logo       

OOT: Refleksi di Tapal Batas Agama: msg#00125

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: OOT: Refleksi di Tapal Batas Agama

Kompas, Jumat, 03 Februari 2006
Refleksi di Tapal Batas Agama
Tahun-tahun belakangan ini semangat pluralisme agama di Tanah Air banyak
diuji. Yang terpenting untuk dikenang, kita mampu melewati semua itu. Ke depan,
keberlangsungan pluralisme agama tampaknya banyak ditentukan kemampuan menggali
apa yang oleh Hick disebut family resemblances (kemiripan-kemiripan keluarga).
Kita hidup dalam ruang dan waktu yang membuat relasi dengan sesama, alam, dan
Tuhan menjadi relatif. Disadari atau tidak, keterbatasan ini membuat manusia
menjadi boundary maker (pembuat batas). Ketika seseorang menyebut dirinya
Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, atau Buddha, ia menunjukkan batas dirinya yang
perlu dibedakan dari pemeluk-pemeluk agama lain.
Bila batas ini direnungkan lebih jauh, terbuka dua kemungkinan untuk memahami
eksklusivitas dan inklusivitas agama. Mereka yang bisa menerima perbedaan
menganggap batas keagamaannya sebagai batas yang fleksibel, bisa ditembus, dan
terbuka untuk perluasan (permeable boundary). Sebaliknya, mereka yang menolak
perbedaan menganggap batas keagamaannya sebagai batas yang kaku, tidak bisa
ditembus, dan tertutup rapat (impermeable boundary).
Eksoteris dan esoteris
Refleksi di atas semakin tajam bila diajukan pertanyaan: Apakah agama secara
intrinsik menyebabkan perbedaan itu? Jawabannya bersyarat: ?Ya?, bila kita
menerima bahwa nilai-nilai agama bisa mengalir dari dua sumber, yaitu
eksoteris/dogmatis dan esoteris/eksperiensial.
Pandangan eksoteris/dogmatis menekankan dimensi luar (exo-) yang rasional dan
obyektif sehingga berorientasi pada aturan-aturan keagamaan, dogma, dan
interpretasi atas dogma. Sebaliknya, pandangan esoteris/eksperiensial
menekankan dimensi dalam atau batin (eso-) yang intuitif dan subyektif sehingga
berorientasi pada pengalaman dan praktik pribadi.
Pembicaraan yang bernuansa eksoteris-dogmatis sangat mungkin menyebabkan
kepala dan hati menjadi panas. Masing-masing pihak pulang sambil menjaga
?kestabilan suhu panas? di pikiran mereka. Ini wajar karena adanya dinamika
winner-looser (pemenang-pecundang).
Dalam dialog esoteris-eksperiensial, masing-masing pihak hanya membagikan
pengalaman mendekatkan diri dengan Yang Ilahi. Syarat dialog ini amat
sederhana. Pendengar cukup menjiwai perannya sebagai pendengar yang baik.
Masing-masing pengalaman diterima sebagai valid dan benar.
Dialog antaragama semestinya sensitif dengan dua kecenderungan ini. Jika
tidak, dialog akan mudah bergeser menjadi diskusi yang sarat dengan perdebatan
intelektual. Sentralitas makna dialog terletak pada komunikasi hati ke hati.
Karena itu, dialog antaragama adalah bertukar pengalaman di antara Homines
religiosi (makhluk-makhluk religius).
Bila ini diterapkan, relasi antaragama berarti pemerkayaan spiritual
(spritual enrichment). William Johnston mengatakan, ?We found that dialogue
based on theology and philosophy did not achieve much; but when we talked from
experience we suddenly discovered how closely united we really were.?
Fenomenologi pluralisme
Dialog antaragama selalu perlu didasarkan pada pengalaman religius. Kita
sering terlalu sibuk dengan konsep dan pemikiran pribadi kita tentang penganut
agama lain. Proses mental ini sering kali memburamkan pandangan kita akan
saripati pengalaman religius itu sendiri.
Menyadari keterbatasan manusiawi ini, ada baiknya mendengarkan seruan pendiri
fenomenologi, Edmund Husserl, ?Zurück zu den Sachen selbst (Kembali ke
fakta-fakta itu sendiri)!? Artinya, prasangka dan prapenilaian terhadap agama
lain perlu dikurung terlebih dulu (eingeklammert). Dengan begitu, kita bisa
melihat lebih jernih fakta-fakta yang ada dalam dunia pengalaman (lebenswelt)
orang lain.
Bagaimana dengan nuansa subyektifnya? Itu bukan masalah, bahkan harus
dihargai. Manusia pada dasarnya subyektif dalam pengertian bahwa dunia
pengalamannya selalu menyertai persepsinya terhadap realitas. Semua
subyektivitas itu pada akhirnya bisa dicek kebenarannya secara intersubyektif.
Mari melihat sekilas pengalaman ini. Masing-masing agama secara berbeda
merumuskan tahap-tahap kejiwaan dalam berelasi dengan Yang Transenden atau
Tuhan.
Huston Smith merangkumnya sebagai berikut: dalam Islam, pergerakan bermula
dari jism (jasmani) ke nafs (nafsu) ke ruh (roh) ke qalb/fitrah (kalbu/fitrah);
dalam Kristen, dari body (badan) ke psyche (psike) ke soul (jiwa) ke spirit
(roh); dalam Buddha dari lima skandha ke gross mind (pikiran kasar) ke subtle
mind (pikiran halus) ke Buddha nature (Buddha dalam setiap orang); dalam Hindu
dari gross body (badan kasar) ke subtle body (badan halus) ke causal body
(badan kausal) ke atman (diri terdalam).
Tidak hanya itu, praktiknya pun tampil berbeda. Kita mengenal zikir dalam
Islam, kontemplasi dalam Kristen, meditasi Zen atau Ch?an dalam Buddhisme, dan
Yoga dalam Hinduisme.
Bagaimanapun, proses dan akhir perjalanan spiritual ini punya kemiripan.
Masing-masing butuh penarikan diri dari kesibukan pikiran dan keterikatan
dengan dunia untuk selanjutnya masuk dalam kekusyukan lewat konsentrasi
mendalam.
Puncak perjalanan spiritual ini adalah pengalaman mistis yang dilaporkan
banyak mistikus yang berbeda agama, seperti Jalaluddin Rumi, Sakyamuni, Theresa
dari Avila, atau Sankara. Pengalaman menggetarkan dan mencengangkan (tremendum
et fascinosum) ini, menurut William James, bercirikan: waktu yang singkat, tak
terekspresikan dalam kata-kata, perasaan melayang-layang karena sentuhan ilahi,
penyatuan dengan segala sesuatu, pengetahuan akan diri sesungguhnya, dan
pemahaman akan kebenaran terdalam.
?Bhinneka Tunggal Ika?
Pengalaman mistis memang eksklusif pada segelintir orang karena tuntutan
kedisiplinan dan ketelatenan yang keras dalam kurun waktu yang lama. Ini jelas
agak bertentangan dengan masyarakat kita yang semakin pragmatis dan serba
instan. Perbedaan ini bisa diatasi dengan mentransfer kebijaksanaan mistikus ke
skema kognitif masyarakat yang menjadi kelompok mayoritas. Dalam kaitan ini,
para pemuka agama adalah jembatan yang sangat baik.
Di kalangan awam, psikologi transpersonal sudah menangkap pentingnya transfer
itu bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis individu dan masyarakat. Para
psikolog transpersonal percaya, setiap orang bisa belajar dan menarik manfaat
dari kebijaksanaan yang dialirkan para sufi, santo/santa, jivanmukta, atau
bodhisattva.
Oleh karena itu, gerakan pluralisme agama di Indonesia perlu disikapi sebagai
niat baik untuk mengurung perdebatan dogmatis sembari berusaha menghanyutkan
diri ke muara yang menjadi esensi dari hubungan intim antara manusia dan Yang
Tak Berhingga.
Pertanyaan akhir, apakah dogma harus disingkirkan? Tentu saja tidak. Dogma
adalah petunjuk dan panduan yang tak terlepaskan dari dunia pengalaman religius.
Perjalanan apa pun selalu membutuhkan petunjuk atau panduan. Secara dogmatis
kita berbeda, secara eksperiensial kita satu.
Inilah makna religius dari Bhinneka Tunggal Ika sekaligus pesan universal
yang ingin disampaikan para mistikus, seperti Ibn Arabi ketika ia berpendapat,
semua agama?baik yang tergolong samawi maupun nonsamawi?tidak memiliki
perbedaan.
Mengapa? Karena semua pemeluk agama menyembah Tuhan yang satu, yang muncul
dalam keberagaman mereka dan keberagaman sesembahan mereka.
Masih diperlukan sinergi, kerja lebih keras, dan semangat optimistis untuk
membawa pesan keberagaman ini dari otak ke hati dan dari hati ke otak. Paling
tidak, tahun yang baru ini bisa dijadikan babak baru untuk melihat bahwa
perbedaan itu indah untuk dijalani, seperti indahnya keberagaman bunga di satu
taman.
YF La kahija
Pengajar pada Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro





---------------------------------
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

[Non-text portions of this message have been removed]






.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise