|
Sabtu, 04 Feb 2006, Imlek Bersama Ratu dan
Dewa
SURABAYA - Kemeriahan
Imlek memang terasa lain jika dirayakan bersama grup musik papan atas, Dewa dan
Ratu. Kemarin, dua kelompok itu memanaskan suasana Stadion Sawunggaling Kodam
V/Brawijaya. Ini adalah rangkaian konser delapan kota yang dimulai di Medan pada
29 Januari lalu.
Acara bertajuk Gong Xi Fa Cai itu memang bernuansa
Tiongkok. Sebelum dua grup tersebut tampil, tiga barongsai menyuguhkan atraksi.
Tiap sisi panggung pun dihias dengan lampion warna merah sehingga nuansa Imlek
tampak kental sekali.
Malam itu, Ratu membawakan lagu Jangan Bilang
Siapa-Siapa, Aku Baik-Baik Saja, Kita Tidak Sedang Bercinta, dan Teman tapi
Mesra. Maia tampil atraktif dengan baju cheong sam warna merah berhias naga.
Penampilan istri Dhani Ahmad itu tampak serasi dengan Mulan Kwok yang mengenakan
cheong sam kuning dengan hiasan naga hitam.
Setelah lagu pertama, Mulan
dan Maia mulai menyapa kurang lebih lima ratus arek Suroboyo yang memenuhi
lapangan itu. "Hai arek-arek Suroboyo. Gimana kabarnya?" kata Mulan. Dengan
antusias, para penonton menyahut sapaan mereka dengan jawaban baik.
Kemudian, mereka berdua kembali beraksi dengan menyanyikan Aku Baik-Baik
Saja dari album pertama Ratu. Suasana tambah panas ketika Mulan dan Maia tampil
energik saat menyanyikan Kita Tidak Sedang Bercinta.
Sementara itu, Dewa
yang tampil belakangan membawakan 10 lagu. Antara lain, Pangeran Cinta, Cinta
Gila, Angin, Larut, Satu, Pupus, dan Separuh Nafas.
Menurut Agung Krusso,
manajer roadshow Dewa, konser itu memang dalam rangka peringatan Tahun Baru
Imlek. Oleh karena itu, konser tersebut bertema Gong Xi Fa Cai. "Surabaya
merupakan kota kelima pelaksanaan konser ini. Yang pertama adalah Medan dan
berakhir di Palembang 12 Februari mendatang," katanya.
(ai/dos)
SUARA PEMBARUAN DAILY
Wakil Rakyat di Singapura
Menjadi anggota parlemen di Singapura tidak mudah. Selain mengurus masalah
legislasi, anggota parlemen diwajibkan turun ke lapangan, bertemu dan mendengar
langsung keluhan-keluhan konstituennya.
Forum jumpa warga (Meet-the-People Session) menjadi ajang pertemuan warga
dengan anggota parlemen dari daerah pemilihannya. Di sini warga menyampaikan
keluhan dan masalah yang dihadapi kepada wakil rakyat. Sebaliknya para wakil
rakyat pun jadi memahami permasalahan dan aspirasi di tingkat bawah.
Pemerintah Singapura mengundang sejumlah war-tawan dari Indonesia mengikuti
"14 th Indonesian Journalists' Visit Programme" pada 3-7 Januari 2006. Selama
kunjungan, wartawan berkesempatan berbincang-bincang dengan sejumlah menteri,
pejabat militer dan melihat dari dekat aktivitas masyarakat dalam forum jumpa
warga.
Wartawan Pembaruan, Yohanna Ririhena, menuliskan hasil
kunjungannya dalam tiga tulisan di bawah ini.
Hidup Harmonis di Tengah Keragaman
Pembaruan/Yohanna Ririhena
HARMONIS - Singapura berupaya keras menjamin keharmonisan dalam
hubungan antarras dan agama di tengah masyarakat yang beragam. Rumah-rumah
ibadah bisa berdiri berdampingan satu sama lain.
Kerusuhan bernuansa rasial pada 21 Juli 1964 telah menorehkan pengalaman
pahit bagi Singapura. Kekerasan selama satu pekan di bagian timur, khususnya di
kawasan Geylang Serai, Kampong Kembangan, Joo Chiat dan Changi mengakibatkan 23
orang tewas dan 454 luka-luka.
Setelah kerusuhan, banyak keluarga Melayu yang tadinya hidup di tengah
komunitas non-Melayu bergegas pindah ke wilayah yang dominan Melayu. Sebaliknya
banyak keluarga Cina angkat kaki beralih ke kawasan yang dominan etnis Cina.
Polarisasi komunitas seperti ini dianggap sangat berbahaya. Guna mencegah
kerusuhan serupa meletup lagi, potensi-potensi permusuhan harus diminimalisasi
bahkan dihilangkan. Untuk itu pemerintah menyusun kebijakan tentang permukiman.
Kedua masyarakat yang terpolarisasi dibaurkan untuk saling belajar tentang
perbedaan orang lain.
Dibuat peraturan yang menetapkan bahwa permukiman harus mencerminkan
komposisi etnis, ras dan agama. Ketentuan ini diterapkan guna mencegah
terbentuknya kantung- kantung etnis tertentu saja.
Keselarasan
Tiap permukiman harus mencerminkan mikrokosmos Singapura. Ada India, Cina,
Melayu dan lain-lain. Ada semacam pembatasan ras dalam arti positif. Misalnya,
di satu permukiman jumlah warga Cina sudah terlampau banyak maka bila ada
penghuni yang pindah maka tidak diperkenankan warga etnis Cina yang membelinya
tetapi dari ras berbeda. Dengan demikian keragaman diciptakan dan dijaga.
Hal serupa berlaku di sekolah-sekolah, dan militer. Dalam wajib militer,
harus dijamin bahwa serdadu dalam satu peleton terdiri atas berbagai ras dan
agama. Ketentuan-ketentuan itu memang terasa keras, tetapi itulah kunci dalam
membina keharmonisan ras dan agama di Singapura yang multietnis.
"Kami harus mencurahkan perhatian untuk masalah keselarasan hubungan agama
dan ras," ujar Menteri Informasi, Komunikasi dan Seni Dr Lee Boon Yang saat
berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan Indonesia pada awal Januari. Karena,
menurutnya, itulah kunci bagi masyarakat Singapura untuk tetap hidup damai dan
tentram di tengah perbedaan.
Hal serupa juga ditandaskan anggota parlemen terkemuka, Yatiman Yusof. Tidak
dibenarkan memanfaatkan agama untuk kepentingan sendiri. "Kami para wakil rakyat
mendatangi konstituen sehingga bisa melihat sendiri apa yang terjadi di
masyarakat, sembari melayangkan pesan tentang sikap saling menghargai, toleran
satu terhadap yang lain," tambahnya.
Berbagai upaya digencarkan untuk menjaga keharmonisan agama dan ras.
Dilakukan kegiatan di tingkat akar rumput. Ada lingkaran antarras yang
terdiri atas tokoh agama yang mewakili bermacam ras.
Pelajaran berharga telah dipetik. Betapa kebencian, kecurigaan dan ketakutan
tak memberi keuntungan bagi masyarakat. Singapura menyadari perkara kecil bisa
meletup kehancuran besar, merusak kesejah- teraan, perdamaian dan ketenangan.
Sejak Awal
Sebetulnya, sejak awal Singapura sudah terbiasa dengan keragaman. Kedatangan
Sir Stamford Raffles dan pembangunan pos perdagangan Inggris di sana menjadikan
Singapura bak magnet yang menarik ratusan ribu migran dan saudagar dari kawasan
sekitarnya. Mengalirlah penduduk dari provinsi-provinsi selatan Cina, Indonesia,
India, Pakistan, Ceylon, dan Timur Tengah. Penduduk asli yang adalah nelayan-
nelayan Melayu akhirnya berbaur dengan pendatang.
Keragaman ini tercermin hingga saat ini. Penduduk Cina menempati 77 persen,
Melayu sebesar 14 persen, India 8 persen dan Eurasia 1 persen dari empat juta
penduduk Singapura.
Komposisi penduduk membawa konsekuensi keragaman bahasa dan agama. Ada empat
bahasa resmi: Melayu, Mandarin, Tamil dan Inggris. Sebagian besar rakyat
Singapura berbicara dua bahasa.
Bahasa ibu dan bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar dalam bisnis dan
pemerintahan dan paling luas digunakan. Berbagai rumah ibadah dari masjid,
gereja, kuil Hindhu maupun klenteng Cina berdiri berdampingan.
Hari Keharmonisan
Kehancuran pada tahun 1960-an itu tak boleh terulang lagi. Masyarakat
memperingatinya sebagai Hari Keharmonisan Rasial setiap 21 Juli.
Singapura belajar bahwa keharmonisan hubungan antara berbagai ras dan agama
bukan pemberian, melainkan harus diwujudkan dan dipelihara. Sikap saling
percaya, menghargai, toleransi bukan turun dari langit, tetapi harus di-
upayakan.
Kini, 41 tahun setelah kerusuhan, Singapura menikmati pendapatan yang tinggi,
kondisi perumahan yang lebih baik, sistem pendidikan dan layanan kesehatan yang
canggih.
Semua itu dicapai dengan segenap anggota masyarakat belajar bahwa dibutuhkan
sikap toleran, pengertian dan persahabatan satu dengan yang lain. *
Last modified: 3/2/06
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|