logo       

RE: Re: Co Kun Kong: msg#00929

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: RE: Re: Co Kun Kong

Hehe, Bung Rinto,

 

Saya sepenuhnya setuju dengan pemikiran anda tentang kepercayaan vs. rasionalitas terutama pada tradisi sembahyang orang tionghoa.

 

Saya termasuk anak yang sempat mengejek (lebih tepat/halus bercanda deh) mama & istri saya soal bakar-bakaran uang kertas ;-), sampai-sampai pernah seorang sai-kong kesel saya kritik terus waktu buat kong-tek untuk kakek saya.

 

Saya sampai sempat cari-cari literatur apakah memang tradisi bakar-bakaran uang kertas dll HARUS WAJIB dijalankan atau tidak. Di satu sisi, kalau memang benar, saya sangat bangga bahwa orang China dahulu kala sudah mengenal teknologi teleportation kayak film Star-Trek. Jadi baju dan parabola kertas yang dibakar di dunia bisa berubah wujud di alam baka dan diterima yang berhak ;-) padahal sampai sekarang teknologi ini masih sangat susah diimplementasikan. Disisi lain, dari sisi rasional hal ini tidaklah masuk akal. Kadang saya berpikir apakah kita sudah salah menerima ‘instruksi’ dari generasi sebelumnya.

 

FYI, saya pernah membaca sebuah buku yang menceritakan tentang perjalanan rohani seorang bhiksu sebuah vihara di Taiwan ke surga dan neraka. Sayang sekali saya lupa judulnya dan sampai hari ini buku tsb tidak dapat saya temukan lagi; entah keselip di mana. Nah, pada salah satu bab ini diceritakan masalah bakar-bakaran uang kertas ini. Ternyata, Tuhan yang bertemu dengan bhiksu ini berpesan agar umat manusia tidak membakar uang2 kertas lagi. Ini tidak perlu, yang perlu adalah berbakti kepada orang tua saat beliau masih hidup di dunia, bukan mempersembahkan berbagai lauk yang enak2 serta uang2 kertas yang banyak untuk dibakar saat beliau sudah meninggal.

 

 

 

MH

 

 

 

 


From: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx [mailto:budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx] On Behalf Of Rinto Jiang
Sent: Friday, January 27, 2006 12:01 PM
To: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Co Kun Kong

 

Namanya kepercayaan, maka pasti banyak hal yang tidak masuk di akal. Masalah iman atau kepercayaan tidak boleh disandingkan dengan rasionalitas. Bila mau rasional, maka tidak akan ada agama yang cocok untuk seseorang. Saya pernah baca ntah di mana, apakah lawan dari theis? Jawabannya bukan atheis. Bukan.

Theis dan Atheis itu adalah sama, berada di pihak yang sama. Lawan mereka berdua adalah rasionalitas. Mengapa begitu? Seorang yang rasional akan mempertanyakan apakah Tuhan itu benar ada? Lalu juga akan bertanya apakah Tuhan itu benar tidak ada? Jadi, theis dan atheis adalah sama2 tidak rasional. Karena masing2 tidak dapat membuktikan secara realistik untuk menyebabkan pihak yang lain percaya.

Jadi, bila seseorang itu percaya ini dan itu, biarkanlah selama tidak mengganggu dan membahayakan  ketentraman masyarakat. Saya kasih satu contoh saja, ada anak yang mengejek orang tuanya masih taat membakar hio dan membakar uang kertas tiap ce-it capgo. Itu kepercayaan orang tua, mereka melakukannya dan akan mendapat ketenangan batin setelah itu. Biarkanlah.

Masalah bakar-membakar terlepas dari apakah benar atau tidak, namun itu adalah satu obat psikologis buat mereka. Manusia selalu ingin mencari pegangan psikolosig karena merasa diri mereka terlalu kecil dibandingkan alam ini. Saya tidak menolak bakar-bakaran, namun juga tidak setuju bila membakar dalam jumlah banyak karena efeknya negatif terhadap lingkungan. Saya sering mengatakan kepada orang tua agar membakar dalam jumlah sedikit, karena banyak sedikit tidak melambangkan apa2, yang penting adalah niat mereka. Untuk menenangkan mereka, saya ajarkan mereka agar membakar uang kertas yang nominalnya lebih besar. Di sini, ada jenis2 uang kertas yang berbeda dalam nilainya. Yah tentu saja, masalah nominal ini juga kepercayaan. Win-win solution bukan?

Ini cuma masalah tradisi bakar-membakar, belum lagi banyak tradisi lainnya yang dianggap clash/bertentangan dengan nilai2 agama lain.


Rinto Jiang



paparaca88 wrote:

salam,

wkt sama menanyakan hal yg sama kepada se org taose di tiong kok, sy
di jwb: patung di tiongkok kan besar2 tingginya sampai 8-10 m,
bahkan lebih, mk klo tdk dibuatkan dongeng dewa naik ke langit, ga
ada org yg berani bersihkan patung dewa-dewi tsb dg menginjak-injak
hidungnya (misalnya) jd semua itu hanya dongeng agar yg bersihkan
klenteng se blm sin cia ga takut kena walat krn dianggap kurang ajar
pd dewa.

wassalam

paparaca.





.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




SPONSORED LINKS
Indonesia Culture Chinese


YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise