Dear Fellas,
Ini mao dibalas kick balik ngak enak tapi
saya kok gatel yah ngebaca tulisan tulisannya.
Jadi mohon maaf pada moderator karena saya
harus memberikan Backick and Sidekick.
Pertama mengenai masalah sekolah anda ngak
usah menutup nutupi lagi sekolah Kristen memang melunturkan Budaya Tionghoa.
Saya melihat dengan kepala saya sendiri,
karena saya pernah menjadi Guru Khusus Lab. Kimia dan diperbantukan di Lab.
Fisika dari thn 93 sejak saya lulus SMA sampai 2000 di salah satu SMU Kristen
yang cukup punya nama besar di daerah Jakarta Pusat.
Jadi jangan ditutupi lagi masalah
kelunturan Budaya Tionghoa dimulai dari Sekolah Kristen dari tingkat bawah
sampai SMU nya.
Saya melihat sendiri sampai sampai murid
berani kurang ajar dengan menyebut orang tua sebagai pengikut setan dll, dan
saya lihat bukan 1 kasus tapi ratusan.
Kedua banyak inti ajaran Tionghoa yang
sengaja di Hancurkan sendiri oleh Kalangan Kristen yang semua orang Tionghoa,
contoh kecil Tahun Baru Imlek, sebelum Gus Dur merestui sebagai hari Raya
Fakultatif terlebih dahulu. Hari tersebut sangat di Haramkan di sekolah
Kristen. Tetapi setelah Imlek jadi Hari Raya Nasional ramai ramai mereka
mencoba merebut hati murid yang belom Kristen, termasuk saya.
Dulu barongsai dll attribut lainya di cap
Iblis atau apalah dihubung hubungkan dengan Wahyu kayak film di Omen segala.
Sekarang malam tahun baru ada kebaktian
segala, ngak tau memang buat doa atau ada udang dibalik bakwan.
Ngak lama lagi Barongsai bakalan dimodifikasi
dengan Grup band lengkap dengan gitar listrik dan orgen :D.
Ketiga para gembalanya berani melecehkan
agama agama lain didepan mimbar, contoh melecehkan inilah yang tertanam di
murid murid yang masi polos. Otomatis segala tindakan tersebut menjadi pola
pikir seorang anak, dan akibatnya melecehkan mudah sekali melecehkan satu
golongan atau seseorang tanpa pikir panjang akibat akibat fatal yang bakal
terjadi.
Saya rasa cukup, cobalah dari pihak
Kristen berbenah diri dan introspeksi lagi, lihat diri sendiri dulu. Jangan
bilang orang lain menyerang dahulu.
Ngak mungkin ada asap tanpa ada api. Pihak
anda yang menabur pihak anda pula yang menuai.
Masih buanyakk sekali contoh contoh yang
ngak cukup hanya dengan 1 email, jangan salahkan dimaki balik seharusnya anda
bertanya Mengapa begini ? Mengapa begitu ?
Best Regards
Petrus Gunadi Omas
Domba Mabur