|
|
Re: Agama Buddha bagian tak terpisahkan dari budaya tionghua: msg#00355
culture.region.china.budaya-tionghua
|
Subject: |
Re: Agama Buddha bagian tak terpisahkan dari budaya tionghua |
Arifin Tanzil menulis:
mas Rinto dan kawan2 lain yg baik,
menurut saudara sekalian,
Seandainya unsur2 agama Buddha
dikeluarkan dari kebudayaan tionghoa, apakah masih bisa disebut sebagai
kebudayaan tionghoa???
seandainya
Shao lin, Tai chi chuan, cerita seperti Sun go kong, Siluman Ular
Putih, Sampek Engtai, Bodhidharma, 4 gunung buddhis (omeishan, Jiuhua
shan, Putuoshan, Wuthaishan), seni patungdan arsitektur seperti pagoda,
pahatan Buddha di bukit Leshan setinggi 71 meter yg dibangun pd abad ke
6 , di Dun Huang, di Long Men terdapat 1352 goa dan 750 lorong dengan
97.306 patung yg dibangun pd abad ke 5, Shaolin, Tai Chi(?) dll. (tolong diperpanjang daftar ini). dikeluarkan
dari kebudayaan tionghua ???
Rinto Jiang:
Yah, dalam hal ini saya setengah setuju atas pendapat Arifin-heng,
setengah tidak setuju karena kita membahas isi ajaran Buddhisme apakah
boleh diposting di sini atau tidak. Tentu saja lain dengan pembahasan
pengaruh Buddhisme terhadap kebudayaan Tionghoa pada umumnya.
Karena kita cuma membahas apakah isi Lun Yu boleh diposting di milis
ini atau tidak, maka kembali pada masalah inti ajaran dari ajaran
Buddhis dan Konfusianisme dapat ditarik banyak perbedaan mendasar yang
menyebabkan isi Dhammapada atau Tri-Pitaka misalnya menurut saya tetap
saja tidak baik dipostingkan ke milis. Hal yang sama juga dapat
dipasangkan kepada Buddhisme dan Taoisme. Aris-heng misalnya juga
sering mengirimkan terjemahannya tentang Daodejing (Tao Tse Tsing),
padahal Aris-heng ini bukan pemeluk Taoisme bila Taoisme itu dianggap
sebagai agama. Konfusianisme sebenarnya "terpaksa" dilembagakan sebagai
agama di Indonesia karena di Indonesia ada peraturan "miring" tentang
agama yang diakui oleh negara. Padahal, bila mengerti ajaran
Konfusianisme, inti ajarannya cuma mengenai tata cara dan aturan
interaksi antar manusia. Tidak ada ajaran mengenai surga neraka,
kehidupan setelah meninggal dan doktrin sejenisnya.
Jadi, mengenai apakah postingan kutipan kitab suci, pandangan saya
tetap kembali kepada agama yang diakui secara de-yure di Indonesia.
Secara de-facto walaupun nampaknya Konghucu telah ada sebagai lembaga
agama di Indonesia, namun secara de-yure tetap saja belum diakui.
Departemen Agama masih mencantumkan pemeluk agama selain 5 agama yang
diakui sebagai "Lainnya". Jadi, menurut saya sesuai dengan pendapat
teman2 anggota lainnya, saya kira postingan Lun Yu lebih akan dapat
diterima sebagai suatu filsafat universal daripada filsafat Buddhisme
di milis ini. Satu lagi, dari sejarah dapat diketahui sebenarnya
Buddhisme Mahayana adalah corak Buddhisme di Tiongkok, sangat lain dari
Buddhisme Theravada yang mayoritas di Indonesia. Ada sedikit banyak
kesan bahwa Buddhisme Theravada di Indonesia menolak kekangan tradisi
Tionghoa.
Membahas pengaruh Buddhisme di Tiongkok dan kebudayaan Tionghoa secara
keseluruhan tentunya tidak dapat dinihilkan begitu saja. Sejarah
Buddhisme di Tiongkok tentu saja dapat dibahas, namun saya tetap merasa
tidak dengan membahas ajaran Buddhisme itu sendiri. Di zaman Dinasti
Han, Konfusianisme pernah dipertentangkan dengan Taoisme, namun karena
Konfusianisme lebih universal, maka Konfusianisme kemudian menjadi
tata-cara pemerintahan kekaisaran. Setelah itu, zaman Dinasti Sui,
Buddhisme juga dipertentangkan dengan Konfusianisme, namun
universalisme Konfusianisme tetap menjadi satu point tak tertandingi
waktu itu. Walaupun Buddhisme pernah menjadi agama negara pada zaman
Dinasti Tang, namun ujian negara dan pemerintahan tetap tidak menguji
pengetahuan calon pejabat tentang ajaran Buddhisme, karena bahan ujian
tetap adalah nilai2 ajaran Konfusianisme. Orang Mongol juga menerapkan
tata cara ujian negara ini. Hal ini bertahan selama ribuan tahun sampai
zaman Qing membuktikan ke-elastis-an ajaran Konfusianisme.
Inti dari pandangan saya di atas bukan karena saya itu gandrung atau
fanatik dengan Konfusius dan ajarannya, saya sendiri bahkan belum
pernah mempelajari secara serius apa itu ajarannya.
Terakhir, dari point ini saya ingin mengkoreksi sedikit daftar
Arifin-heng. Taichi berasal dari Taoisme. Novel "Perjalanan ke Barat"
(Sun Go Kong) walaupun sekilas dilihat adalah menceritakan masalah
Buddhisme, namun sebenarnya bila membaca hakikat dari novel tadi maka
novel tadi tidak banyak mengandung filsafat Buddhisme, melainkan
menitik-beratkan pada sifat-sifat fana manusia yang lemah (Pendeta
Tong), sombong (Sun Go Kong), serakah dan mata keranjang (Ti Pat Kai)
dan bodoh (Sam Cheng). Jadi, menurut saya, novel itu intinya sekular,
tidak membawa misi agama apapun.
Rinto Jiang
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
YAHOO! GROUPS LINKS
|
|
|