logo       

Jing Jiao (was RE: Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan tionghoa la: msg#00218

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Jing Jiao (was RE: Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan tionghoa lagi.))

Pak Erik yang budiman,



Setahu saya Jing Jiao itu adalah kristen nestorian (gereja assyria),
bukan katolik (dalam arti katolik roma). Mohon dikoreksi kalau salah.



Hormat saya,

Hendri



________________________________

From: Erik [mailto:rsn_cc-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx]
Sent: Saturday, February 04, 2006 4:03 PM
To: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: [budaya_tionghua] Untuk bung Arifin (Re: Menjadi Kristen bukan
tionghoa lagi.)



Terima kasih atas tanggapan Anda bung Arifin:
Setelah saya baca teliti bantahan atau tanggapan Anda itu, ternyata
anda berpandangan sama dengan saya, yakni Pemberangusan Budaya
Tionghoa di Indonesia pada zaman Orde Bau dilatar-belakangi oleh
kebijakan regim Orde Bau yang memang rasis dan anti Cina.
Itu titik temu kita!
Dengan adanya titik temu itu, saya berharap antara kita semua, Anda,
saya dan juga rekan-rekan Tionghoa lain (baik Nasrani maupun Buddhis
atau yang beragama lain) tidak terjebak dalam kubu-kubuan yang
saling konfrontatif, saling maki, saling serang serta saling bela
diri saat berdiskusi tentang Pemberangusan/Pelunturan Budaya
Tionghoa pada masa-masa lampau, kita semua adalah korban kebijakan
rasis diskriminatif dari regim diktator otoriter yang sama.
Saya mohon maaf pada Anda bung Arifin, rasanya seperti ada kekacauan
perspektif sejarah dalam Anda mengomentari perjuangan kelompok San
Kauw Hwee (Kwee Tek Hoay) melawan pelunturan Budaya Tionghoa yang
terjadi di masa lampau.
Anda katakan "Umat Buddha (Tridharma) justru adalah korban langsung
dari kebijakan anti Cina masa itu, dan - karena kondisi - menjadi
pelindung dan pemelihara kepercayan Budaya Tionghoa pada masa-masa
suram saat itu. Sampai satu masa muncul seorang sastrawan Tionghoa
Kwee Tek Hoay yang menggalang persatuana vihara/kelenteng dalam satu
jaringan yang kemudian hari menjadi cikal bakal Sam Kauw Hwee."
Setelah itu, Anda meneruskan dengan kalimat berikut "Mau nangis
rasanya saat melihat kelenteng dan atau vihara dijadikan tempat
pembuangan Sampah Sementara (waktu itu anda berusia berapa??)"
Terus terang, saya menjadi bingung dengan pernyataan Anda itu. Tak
tahu rentang waktu mana yang Anda maksud dengan "masa-masa suram
saat itu". Apakah itu Masa Penjajahan Belanda atau Masa Orde Bau?
Kalau yang dimaksud adalah Masa Orde Bau, saya sudah berusia remaja,
ikut mengalami masa-masa selagi pekarangan luar vihara Jin De Yuan
difungsikan jadi tempat penampungan sampah permanen (bukan
sementara), memang itulah "Masa paling suram" dan "paling bau" bagi
kebudayaan Tionghoa di Indonesia karena adanya kebijakan anti Cina
dari regim Orde Bau yang merampas hak hidup budaya Tionghoa. Tapi,
yang membuat saya bingung adalah Anda mensitir "Sampai satu masa
muncul seorang sastrawan Tionghoa Kwee Tek Hoay ................"
berarti yang Anda maksud adalah masa sebelum tampilnya Kwee Tek Hoay
dan masa perjuangan Kwee Tek Hoay dan kawan-kawan? Kalau itu yang
Anda maksud, saya kira itu adalah zaman Penjajahan Belanda, saya
belum lahir. Pun pula Budaya Tionghoa ketika itu tidak dapat
dikatakan berada dalam "Masa Suram", "hak hidup'-nya tetap terjaga
karena tidak diberangus secara politis oleh penguasa, demikian pula
yang dilakukan Kwee Tek Hoay dkk di masa Penjajahan Belanda itu
bukanlah perlawanan terhadap kebijakan rasis yang merampas hak hidup
budaya Tionghoa (sebagaimana yang kita lakukan sekarang), tetapi
sebuah upaya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Tionghoa (pada
waktu itu) untuk mengenal kembali dan menghargai budaya nenek moyang
sendiri, dalam rangka membendung gempuran budaya dan agama barat
terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Bentuk perjuangan kita melawan politik rasis diskriminatif Orde Bau
sekarang ini adalah perjuangan POLITIK. Tetapi, dengan melakukan
Polemik Budaya di Moestika Romans melawan Tiemersma misalnya, bentuk
perjuangan Kwee Tek Hoay, Lie Kim Hok dkk kala itu adalah perjuangan
BUDAYA. Selain banyak menghasilkan karya-karya sastra Melayu
Tionghoa seperti `Boenga Roose dari Tjikembang' yang pernah
dipentaskan di hadapan presiden Soekarno oleh kelompok sandiwara Sin
Min Hui (kalau tak keliru, Pak Kamil Setiadi d/h Lay Hun Kui yang
pengurus PSMTI itu adalah salah satu pemain di kelompok sandiwara
Sin Min Hui waktu itu), prestasi lain Kwee Tek Hoay dan kawan-kawan
dalam membela budaya Tionghoa yang tidak boleh dilupakan adalah
terbentuknya Sam Kauw Hwee di kemudian hari sebagai tandingan
terhadap lembaga agama Nasrani.
(Perlu dicatat, bahwa pertarungan budaya antara kubu Barat/Nasrani
vs kubu Tionghoa waktu itu terjadi di tengah masyarakat, tanpa
intervensi politis dari yang berkuasa. Beda sekali dengan kebijakan
anti Cina Orde Bau yang terang-terangan melegalkan pemihakan dan
pemaksaan budaya non Tionghoa kepada masyarakat Tionghoa.)
Tak seorang pun yang menafikan jasa Kwee Tek Hoay dkk bersama Sam
Kauw Hwee (yang kemudian dipaksa/terpaksa ganti nama jadi
Tridharma), demikian pula saya! Tolong, jangan hanya karena saya
mengungkapkan fakta kasus pemberangusan budaya Tionghoa yang juga
terjadi dalam/oleh lembaga Buddhis, serta merta dikira saya sedang
memojokkan umat Buddha dan membela teman-teman Nasrani! Sama sekali
tidak ada maksud itu dari saya!!!
Saya tidak membantah sinyalir rekan-rekan pada posting lalu bahwa
ada upaya pemberangusan budaya Tionghoa dari misionris Kristen yang
berkarya di Indonesia (khsusnya kalangan Tionghoa), karena demikian
pula hal yang sama juga dilakukan kelompok Buddhis dan agama-agama
lain. Hanya saja, kualitas, sistematisasi, intensitas, rentang ruang
dan waktu serta motivasi antara kelompok-kelompok itu memang sangat
jauh berbeda.
Sepanjang yang pernah saya dengar dan baca, pada awalnya motivasi
misionaris barat melunturkan budaya Timur selain memang menyebarkan
agama Nasrani, juga mereka berangkat dari persepsi (yang keliru)
bahwa bangsa Timur masih sangat terbelakang, barbar dan primitif,
oleh karenanya perlu dilakukan pembudayaan (civilisasi) terhadap
mereka.
Contoh kasus upaya "pembudayaan" misionaris barat terhadap orang
Tionghoa lewat agama Nasrani adalah yang terjadi pada Charles Jones
Song, kawan akrab Sun Yat-sen (founding father bangsa Tiongkok) yang
belakangan keduanya jadi bermusuhan gara-gara Sun mengawini Rosamund
Song Qingling anak gadis Charles. Charles Song ini pernah mengalami
bahkan sangat berterima kasih pada lembaga misionaris Amerika
yang `berbaik hati' menampung serta mengizinkan dia ikut nebeng
sekolah di lembaga pendidikan Wesleyan sewaktu ia terdampar di
Amerika. Lewat pendidikan (brain washing) di lembaga pendidikan
misionaris Wesleyan itu jiwa Charles Song seperti mendapat semacam
pencerahan di sana. Sekembali ke negeri Tiongkok, Charles Song yang
berasal dari pulau Hainan itu sudah mengemban "misi mulia
pencerahan" dan "tugas luhur pembudayaan" terhadap bangsanya
sendiri. "Bangsa Tiongkok harus dibangkitkan dari keterpurukan, dan
satu-satunya jalan adalah mengangkat mereka dari akar budaya yang
sangat terbelakang, barbar dan takhayul!!" begitu persepsi ngawur
yang dicekoki oleh teman-temannya dari lembaga Wesleyan kepada
Charles.
Demikianlah Charles Song yang nama aslinya Han Jiasu (sumber lain
menyebutnya Han Yaoru) ini dicekoki habis-habisan dan dibikin yakin
seribu kali yakin oleh misionaris bule (karena bule-bule sendiri
juga yakin) bahwa biang-kerok penyebab bangsa dan negeri Tiongkok
jadi terpuruk dan terbelakang waktu itu adalah kungkungan warisan
tradisional bangsa Tionghoa sendiri yang kepercayaan dan agamanya
masih sangat primitif dan takhayul, sehingga membuat rakyatnya
tersesat, terbelakang dan bodoh.
Selain itu, kenyataan bahwa di Tiongkok saat itu belum ada sistim
pendidikan "modern" yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan mengedepankan prinsip rasionalitas sebagaimana yang ada di
negeri barat juga dipersalahkan pada warisan budaya Tionghoa yang
sekali lagi dituduh barbar, takhayul dan terbelakang!
Semua itu menggiring Charles Song dan kawan-kawan bulenya pada suatu
kesimpulan: Untuk membangkitkan bangsa Tiongkok dari keterpurukan
dan keterbelakangan, pertama-tama mereka harus dibebaskan dulu dari
perangkap praktek kepercayaan primitif dan takhyul, sambil
memperkenalkan ilmu-pengetahuan modern serta prinsip-prinsip logika
dan rasionalitas pada mereka, dan sekaligus juga AGAMA TUHAN.
Dari pelajaran sejarah kita ketahui, dalam upaya melaksanakan
misi "pencerahan" dan tugas "pembudayaan" terhadap bangsa Tiongkok,
Charles Song bergabung dengan lembaga misionaris Wesleyan yang sudah
lebih dulu bermarkas di kota Shanghai, dan dari sana dia aktif
memberi kotbah agama ke mana-mana sampai ke pelosok-pelosok kampung.
Selain itu, di samping mencetak dan menerbitkan buku-buku pelajaran
ilmu pengetahuan umum, usaha percetakan "Shangwu Yinshuguan" milik
Charles Song juga banyak menerbitkan Alkitab versi bahasa Mandarin. -
(Shangwu Yinshuguan sampai sekarang masih ada, kamus-kamus bahasa
Tionghoa yang sering kita temui di Indonesia juga adalah terbitan
lembaga ini) - .
Orang-orang semacam Charles Song ini bukan cuma satu dua, tetapi
banyak sekali! Demikian pula di Indonesia, apa yang dilakukan Kwee
Tek Hoay dkk dulu adalah juga dalam rangka meluruskan persepsi
ngawur seperti itu dan membendung gempuran budaya barat yang sangat
memojokkan dan mendiskreditkan budaya Tionghoa. Celakanya, walau
sudah dibendung habis-habisan oleh Kwee Tek Hoay dkk bersama Sam
Kauw Hwee, persepsi ngawur dan miring terhadap budaya Tionghoa itu
masih tetap bersisa dan melekat dalam diri sebagian (justru) orang
Tionghoa Indonesia sendiri. Misalnya dalam seminar atau dialog antar
cendekiawan umat beragama, dengan gaya sok ilmuwan anak-anak Cina
dari Sekolah Theologi melempar pertanyaan-pertanyaan `kritis'
semisal :
"Apa itu Fengshui?? Apakah itu sejalan dengan prinsip-prinsip
rasionalitas?"
"Dimana logikanya Kuamia?"
"Kenapa pasangan sejoli beda umur 3 atau 6 tahun yang sudah
bersumpah untuk sehidup semati harus dipisahkan gara-gara bualan
konyol seorang tukang Kuamia!"
"Apakah dalam zaman modern dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi mutakhir yang semakin pesat ini, masih patut kita bertahan
dengan praktek-praktek takhyul yang irrasional dan menyesatkan
seperti itu?"
Masih banyak contoh kasus lain dimana justru anak-anak Cina yang
memojokkan budaya nenek moyang mereka sendiri. Seorang calon dokter
yang masih duduk di semester III sudah berani mengkuliahi orang
tuanya sendiri yang masih "takhyul" dan "primitif", dia bilang pada
mama-nya "kalo emang Mama sakit periksa donk ke dokter! Jangan
dikerok-kerik begitu, nggak guna tuh, udah sakit kok malah minta
diseksa!!" atau "Jangan minum obat sembarangan Ma! apalagi jamu-
jamuan obat sinshe, nggak ilmiah itu, salah-salah malah keracunan!!"
Beberapa dekade belum lama ini, Zhenjiu (akupuntur) alias tusuk-
jarum juga dihujat oleh Cina-cina cendekiawan calon dokter
kita, "Bener-bener penganiayaan! Orang sakit malah ditusuk-tusuk,
apa urusannya sakit maag sama jarum-jarum karatan gitu! Infeksi baru
tau dia!!"
Karena tidak sesuai dengan prinsip ilmiah barat yang "hipothetico
deducto ferificatio", Budaya Tionghoa dan kearifan Timur dicap
irrasional dan tidak ilmiah. Dan karena bekerja pada tataran logika
yang beda dengan tataran logika barat, Budaya Tionghoa dan kearifan
Timur terpaksa musti minggir dari panggung sejarah! Begitu juga
dengan agama, karena barat yang lebih dulu memegang
superioritas "ilmiah", maka agama Timur/Tionghoa pun diberi
stigma "Kepercayaan Takhayul" penyembah berhala yang menjadi biang
kerok keterpurukan dan keterbelakangan bangsa Timur/Tionghoa.
Konsekuensinya, harus minggir juga dari penghayatan iman orang
Tionghoa sendiri!
Demikian bung Arifin, walau beritikad baik, tapi persepsi dasarnya
sudah keliru, arogansi kultural-lah yang diperagakan para misionaris
barat sewaktu mereka berkarya di ladang Timur kita ini! Sikap dan
tingkah-laku "menyebalkan" Cina-cina Kristen yang menghujat budaya
nenek moyang sendiri, sebagaimana disinyalir beberapa teman di milis
ini memang ada benarnya, dan itu merupakan warisan persepsi keliru
terhadap budaya Tionghoa yang mereka terima dari boss-boss bule
mereka dulu!!
Namun demikian, tidak semua kelompok agama melakukan hal yang sama!
Katolik misalnya yang pernah masuk ke daratan Tiongkok jauh sebelum
zaman Yuan pernah menelan pil pahit gara-gara tidak menghargai
budaya lokal. Sebelumnya, Katolik yang pada zaman itu dikenal dengan
nama Jing Jiao pernah mengalami masa-masa kejayaan berkat
keberhasilan mereka mendekati para bangsawan dan inner-circle
kerajaan. Tetapi naasnya, hanya gara-gara melarang umatnya
memelihara meja abu leluhur dan melaksanakan beberapa upacara
tradisional, agama Jing Jiao pun dilarang oleh raja yang merasa
tersinggung, para pastur bule harus minggat dari Tiongkok karena
diusir oleh kerajaan dan pastur lokal pun dipaksa lepas jubah. Tak
banyak orang yang tahu fakta sejarah ini, hanya melalui temuan
prasasti yang ditemukan secara kebetulan orang kini mendapat
informasi yang rinci tentang semua kejadian masa lampau itu.
Beda dengan kelompok Protestan, berkaca pada pengalaman masa lampau,
pastur-pastur Katolik yang datang ke daratan Tiongkok di kemudian
hari (Matthew Ricci dkk) lebih pandai beradaptasi dengan budaya
lokal. Dengan berjubah pendeta Taois mereka memberi kotbah dalam
bahasa Mandarin, bangunan gereja pun ditata dalam arsitektur dan
ornamen ketionghoaan. Bahkan sembahyang leluhur dengan hio pun tidak
diharamkan, asal tidak dilakukan di dalam gereja. Perlu juga
disinggung di sini, bahwa adalah Matthew Ricci-lah yang berjasa
mengajarkan dan menterjemahkan kitab-kitab ilmu pengetahuan alam dan
ilmu pasti yang berasal dari barat ke dalam bahasa Mandarin.
Demikianlah, sebuah agama berhasil mendapat tempat di hati
masyarakat setempat, tanpa harus berbenturan atau membenturkan diri
dengan budaya lokal. Oleh karena itulah, maka Katolik lebih berhasil
di negeri Tiongkok dan masyarakat Tionghoa ketimbang Protestan.
(Indonesia adalah pengecualian!)
Dalam terminologi antropologi budaya, apa yang dilakukan Matthew
Ricci dkk disebut "Inkulturasi", masuk dan meleburkan diri ke dalam
lingkup budaya setempat, dan menjadi bagian dari budaya itu. Ini
pula yang pernah terjadi pada agama Buddha di Tiongkok yang asalnya
dari India, hanya memang intensitas dan cakupannya jauh lebih dalam
dan lebih luas daripada Katolik.
Sekarang kita kembali ke Indonesia.
Anda benar Bung Arifin, memang ada upaya pemberangusan terhadap
budaya Tionghoa yang dilakukan kelompok agama Nasrani. Dan sekali
lagi, saya harus katakan pula itu tidak hanya oleh kelompok Nasrani,
tetapi juga oleh kelompok Buddhis dan agama lain! Saya memakai
istilah "Pemberangusan" bukan "Pelunturan". Karena menurut saya ada
perbedaan antara kedua istilah itu.
Yang terjadi pada masanya Kwee Tek Hoay adalah pelunturan budaya
Tionghoa oleh gempuran budaya dan agama barat.
Yang terjadi pada masa Orde Bau adalah pemberangusan budaya Tionghoa
oleh hampir segala elemen masyarakat dengan dukungan politik rasis
diskriminatif anti Cina.
Sebenarnya, hampir semua lembaga agama di zaman modern ini sudah
menyadari bahwa Inkulturasi adalah metode yang paling jitu untuk
melakukan dakwah agama dalam masyarakat yang tidak berasal dari
kultur yang sama dengan agama tsb. berasal.
Tetapi herannya dan juga edannya, pada era Orde Bau di Indonesia
agama-agama yang ingin melakukan dakwah di tengah masyarakat
Tionghoa justru dengan sengaja membentur-benturkan diri dengan nilai
budaya Tionghoa, dan herannya dan edannya pula ternyata banyak
mencapai keberhasilan!!
Apakah mereka masih berangkat dari persepsi keliru bahwa budaya
Tionghoa adalah budaya yang masih terbelakang, primitif dan takhyul,
dan oleh karenanya masyarakat Tionghoa harus dibebaskan dari
kungkungan tradisional yang menyesatkan itu?
Saya kira, tidak! Mereka sangat sadar budaya Tionghoa adalah budaya
unggul yang tak lekang kena panas tak lapuk kena hujan, dapat
menyaring dan menyerap unsur luar dan kemudian dilemburkan menjadi
bagian dirinya. Namun, di bawah atmospher anti Cina yang menggebu-
gebu di zaman Orde Bau, menjalankan kebijakan inkulturasi yang
mengakui eksistensi budaya Tionghoa bukanlah sebuah pilihan yang
menguntungkan. Dan juga tidak dapat diabaikan kemungkinan adanya
kelompok tertentu yang ingin menegakkan hegemoni budaya mereka
terhadap masyarakat Tionghoa, justru memanfaatkan kondisi itu untuk
memberangus budaya Tionghoa dan sekaligus mendakwahkan agama mereka.
Kelompok semacam ini ada di mana-mana, termasuk juga di kalangan
Buddhis (yang tidak berasal dari lingkaran pengaruh budaya Tionghoa).
Yang penting Bung Arifin, sekarang ini situasi sudah berubah. Semua
kelompok sudah menyadari kekeliruan di masa lampau dan sedang
berusaha memperbaiki diri. Janganlah kita merasa hanya diri sendiri
yang paling suci, dan yang jahat dan lalin adalah orang lain.
Anda katakan Theravada memang tidak terlalu kental nuansa budaya
Tionghoanya, tetapi tidaklah mungkin mereka anti Cina?
Itu benar, kalau dilihat kenyataan yang ada sekarang. Tapi bagaimana
keadaannya ketika bhante Win (Widhurdhammaborn) pertama kali datang
ke Indonesia?
Dalam kapasitas apa beliau datang ke Indonesia? Resminya diutus
siapa kedatangan beliau ke Indonesia? Di bawah pengawalan siapa ia
datang ke Indonesia (mengapa bukan atase budaya, tetapi atase
militer)? Siapa yang pertama menerima beliau ketika tiba di
Indonesia?
Terlalu banyak yang bisa disimak dan diungkapkan melalaui fakta-
fakta yang ada.
Menurut Anda, kelompok Tridharma justru adalah korban langsung dari
kebijakan anti Cina masa itu?
Benar, benar sekali! Pada zaman Orde Bau di bawah kebijakan anti
Cina, berapa banyak umat Tridharma dengan nuansa budaya Tionghoa
yang amat kental bisa berkhianat dan menjadi pengikut Theravada yang
menyangkal budaya Tionghoa bersamaan dengan datangnya bhante Win
ketika itu? Berapa banyak pula kelenteng Tridharma yang diubah
fungsi menjadi vihara Theravada dan diganti nama dengan nama-nama
Pali? Berapa banyak umat Tridharma yang kemudian menjadi malu
mengaku beragama Tridharma, karena dicap tidak murni dan penuh
takhyul, dan lebih bangga menjadi umat Theravada yang lebih rasional
dengan prinsip Ehipassiko? Mengapa Boen Tek Bio Tangerang sekarang
menjadi Vihara Padumuttara? Ulah siapa semua itu??
Mengapa umat Tridharma yang meninggal anak-anaknya tidak mau ikut
dalam upacara Zo Zai Mahayana, karena dianggap upacara itu tidak
berguna dan tidak berarti bagi dia yang sudah beragama Buddha
Theravada?
Romo Pandita dari Majelis mana yang pada tahun-tahun 80-an kotbah-
kotbahnya selalu mengklaim Theravada adalah sekte pewaris ajaran
murni Sang Buddha, dan sekte lain tidak murni karena sudah tercampur
dengan kebudayaan Cina?
Demikian pula yang dilakukan oleh kelompok NSI, di bawah pimpinan
Seno Soenoto waktu itu mereka tidak mengakui hari raya Imlek,
indoktrinasi dari Seno, tahun baru umat NSI adalah Waisak, maka pada
hari raya Waisak umat NSI mendandani anak-anak mereka dengan pakaian
baru dan saling kunjung-mengunjungi sebagaimana layaknya tahun baru!
Bukan saja pemelintiran terhadap hari raya Imlek, tetapi juga
pemelintiran terhadap hari suci Waisak!
Apakah semua itu bukan pemberangusan terhadap budaya Tionghoa?
Maaf, kalimat-kalimat akhir saya agak emosional. Karena saya memang
dongkol sekali dengan ulah Cina-cina umat Buddha "Pewaris Ajaran
Murni Sang Buddha" yang menyangkal budaya nenek moyang!! Kedongkolan
saya ini kira juga sama dengan kedongkolan anda terhadap kelompok
Nasrani.
Maaf, agak panjang lebar, karena hanya dengan beginilah saya bisa
menjelaskan pandangan dan pendirian saya yang sebenarnya. Saya tidak
bermaksud memojokkan siapa-siapa, tetapi hanya mengungkapkan fakta!
Sekali lagi, mohon maaf kalau kata-kata di kalimat akhir saya
sedikit kasar.


Salam

Erik


--- In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "Erik"
<rsn_cc@...> wrote:
>
> Mohon Maaf,Bung Arifin:
Rasanya tidak ada kalimat dari saya yang mengatakan kelompok
Tridharma berperan terhadap pelunturan budaya Tionghoa. Saya
terpaksa baca ulang kembali posting saya yang kemarin itu,
barangkali ada salah tulis atau apa di sana, dan ternyata tidak saya
temukan!! Apakah anda tidak salah baca??
Sorry, saya masih di kantor, hanya sepintas ini saja saya menjawab
bantahan anda. Nanti malam akan saya dongengkan lagi latar elakang
sejarah pelunturan budaya Tionghoa oleh kelompok Kristiani (mondial)
dan pemberangusan budaya Tionghoa oleh kelompok Buddhis (Indonesia).
> -------------------------------------------------------------------
--
> In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, Arifin Tanzil
> wrote:
> >
> Bung Erik yg penuh semangat,
>
> Sdr. Erik, saya coba mengkoreksi dan meluruskan 'statement' anda
yg
> cukup 'berbahaya' bahwa, kelompok Buddha(Tridharma) juga berperan
> terhadap pelunturan Budaya Tionghoa.
> Justru!! sebaliknya umat Buddha(Tridharma) adalah korban langsung
> dari kebijakan anti Cina masa itu.
>







.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




SPONSORED LINKS

Indonesia
<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Indonesia&w1=Indonesia&w2=Culture&w
3=Chinese&c=3&s=41&.sig=_9mEwjb1vl-Ty8ieFqiTsg>

Culture
<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Culture&w1=Indonesia&w2=Culture&w3=
Chinese&c=3&s=41&.sig=aBoRcD-43CcUhrGNXA6oOg>

Chinese
<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Chinese&w1=Indonesia&w2=Culture&w3=
Chinese&c=3&s=41&.sig=gtKoIjAJpc2VrlqfPdPIDw>



________________________________

YAHOO! GROUPS LINKS



* Visit your group "budaya_tionghua
<http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua> " on the web.

* To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
<mailto:budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx?subject=Unsubscribe>


* Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/> .



________________________________



[Non-text portions of this message have been removed]



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/







<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise