Hehe, Bung Rinto,
Saya sepenuhnya setuju dengan pemikiran
anda tentang kepercayaan vs. rasionalitas terutama pada tradisi sembahyang
orang tionghoa.
Saya termasuk anak yang sempat mengejek
(lebih tepat/halus bercanda deh) mama & istri saya soal bakar-bakaran uang
kertas ;-), sampai-sampai pernah seorang sai-kong kesel saya kritik terus waktu
buat kong-tek untuk kakek saya.
Saya sampai sempat cari-cari literatur apakah
memang tradisi bakar-bakaran uang kertas dll HARUS WAJIB dijalankan atau tidak.
Di satu sisi, kalau memang benar, saya sangat bangga bahwa orang China dahulu
kala sudah mengenal teknologi teleportation kayak film Star-Trek. Jadi baju dan
parabola kertas yang dibakar di dunia bisa berubah wujud di alam baka dan
diterima yang berhak ;-) padahal sampai sekarang teknologi ini masih sangat
susah diimplementasikan. Disisi lain, dari sisi rasional hal ini tidaklah masuk
akal. Kadang saya berpikir apakah kita sudah salah menerima ‘instruksi’
dari generasi sebelumnya.
FYI, saya pernah membaca sebuah buku yang
menceritakan tentang perjalanan rohani seorang bhiksu sebuah vihara di Taiwan
ke surga dan neraka. Sayang sekali saya lupa judulnya dan sampai hari ini buku
tsb tidak dapat saya temukan lagi; entah keselip di mana. Nah, pada salah satu
bab ini diceritakan masalah bakar-bakaran uang kertas ini. Ternyata, Tuhan yang
bertemu dengan bhiksu ini berpesan agar umat manusia tidak membakar uang2
kertas lagi. Ini tidak perlu, yang perlu adalah berbakti kepada orang tua saat
beliau masih hidup di dunia, bukan mempersembahkan berbagai lauk yang enak2
serta uang2 kertas yang banyak untuk dibakar saat beliau sudah meninggal.
MH
From: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
[mailto:budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx]
On Behalf Of Rinto Jiang
Sent: Friday, January 27, 2006
12:01 PM
To: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re:
Co Kun Kong
Namanya kepercayaan, maka pasti banyak hal yang tidak
masuk di akal. Masalah iman atau kepercayaan tidak boleh disandingkan dengan
rasionalitas. Bila mau rasional, maka tidak akan ada agama yang cocok untuk
seseorang. Saya pernah baca ntah di mana, apakah lawan dari theis? Jawabannya
bukan atheis. Bukan.
Theis dan Atheis itu adalah sama, berada di pihak yang sama. Lawan mereka
berdua adalah rasionalitas. Mengapa begitu? Seorang yang rasional akan
mempertanyakan apakah Tuhan itu benar ada? Lalu juga akan bertanya apakah Tuhan
itu benar tidak ada? Jadi, theis dan atheis adalah sama2 tidak rasional. Karena
masing2 tidak dapat membuktikan secara realistik untuk menyebabkan pihak yang
lain percaya.
Jadi, bila seseorang itu percaya ini dan itu, biarkanlah selama tidak
mengganggu dan membahayakan ketentraman masyarakat. Saya kasih satu
contoh saja, ada anak yang mengejek orang tuanya masih taat membakar hio dan
membakar uang kertas tiap ce-it capgo. Itu kepercayaan orang tua, mereka
melakukannya dan akan mendapat ketenangan batin setelah itu. Biarkanlah.
Masalah bakar-membakar terlepas dari apakah benar atau tidak, namun itu adalah
satu obat psikologis buat mereka. Manusia selalu ingin mencari pegangan
psikolosig karena merasa diri mereka terlalu kecil dibandingkan alam ini. Saya
tidak menolak bakar-bakaran, namun juga tidak setuju bila membakar dalam jumlah
banyak karena efeknya negatif terhadap lingkungan. Saya sering mengatakan
kepada orang tua agar membakar dalam jumlah sedikit, karena banyak sedikit
tidak melambangkan apa2, yang penting adalah niat mereka. Untuk menenangkan
mereka, saya ajarkan mereka agar membakar uang kertas yang nominalnya lebih
besar. Di sini, ada jenis2 uang kertas yang berbeda dalam nilainya. Yah tentu
saja, masalah nominal ini juga kepercayaan. Win-win solution bukan?
Ini cuma masalah tradisi bakar-membakar, belum lagi banyak tradisi lainnya yang
dianggap clash/bertentangan dengan nilai2 agama lain.
Rinto Jiang
paparaca88 wrote:
salam,
wkt sama menanyakan hal yg sama kepada se org
taose di tiong kok, sy
di jwb: patung di tiongkok kan besar2 tingginya
sampai 8-10 m,
bahkan lebih, mk klo tdk dibuatkan dongeng dewa
naik ke langit, ga
ada org yg berani bersihkan patung dewa-dewi tsb
dg menginjak-injak
hidungnya (misalnya) jd semua itu hanya dongeng
agar yg bersihkan
klenteng se blm sin cia ga takut kena walat krn
dianggap kurang ajar
pd dewa.
wassalam
paparaca.
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS