|
OOT: NASIONALISME: msg#00411culture.region.china.budaya-tionghua
NASIONALISME Oleh: Kenken Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu adalah kemerdekaan negara dan bangsa? Negara anda sudah merdeka. Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka? (Rendra) Saat ini banyak pihak yang mulai meragukan nasionalisme dalam diskursus publik, terutama dalam konteks globalisasi, sampai perlu tercetus istilah "pasca nasional-isme". Seringkali nasionalisme dibelenggu oleh dawai romantisme sejarah, sekalipun dilantunkan dengan begitu heroik. Nasionalisme menjadi istilah yang terdengar tanpa kesejukan dan hanya menjadi sebuah retorika politik belaka dengan argumen historistik partial sehingga menutup dirinya untuk diartikulasikan dalam konteks kekinian. Nasionalisme menjadi sebuah ortodoksi religius ketika ia dibekukan dengan serangkaian ritual dan simbolisasi tertentu yang menghilangkan tujuan awal dari kebangkitan Nasionalisme i.e. Kemerdekaan dan Kebebasan dari ketertindasan. Kegelisahan kalangan "pasca nasionalisme" dapat dipahami pada saat "nasionalisme" dapat dengan mudah berubah menjadi `fanatisme fasistis'. Nasionalisme juga sering kali "disalah-gunakan" sebagai landasan filosofis untuk memaksakan kehendak pada saat praktek "Nasionalisme" itu dipaksa berdefinisi tunggal. Contohnya pada saat penguasa India menggunakan slogan "Nasionalisme" untuk mengklaim dan mengendalikan Kasmir sejak tahun 1947. Penguasa India menempatkan satu orang tentara untuk tujuh orang penduduk Kasmir. Lebih dari 1 juta pengungsi, tiga perang besar dan ratusan ribu orang terbunuh adalah hasil dari praktek "nasionalisme para penguasa India". Praktek-praktek semacam ini semakin mengaburkan pemaknaan terhadap Nasionalisme hingga Albert Einstein menyebut "nasionalisme" sebagai tidak lebih dari penyakit campak bagi kemanusiaan. Tidak mudah mengurai makna istilah "nasionalisme" secara semantik, mengingat penggunaannya yang bersifat luas yang mengacu pada makna yang berbeda-beda. Istilah "nasionalisme" sering diidentikan dengan istilah bangsa (nation), kebangsaan (nationality), dan negara (state). Namun secara etimologis terlihat bahwa nasionalisme berakar pada bangsa dan meluas pada istilah kebangsaan. Variasi pemaknaan istilah "nasionalisme" bertambah rumit pada saat "nasionalisme" dipermainkan oleh para politikus dan menjadi praktek "gerakan oposisi politik" dalam terminologi John Breuilly. Dalam studi semantik Guido Zernatto (1944), kata nation berasal dari kata Latin "natio" yang berakar pada kata "nascor" yang berarti 'saya lahir'. Perkembangan nasionalisme sebagai sebuah konsep yang merepresentasikan sebuah gagasan politik bagaimanapun jauh lebih kompleks dari transformasi semantik yang mewakilinya. Tetapi tampaknya, Zernatto mengambil prinsip `tanah kelahiran' dari pada faktor etnis, agama, ras, bahasa sebagai landasan interpretasi nasionalisme-nya. Kasus Dr. Tio Oen Bik, seorang etnis Tionghoa kelahiran Tuban, yang menyatakan diri sebagai wakil Rakyat Indonesia dalam Brigade Internasional anti fasisme Jenderal Franco dapat mendukung argument bahwa Nasionalisme itu tidak ada kaitannya dengan faktor etnisitas. Menurut Louis L. Snyder istilah "kebangsaan" (nationality) mengacu atau digunakan dalam makna (obyektif atau eksternal) yang kongkrit (bahasa nasional, wilayah, negara, peradaban, dan sejarah), atau dalam makna (subyektif, internal, atau ideal) yang abstrak (kesadaran nasional, atau sentimen). Penjelasan Snyder lebih jauh dikembangkan oleh Miroslav Hroch?seorang teoritikus politik penting Czech?dalam uriannya tentang faktor-faktor kelahiran sebuah bangsa dan proses nation-building. Hroch menyimpulkan bahwa sebuah kelompok sosial tidak hanya dibentuk oleh kombinasi antara relasi objektif (ekonomi, politik, bahasa, budaya, agama, daerah, sejarah) dan refleksi subjektif dalam kesadaran kolektif. Bagi Hroch terdapat tiga hal yang tak dapat diabaikan dalam proses nation-building yaitu 1. `Ingatan' kolektif akan sejarah bersama, 2. Kedekatan hubungan kebudayaan, 3. Konsepsi kesetaraan dari seluruh anggota kelompok yang terorganisir sebagai civil society. Dengan demikian Nasionalisme itu tidak lahir dengan sendirinya dan bebas dari faktor-faktor pendukung proses kelahiran semangat Nasionalisme. Adanya faktor subjektif dalam membentuk rasa Nasionalisme itu menyulitkan kita untuk menemukan parameter yang sahih untuk mengukur dan menilai kualitas nasionalisme seseorang. Seseorang tak dapat menilai kualitas nasionalisme orang lain serta menjadi "hakim nasionalisme" hanya melalui keseragaman "ritual dan simbol". Agaknya kita hanya perlu menciptakan ruang yang kondusif agar Nasionalisme itu dengan sukarela dirasakan oleh anggota ke-Bangsa-an Indonesia daripada mempertanyakan `kadar Nasionalisme' orang lain, terlebih lagi pada saat Nasionalisme itu disamarkan dan identik dengan rasialisme. NASIONALISME KEBANGSAAN INDONESIA Dalam konteks Indonesia, saya kira, Nasionalisme itu bersifat Nasionalisme-Kebangsaan. Nasionalisme Kebangsaan Indonesia itu berbeda dari etno-race chauvanisme seperti yang dibangun oleh Johann Gottfried von Herder. Ia merupakan pendewasaan dari konsepsi nasionalisme sektarian seperti konsepsi `nasionalisme Jawa' yang dicetuskan oleh Soetatmo Soerjokoesoemo pendiri KOMITE NASIONALISME JAWA (1918). Nasionalisme Kebangsaan Indonesia juga bukan alat `political legitimacy' untuk praktek `nasionalisme keagamaan' seperti yang dianut oleh Zionis Israel. Ia juga berada di atas diferensiasi ideologi politik. Tetapi keunikan Nasionalisme Kebangsaan Indonesia adalah sifat yang tidak antagonis terhadap fakta multi-etnik, multi-kultur, multi- agama, multi-lingual. Bhinekka Tunggal Ika dan Pancasila mencegah Nasionalisme Indonesia berubah menjadi Fasisme a la Indonesia. Hal ini dipertegas oleh Bung Karno dalam pidato `Lahirnya Pancasila' dengan mengatakan "?Sila Ke-Bangsaan mengandung unsur kuat Ke- Manusiaan yang adil dan beradab. Oleh karenanya tidak akan mungkin meluncur ke arah chauvinisme dan menentang pikiran-pikiran rasialisme". Dengan demikian, Nasionalisme Kebangsaan Indonesia membuka pintu bagi siapa saja untuk berpartisipasi membangun negara Republik Indonesia tanpa prejudice rasialis, etnis, agama dan orientasi politik. Seperti halnya dengan kebangkitan nasionalisme bangsa-bangsa Asia- Afrika lainnya, Nasionalisme Kebangsaan Indonesia adalah kuliminasi inspirasi Kemerdekaan yang bersandar pada akumulasi pengalaman penjajahan (kolonisasi) Eropa dan seharusnya dibumikan pada pengalaman aktual saat ini. Secara esensial Nasionalisme Kebangsaan Indonesia dibentuk berdasarkan suatu differance sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kolonialisme. Sedangkan esensi resistensi terhadap kolonialisme itu hendaknya tidak berhenti pada kolonialisme Eropa dan menisbikan bentuk-bentuk `kolonialisme oleh bangsa sendiri' serta `kolonialisme Eropa dalam bentuk baru'. Refungsionalisasi Nasionalisme yang sarat dengan esensi pembebasan itu akan mencegah Nasionalisme disempitkan hanya menjadi sekedar "ideologi untuk berperang". Saat ini, ribuan kasus pertikaian komunal yang dilatar-belakangi oleh ketidak-mampuan dalam menerima perbedaan agama dan etnisitas serta ketidak-konsistenan terhadap penegakan hukum positif merupakan penodaan terhadap semangat Nasionalisme Kebangsaan Indonesia. Ironisnya, jargon-jargon "nasionalisme" seringkali dipakai oleh kelompok "juragan-politisi" sebagai alat untuk mendeskreditkan dan memojokan segolongan warga bangsa dengan memanipulasi sejarah dengan tujuan untuk menghilangkan `ingatan kolektif sejarah bersama' di mana peran historis segolongan etnis tertentu dengan sengaja dihapus, merevisi `kedekatan hubungan kebudayaan' yang telah terjalin berabad-abad, dan membentuk konsepsi yang `tidak-setara' antar berbagai golongan masyarakat Indonesia. Kalau dahulu Nasionalisme Kebangsaan Indonesia berfungsi sebagai landasan pemersatu dan tonggak kelahiran Republik Indonesia dalam konteks melawan kolonialisme klasik maka saya berharap Nasionalisme Kebangsaan Indonesia saat ini dapat menjadi alat mempertahankan persatuan serta menjadi elemen spiritual dalam kerangka mencari format untuk memperbaiki/membangun Indonesia secara menyeluruh di tengah-tengah tantangan era "global paradox". Benedict Anderson berpendapat bahwa nasionalisme masyarakat pascakolonial di Asia dan Afrika merupakan hasil emulasi dari apa yang telah disediakan oleh sejarah nasionalisme di Eropa. Para elite nasionalis di masyarakat pascakolonial hanya mengimpor bentuk modular nasionalisme bangsa Eropa. Di sini letak problematika dari pandangan Anderson karena menafikan proses-proses apropriasi dan imajinasi itu sendiri yang dilakukan oleh masyarakat pascakolonial dalam menciptakan bangunan nasionalisme yang berbeda dengan Eropa (Partha Chatterjee, 1993). Untuk memahami lebih jelas tentang nasionalisme, terutama nasionalisme Indonesia, sebuah penjelajahan historis diperlukan. Berarti kita mencoba menggali artefak-artefak nasionalisme dan membaca pesan-pesannya. Tentunya, dalam proses ini, kejujuran dan keterbukaan terhadap penjelajahan historis mengenai aspek-aspek dan para aktor yang memainkan peran dalam membentuk konsepsi nasionalisme ini sangat diperlukan. SEJARAH NASIONALISME INDONESIA Semangat kedaerahan dan kesukuan mendahului lahirnya konsepsi nasionalisme Indonesia. Salah satu prototipe nasionalisme Indonesia dalam bentuk kedaerahan adalah Soetatmo Soerjokoesoemo pendiri KOMITE NASIONALISME JAWA. Soetatmo memajukan nasionalisme Jawa yang dipandangnya lebih jelas dalam landasan bahasa dan kebudayaan untuk sebuah bangsa. Apa yang diperjuangkan rakyat Indonesia dulu adalah kemerdekaan diri, kedaulatan dirinya di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia. Nasionalisme adalah motif dan pembenaran atas Revolusi Indonesia. Kemerdekaanlah yang menjadi tujuannya. Merdeka dari segala bentuk penindasan. Nasionalisme adalah faktor pendorong Kemerdekaan. BAHASA Perlu dicatat bahwa nasionalisme sendiri tidak bergantung pada bahasa, tapi diperlukan sebagai media bagi warga suatu bangsa. Jadi bahasa boleh jadi sebuah komponen penting dalam eksistensi kebangsaan, tapi tidak berarti dia sine qua non. KEBUDAYAAN Apakah kebudayaan dapat dijadikan identitas pula sebagaimana bahasa? Dalam perspektif yang sama nampaknya juga berlaku mengenai kebudayaan tapi memiliki konteks persoalan yang berbeda dan lebih luas dari bahasa. Adakah kebudayaan yang sungguh-sungguh tunggal di dunia ini sehingga suatu komunitas dapat mengidentifikasi dirinya dengan kebudayaan itu? Pada kenyataannya kebudayaan lebih bergerak pada prosesnya sendiri dengan persinggungan berbagai kebudayaan di dunia. Kebanyakan negara modern pun merupakan bangsa dengan multikultur seperti Indonesia dan Amerika misalnya. Indonesia adalah negeri yang multikultur, integrasi tiap budaya lokal ke dalam budaya nasional bukanlah pemaksaan satu budaya dominan atau peleburan budaya-budaya ke dalam satu bentuk, tapi membiarkannya terintegrasi menjadi sebuah mozaik kebudayaan. Sehingga tidak layaklah membenturkan, misalnya, budaya nasional versus budaya daerah, tapi membiarkan keduanya saling mengisi. Tanpa perumusan ketat atas "budaya nasional", nasionalisme tetap ada. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | apa nama hokkian buku2 kong hu cu: 00411, harry alim |
|---|---|
| Next by Date: | FW: Sajak Mao Zedong: 00411, Sobron Aidit |
| Previous by Thread: | Fw: oot - Han Hwie-Song: Cerita tentang kerstmis spesial. bagian tigai: 00411, ChanCT |
| Next by Thread: | FW: Sajak Mao Zedong: 00411, Sobron Aidit |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |