logo       

Fw: Imlek, Kebangkitan Etnis Tionghoa Indonesia - 100 Persen Bagian Integra: msg#00888

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Fw: Imlek, Kebangkitan Etnis Tionghoa Indonesia - 100 Persen Bagian Integral dari Indonesia

 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Imlek, Kebangkitan Etnis Tionghoa Indonesia

Dok Pembaruan

Bakti Sosial - Sejumlah dokter dari kalangan etnis Tionghoa memeriksa kesehatan warga saat bakti sosial yang digelar Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), di Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Keterlibatan etnis Tionghoa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sangat membantu upaya pembauran .

DIHAPUSNYA sejumlah peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maupun penetapan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, boleh dikata sebagai suatu kebangkitan yang diperjuangkan oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia. Bayangkan, selama lebih 700 tahun kehadiran etnis Tionghoa di Tanah Air, mereka selalu menjadi kambing hitam dan mendapat perlakuan tidak adil atau diskriminatif.

''Saya berharap tahun baru Imlek dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen dan komponen bangsa ini, khususnya masyarakat etnis Tionghoa, untuk membangun habitus baru. Dengan membuang egoisme dan mengarahkan seluruh perilaku yang berbasis pada hati nurani, moral, budi pekerti, dan etika yang luhur, sehingga seluruh penyakit sosial dan kriminal dapat dihindari. Dan tahun baru Imlek dapat menjadi kemenangan etnis Tionghoa Indonesia,'' ujar Ketua Komisi Hubungan Antar Agama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Benny Susetio Pr kepada Pembaruan di Jakarta, Selasa (24/1).

Menurut Romo Benny, gereja Katolik sangat menghargai dan menghormati kebudayaan masyarakat yang juga merupakan hasil akal serta budi pekerti manusia untuk menjaga tatanan kehidupan dan peradaban. ''Sesuai dengan semangat inkulturasi, gereja melihat budaya merupakan salah satu anugerah Allah kepada manusia. Gereja menghargai seluruh bentuk manifestasi serta pernak-pernik kebudayaan yang ditampilkan selama pesta Tahun Baru Imlek, sehingga menjadi lebih semarak,'' katanya.

Perlakuan Tidak Adil

Hal senada diungkapkan Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa DKI Jakarta, Benny G Setiono, yang menilai Imlek boleh dibilang sebagai bentuk kemenangan etnis Tionghoa Indonesia dari segala bentuk diskriminasi dan perlakuan tidak adil yang sebelumnya sempat dialami.

''Peristiwa 13-14 Mei 1998 yang telah meluluhlantakkan ribuan ruko, toko, rumah tinggal, pusat pertokoan, bengkel, apartemen, supermarket, kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua, bahkan juga perkosaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa di Jakarta dan Solo, merupakan puncak kehancuran martabat dan jati diri etnis Tionghoa di Indonesia,'' ujar Benny mengenang peristiwa yang menandai berakhirnya rezim Orde Baru tujuh tahun silam.

Selama pemerintahan Orde Baru, secara terus-menerus terjadi kerusuhan anarkis anti- Tionghoa. Kerusuhan Mei 1998 seakan adalah puncak dari aksi kerusuhan tersebut.

Banyak orang sebelumnya berpendapat bahwa kerusuhan anti-Tionghoa tidak mungkin terjadi di Jakarta. Tetapi ternyata, menjelang keruntuhan rezim Orde Baru, puncak kerusuhan tersebut justru dibiarkan berlangsung oleh aparat keamanan di ibu kota.

Dengan kasat mata seluruh dunia dapat menyaksikan bagaimana kerusuhan yang berlangsung selama dua hari penuh, dibiarkan aparat keamanan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Jadi terbukti apa yang selama ini dikhawatirkan, etnis Tionghoa memang dijadikan bumper dan tumbal keruntuhan rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto.

Sungguh menyedihkan melihat etnis Tionghoa demikian tidak berdaya menghadapi segala penindasan terhadap dirinya. Yang bisa dilakukan hanya menyelamatkan diri untuk sementara waktu ke luar negeri, atau ke Bali dan Kalimantan Barat bagi mereka yang masih mempunyai uang. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mempunyai uang, sudah tentu hanya bisa pasrah atas semua kekerasan dan penderitaan yang menimpa diri dan keluarganya.

Etnis Tionghoa yang semasa pemerintahan rezim Orde Baru tampak seolah-olah demikian ''gagah'', ternyata hanya dalam waktu sekejap dapat dibuat tidak berdaya.

Ini yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka selama ini terlampau dininabobokan, seolah-olah rezim Orde Baru adalah segala-galanya, yang memberikan kemakmuran, keamanan, dan kemapanan atas dirinya. Mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik, seolah-olah politik adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka tidak menyadari bahwa tanpa turut berpartisipasi di wilayah politik, sebesar apapun kekuatan mereka di bidang ekonomi, akan dengan mudah dibuat tidak berdaya.

Memang oleh rezim Orde Baru, peluang etnis Tionghoa untuk terjun ke wilayah politik sangat dibatasi, terutama dengan melekatkan stigma Badan Permusyawatan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), yang hasilnya terbukti sungguh-sungguh sangat ampuh. Sebaliknya segelintir etnis Tionghoa ''dirayu'' agar mau menjadi kroni untuk menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), yang sangat menyengsarakan rakyat, dan akibatnya kita tanggung sampai saat ini.

''Sebagai perantau yang mencari kehidupan baru di Indonesia, selama ratusan tahun, etnis Tionghoa selalu menjadi pelengkap penderita. Walaupun kedatangan mereka di negara- negara yang menjadi pilihannya semata-mata bertujuan mencari kehidupan baru atau memajukan perdagangan, tanpa sedikit pun melakukan kekerasan, apalagi dengan tujuan- tujuan untuk menjajah, seperti yang dilakukan bangsa-bangsa kulit putih,'' ujar Benny G Setiono.

Tumbuhnya Kesadaran

Setelah Presiden Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998 dan Indonesia memasuki era reformasi, tumbuh kesadaran di kalangan etnis Tionghoa bahwa kedudukan mereka sangat lemah dan menyedihkan. Kesadaran ini membangkitkan keberanian mereka untuk menolak kesewenang-wenangan yang menimpa diri mereka dan membela keadilan.

Dengan segera berbagai organisasi dideklarasikan oleh orang-orang peranakan yang peduli pada keadaan tersebut, antara lain Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti), Partai Bhinneka Tunggal Ika (PBI), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Formasi, Simpatik, Gandi, PSMTI dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Demikian juga berbagai penerbitan seperti harian, tabloid dan majalah, antara lain Naga Pos, Glodok Standard, Suar, Nurani, Sinergi, Suara Baru serta sejumlah lainnya bermunculan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, beberapa organisasi tersebut berguguran, dan beberapa media cetak telah hilang dari peredaran. Masalah utama yang dihadapi organisasi-organisasi tersebut adalah masalah klasik, tidak adanya program yang jelas, semangat yang mengendur, dan terjadinya perpecahan di kalangan pemimpinnya.

Masalah yang dihadapi media cetak yang pada umumnya dikelola golongan peranakan adalah masalah finansial dan sumber daya manusia. Hampir tidak ada dukungan dari masyarakat Tionghoa akan kelangsungan hidup media cetak tersebut.

Hasil-hasil apakah yang diperoleh dengan berdirinya organisasi-organisasi yang menghimpun etnis Tionghoa baik peranakan maupun totok? Walaupun sangat lamban, kesadaran politik mereka mulai tampak meningkat. Namun trauma masa lalu dan stigma Baperki masih menghantui sebagian besar etnis Tionghoa, sehingga mereka selalu berusaha menghindari wilayah politik.

Meski demikian, perjuangan organisasi-organisasi peranakan dalam membela hak-hak etnis Tionghoa dan menuntut penghapusan peraturan-peraturan yang diskriminatif telah banyak menunjukkan kemajuan. Dihapusnya segala peraturan-peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif oleh Presiden Abdurrahman Wahid maupun Tahun Baru Imlek yang dijadikan hari libur nasional oleh Presiden Megawati merupakan suatu kemenangan yang diperjuangkan oleh seluruh organisasi Tionghoa tersebut. *


Last modified: 26/1/06
 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Etnis Tionghoa

MINGGU, 29 Januari 2006, merupakan hari libur nasional dalam rangka memperingati Tahun Baru Cina, Imlek. Setiap kali Imlek tiba, pembahasan mengenai salah satu golongan anak bangsa, yakni etnis Ti-onghoa, selalu mengemuka. Hal itu tidak terlepas dari fakta sejarah, bahwa kehadiran etnis Tionghoa yang sudah ratusan tahun di bumi pertiwi ini, tak lepas dari gunjingan politik.

Selama bertahun-tahun, status peranakan Tionghoa di Indonesia, selalu dianggap berbeda dengan anak bangsa lain, meski sama-sama nonpribumi. Kesenjangan status itulah yang menciptakan api dalam sekam. Terbukti beberapa kali terjadi peristiwa rasialis yang melibatkan warga pribumi dan etnis Tionghoa, yang puncaknya adalah tragedi Mei 1998.

Proses asimilasi (pembauran), terutama dari aspek politik dan sosial, tak pernah berjalan mulus. Mereka masih dianggap sebagai ''orang lain'', meski terkadang sikap dan perilakunya lebih nasionalis daripada warga pribumi.

Melalui momentum Tahun Baru Imlek kali ini, wartawan Pembaruan Eko Budi Harsono mengulas potret relasi sosial, politik, dan ekonomi dari etnis Tionghoa, yang ingin dianggap sebagai warga negara Indonesia seutuhnya.

100 Persen Bagian Integral dari Indonesia

Antara

Atlet berprestasi - Pebulutangkis nasional, Hendrawan (berpeci) menerima ucapan selamat dari Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo, saat pembukaan SEA Games, di Filipina, akhir November 2005. Karena prestasinya yang luar biasa, atlet beretnis Tionghoa itu dipercaya membawa bendera Indonesia pada pesta olahraga internasional.

KELENTENG Hok Tek Bio di Cibinong, Jawa Barat, semarak oleh warna merah dan emas. Sekelompok anak muda dengan gembira menabuh tambur dan simbal. ''Pe ceng, pe ceng, ceng taw, ceng taw'', begitu suara yang keluar dari alat musik pengiring barongsai menari dan beratraksi.

''Suara pe ceng itu kadang diartikan kasih cepe (seratus), akan mendapat seceng (seribu). Sedang ceng taw itu berarti kasih seceng mendapat setauw (sejuta). Itulah sebabnya saat barongsai keluar selalu mendapat angpau, karena kita percaya dengan memberi angpau kepada Barongsai, maka kita juga akan dapat berkat,'' ujar David Wijaya, pengelola kelenteng kepada Pembaruan di Cibinong, belum lama ini.

Dalam perayaan Imlek tahun ini, para pengurus kelenteng yang dibangun sejak tahun 1938 itu ingin menegaskan, bahwa warga etnis Tionghoa merupakan warga Indonesia, dan 100 persen cinta Indonesia.

''Kami ini 100 persen Indonesia. Jiwa dan raga kami sama seperti orang Jawa, Sumatera, atau orang Sulawesi,'' ujar David.

Sikap nasionalis etnis Tionghoa seperti ini, sangat didukung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang tidak ingin lagi ada diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.

''Saya kira ada dua sumber masalah besar terkait dengan keberagaman atau multikulurisme di Indonesia. Pertama hubungan Kristen dan Islam yang kurang harmonis, dan kedua hubungan Islam dan etnis Tionghoa. Keduanya ini harus segera diselesaikan oleh pemerintah dan juga komponen masyarakat lainnya. Dalam momentum Imlek ini saya ingin menegaskan bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari Indonesia,'' ujar Din.

Sedangkan Didi Kwartanada, sejarawan peranakan Tionghoa yang sedang mengambil program doktoral di National University of Singapore, menilai, hubungan antara orang Tionghoa dengan pribumi itu merupakan hubungan yang sifatnya love and hate relation, atau hubungan cinta dan benci. Karena itu, perayaan Imlek merupakan momentum untuk menegaskan bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari Indonesia.

Dia lantas memberi contoh, kalau warga Indonesia beretnis Tionghoa mengharumkan nama bangsa dan negara di bidang olahraga, mereka dipuji. Tetapi kalau ada berita tentang orang Tionghoa yang melakukan penyelewengan di bidang ekonomi, misalnya, mereka akan dimaki-maki.

Didi juga memberi contoh lain, hubungan antara cinta dan benci ini terbukti dari sejumlah artikel yang judulnya provokatif. Misalnya, ''Siluman Cina Ingin Jadi Presiden'' dan ''Ekonomi Umat Islam Dicengkeram Yahudi dan Cina kafir''.

''Lantas apa ada hubungan antara Cina dan Yahudi? Namun di sisi lain media itu juga memuji orang Tionghoa yang masuk agama tertentu. Di sini tampak bahwa love and hate relation sudah menjadi us, atau kita dan mereka,'' ujarnya.

Orang Tionghoa

Lantas siapakah orang Tionghoa itu? ''Orang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tionghoa apabila mempunyai darah Tionghoa, walaupun sudah tidak murni atau banyak bercampur, dan mempunyai nama Tionghoa,'' tutur sejarawan Didi Kwartanada.

Oleh karena itu, warga etnis Tionghoa di Indonesia tidak homogen, tetapi heterogen. Perbedaan mereka, misalnya, berdasarkan dialek dan agama. Ada yang beragama Konghucu, Kristen, Katolik, atau Islam. Ada yang berdialek Hokian, Hakka dan lain-lain.

Selain itu ada lagi per-bedaan menjadi Tionghoa totok dan Tionghoa per- anakan. Kebanyakan orang Tionghoa peranakan tidak bisa lagi berbahasa Mandarin. Sebaliknya orang totok masih bisa berbahasa Mandarin.

Tionghoa peranakan Indonesia biasanya lebih mapan ketimbang Tionghoa totok. Oleh karena itu Tionghoa totok lebih nekat dalam berbisnis.

Ironisnya, kedua kelompok itu suka saling merendahkan. Misalnya, orang Tionghoa keturunan (peranakan) suka menuduh orang Tionghoa totok pelit. Sebaliknya Tionghoa totok gemar merendahkan Tionghoa peranakan karena tidak bisa berbahasa Mandarin.

Karena bermacam ragam itulah, persatuan di kalangan orang Tionghoa sulit terwujud. ''Ironisnya, hanya sekali dalam sejarah persatuan itu terwujud, yakni semasa Jepang,'' ungkapnya.

Jepang memaksa orang Tionghoa bersatu dalam satu organisasi. ''Hal ini sangat ironis, karena persatuannya disponsori oleh musuh,'' tuturnya.

Sejarah Imlek

Berbicara soal Imlek, perayaan yang sering disebut sebagai perayaan tahun baru musim semi ini, dari sudut etimologi (sejarah kata) terdiri dari dua kata, yaitu im yang berarti bulan, dan lek yang berarti penanggalan. Dengan demikian, Imlek berarti penanggalan yang dihitung berdasarkan peredaran bulan. Tentu ini berbeda dengan perhitungan penanggalan Yanglek/Masehi, yang dihitung berdasarkan peredaran matahari (yang berarti matahari).

Perayaan Imlek/Yin Li/Anno Confuciani, menurut sejarah secara umum dan kenegaraan, dimulai pada zaman Dinasti Han (206 SM-220 M), di mana kaisar pertamanya yang bernama Han Wu Di. Kaisar Han berasal dari keturunan Liu Bang, yaitu orang yang menumbangkan tirani Dinasti Qin (221 SM-207 SM).

Han Wu Di merupakan seorang Confucianist sejati, dan memakainya dalam menjalankan pemerintahan.

Ternyata jalan yang diambilnya tidak salah. Sebab Dinasti Han-lah yang paling sukses dan berhasil dalam sejarah dinasti di Cina.

Penanggalan Imlek yang dihitung berdasarkan perhitungan lunar atau bulan, ditetapkan oleh Han Wu Di berdasarkan tahun kelahiran Confucius/Khonghucu, pada tahun 551 SM.

Tahun 2006, Imlek sudah mencapai tahun yang ke-2557. Perhitungan tersebut didapat dari penjumlahan tahun kelahiran Confucius (551 SM) dan angka tahun Masehi (2006). *


Last modified: 26/1/06


.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise