logo       

TIONGHOA INDONESIA DAN PLURALISME: msg#00941

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: TIONGHOA INDONESIA DAN PLURALISME

TIONGHOA INDONESIA DAN PLURALISME
http://www.socineer.com/indo-soshoa.html

Salah satu cerita karangan Charles Dickens, seorang pengarang cerita
anak dari periode Victorian di Inggris, adalah Oliver Twist. Cerita ini
dibaca oleh ratusan juta anak-anak dari berbagai generasi, sehingga ide-
ide yang ada dalam cerita tersebut membentuk gambaran anak-anak
yang kemudian beranjak dewasa. Salah satu ide cerita yang melekat
erat pada imaginasi anak-anak adalah tokoh Fagin, yang digambarkan
sebagai kriminal pengekspoloitasi anak-anak di London. Charles
Dickens menggambarkan Fagin sebagai the Jew, si Jahudi. Gambaran
tentang Jahudi pengeksploitir anak-anakpun berkembang, dengan
Charles Dickens merupakan salah satu pendorongnya. Sudah tentu
banyak kritik terhadap gambaran Dickens ini. Ketika dikonfrontasi
beberapa tahun kemudian, Dickens mengatakan bahwa dia membuat
Fagin sebagai seorang Jahudi karena jelas kelas kriminal di London
saat itu adalah orang-orang Jahudi. Tetapi tidak ada fakta dalam
statistik kriminal tahun 1830 di London yang memperlihatkan bahwa
orang-orang Jahudi mengontrol anak-anak pencopet. Apa yang
dituliskan Dickens itu cuma bagian dari prasangka belaka.

Seorang pengarang lain, Will Eisner, di tahun 2003 yang lalu,
mengarang cerita pembanding untuk Oliver Twist, dengan judul Fagin
the Jew. Dengan tidak meninggalkan plot dari Charles Dickens, Eisner
mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh Dickens, yaitu pandangan
dunia dari sisi pengalaman Fagin. Pembaca dibawa ke tengah
masyarakat Jahudi di London pada era Victorian, dan memperlihatkan
sisi-sisi masyarakat tersebut, dan pertentangan-pertentangan yang ada
di dalamnya. Bagaimana kelompok Jahudi Sephardim (berkulit lebih
gelap dari Mediteranian) dan kelompok Ashkenazim (kelompok
berkulit putih dari Eropa Utara) saling punya gambaran pejoratif satu
sama lain. Bagaimana kelompok Jahudi yang ingin mempertahankan
tradisi Jahudi dengan kelompok yang ingin berasimilasi ke dalam
masyarakat Protestant England. Bagaimana kelompok Jahudi miskin
dan Jahudi kaya berhubungan dan apa kepentingan mereka. Dengan
demikian Will Eisner, yang juga mengarang cerita yang mengupas
prasangka rasial terhadap anak-anak hitam di Amerika, membuat dialog
dengan Charles Dickens, dimana tokoh Fagin mengajukan pembelaan
diri terhadap pengambarannya dalam cerita Oliver Twist.

TIONGHOA INDONESIA

Kelompok masyarakat tionghoa Indonesia saat ini, dalam segi tertentu
agak mirip dengan gambaran masyarakat Jahudi jaman Victorian
tersebut. Tekanan puluhan tahun terhadap kelompok masyarakat ini,
dan proses perubahan yang cepat dalam hubungan bermasyarakat
meninggalkan bekas-bekas mendalam, termasuk di dalamnya emosi-
emosi yang campur baur. Dari luar, terlihat kelompok masyarakat
tionghoa di Indonesia itu seperti kelompok homogen. Itu jauh dari
benar. Kelompok masyarakat tionghoa di Indonesia sangat heterogen,
dan terdiri dari banyak sekali kelompok yang saling mempunyai
gambaran pejoratif satu sama lain. Sepanjang sejarah, satu demi satu
peristiwa sejarah memberikan garis pemotong masyarakat tersebut.
Secara umum, garis pemisah dalam masyarakat tionghoa tidak berbeda
jauh dari garis pemisah dalam suku-suku lain di Indonesia.

BAHASA SEBAGAI PEMISAH

Beberapa garis pemotong yang terjadi pada era-era kolonial terdahulu
sudah dilupakan dan hanya ada dalam sejarah, kecuali satu faktor, yaitu
totok-peranakan. Sebenarnya, lebih tepat pembagiannya menjadi tiga:
tionghoa totok, tionghoa babah, dan tionghoa wolanda. Pada awalnya
tionghoa totok dianggap tionghoa pendatang baru yang masih totok
gres, dan dikalangan tionghoa disebut sebagai sinke, yang arti
harafiahnya adalah keluarga baru, atau pendatang baru. Sedangkan
tionghoa peranakan adalah mereka yang lahir setempat. Sesudah arus
kedatangan immigran baru dari China menyusut, istilah ini terus
dipergunakan, tetapi faktor utama pemisah kemudian adalah faktor
bahasa. Tionghoa dianggap totok jika masih menggunakan bahasa
tionghoa sebagai bahasa sehari-hari. Tionghoa babah adalah mereka
yang menggunakan bahasa lokal, seperti bahasa Melayu, Jawa, dsb.
Tionghoa wolanda adalah mereka yang mengunakan bahasa Belanda
dalam kehidupan sehari-hari di rumah, dan umumnya mereka mendapat
pendidikan cukup tinggi dalam lembaga pendidikan berbahasa Belanda.

Pandangan pejoratif antar golongan yang dipisahkan oleh bahasa ini
cukup mendalam. Mereka yang tergolong dalam tionghoa totok
menganggap mereka yang babah atau wolanda sudah melupakan
bahasa leluhur. Sebaliknya mereka yang tidak menggunakan bahasa
tionghoa, menganggap kaum totok itu kolot, dengan sikap hidup yang
tidak lagi sesuai dengan jaman. Mereka yang non-wolanda
mengganggap yang berbahasa belanda itu mau jadi bule tapi kulit tetap
kuning, sedangkan mereka yang wolanda melihat yang lain kurang
berpendidikan.

IDEOLOGI SEBAGAI PEMISAH

Ketika perjuangan revolusioner berkecamuk di China, pandangan yang
saling berlawananpun dibawa ke kalangan tionghoa di luar China,
termasuk di Indonesia. Pada waktu dinasti Qing masih berkuasa, ada
tiga kelompok, yaitu kelompok pro-Qing, kelompok yang ingin
mereformasi Qing, dan kelompok anti-Qing. Ini semua juga sudah
tinggal sejarah. Yang tertinggal kemudian setelah Revolusi adalah
kelompok pro Kuomintang (Nasionalis) dan kelompok pro
Kungchangtang (Komunis). Kelompok terakhir ini berhasil ditekan
sampai sehabis-habisnya pada era Orde Baru.

Pergolakan ideologis di Indonesia juga memecah kelompok tionghoa
pada era Soekarno, yaitu kelompok pro BAPERKI, dan kelompok anti
BAPERKI. Persengketaan secara ideologis ini lebih keras dan
mendalam daripada pembedaan dari faktor bahasa dan budaya diatas.
Persengketaan itu terhenti ketika Order Baru muncul, dimana kelompok
pro Baperki harus mundur, dihancurkan, dan diam. Kecuali seorang
pengacara yang terus menyuarakan suara anti penindasan seperti Yap
Thiam Hien, S.H.

AGAMA SEBAGAI PEMISAH

Pada era Orde Baru, terjadilah dikotomi pemisah masyarakat yang
mencuat adalah agama. Hal ini disebabkan karena Orde Baru ingin
mengendalikan agama sebagai alat stabilisasi massa. Secara terang-
terangan budaya tionghoa disisihkan, termasuk di dalamnya agama
Confucius yang dianut sebagian masyarakat tionghoa, yang tidak diakui
sebagai agama. Penggunaan agama sebagai alat politik kentara sekali,
ketika perayaan-perayaan tionghoa (seperti perarakan naga)
diperbolehkan pada waktu menjelang Pemilihan Umum, dan mereka
diarahkan untuk memilih partai pemerintah.

Dengan diberlakukannya azas tunggal, dimana perbedaan ideologi
tidak diperbolehkan karena semuanya harus menganut ideologi tunggal
negara, maka dorongan masyarakat untuk memperlihatkan pembedaan
itupun bergeser ke faktor agama. Kalau dulu orang bisa bilang saya
nasionalis, kamu sosialis, pada era Orde Baru karena perbedaan
ideologis tidak diperbolehkan, pembedaan atas suku dianggap haram
(dianggap memunculkan bahaya separatis, yang selama Orde Baru
merupakan masalah, terutama di Aceh, Irian dan Timor Timur), maka
muncullah faktor agama sebagai ladang permainan utama. Karena
pertentangan agama dianggap tidak berbahaya bagi pemerintah kecuali
yang mau membuat kerusuhan, dan pemerintah bisa menjadi wasit
yang mengendalikan semua pihak, maka pertentangan ini dieksploitasi
untuk stabilisasi politik. Dengan menjaga agar masing-masing agama
punya ladang tersendiri, maka perpecahan terjadi, sehingga massa
sukar untuk menggalang kesatuan secara menyeluruh.

Efek ini terasa di kalangan tionghoa. Ketika faktor bahasa dan ideologi
sebagai faktor pemisah mulai luntur, agama muncul sebagai faktor
yang semakin nyata. Kalau ada pertentangan dan perdebatan, banyak
yang muncul adalah faktor perbedaan agama. Walaupun harus
ditekankan disini, bahwa ini hanya berlaku untuk kalangan yang
mementingkan agama. Sebagian orang tionghoa yang tidak begitu
peduli dengan agama tidak terlalu memusingkan soal kepercayaan
seperti ini.

Pada era sesudah Orde Baru, tekanan terhadap kelompok tionghoa
mulai dilepas, dan kelompok tionghoa mulai dihargai sebagai satu
kelompok etnis budaya tersendiri di Indonesia. Hari Tahun Baru Imlek
juga diakui sebagai hari raya nasional di Indonesia. Penggunaan bahasa
tionghoa di media massa tidak lagi diharamkan. Tetapi rupanya sisa
peninggalan dari era lalu, yaitu pertentang agama sukar untuk diatasi.
Hal ini juga disebabkan oleh persaingan untuk merebut pengikut agama.
Tidak seperti di negara maju, dimana persaingan merebut pengikut
agama sudah tidak lagi menjadi masalah, di Indonesia masih
merupakan masalah besar. Hal itu mungkin, selain disebabkan oleh
kedewasaan masyarakat, di masyarakat negara maju ada banyak faktor
yang memperkaya hidup seseorang selain faktor agama. Agama tidak
lagi menjadi satu-satunya sumber harapan manusia.

PLURALISME

Orang tionghoa Indonesia umumnya adalah pendukung pluralisme
dalam hidup bermasyarakat di Indonesia. Tanpa pluralisme, maka
pembedaan budaya akan dirasa sebagai ancaman bagi masyarakat.
Dengan pluralisme, masyarakat tidak lagi diikat oleh kesamaan
karakteristik, tetapi oleh pengertian dan saling menghargai. Karena
adanya pluralisme, maka kelompok-kelompok minoritas bisa hidup dan
berkembang dalam suatu masyarakat.

Jika ingin dikatakan konsisten, seharusnya pluralisme juga tidak hanya
ditujukan keluar, tetapi juga kedalam, yaitu kedalam masyarakat
tionghoa Indonesia itu sendiri. Masyarakat tionghoa di Indonesia itu
masyarakat yang plural, dan itu harus diakui sebagai fakta. Tanpa
penghargaan terhadap pluralisme dalam masyarakat tionghoa itu sendiri,
sukar rasanya untuk bisa dianggap konsisten dalam ruang lingkup yang
lebih besar, yaitu ruang lingkup nasional.

Syukurlah dari pengalaman penulis, sebagian besar warga Indonesia
keturunan tionghoa merupakan kaum pluralis, yang bisa hidup dalam
perbedaan tanpa perlu terlalu memusingkan soal perbedaan agama atau
tradisi keluarga. Orang tionghoa umumnya bersikap pragmatis,
mementingkan kesejahteraan keluarganya dibanding dengan
memusingkan perbedaan ideologi atau agama.


Last Revised:Jan 28, 2006





.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise