|
|
RE: [t-net] Cina Benteng Hadapi Imlek dengan Penuh Kesulitan: msg#00931
culture.region.china.budaya-tionghua
|
Subject: |
RE: [t-net] Cina Benteng Hadapi Imlek dengan Penuh Kesulitan |
Bung Rinto,
Keadaan yang relatif sama juga kami temui
saat membagikan paket2 Imlek minggu kemarin di kota kita tercinta di Binjai (terutama di daerah
Tandam, Kp. Tanjung, dan Tanah Seribu). Banyak saudara tionghoa kita yang masih
hidup di bawah taraf sejahtera, dan sayangnya tidak terekspos karena lokasinya
yang lumayan terpencil.
Saya mencermati sebenarnya banyak saudara
tionghoa kita yang mau berbagi kasih saat imlek hanya mungkin karena
keterbatasan waktu dan efisiensi, mereka lebih banyak menyalurkan ke panti2
jompo sehingga panti2 jompo pada kebanjiran paket2 imlek, sedangkan keluarga2
pra-sejahtera di pelosok2 kecamatan tidak tersentuh.
Melihat fenomena ini, kami selama 5 tahun
terakhir merubah cara penyaluran dengan mencari sendiri dan langsung membagikan
paket kepada keluarga2 pra-sejahtera. Memang sangat melelahkan, karena mesti
jalan kaki masuk gang keluar gang. Bisa seharian dari pagi sampe malam.
MH
From: tionghoa-net-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx [mailto:tionghoa-net-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx] On Behalf Of Rinto Jiang
Sent: Friday, January 27, 2006
4:46 PM
To: Milis T-Net
Subject: [t-net] Cina Benteng
Hadapi Imlek dengan Penuh Kesulitan
SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------------------------------------------------
Cina Benteng Hadapi Imlek dengan Penuh
Kesulitan
"Saya Belum Masak,
Berasnya Gak Ada"
TANGERANG - Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek
tinggal beberapa hari
lagi. Namun, tak sedikit etnis Tionghoa di
Tangerang yang tidak bisa
berbuat banyak karena mereka sama sekali tidak
memiliki persiapan bahan
makanan untuk dimasak saat Imlek tiba.
"Untung ada bantuan dan pembagian sembako,
saya kini bisa merencanakan
menu masakan untuk Imlek nanti," kata Nancy
Kim Ong (35) kepada
/Pembaruan/ di Tangerang, Kamis (26/1).
Ia tampak kepayahan. Di tangan kirinya terdapat
bungkusan plastik berisi
beras tiga liter, empat plastik mi instan, dan
sebungkus biskuit serta
amplop merah atau /ang pao/ berisi uang. Sedangkan
di tangan kanannya
bergelayut putri bungsunya berusia dua tahun.
Bungkusan itu adalah sembako bantuan untuk warga
keturunan Tionghoa
Tangerang yang miskin atau dikenal dengan Cina
Benteng yang akan
merayakan Imlek. Nancy sendiri sudah menunggu bantuan itu
sejak pagi.
Setelah melampaui antrean di antara ratusan warga
lainnya, dia
tergopoh-gopoh menuju rumahnya di Gang Rizka RT
03/RW 04, Kelurahan
Karawaci, Kota Tangerang. Maklum, sesiang itu, dia
belum masak untuk
anak-anaknya.
Padahal hari sudah menunjuk pukul 11.00 WIB.
"Saya memang belum masak,
berasnya /gak/ ada," ujarnya.
Nancy menuturkan, kenaikan harga beras sekarang ini makin membuat
hidupnya tambah sengsara. Jangankan untuk perayaan
Imlek, untuk makan
sehari-hari saja dia susah.
Suaminya hanya bekerja sebagai pedagang bubur.
Modalnya dipinjam dari
bank keliling yang harus dibayar setiap hari.
"Paling banyak dia bisa bawa pulang uang ke
rumah Rp 20.000. Uang itu
habis untuk beli beras, minyak tanah, dan lauk
sekadar tahu atau tempe,"
katanya.
Jangan dikata untuk sekolah anak-anaknya. Dari lima anaknya, hanya satu
yang sekolah di kelas II SD. Lainnya sudah tidak
sekolah.
Bahkan anak keempatnya bernama Tanu, yang kini
berusia 14 tahun, tidak
pernah menginjak bangku sekolah. "Jangankan
sekolah, makan saja susah,"
katanya.
Kesulitan menghadapi hidup ini seperti Nancy ini banyak dialami
oleh
warga keturunan Cina Benteng lainnya. Mereka bukan
saja sulit
mendapatkan pekerjaan yang layak, tetapi juga
pendidikan yang baik juga
sangat sulit mereka capai.
Banyak anak mereka yang putus sekolah, bahkan
tidak sekolah sama sekali,
karena mereka tidak punya biaya dan tidak punya
identitas. Warga Cina
Benteng ini kesulitan untuk mengurus
kewarganegaraan ataupun akte
kelahiran. Apalagi banyak di antara keturunan
mereka yang tidak menikah
di catatan sipil, tetapi hanya secara adat.
*Bantuan*
Warga Cina Benteng juga sangat sedikit yang
mendapatkan bantuan
langsung, sehingga kehidupan mereka cukup
memprihatinkan. Oleh karena
itu, adanya bantuan seperti yang dilakukan oleh
Solidaritas Masyarakat
Islam Tionghoa (SMIT) Tangerang dan Perkumpulan
Islam Tionghoa Indonesia
(PITI) sangat membantu warga masyarakat Cina
miskin ini.
Menurut Ketua PITI, Trisno Adi alias Chin Ci Sin,
bantuan itu merupakan
bentuk solidaritas kerukunan umat beragama.
"Ini bentuk perhatian
sesama, mudah-mudahan berarti bagi mereka,"
katanya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua SMIT, Edi
Sulaiman. Dia menyatakan,
bantuan yang sudah diberikan sejak tujuh tahun
lalu dalam rangka
perayaan Imlek, adalah untuk berbagi kebahagiaan
kepada warga keturunan
yang tidak kebagian subsidi langsung tunai (SLT)
dari pemerintah.
"Pemberian ini kecil, tapi kami ingin sedikit
berbagi rasa gembira
terutama kaum keturunan yang merayakan Imlek,
khususnya mereka yang tak
dapat SLT. Tujuan utama lainnya adalah menyambung
tali kasih sesama
antarumat beragama," kata Edi.
Pemberian 1.000 paket sembako hari itu, tidak
hanya dilakukan di
Karawaci, tetapi juga di tiga lokasi lainnya di
Kelurahan Kedaung Wetan,
Kelurahan Sewan Kecamatan Neglasari dan Kawasan
Shinta, Karawaci. (132)
------------------------------------------------------------------------
/Last modified: 27/1/06/
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
|
|