logo       

Re: Re: Ajaran Khong Cu, agama?: msg#00382

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Re: Re: Ajaran Khong Cu, agama?

Aris menulis:

Pak Liang U,

Maaf, komentar saya sedikit OOT, soalnya traffic di forum hari ini
sangat rendah dan ada waktu baca karena nganggur di hari libur
sedangkan anak-anak masih tidur karena lek-lekan semalam. :-)

Di awal revolusi kebudayaan, sebenarnya Lin Biao sangat berkuasa
dan dengan diam-diam persiapkan diri dengan intriknya untuk merebut
kekuasaan. Kemana-mana dia bawa buku kecil merah berisi petuah sang
Ketua yang ada di kantong setiap pengawal merah. Setelah Lin Biao
tewas karena niat kudetanya tercium dan dia melarikan diri terus
pesawatnya jatuh di Mongolia, baru rasanya kelompok 4 mulai
melakukan gerakan "Pi Lin ping Gong" (Kritik Lin (Biao) dan Gong
(Fuzi)) yang kemudian mereka pakai dan arahkan gerakan "Pi Lin"
untuk jatuhkan Zhou Enlai tetapi gagal. Jadi maksud pak Liang U tiap
hari mereka demonstrasi anti Lin dan anti Kongzi itu saya pikir
terjadinya setelah Lin tewas bukan sebelumnya. Sedangkan revivalnya
ajaran Kongzi memang setelah Mao dan Lin tewas.

Salam,

Aris.



Rinto Jiang:

Aris-heng,

Sedikit tambahan dari saya. Lin Biao sebenarnya bukan pada mulanya merencanakan kudeta, melainkan ia diperalat Mao karena kedudukannya sebagai Menteri Pertahanan. Waktu Revolusi Kebudayaan dilancarkan, Mao perlu backing tentara (PLA) buat menyingkirkan lawan2 politiknya, yang waktu berada di faksi lain, Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Sebenarnya sejak mosi tidak percaya atas Mao, otomatis Mao sudah disingkirkan dari pusat kekuasaan sejak tahun 1959. Namun, pengaruh Mao di dalam PLA masih ada yaitu melalui Lin Biao. Lin Biao sendiri diberikan janji bahwa ia akan menjadi penerus Mao sepeninggal Mao, artinya, bila Mao berkuasa kembali, maka Lin akan menjadi orang terkuat kedua di Tiongkok. Siapapun akan terketuk hatinya mendengar janji seperti itu.

Mao mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam pusat kekuasaan kembali setelah kelihaiannya melancarkan perang Tiongkok-India, tahun 1962. Waktu itu, India di-backing oleh Sovyet dan AS. AS mengirimkan peralatan perang untuk tentara India menyiapkan diri memaklumatkan perang. Kebetulan saja, tahun 1962 juga ada Insiden Kuba, di mana Sovyet tertangkap basah menempatkan peluru kendali di Kuba yang diarahkan ke AS. Dalam waktu 1 bulan, PLA memukul mundur semua tentara penjaga pos perbatasan India di Himalaya, serangan balasan India ke Tiongkok berhasil dipatahkan dan India kalah telak. Eh, setelah Insiden Kuba selesai, PLA mundur sendiri ke garis perbatasan semula dan mengumumkan gencatan senjata sepihak. Ini titik balik Mao di Beijing karena setelah menang memberikan tamparan keras untuk Nehru, ia kemudian pelan2 mendapat pengaruh kembali di dalam pusat kekuasaan.

Tahun 1969, Lin Biao secara resmi dinobatkan sebagai penerus Mao, orang kedua terkuat di Tiongkok. Sayang, Lin tidak sabaran, berbagai manuvernya di dalam PLA membuat Mao merasa kekuasaannya terancam, apalagi setelah itu Lin Biao juga terlibat konflik dengan Zhou Enlai. Kudeta yang dilakukan Lin sebenarnya bertolak dari ia merasa dikhianati Mao karena Mao mengingkari janjinya. Mao menarik dukungannya atas Lin Biao sebagai penerusnya.

Mengenai kritik atas Konfusianisme, sebenarnya cuma dimanfaatkan oleh Mao sebagai taktik politik. Konfusianisme dianggap sebagai simbol tradisi lama yang kuno, tidak sesuai dengan filosofi negara Tiongkok modern yang ia ingin tanamkan. Padahal, Mao sendiri adalah pengagum sastra kuno Tiongkok, ia pintar berpuisi. Ia sendiri juga fasih ajaran Konfusius. Banyak ajaran2 Mao yang lebih kurang sama dengan ajaran Konfusius, karena ia merasa sebagian ajaran Konfusius dapat diaplikasikan untuk menuntut kepatuhan atas legitimasi seorang pemimpin. Mao adalah seorang yang kontradiksi, punya kepribadian ganda. Lumrah, sebagaimana mayoritas politikus memang harus memiliki kepribadian ganda.

Walau secara kasat mata, pemerintahan Beijing membenci feodalisme, namun sebenarnya pemerintahan yang sekarang itu adalah bentuk feodalisme yang lain, feodalisme yang dibungkus oleh pakaian baru, sosialisme. Di Indonesia, sama saja, masih banyak pejabat yang merasa mereka itu adalah raja2 kecil yang perlu dihormati, dilayani, dijunjung oleh rakyat kecil.

Sampai di sini dulu, sudah jauh meluas dari topik semula.


Rinto Jiang


.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




SPONSORED LINKS
Indonesia Culture Chinese


YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise