logo       

Kolom IBRAHIM ISA -- Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat,,Pembang: msg#00907

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat,,Pembangunan NASION INDONESIA



-------- Original Message --------
Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat,,Pembangunan NASION INDONESIA
Date: Thu, 26 Jan 2006 20:53:28 +0100
From: I. Bramijn <i.bramijn-/NLkJaSkS4VmR6Xm/wNWPw@xxxxxxxxxxxxxxxx>
To: budaya_tionghua Moderator <budaya_tionghua-owner-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>


*Kolom IBRAHIM ISA*

*-----------------------------*

*Jumát, 27 Januari 2006.*


*Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat *

*Pembangunan NASION INDONESIA*


Apakah judul kolom ini terlalu opstimis, menjurus ambisius? Atau 
barangkali bisa dianggap berbau 'nasionalistis' ? Jelas, tidak!


Karena, ------ puluhan tahun yang lalu, sejak b a n g s a Indonesia 
memulai perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk mencapai 
kemerdekaan bangsa dan tanah air, sebagai suatu bangsa yang masih muda 
sekali, masalah perjuangan kemerdekaan, selalu berkaitan dan menyatu 
dengan masalah pembangunan nasion Indonesia.


Maka, dari segi ini, pernyataan atau mungkin lebih tepat disebut p r o k 
l a m a s i SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928, bukanlah suatu kebetulan. Di 
satu segi ia cetusan hasrat yang didasarkan atas kesadaran bahwa tujuan 
mulya untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa dan tanah air, tidak bisa 
terpisah dari usaha persatuan seluruh bangsa. Sedangkan persatuan bangsa 
sangat erat kaitannya dengan masalah pembangunan nasion Indonesia.


Perjuangan melawan kolonialisme Belanda sampai saat bersejarah 
diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 
1945, --- dilanjutkan dengan perjuangan untuk membela Republik Indonesia 
dari rongrongan, subversi neo-kolonialisme dan imperialisme, adalah 
tahap-tahap dan periode perjuangan yang kaya dengan nama-nama para 
pejuang pendahulu dan pahlawan bangsa. Kita mengenal nama-nama 
pejuang-pejuang nasion yang mencerminkan pelbagai suku bangsa Indonesia, 
seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Semaun, Alimin, K.H. Wahid Hasjim, Sukarno 
dll -- asal suku-bangsa Jawa; Moh. Hatta, Tan Malaka, Amir Syarifuddin, 
Syahrir, Haji Agus Salim, dll dari suku-bangsa di Sumatra; Leimena, 
Latuharhary, dll dari suku-bangsa di Maluku; L.N. Palar, Sam Ratulangi, 
A. Mononutu, Salawati Daud, dll --- dari sukubangsa di Sulawesi, dan 
banyak lagi dari suku-bangsa lainnya di Indonesia. Juga tidak 
ketinggalan pejuang nasional Indonesia berasal bangsa asing, seperti 
Setia Budi (Douwes Dekker), Dahler dll -- dari etnik Indo-Belanda, -- 
Siauw Giok Tjhan, Tan Ling Djie, Tjoa Sek Ien, John Lie, Tan Po Goan, 
Ong Eng Die dll , dari etnik - Tionghoa, dan banyak lainnya. 
Keseluruhannya itu adalah mutiara-mutiara dalam sejarah bangsa, yang 
menunjukkan betapa demi kemerdekaan tanah air dan bangsa serta 
pembangunan nasion Indonesia, mereka-mereka itu telah memberikan dharma 
baktinya kepada tanah air dan bangsa.


Dewasa ini kita telah melalui pelbagai fase perjuangan bangkit 
berdirinya nasion Indonesia, dengan telah direbutnya kembali kebebasan 
demokratis, seperti hak untuk menyatakan pendapat, berorganisasi, 
kebebasan pers, dll. Namun, masalah pembangunan nasion Indonesia masih 
tetap merupakan salah satu tugas inti yang masih terus harus 
diperjuangkan, untuk mencapai cita-cita terlaksananya hak-hak demokrasi 
sepenuhnya, HAM, keadilan dan kemakmuran yang merata, serta Indonesia 
yang bersatu dan menyatu dari Sabang sampai Merauké.


Memasuki tahun baru Imlek 2006, menyambut TAHUN ANJING, kita menghadapi 
kenyataan positif bahwa, Imlek bukan lagi suatu hari raya bagi 
warganegara Indonesia asal etnik-Tionghoa semata-mata. Pemerintah pasca 
Reformasi telah mengambil keputusan bahwa hari raya Imlek adalah (salah 
satu) hari raya nasional Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari Hari 
Raya Imlek sudah lama menjadi hari raya yang dirayakan bersama oleh 
penduduk Indonesia. Berbeda dengan apa yang terjadi selama periode Orba 
ketika diskrimninasi terhadap w.n.i. asal etnik Tionghoa adalah politik 
resmi penguasa. Sejak gerakan Reformasi dan Demokratisasi yang telah 
berhasil menggulingkan pemerintahan Jendral Suharto, banyak terjadi 
perubahan; khususnya yang menyangkut perlakuan sama terhadap w.n. asal 
etnik Tionghoa. Ini adalah hasil perjuangan s e l u- -r u h kekuatan 
Reformasi dan Demokratisasi. Hasil usaha susah payah seluruh bangsa.


Tokh, harus dicatat bahwa sisa-sisa politik diskriminasi Orba terhadap 
wargananegara sendiri, khususnya terhadap asal etnik Tionghoa masih 
tampak dan dirasakan. Oleh karenanya hal itu masih merupakan salah satu 
program aksi dan perjuangan yang harus diteruskan.


Yang perlu diperhatikan ialah bahwa perjuangan itu tidak seharusnya dan 
pula tidak mungkin mencapai tujuan akhirnya, bila ia dilakukan secara 
tersendiri-tersendiri dan terpisah-pisah dari perjuangan untuk demokrasi 
secara keseluruhan. Untuk bisa mencapai hasil yang diharapkan hal itu 
harus dilakukan sebagai bagian dari perjuangan yang lebih hesar dan 
menyeluruh untuk demokrasi, HAM dan keadilan sosial; lagipula harus 
dilakukan tanpa membeda-bedakan apakah korban pelanggaran hak-hak 
manusia itu, berasal dari warganegara asal etnik tertentu. Seyogianya 
perjuangan dilakukan tanpa memilah-milih apakah para korban tsb berasal 
dari peristiwa pembantaian 1965, peristiwa Malari, peristiwa Tanjung 
Priok, Mei 1998 dan lain-lain korban pelanggaran HAM oleh penguasa. 
Ataukah itu akibat dari tindakan kekerasan pelanggaran HAM oleh aparat 
yang terjadi di Maluku, Aceh atau Papua.


Terasa sekali masih perlu untuk selalu menekankan masih adanya 
diskriminasi rasial terhadap warganegara Indonesia asal etnis Tinghoa.


Sebagai contoh, adalah pengaduan yang disampaikan baru-baru ini oleh 30 
warganegara etnis Tionghoa Miskin sekitar diskriminasi yang mereka 
derita (lihat berita lengekap di Gusdur Net> . Mereka adalah Anggota 
PPTM yang sebagian besar adalah suku Tionghoa yang berasal dari kawasan 
kumuh pinggiran Jakarta, yaitu Tegal Alur Cengkareng, Sungapan 
Tangerang, Rawa Lambang Tangerang, Kosambi Tangerang, Kapuk Tangerang, 
dan Gaga Kompeni Cengkareng. Banyak kesulitan dan perlakuan 
diskriminatif yang hingga kini masih dialami suku Tionghoa. Misalnya 
untuk pembuatan KTP, KK, ataupun akte kelahiran, mereka selalu diminta 
menyerahkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). 
Padahal, SBKRI tak mudah mereka dapatkan karena memerlukan biaya tinggi.



”Tanpa SBKRI, maka anak bangsa ini akan menjadi obyek pemerasan 
’aparatur hitam’ yang diskriminatif dengan dalih status 
kewarganegaraannya meragukan, sekalipun jelas-jelas dia lahir di negeri 
tercinta ini”. Tak dimilikinya SBKRI juga dijadikan alasan aparat untuk 
tidak mengucurkan dana kompensasi BBM kepada masyarakat Tionghoa. 
”Padahal mereka juga orang-orang miskin,” jelas Rebeka. ”Kita datang 
hari ini untuk mengadukan, betapa menjadi orang Tionghoa itu susah 
sekali.” Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Anti 
Diskriminatif di Indonesia (LADI) Rebeka Harsono.

Selain itu, ---- INI ADALAH PELANGGARAN HAM YANG AMAT GAWAT --- sampai 
detik ini masih terus berlangsung diskriminasi dan stigmagtisasi yang 
lebih gawat lagi yang dilakukan penguasa terhadap para korban peristiwa 
1965, beserta keluarga mereka meliputi jumlah lebih dari 20.000 juta 
orang. Sehingga dengan demikian asal etnis Tionghoa yang korban 
peristiwa 65 menderita dua macam diksriminasi, yaitu diskriminasi karena 
berasal etnis Tionghoa, dan didiskrimnasi karena dituduh terlibat dengan 
G30S.


Dengan demikian, perjuangan tsb saling terjalin. Yaitu perjuangan untuk 
menghapuskan diskriminasi rasial dan diskriminasi politik yang merupakan 
soal bangsa yang lebih besar lagi.


Memasuki Tahun Baru Imlek --- TAHUN ANJING, patut disambut 
pernyataan-pernyataan yang dikemukakan dalam kesempatan pemilihan 
pengurus baru INTI, yang menekankan bahwa bangsa ini merupakan suatu 
kesatuan. Penderitaan akibat diskriminasi politik maupun rasial, itu 
mengenai dan menyangkut lapisan rakyat yang luas. Tidak terbatas pada 
lapisan atau asal etnik atau golongan politik tertentu saja.


Maka tidak ada jalan lain, perjuangan untuk menghapuskan diskriminasi 
rasial, diskriminasi politik serta demi pemberlakuan HAM dan penegakkan 
negara hukum di negeri kita, harus dipandu dengan semangat solidaritas 
dan persatuan serta kesatuan bangsa.


SELAMAT HARI RAYA IMLEK! * * *



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise