|
I La Galigo (Sureq Galigo): msg#00175culture.region.china.budaya-tionghua
I La Galigo (Sureq Galigo) Suratkabar Kompas penerbitan hari sabtu tertanggal 4 Februari 2006 dihalaman Bentara terdapat tulisan mengenai sastra Bugis yang terkenal yaitu I la Galigo. I La Galigo atau Sureq Galigo ini adalah sebuah karya sastra kebanggaan orang Bugis yang termasyur serta disebutkan sebagai karya epos yang lebih panjang daripada epos hindu Mahabrata yang naskahnya ditulis dalam 113 manuskript dan 31,500 halaman! Buah hasil karya sastra ini telah beberapa kali dipentaskan di arena panggung Internasional seperti di Singapura, New York dan beberapa kota di Eropah dengan sutradara Internasional. Tulisan2 dan ulasan2 mengenai I La Galigo ini sering hadir diberbagai suratkabar dan seminar nasional sebelumnya. Di Makassar sendiri didalam kompleks bekas bangunan benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) juga dijumpai sebuah musium yang menggunakan nama La Galigo. I La Galigo adalah sebuah epos yang menuturkan legenda dan mitos cikal bakal orang Bugis yang berpusat disekitar kerajaan Luwu dan Wajo (didalam legenda dan dahulu dinamai Cina), pada sekitar abad ke 14 di Sulawesi Selatan yang merupakan daerah inti orang Bugis sebelum berpindah ke pusat kerajaan Gowa pada abad ke 16 dan terakhir ke Bone. Versi pokok I La Galigo dimulai dengan cerita tentang seorang Batara Guru yang dipercayai sebagai seorang pendiri dinasti Luwu turun dari kahyangan ke dunia (Luwu) dan menikah dengan seorang puteri . Batara Guru mempunyai seorang cucu yang bernama Sawerigading yang merupakan tokoh sentral dalam I La Galigo, ia mempunyai saudara kembar yang berlainan jenis yaitu seorang puteri bernama We Tenriabeng, tetapi mereka dididik dan dibesarkan secara terpisah. Pada suatu hari Sawerigading bertemu dengan seorang puteri cantik dan lalu jatuh cinta, tetapi ternyata puteri itu adalah saudara perempuannya sendiri yang tidak mungkin untuk dinikahinya, akhirnya We Tenriabeng mengusulkan ke Sawerigading untuk meminang saudara sepupunya yang bernama We Cu Dai yang tinggal di negeri Cina yang tak kalah cantiknya dengan dirinya sendiri. Sawerigading akhirnya meninggalkan tanah kelahirannya dan merantau sampai ke negeri Tiongkok, disana beliau bertemu dengan seorang puteri Cina yang wajahnya cantik dan serupa dengan We Tenriabeng yang bernama We Cu Dai, lalu ia meminangnya dan memboyongnya kembali ke Luwu, setelah pernikahan Sawerigading dengan We Cu Dai, We Tenriabeng naik ke kahyangan dan menetap disana. Dari hasil perkawinan antara Sawerigading dengan We Cu Dai lahirlah tiga orang putera- puteri dan salah satunya adalah seorang putera bernama La Galigo sebagai seorang ahli sastra. Naskah I La Galigo ini mencerminkan secara implisit latar belakang sejarah hubungan budaya antara kerajaan Luwu dengan negeri Tiongkok pada masa lalu, saksi-saksi hubungan sejarah itu dapat dibuktikan dengan ditemukannya berbagai jenis porselain dan benda keramik pada situs kuburan2 raja , bangsawan dan orang kaya dari kerajaan Luwu dan Wajo mulai dari benda keramik dan porselein yang diketemukan sejak jaman Dinasti Sung (960-1279) dan Dinasti Yuan (1279-1368) sampai dengan Dinasti Ming (1368-1644). Keramik dan porselain yang diketemukan di daerah ini (Sulawesi Selatan) merupakan salah satu situs dengan jumlah yang terbanyak diketemukan diantara keseluruhan penemuan benda arkeologis keramik di kepulauan Nusantara ini. Saksi2 hubungan sejarah dan bukti arkeologis ini mengindikasikan juga bahwa sudah lama sejak jaman dahulu orang Tionghoa berhubungan dan hadir di Sulawesi , baik sebelum raja Tallo (Karaeng Matoaya) sebagai kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang resmi memeluk agama Islam pada tahun 1605 serta kehadiran orang2 Portugis dan Belanda pada abad ke 17. Apa yang sering kita jumpai dalam beberapa tulisan dan ulasan mengenai I La Galigo di suratkabar2 terbatas hanya pada sekitar ulasan, resensi atau kritik mengenai teknik pentas dan estetikanya saja, sedangkan inti dan latar belakang sejarahnya secara sadar atau tidak sadar secara subjektif disamarkan, dikaburkan , disangkal atau tidak disebut sama sekali peranan sejarahnya dan budaya antara orang Tionghoa dengan kerajaan Luwu sedangkan toponimnya sering sengaja atau tidak sengaja dikaburkan. Semoga ulasan yang singkat ini dapat memberikan sedikit kontribusi dalam penilaian sejarah secara objektif. .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Sulit bagi Etnis Tionghoa Pimpin DKI Jakarta - Drama Memilukan di DPR: 00175, HKSIS |
|---|---|
| Next by Date: | OOT : There is no World Conspiracy?: 00175, thangoubheng |
| Previous by Thread: | Sulit bagi Etnis Tionghoa Pimpin DKI Jakarta - Drama Memilukan di DPRi: 00175, HKSIS |
| Next by Thread: | OOT : There is no World Conspiracy?: 00175, thangoubheng |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | Mail Home | sitemap | FAQ | advertise |