuasa. Beda sekali dengan kebijakan anti Cina Orde Bau yang terang-terangan melegalkan pemihakan dan pemaksaan budaya non Tionghoa kepada masyarakat Tionghoa.) Tak seorang pun yang menafikan jasa Kwee Tek Hoay dkk bersama Sam Kauw Hwee (yang kemudian dipaksa/terpaksa ganti nama jadi Tridharma), demikian pula saya! Tolong, jangan hanya karena saya mengungkapkan fakta kasus pemberangusan budaya Tionghoa yang juga terjadi dalam/oleh lembaga Buddhis, serta merta dikira saya sedang memojokkan umat Buddha dan membela teman-teman Nasrani! Sama sekali tidak ada maksud itu dari saya!!! Saya tidak membantah sinyalir rekan-rekan pada posting lalu bahwa ada upaya pemberangusan budaya Tionghoa dari misionris Kristen yang berkarya di Indonesia (khsusnya kalangan Tionghoa), karena demikian pula hal yang sama juga dilakukan kelompok Buddhis dan agama-agama lain. Hanya saja, kualitas, sistematisasi, intensitas, rentang ruang dan waktu serta motivasi antara kelompok-kelompok itu memang sangat jauh berbeda. Sepanjang yang pernah saya dengar dan baca, pada awalnya motivasi misionaris barat melunturkan budaya Timur selain memang menyebarkan agama Nasrani, juga mereka berangkat dari persepsi (yang keliru) bahwa bangsa Timur masih sangat terbelakang, barbar dan primitif, oleh karenanya perlu dilakukan pembudayaan (civilisasi) terhadap mereka. Contoh kasus upaya "pembudayaan" misionaris barat terhadap orang Tionghoa lewat agama Nasrani adalah yang terjadi pada Charles Jones Song, kawan akrab Sun Yat-sen (founding father bangsa Tiongkok) yang belakangan keduanya jadi bermusuhan gara-gara Sun mengawini Rosamund Song Qingling anak gadis Charles. Charles Song ini pernah mengalami bahkan sangat berterima kasih pada lembaga misionaris Amerika yang `berbaik hati' menampung serta mengizinkan dia ikut nebeng sekolah di lembaga pendidikan Wesleyan sewaktu ia terdampar di Amerika. Lewat pendidikan (brain washing) di lembaga pendidikan misionaris Wesleyan itu jiwa Charles Song seperti mendapat semacam pencerahan di sana. Sekembali ke negeri Tiongkok, Charles Song yang berasal dari pulau Hainan itu sudah mengemban "misi mulia pencerahan" dan "tugas luhur pembudayaan" terhadap bangsanya sendiri. "Bangsa Tiongkok harus dibangkitkan dari keterpurukan, dan satu-satunya jalan adalah mengangkat mereka dari akar budaya yang sangat terbelakang, barbar dan takhayul!!" begitu persepsi ngawur yang dicekoki oleh teman-temannya dari lembaga Wesleyan kepada Charles. Demikianlah Charles Song yang nama aslinya Han Jiasu (sumber lain menyebutnya Han Yaoru) ini dicekoki habis-habisan dan dibikin yakin seribu kali yakin oleh misionaris bule (karena bule-bule sendiri juga yakin) bahwa biang-kerok penyebab bangsa dan negeri Tiongkok jadi terpuruk dan terbelakang waktu itu adalah kungkungan warisan tradisional bangsa Tionghoa sendiri yang kepercayaan dan agamanya masih sangat primitif dan takhayul, sehingga membuat rakyatnya tersesat, terbelakang dan bodoh. Selain itu, kenyataan bahwa di Tiongkok saat itu belum ada sistim pendidikan "modern" yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengedepankan prinsip rasionalitas sebagaimana yang ada di negeri barat juga dipersalahkan pada warisan budaya Tionghoa yang sekali lagi dituduh barbar, takhayul dan terbelakang! Semua itu menggiring Charles Song dan kawan-kawan bulenya pada suatu kesimpulan: Untuk membangkitkan bangsa Tiongkok dari keterpurukan dan keterbelakangan, pertama-tama mereka harus dibebaskan dulu dari perangkap praktek kepercayaan primitif dan takhyul, sambil memperkenalkan ilmu-pengetahuan modern serta prinsip-prinsip logika dan rasionalitas pada mereka, dan sekaligus juga AGAMA TUHAN. Dari pelajaran sejarah kita ketahui, dalam upaya melaksanakan misi "pencerahan" dan tugas "pembudayaan" terhadap bangsa Tiongkok, Charles Song bergabung dengan lembaga misionaris Wesleyan yang sudah lebih dulu bermarkas di kota Shanghai, dan dari sana dia aktif memberi kotbah agama ke mana-mana sampai ke pelosok-pelosok kampung. Selain itu, di samping mencetak dan menerbitkan buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan umum, usaha percetakan "Shangwu Yinshuguan" milik Charles Song juga banyak menerbitkan Alkitab versi bahasa Mandarin. ? (Shangwu Yinshuguan sampai sekarang masih ada, kamus-kamus bahasa Tionghoa yang sering kita temui di Indonesia juga adalah terbitan lembaga ini) ? . Orang-orang semacam Charles Song ini bukan cuma satu dua, tetapi banyak sekali! Demikian pula di Indonesia, apa yang dilakukan Kwee Tek Hoay dkk dulu adalah juga dalam rangka meluruskan persepsi ngawur seperti itu dan membendung gempuran budaya barat yang sangat memojokkan dan mendiskreditkan budaya Tionghoa. Celakanya, walau sudah dibendung habis-habisan oleh Kwee Tek Hoay dkk bersama Sam Kauw Hwee, persepsi ngawur dan miring terhadap budaya Tionghoa itu masih tetap bersisa dan melekat dalam diri sebagian (justru) orang Tionghoa Indonesia sendiri. Misalnya dalam seminar atau dialog antar cendekiawan umat beragama, dengan gaya sok ilmuwan anak-anak Cina dari Sekolah Theologi melempar pertanyaan-pertanyaan `kritis' semisal : "Apa itu Fengshui?? Apakah itu sejalan dengan prinsip-prinsip rasionalitas?" "Dimana logikanya Kuamia?" "Kenapa pasangan sejoli beda umur 3 atau 6 tahun yang sudah bersumpah untuk sehidup semati harus dipisahkan gara-gara bualan konyol seorang tukang Kuamia!" "Apakah dalam zaman modern dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir yang semakin pesat ini, masih patut kita bertahan dengan praktek-praktek takhyul yang irrasional dan menyesatkan seperti itu?" Masih banyak contoh kasus lain dimana justru anak-anak Cina yang memojokkan budaya nenek moyang mereka sendiri. Seorang calon dokter yang masih duduk di semester III sudah berani mengkuliahi orang tuanya sendiri yang masih "takhyul" dan "primitif", dia bilang pada mama-nya "kalo emang Mama sakit periksa donk ke dokter! Jangan dikerok-kerik begitu, nggak guna tuh, udah sakit kok malah minta diseksa!!" atau "Jangan minum obat sembarangan Ma! apalagi jamu- jamuan obat sinshe, nggak ilmiah itu, salah-salah malah keracunan!!" Beberapa dekade belum lama ini, Zhenjiu (akupuntur) alias tusuk- jarum juga dihujat oleh Cina-cina cendekiawan calon dokter kita, "Bener-bener penganiayaan! Orang sakit malah ditusuk-tusuk, apa urusannya sakit maag sama jarum-jarum karatan gitu! Infeksi baru tau dia!!" Karena tidak sesuai dengan prinsip ilmiah barat yang "hipothetico deducto ferificatio", Budaya Tionghoa dan kearifan Timur dicap irrasional dan tidak ilmiah. Dan karena bekerja pada tataran logika yang beda dengan tataran logika barat, Budaya Tionghoa dan kearifan Timur terpaksa musti minggir dari panggung sejarah! Begitu juga dengan agama, karena barat yang lebih dulu memegang superioritas "ilmiah", maka agama Timur/Tionghoa pun diberi stigma "Kepercayaan Takhayul" penyembah berhala yang menjadi biang kerok keterpurukan dan keterbelakangan bangsa Timur/Tionghoa. Konsekuensinya, harus minggir juga dari penghayatan iman orang Tionghoa sendiri! Demikian bung Arifin, walau beritikad baik, tapi persepsi dasarnya sudah keliru, arogansi kultural-lah yang diperagakan para misionaris barat sewaktu mereka berkarya di ladang Timur kita ini! Sikap dan tingkah-laku "menyebalkan" Cina-cina Kristen yang menghujat budaya nenek moyang sendiri, sebagaimana disinyalir beberapa teman di milis ini memang ada benarnya, dan itu merupakan warisan persepsi keliru terhadap budaya Tionghoa yang mereka terima dari boss-boss bule mereka dulu!! Namun demikian, tidak semua kelompok agama melakukan hal yang sama! Katolik misalnya yang pernah masuk ke daratan Tiongkok jauh sebelum zaman Yuan pernah menelan pil pahit gara-gara tidak menghargai budaya lokal. Sebelumnya, Katolik yang pada zaman itu dikenal dengan nama Jing Jiao pernah mengalami masa-masa kejayaan berkat keberhasilan mereka mendekati para bangsawan dan inner-circle kerajaan. Tetapi naasnya, hanya gara-gara melarang umatnya memelihara meja abu leluhur dan melaksanakan beberapa upacara tradisional, agama Jing Jiao pun dilarang oleh raja yang merasa tersinggung, para pastur bule harus minggat dari Tiongkok karena diusir oleh kerajaan dan pastur lokal pun dipaksa lepas jubah. Tak banyak orang yang tahu fakta sejarah ini, hanya melalui temuan prasasti yang ditemukan secara kebetulan orang kini mendapat informasi yang rinci tentang semua kejadian masa lampau itu. Beda dengan kelompok Protestan, berkaca pada pengalaman masa lampau, pastur-pastur Katolik yang datang ke daratan Tiongkok di kemudian hari (Matthew Ricci dkk) lebih pandai beradaptasi dengan budaya lokal. Dengan berjubah pendeta Taois mereka memberi kotbah dalam bahasa Mandarin, bangunan gereja pun ditata dalam arsitektur dan ornamen ketionghoaan. Bahkan sembahyang leluhur dengan hio pun tidak diharamkan, asal tidak dilakukan di dalam gereja. Perlu juga disinggung di sini, bahwa adalah Matthew Ricci-lah yang berjasa mengajarkan dan menterjemahkan kitab-kitab ilmu pengetahuan alam dan ilmu pasti yang berasal dari barat ke dalam bahasa Mandarin. Demikianlah, sebuah agama berhasil mendapat tempat di hati masyarakat setempat, tanpa harus berbenturan atau membenturkan diri dengan budaya lokal. Oleh karena itulah, maka Katolik lebih berhasil di negeri Tiongkok dan masyarakat Tionghoa ketimbang Protestan. (Indonesia adalah pengecualian!) Dalam terminologi antropologi budaya, apa yang dilakukan Matthew Ricci dkk disebut "Inkulturasi", masuk dan meleburkan diri ke dalam lingkup budaya setempat, dan menjadi bagian dari budaya itu. Ini pula yang pernah terjadi pada agama Buddha di Tiongkok yang asalnya dari India, hanya memang intensitas dan cakupannya jauh lebih dalam dan lebih luas daripada Katolik. Sekarang kita kembali ke Indonesia. Anda benar Bung Arifin, memang ada upaya pemberangusan terhadap budaya Tionghoa yang dilakukan kelompok agama Nasrani. Dan sekali lagi, saya harus katakan pula itu tidak hanya oleh kelompok Nasrani, tetapi juga oleh kelompok Buddhis dan agama lain! Saya memakai istilah "Pemberangusan" bukan "Pelunturan". Karena menurut saya ada perbedaan antara kedua istilah itu. Yang terjadi pada masanya Kwee Tek Hoay adalah pelunturan budaya Tionghoa oleh gempuran budaya dan agama barat. Yang terjadi pada masa Orde Bau adalah pemberangusan budaya Tionghoa oleh hampir segala elemen masyarakat dengan dukungan politik rasis diskriminatif anti Cina. Sebenarnya, hampir semua lembaga agama di zaman modern ini sudah menyadari bahwa Inkulturasi adalah metode yang paling jitu untuk melakukan dakwah agama dalam masyarakat yang tidak berasal dari kultur yang sama dengan agama tsb. berasal. Tetapi herannya dan juga edannya, pada era Orde Bau di Indonesia agama-agama yang ingin melakukan dakwah di tengah masyarakat Tionghoa justru dengan sengaja membentur-benturkan diri dengan nilai budaya Tionghoa, dan herannya dan edannya pula ternyata banyak mencapai keberhasilan!! Apakah mereka masih berangkat dari persepsi keliru bahwa budaya Tionghoa adalah budaya yang masih terbelakang, primitif dan takhyul, dan oleh karenanya masyarakat Tionghoa harus dibebaskan dari kungkungan tradisional yang menyesatkan itu? Saya kira, tidak! Mereka sangat sadar budaya Tionghoa adalah budaya unggul yang tak lekang kena panas tak lapuk kena hujan, dapat menyaring dan menyerap unsur luar dan kemudian dilemburkan menjadi bagian dirinya. Namun, di bawah atmospher anti Cina yang menggebu- gebu di zaman Orde Bau, menjalankan kebijakan inkulturasi yang mengakui eksistensi budaya Tionghoa bukanlah sebuah pilihan yang menguntungkan. Dan juga tidak dapat diabaikan kemungkinan adanya kelompok tertentu yang ingin menegakkan hegemoni budaya mereka terhadap masyarakat Tionghoa, justru memanfaatkan kondisi itu untuk memberangus budaya Tionghoa dan sekaligus mendakwahkan agama mereka. Kelompok semacam ini ada di mana-mana, termasuk juga di kalangan Buddhis (yang tidak berasal dari lingkaran pengaruh budaya Tionghoa). Yang penting Bung Arifin, sekarang ini situasi sudah berubah. Semua kelompok sudah menyadari kekeliruan di masa lampau dan sedang berusaha memperbaiki diri. Janganlah kita merasa hanya diri sendiri yang paling suci, dan yang jahat dan lalin adalah orang lain. Anda katakan Theravada memang tidak terlalu kental nuansa budaya Tionghoanya, tetapi tidaklah mungkin mereka anti Cina? Itu benar, kalau dilihat kenyataan yang ada sekarang. Tapi bagaimana keadaannya ketika bhante Win (Widhurdhammaborn) pertama kali datang ke Indonesia? Dalam kapasitas apa beliau datang ke Indonesia? Resminya diutus siapa kedatangan beliau ke Indonesia? Di bawah pengawalan siapa ia datang ke Indonesia (mengapa bukan atase budaya, tetapi atase militer)? Siapa yang pertama menerima beliau ketika tiba di Indonesia? Terlalu banyak yang bisa disimak dan diungkapkan melalaui fakta- fakta yang ada. Menurut Anda, kelompok Tridharma justru adalah korban langsung dari kebijakan anti Cina masa itu? Benar, benar sekali! Pada zaman Orde Bau di bawah kebijakan anti Cina, berapa banyak umat Tridharma dengan nuansa budaya Tionghoa yang amat kental bisa berkhianat dan menjadi pengikut Theravada yang menyangkal budaya Tionghoa bersamaan dengan datangnya bhante Win ketika itu? Berapa banyak pula kelenteng Tridharma yang diubah fungsi menjadi vihara Theravada dan diganti nama dengan nama-nama Pali? Berapa banyak umat Tridharma yang kemudian menjadi malu mengaku beragama Tridharma, karena dicap tidak murni dan penuh takhyul, dan lebih bangga menjadi umat Theravada yang lebih rasional dengan prinsip Ehipassiko? Mengapa Boen Tek Bio Tangerang sekarang menjadi Vihara Padumuttara? Ulah siapa semua itu?? Mengapa umat Tridharma yang meninggal anak-anaknya tidak mau ikut dalam upacara Zo Zai Mahayana, karena dianggap upacara itu tidak berguna dan tidak berarti bagi dia yang sudah beragama Buddha Theravada? Romo Pandita dari Majelis mana yang pada tahun-tahun 80-an kotbah- kotbahnya selalu mengklaim Theravada adalah sekte pewaris ajaran murni Sang Buddha, dan sekte lain tidak murni karena sudah tercampur dengan kebudayaan Cina? Demikian pula yang dilakukan oleh kelompok NSI, di bawah pimpinan Seno Soenoto waktu itu mereka tidak mengakui hari raya Imlek, indoktrinasi dari Seno, tahun baru umat NSI adalah Waisak, maka pada hari raya Waisak umat NSI mendandani anak-anak mereka dengan pakaian baru dan saling kunjung-mengunjungi sebagaimana layaknya tahun baru! Bukan saja pemelintiran terhadap hari raya Imlek, tetapi juga pemelintiran terhadap hari suci Waisak! Apakah semua itu bukan pemberangusan terhadap budaya Tionghoa? Maaf, kalimat-kalimat akhir saya agak emosional. Karena saya memang dongkol sekali dengan ulah Cina-cina umat Buddha "Pewaris Ajaran Murni Sang Buddha" yang menyangkal budaya nenek moyang!! Kedongkolan saya ini kira juga sama dengan kedongkolan anda terhadap kelompok Nasrani. Maaf, agak panjang lebar, karena hanya dengan beginilah saya bisa menjelaskan pandangan dan pendirian saya yang sebenarnya. Saya tidak bermaksud memojokkan siapa-siapa, tetapi hanya mengungkapkan fakta! Sekali lagi, mohon maaf kalau kata-kata di kalimat akhir saya sedikit kasar. Salam Erik --- In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "Erik" <rsn_cc@...> wrote: > > Mohon Maaf,Bung Arifin: Rasanya tidak ada kalimat dari saya yang mengatakan kelompok Tridharma berperan terhadap pelunturan budaya Tionghoa. Saya terpaksa baca ulang kembali posting saya yang kemarin itu, barangkali ada salah tulis atau apa di sana, dan ternyata tidak saya temukan!! Apakah anda tidak salah baca?? Sorry, saya masih di kantor, hanya sepintas ini saja saya menjawab bantahan anda. Nanti malam akan saya dongengkan lagi latar elakang sejarah pelunturan budaya Tionghoa oleh kelompok Kristiani (mondial) dan pemberangusan budaya Tionghoa oleh kelompok Buddhis (Indonesia). > ------------------------------------------------------------------- -- > In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, Arifin Tanzil > wrote: > > > Bung Erik yg penuh semangat, > > Sdr. Erik, saya coba mengkoreksi dan meluruskan 'statement' anda yg > cukup 'berbahaya' bahwa, kelompok Buddha(Tridharma) juga berperan > terhadap pelunturan Budaya Tionghoa. > Justru!! sebaliknya umat Buddha(Tridharma) adalah korban langsung > dari kebijakan anti Cina masa itu. > .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. SPONSORED LINKS Indonesia Culture Chinese --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "budaya_tionghua" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Undangan Peluncuran dan Diskusi Buku: 00239, FBY |
|---|---|
| Next by Date: | Re: Terimakasih, UU Kewarganegaraan 1946 sudah tidak berlaku sejak Agustus 1958: 00239, ChanCT |
| Previous by Thread: | Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan tionghoa lagi.)i: 00239, Erik |
| Next by Thread: | Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan tionghoa lagi.): 00239, Erik |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |