祝财运亨通!
Imlek
dan Berkah Kue Keranjang
Oleh
Yuyuk
Sugarman
YOGYAKARTA ? Sebentar lagi, warga Tionghoa
akan merayakan tahun baru Imlek 2557 yang jatuh pada 29 Januari 2006. Pada
awalnya, Imlek atau Sin Tjia merupakan perayaan yang dilakukan para petani di
China yang biasanya jatuh pada tanggal 1 di bulan pertama di awal tahun baru.
Perayaan ini berkaitan dengan pesta petani menyambut musim semi.
Para
petani di China ini dalam menyambut Imlek biasanya melakukan sembahyang kepada
Sang Pencipta dan mengadakan perayaan Cap Go Meh. Semua ini dilakukan sebagai
perwujudan syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih
banyak.
Dalam menyambut Imlek, mereka menyajikan berbagai jenis makanan,
biasanya 12 jenis, untuk menjamu leluhur. Selain itu, mereka juga menggunakan
hari itu sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Kedua belas
macam makanan atau kue ini mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12.
Di China, hidangan yang wajib adalah mi panjang umur (siu mi) dan arak. Di
Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti
?kemakmuran?, ?panjang umur?, ?keselamatan? atau ?kebahagiaan?, dan merupakan
hidangan kesukaan para leluhur.
Ada suatu kepercayaan bahwa kue-kue yang
dihidangkan lebih manis daripada biasanya. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan di
tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu, dihidangkan pula kue lapis
sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue kekeranjang
juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan
menyambut datangnya tahun baru Imlek.
Maka, tak heran jika banyak
pengusaha kue atau roti yang membuat kue kekeranjang untuk dijual secara partai
kecil atau partai besar, bahkan banyak yang menerima pesanan. Salah satu yang
membuat kue keranjang di Yogyakarta adalah Ny Siauw Lie Tjen (60) yang
meneruskan usaha ayahnya, Siauw Boen Tjiauw yang merintis sejak tahun 1930-an.
?Sudah menjadi tradisi, setiap perayaan Imlek harus ada kue keranjang.
Keberadaan kue keranjang sama dengan keberadaan ketupat dan opor dalam perayaan
lebaran umat Islam. Untuk itu, kami membuat kue keranjang ini,? kata Siauw Lie
Tjen, pengusaha Kue ?Mapan? ini.
Sejak tiga minggu menjelang Imlek, ia
telah kebanjiran permintaan dari berbagai kota, misalnya Magelang, Semarang dan
Banyumas. ?Saya tak bisa merambah Jakarta atau Surabaya karena di sana juga
sudah banyak pengusaha yang membuat kue keranjang. Tak mungkin kami bersaing
dengan mereka yang punya modal dan jaringan besar,? ujarnya.
Hingga
Minggu (22/1), Ny Siauw Lie Tjen telah menghabiskan 1,5 ton tepung ketan dan 1,5
ton gula pasir untuk membuat kue keranjang. Permintaan ini akan terus meningkat
hingga empat hari menjelang Imlek. ?Biasanya banyak yang memesan kue keranjang
tingkat. Perkiraan saya sampai puncak perayaan Imlek bisa meghabiskan 4 ton
tepung beras ketan dan 4 ton gula,? katanya.
Setiap hari Siauw Lie Tjen
dibantu sepuluh karyawan, mampu mengolah 300 kg tepung beras ketan dan 300 kg
gula menjadi 1.200 kue keranjang berukuran kecil dan besar. Untuk ukuran kecil,
kue keranjang ini dijual seharga Rp 5.000, sedangkan kue kekeranjang bertingkat
ukuran lebih besar dijual Rp 50.000.
Untuk menghasilkan kue keranjang, dibutuhkan
proses cukup lama. Setelah tepung ketan dan gula diadoni, lantas dikukus selama
delapan jam, tidak lebih dan tidak kurang. ?Lebih dari delapan jam hasilnya
terlalu keras. Kurang dari delapan jam kuenya tidak tahan lama,?
tuturnya.
Setelah itu, kue yang telah matang didinginkan dan dicetak
dalam sebuah kaleng yang telah disiapkan, lalu diangin-anginkan, bahkan bila
perlu dijemur. Agar terlihat menarik, setelah kue itu dibungkus ditambah dengan
hiasan lampion. ?Imlek merupakan berkah bagi kami sekeluarga,? ujar Ny Siauw Lie
Tjen. n
Copyright © Sinar Harapan 2002