logo       

OOT Terus Didiskriminasi Tionghoa Miskin Mengadu ke Gus Dur: msg#00886

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: OOT Terus Didiskriminasi Tionghoa Miskin Mengadu ke Gus Dur

 
 

Jakarta, gusdur.net
TionghoaTiga puluh orang suku Tionghoa, perwakilan dari Perhimpunan Perempuan Tionghoa Miskin (PPTM) mengadukan diskriminasi yang mereka alami kepada mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya Jakarta, Rabu (25/1/06). Sebagai warga negara Indonesia, hingga kini hak-hak mereka belum dipenuhi pemerintah.

?Kita datang hari ini untuk mengadukan, betapa menjadi orang Tionghoa itu susah sekali.?

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Anti Diskriminatif di Indonesia (LADI) Rebeka Harsono, yang berperan sebagai fasilitator pertemuan itu. Anggota PPTM sebagian besar adalah suku Tionghoa yang berasal dari kawasan kumuh pinggiran Jakarta, yaitu Tegal Alur Cengkareng, Sungapan Tangerang, Rawa Lambang Tangerang, Kosambi Tangerang, Kapuk Tangerang, dan Gaga Kompeni Cengkareng.

Menurut Rebeka, banyak kesulitan dan perlakuan diskriminatif yang hingga kini masih dialami suku Tionghoa. Misalnya untuk pembuatan KTP, KK, ataupun akte kelahiran, mereka selalu diminta menyerahkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Padahal, SBKRI tak mudah mereka dapatkan karena memerlukan biaya tinggi.

?Tanpa SBKRI, maka anak bangsa ini akan menjadi obyek pemerasan ?aparatur hitam? yang diskriminatif dengan dalih status kewarganegaraannya meragukan, sekalipun jelas-jelas dia lahir di negeri tercinta ini,? imbuh Rebeka.

Selain itu, tak dimilikinya SBKRI juga dijadikan alasan aparat untuk tidak mengucurkan dana kompensasi BBM kepada masyarakat Tionghoa. ?Padahal mereka juga orang-orang miskin,? jelas Rebeka.

Karenanya, mereka meminta bantuan Ketua Dewan Syura DPP PKB itu untuk turut menghilangkan sikap-sikap diskriminatif atas warga Tionghoa yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 300 ribu jiwa itu. ?Kami yakin, Gus Dur sebagai mantan presiden yang berhasil membuat kebijakan Imlek sebagai hari nasional, hingga kini beliau masih membela warga Tionghoa,? kata Rebeka.

Dalam tanggapannya, Gus Dur menyatakan, hingga kini warga Tionghoa memang masih menjadi kelompok masyarakat yang terlupakan. ?Mereka itu tidak memiliki kemampuan cukup untuk mempertahankan identitas sendiri. Akhirnya mereka menjadi seperti orang stateless. Karenanya kita menggugah bangsa Indonesia secara keseluruhan tentang hal ini,? tegasnya.

Menurut Gus Dur, warga Tionghoa itu juga bagian dari masyarakat Indonesia yang dilindungi konstitusi. Hanya saja dalam realitasnya, baik pemerintah maupun warga Indonesia sendiri, tidak ada yang peduli terhadap nasib mereka.

Karenanya, Gus Dur menghimpau para aparat pemerintah supaya serius memikirkan masa depan mereka. ?Bagaimana kita mau menangani jutaan orang, kalau yang 300 ribu saja tidak bisa ngurusin?? sindirnya. ?Kita juga minta perhatian masyarakat secara keseluruhan untuk memperbaiki nasib mereka, terutama untuk memungkinkan mereka memperoleh identitas diri,? imbuhya.

Namun demikian, Gus Dur mengakui bahwa apapun yang berkaitan dengan birokrasi pasti akan mengalami berbagai kesulitan, karena birokrasi maunya tinggal beres dan tidak mau melayani yang sulit-sulit. ?Kasus anda semua itu kasus capek,? katanya berterus terang.

Gus Dur sendiri berjanji akan turut membantu mereka, misalnya dengan mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Jasa Gus Dur
Diberitakan, Tionghoapada Jumat (20/1/06) sejumlah warga Tionghoa menggelar jumpa pers di Century Tower, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan, untuk berterima kasih pada Gus Dur. Mereka menilai, jasa Gus Dur yang diberikan kepada warga Tionghoa sangat besar.

?Gus Dur-lah yang memanggil semua anggota kabinetnya untuk menghapuskan praktik diskriminasi yang menimpa warga Tionghoa akibat adanya UU No. 14 Tahun 1967, yang melarang kebudayaan asal China, termasuk huruf China dan perayaan Imlek,? ujar pengusaha asal Tionghoa, Ridwan Soeriyadi.

Menurut Ridwan, lantaran sikap Gus Dur yang memandang semua manusia memiliki kedudukan setara di depan UUD, terutama saat Gus Dur menjabat orang nomor wahid di negeri ini, berbagai praktik diskriminatif terhadap warga Tionghoa sedikit demi sedikit mulai terkikis.

?Perjuangan berikutnya, kami tidak suka disebut etnis. Kami sedang berjuang disebut sebagai suku Tionghoa, sebagai bagian dari suku-suku lain yang ada di Indonesia,? imbuh Ridwan.

 


.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




SPONSORED LINKS
Indonesia Culture Chinese


YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise