Cerita
tentang kerstmis spesial ? Bagian dua
Memang
sekarang saya berasa adanya relasi yang jelas antar badanku dan jiwaku terutama
pada hari-hari berkumpul dan ria gembira chususnya pada bulan december. Saya
rasa ini adalah reaksi yang normal dari manusia atas keadaan seperti saya ini.
Senioritet
dan sakit ada hubungan yang erat dan oleh kita umunya dianggap sebagai satu
kesusahan dari kehidupan manusia. Taoisme menganggap sebagai tao, jalannya kehidupan dan kita harus berani menerimanya. Kalau kita kenal tao kita menerimnya keadaan ini dan kita bisa hidup seperti di paradise, kalau tidak kita terus sedih dan memikirnya bukankah ini seperti hidup di hell (nauraka). Dalam hal ini aku memilih yang pertama. Nah kita harus seperti yang dikatakan oleh taoisme dan Zhan budhisme menikmati ?disini dan sekarang.? Maka pada bulan desember aku menikmati sepenuhnya hari yang unik ini!
Aku sering membaca humor dan membuat humor,
karena ini mempertinggi kesehatan dan yang
paling penting ialah berani menerima keadaan yang saya hadapi, yaitu yang aku sering katakan dengan sebutan ?kebenaran?. Tanpa humor betapa membosankan, boring dan
dull penghidupan. Nah kita harus seperti yang dikatakan oleh taoisme dan Zhan budhisme menikmati ?disini dan sekarang.?
Tanggal 24-12 putraku dan istrinya dibantu oleh beberapa pembantu Belanda pagi hari
membersihkan rumah barunya agar nanti tanggal 30 yang akan datang ini bisa ditinggali. Sorenya mereka harus pergi menghadiri pesta di keluarga istrinya. Sehingga hari ini
kami berdua tidak ada acara.
Kami berdua karena kemarin tidur sampai jauh malam, maka kami bangun agak laat sampai jam 09.30, ternyata hari ini hawa udara dingin tetapi matahari menyinari bumi Belanda. Kami tidak kemana-mana karena kami sudah berjanji dengan teman Belanda, suami istri yang aku kenal sejak aku tinggal di Belanda, yaitu sejawat kerja Dr. Jansen yang
tidak punya anak untuk makan malam bersama direstoran Eropa.
Siang hari kami
berdua makan enteng-enteng saja ialah gado-gado dan masing-masing dua buah lumpia goreng. Istri saya sibuk mencuci pakean dengan mesin cuci untuk semua keluarga dan menilpon anak dan cucunya di Swiss. Saya membaca koran dua hari yang belum terbaca, dengan demikian waktu berjalan dengan cepat dan jam 18.30 tepat kami dipapak oleh kawanku untuk berangkat makan bersama.
Direstoran impresi yang pertama ialah dekor Natal yang indah dengan cemara dihias dengan lampu-lampu kecil yang bergemerlapan dan pengunjung langsung dengar musik live dari dua artis masing-masing pianis dan violis yang memainkan lagu-lagu klasik Natal. Kami diantar oleh pelayan yang berjas sesudah beliau tahu nama
kami, ke korsi yang; kami jauh-jauh sudah pesan tempat. Restoran cukup
penuh tetapi suasananya tidak seramai dengan gelak tawa seperti restoran
Tionghoa. Meja di pasang taplah putih bersih dan ditengah-tengah ada vas kecil
dengan sebatang bunga mawar dengan berapa daun-daunnya masih lekat. Di meja ada
empat pasang sendok garpu, piring dengan servet. Suasana restoran dapat
dikatakan tenang, apalagi sinar lampu yang tidak begitu terang, memberi kesan
pada para tamu suasana yang romantis dan holy.
Orang-orang
Belanda sejak dua tahun yang terachir ini, mungkin karena adanya resessi ekonomi
makan dirumah. Sekarang mereka telah mengalami bahwa makan dirumah
ditengah-tengah keluarga dan teman-teman lebih menyenangkan, ada ?kehangatan?
daripada di restoran yang ?dingin? ditengah-tengah orang-orang yang asing, kita
tidak kenal dan tidak biasa kumpul.
Koran-koran
Belanda menulis bahwa pemasukan uang untuk membeli bahan-bahan kado dan
bahan-bahan makanan untuk dimasak dirumah terletak antara 500 -600 juta euro!
Suatu rekor dibanding dengan tahun-tahun yang lalu. Angka ini memang tinggi
kalau dipandang Belanda adalah negara kecil dan penduduknya hanya 15 juta
orang.
Saya
memilih sebagai permulaan sup lobster dimasak dengan ham dan brambang, lalu
porsi kecil ?Sint-Jacobsschelpen in Zuringsaus? dan sebagai makan pokok aku
pilih bukan ikan tetapi ?kidang (lelaki) dimasak dengan room saus.?
Dan sebagai
dessert ialah Mokka-ijs dengan saus Italia dan aardbei.
Istriku memilih sebagai
permulaan seperti saya dan sebagai makanan pokoknya beliau memilih ?Ayam-alas dengan champignonsaus.?
Dan Sebagai dessert dipilih
Aardbeiensorbet.
Karena aku tidak biasa minum wijn dan tidak mengenal wijn, maka wijn dipilih oleh temanku. Istriku tidak minum wijn, beliau hanya minum jus dan teh panas pada achirnya. Saja karena tidak bisa minum maka dua gelas wijn yang di isih tidak penuh sudah membuat aku high dan aku harus minta jus lemon untuk ?menetralisir? alkohol.
Makanan yang kami pesan cukup ?berat?, karena makanan Eropa mengandung banyak crème dan mertega. Tetapi lain dari pada makanan restoran Tionghoa/Indonesia, setiap makanan di suguhkan satu per satu dan ditunggu sampai semua teman semeja makan selesai, baru datang yang lain. Biasa orang Eropa makan dengan kongkou-kongkou dan tenang-tenang menikmati makanan yang disuguhkan, maka tidak heran kalau makan di restoran Belanda itu memakan waktu berjam-jam.
Kami
pulang rumah kira-kira jam 23.30 dengan merasa puas pada hari ini. Esok kami
harus ke rumahnya Kuo-Ming untuk merayahkan Christmas bersama dengan mereka
dirumah. Siangnya kami diajak nonton Christmas circus Ahoy dan malamnya makan
bersama.
Dr.
Han Hwie-Song
Breda,
24 desember 2005 The
Netherlands