|
|
Kolom IBRAHIM ISA -- Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat,,Pembang: msg#00907
culture.region.china.budaya-tionghua
|
Subject: |
Kolom IBRAHIM ISA -- Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat,,Pembangunan NASION INDONESIA |
-------- Original Message --------
*Kolom IBRAHIM ISA*
*-----------------------------*
*Jumát, 27 Januari 2006.*
*Memasuki 'TAHUN-ANJING' --- Dengan Memperkuat *
*Pembangunan NASION INDONESIA*
Apakah judul kolom ini terlalu opstimis, menjurus ambisius? Atau
barangkali bisa dianggap berbau 'nasionalistis' ? Jelas, tidak!
Karena, ------ puluhan tahun yang lalu, sejak b a n g s a Indonesia
memulai perjuangan melawan kolonialisme Belanda untuk mencapai
kemerdekaan bangsa dan tanah air, sebagai suatu bangsa yang masih muda
sekali, masalah perjuangan kemerdekaan, selalu berkaitan dan menyatu
dengan masalah pembangunan nasion Indonesia.
Maka, dari segi ini, pernyataan atau mungkin lebih tepat disebut p r o k
l a m a s i SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928, bukanlah suatu kebetulan. Di
satu segi ia cetusan hasrat yang didasarkan atas kesadaran bahwa tujuan
mulya untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa dan tanah air, tidak bisa
terpisah dari usaha persatuan seluruh bangsa. Sedangkan persatuan bangsa
sangat erat kaitannya dengan masalah pembangunan nasion Indonesia.
Perjuangan melawan kolonialisme Belanda sampai saat bersejarah
diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus
1945, --- dilanjutkan dengan perjuangan untuk membela Republik Indonesia
dari rongrongan, subversi neo-kolonialisme dan imperialisme, adalah
tahap-tahap dan periode perjuangan yang kaya dengan nama-nama para
pejuang pendahulu dan pahlawan bangsa. Kita mengenal nama-nama
pejuang-pejuang nasion yang mencerminkan pelbagai suku bangsa Indonesia,
seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Semaun, Alimin, K.H. Wahid Hasjim, Sukarno
dll -- asal suku-bangsa Jawa; Moh. Hatta, Tan Malaka, Amir Syarifuddin,
Syahrir, Haji Agus Salim, dll dari suku-bangsa di Sumatra; Leimena,
Latuharhary, dll dari suku-bangsa di Maluku; L.N. Palar, Sam Ratulangi,
A. Mononutu, Salawati Daud, dll --- dari sukubangsa di Sulawesi, dan
banyak lagi dari suku-bangsa lainnya di Indonesia. Juga tidak
ketinggalan pejuang nasional Indonesia berasal bangsa asing, seperti
Setia Budi (Douwes Dekker), Dahler dll -- dari etnik Indo-Belanda, --
Siauw Giok Tjhan, Tan Ling Djie, Tjoa Sek Ien, John Lie, Tan Po Goan,
Ong Eng Die dll , dari etnik - Tionghoa, dan banyak lainnya.
Keseluruhannya itu adalah mutiara-mutiara dalam sejarah bangsa, yang
menunjukkan betapa demi kemerdekaan tanah air dan bangsa serta
pembangunan nasion Indonesia, mereka-mereka itu telah memberikan dharma
baktinya kepada tanah air dan bangsa.
Dewasa ini kita telah melalui pelbagai fase perjuangan bangkit
berdirinya nasion Indonesia, dengan telah direbutnya kembali kebebasan
demokratis, seperti hak untuk menyatakan pendapat, berorganisasi,
kebebasan pers, dll. Namun, masalah pembangunan nasion Indonesia masih
tetap merupakan salah satu tugas inti yang masih terus harus
diperjuangkan, untuk mencapai cita-cita terlaksananya hak-hak demokrasi
sepenuhnya, HAM, keadilan dan kemakmuran yang merata, serta Indonesia
yang bersatu dan menyatu dari Sabang sampai Merauké.
Memasuki tahun baru Imlek 2006, menyambut TAHUN ANJING, kita menghadapi
kenyataan positif bahwa, Imlek bukan lagi suatu hari raya bagi
warganegara Indonesia asal etnik-Tionghoa semata-mata. Pemerintah pasca
Reformasi telah mengambil keputusan bahwa hari raya Imlek adalah (salah
satu) hari raya nasional Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari Hari
Raya Imlek sudah lama menjadi hari raya yang dirayakan bersama oleh
penduduk Indonesia. Berbeda dengan apa yang terjadi selama periode Orba
ketika diskrimninasi terhadap w.n.i. asal etnik Tionghoa adalah politik
resmi penguasa. Sejak gerakan Reformasi dan Demokratisasi yang telah
berhasil menggulingkan pemerintahan Jendral Suharto, banyak terjadi
perubahan; khususnya yang menyangkut perlakuan sama terhadap w.n. asal
etnik Tionghoa. Ini adalah hasil perjuangan s e l u- -r u h kekuatan
Reformasi dan Demokratisasi. Hasil usaha susah payah seluruh bangsa.
Tokh, harus dicatat bahwa sisa-sisa politik diskriminasi Orba terhadap
wargananegara sendiri, khususnya terhadap asal etnik Tionghoa masih
tampak dan dirasakan. Oleh karenanya hal itu masih merupakan salah satu
program aksi dan perjuangan yang harus diteruskan.
Yang perlu diperhatikan ialah bahwa perjuangan itu tidak seharusnya dan
pula tidak mungkin mencapai tujuan akhirnya, bila ia dilakukan secara
tersendiri-tersendiri dan terpisah-pisah dari perjuangan untuk demokrasi
secara keseluruhan. Untuk bisa mencapai hasil yang diharapkan hal itu
harus dilakukan sebagai bagian dari perjuangan yang lebih hesar dan
menyeluruh untuk demokrasi, HAM dan keadilan sosial; lagipula harus
dilakukan tanpa membeda-bedakan apakah korban pelanggaran hak-hak
manusia itu, berasal dari warganegara asal etnik tertentu. Seyogianya
perjuangan dilakukan tanpa memilah-milih apakah para korban tsb berasal
dari peristiwa pembantaian 1965, peristiwa Malari, peristiwa Tanjung
Priok, Mei 1998 dan lain-lain korban pelanggaran HAM oleh penguasa.
Ataukah itu akibat dari tindakan kekerasan pelanggaran HAM oleh aparat
yang terjadi di Maluku, Aceh atau Papua.
Terasa sekali masih perlu untuk selalu menekankan masih adanya
diskriminasi rasial terhadap warganegara Indonesia asal etnis Tinghoa.
Sebagai contoh, adalah pengaduan yang disampaikan baru-baru ini oleh 30
warganegara etnis Tionghoa Miskin sekitar diskriminasi yang mereka
derita (lihat berita lengekap di Gusdur Net> . Mereka adalah Anggota
PPTM yang sebagian besar adalah suku Tionghoa yang berasal dari kawasan
kumuh pinggiran Jakarta, yaitu Tegal Alur Cengkareng, Sungapan
Tangerang, Rawa Lambang Tangerang, Kosambi Tangerang, Kapuk Tangerang,
dan Gaga Kompeni Cengkareng. Banyak kesulitan dan perlakuan
diskriminatif yang hingga kini masih dialami suku Tionghoa. Misalnya
untuk pembuatan KTP, KK, ataupun akte kelahiran, mereka selalu diminta
menyerahkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI).
Padahal, SBKRI tak mudah mereka dapatkan karena memerlukan biaya tinggi.
”Tanpa SBKRI, maka anak bangsa ini akan menjadi obyek pemerasan
’aparatur hitam’ yang diskriminatif dengan dalih status
kewarganegaraannya meragukan, sekalipun jelas-jelas dia lahir di negeri
tercinta ini”. Tak dimilikinya SBKRI juga dijadikan alasan aparat untuk
tidak mengucurkan dana kompensasi BBM kepada masyarakat Tionghoa.
”Padahal mereka juga orang-orang miskin,” jelas Rebeka. ”Kita datang
hari ini untuk mengadukan, betapa menjadi orang Tionghoa itu susah
sekali.” Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Anti
Diskriminatif di Indonesia (LADI) Rebeka Harsono.
Selain itu, ---- INI ADALAH PELANGGARAN HAM YANG AMAT GAWAT --- sampai
detik ini masih terus berlangsung diskriminasi dan stigmagtisasi yang
lebih gawat lagi yang dilakukan penguasa terhadap para korban peristiwa
1965, beserta keluarga mereka meliputi jumlah lebih dari 20.000 juta
orang. Sehingga dengan demikian asal etnis Tionghoa yang korban
peristiwa 65 menderita dua macam diksriminasi, yaitu diskriminasi karena
berasal etnis Tionghoa, dan didiskrimnasi karena dituduh terlibat dengan
G30S.
Dengan demikian, perjuangan tsb saling terjalin. Yaitu perjuangan untuk
menghapuskan diskriminasi rasial dan diskriminasi politik yang merupakan
soal bangsa yang lebih besar lagi.
Memasuki Tahun Baru Imlek --- TAHUN ANJING, patut disambut
pernyataan-pernyataan yang dikemukakan dalam kesempatan pemilihan
pengurus baru INTI, yang menekankan bahwa bangsa ini merupakan suatu
kesatuan. Penderitaan akibat diskriminasi politik maupun rasial, itu
mengenai dan menyangkut lapisan rakyat yang luas. Tidak terbatas pada
lapisan atau asal etnik atau golongan politik tertentu saja.
Maka tidak ada jalan lain, perjuangan untuk menghapuskan diskriminasi
rasial, diskriminasi politik serta demi pemberlakuan HAM dan penegakkan
negara hukum di negeri kita, harus dipandu dengan semangat solidaritas
dan persatuan serta kesatuan bangsa.
SELAMAT HARI RAYA IMLEK! * * *
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
YAHOO! GROUPS LINKS
|
|
|