|
Re: Masalah Identitas 'WNI keturunan Cina' Indonesia [Budaya Cina => JD]: msg#00406culture.region.china.budaya-tionghua
Dirgahayu Terima kasih untuk bung JD karena telah menyisihkan waktunya untuk memberikan penjelasan yang singkat tapi sangat padat untuk saya perihal masalah `identitas tionghoa'. Sebenarnyalah, saya sudah lama sekali mengetahui sosok xifilsuf alias JD ini yang menurut informasi dari sindikat cina-orde baru thang obeng dan gan ti olie adalah putra dari Bpk. Kristoforus Sindhunata, mantan ketua umum LPKB. Ya, saya melihat `kontradiksi identitas' terkait dengan identitas etnik dan identitas warga-negara. Tetapi saya tidak mengatakan bahwa `krisis identitas' ini berasal dari internal mind-set orang- orang tionghoa. Tetapi `kontradiksi identitas' ini lebih disebabkan oleh rekayasa politik dan external coersif factor dengan tujuan untuk mendeskreditkan golongan tionghoa yang dibantu oleh proxy forces dari segelintir sindikat tionghoa itu sendiri. sayangnya, karena ketidak-mampuan para tokoh organisasi tionghoa saat ini dalam mengartikulasikan permasalahan yang dihadapi, opini publik seakan melihat gerakan anti-diskriminasi tionghoa sebagai gerakan yang cengeng. Kalangan tokoh ngetop tionghoa itu agaknya perlu membatinkan apa yang dikatakan oleh bung JD: "kembangkan kasus diskriminasi tersebut menjadi wacana GENERIK atas SALAH SATU CONTOH kasus penindasan terhadap salah satu suku bangsa di Indonesia dalam rangka penegakan IDENTITAS ke-Indonesia-an!" supaya "jangan sok eksklusif merasa diri sendiri yang paling jadi korban di Indonesia!" yang pada akhirnya dapat menjadi boomerang bagi orang tionghoa secara umum. Hal ini bertambah berat pada saat golongan tionghoa bersuara atas ketidak-adilan atas dirinya, sebagian kelompok rasis ini akan kembali menyerang golongan tionghoa dengan tuduhan `ekslusif' karena hanya merengek-rengek "menggolongkan kasusnya sendiri sebagai kasus tersendiri yang UNIK sebagai 'nasibnya si Cino di Indonesia'". Padahal, golongan etnik lain yang juga tertindas seperti aceh, papua, dayak, ambon dsb itu juga tidak pernah bersuara untuk membela tionghoa. Tetapi tampaknya, bung JD bermaksud mengatakan bahwa golongan tionghoa harus berinisiatif untuk memelopori gerakan anti- diskriminasi secara lebih luas lagi. Sebuah anjuran yang pantas dipikirkan oleh golongan tionghoa yang rada-rada kuper. INDONESIA NEGARA RASIS Saya tidak terlalu setuju dengan omongan si wong cino yang bertendensi mengatakan bahwa indonesia adalah negara rasis. Paling tidak, perilaku rasialis sepanjang sejarah Amerika itu jauh lebih beringas dan keji daripada yang selama ini terjadi di Indonesia. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat kelompok-kelompok rasis yang berkeinginan untuk menyingkirkan golongan tionghoa dari bumi Indonesia. Kelompok-kelompok rasis ini menamakan diri KENSI, PP- 10, Inpres No.14/1967, ekonomi benteng, afirmatif action dengan penekanan rasial, sms ganyang cina dsb. Mereka juga bermain dalam tatanan perundang-undangan kewarga-negaraan untuk memperkecil jumlah WNI beretnik tionghoa. Sedangkan, pasca BAPERKI, golongan tionghoa tidak mampu lagi berbuat banyak dalam menghadapi arus rasialis anti-tionghoa ini. Kelompok rasis ini mengganti sejarah positif tionghoa dalam proses perkembangan nusantara menjadi catatan korupsi, kejahatan ekonomi, ketamakan dan ke-ekslusif-an tionghoa yang dibuat-buat. INTEGRASI Konsepsi INTEGRASI tidak pernah gagal. Bahkan bung JD sebenarnyalah merupakan pendukung kuat konsep INTEGRASI yang pernah diusung oleh Siauw Giok Tjhan dan BAPERKI di masa lalu dengan mengatakan "?Tapi cara pengikisan itu pun tidak bisa melalui jalur ASIMILASI di mana si Cino dibuat MENJADI dan DIPAKSA jadi 'Indonesia nan abstrak'; si Cino sebaliknya harus dibiarkan eksis dan KO-eksis dengan suku-suku lainnya!". Bagi saya, konsep INTEGRASI BAPERKI ini adalah sebuah proyeksi ideal yang berfungsi sebagai landasan perjuangan anti-diskriminasi rasial. masalah tidak tercapainya kondisi ideal hubungan antar ras dan etnik lebih disebabkan karena pertarungan politik global dan lemahnya SDM pengusung konsepsi INTEGRASI itu sendiri. Bukankah, golongan tionghoa amat jarang melahirkan tokoh-tokoh sebesar Siauw, Tan Ling Djie, Liem Koen Hian, Dr. Tjoa Sik Ien, Kwee Keng Beng dsb Tetapi sebagai proyeksi ideal, INTEGRASI yang diusung Siauw dan BAPERKI itu tidak pernah memiliki kesalahan secara prinsip. Sehingga sudah mesti diperjuangkan kembali. Mayat --- In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, JD <xifilsuf@xxxx> wrote: > > Sorry, karena repot saya lama tidak menanggapi thread ini. Eniwe, supaya > singkat dan padat saya bikin jawabannya titik per titik. > > 1. Identitas kecinaan tidak konfrontatif dengan identitas ke- Indonesia-an > Dari tulisan si mayatperempuan kelihatan jelas bahwa dia melihat adanya > konfrontasi di antara identitas saya misalnya, sebagai 'keturunan Cina' > di satu pihak dengan status politik saya sebagai 'Warga Negara > Indonesia' di sisi lain. Ini adalah konfrontasi palsu yang tidak perlu > diungkit-ungkit. Secara jelas saya punya dua identitas, yaitu (satu) > sebagai keturunan Cina yang lahir dan besar di Indonesia dan dus (dua) > saya warga negara Indonesia. Kedua *sumber identitas* ini sifatnya > adalah saling melengkapi sebagaimana identitas Jawa-Indonesia atau pun > Batak-Indonesia; dan sama sekali tidak bersifat konfrontasional seperti > identitas Jawa lawan identitas Indonesia, atau pun identitas Batak lawan > identitas Indonesia, di dalam rangka Republik Indonesia! Di dalam negeri > saya sangat merasa 'Cina', tapi anehnya, di luar negeri saya justru > merasa sangat Indonesia! Bagaimana kita mendamaikan kedua sumber > identitas ini agar tidak konflik sendiri di dalam diri kita dan kemudian > menjadi asal usul semua sakit jiwa? Kuncinya cuman satu: damaikan > mereka, dan jangan dikonflikan! > > 2. Krisis identitas Cino di Indonesia itu jelas dan nyata > Tapi ini MURNI bukan cuman problemnya si cino kayak saya dan sebagian > dari Anda; tapi juga problemnya si Batak-Indonesia, si Dayak- Indonesia, > si Jawa-Indonesia! Singkatnya, problem si cino model saya ini HANYALAH > satu prototype kecil dari problemnya SETIAP orang Indonesia karena > SETIAP orang Indonesia sendiri otomatis punya identitas ganda; yaitu > identitas dalam kerangka ke-Indonesia-annya dan dalam kerangka > ke-suku-annya. Kalau saja saya ini tukang kotbah, maka dari dulu saya > sekali secara konsisten saya telah mengartikulasikan hal ini > sedalam-dalamnya, yaitu: 'Cino Indonesia, jangan sok eksklusif merasa > diri sendiri yang paling jadi korban di Indonesia! Tapi, kembangkan > PENGALAMAN Anda sebagai Cino di Indonesia itu untuk MERANGKUL pengalaman > sesama kita di Indonesia dari suku-suku lainnya yang juga SAMA- SAMA > menderita! > > Saya sering mengambil contoh fiktif begini. Saya dengan muka Cino saya > nyerempet mobilnya tentara di jalanan, si tentara pun turun dengan > garangnya dan langsung ngaploki saya. Okey! Nah, dalam konteks begini > Cino GOBLOG bakal langsung bilang si tentara itu RASIS dan ngaploki saya > SEMATA-MATA hanya karena muka saya muka Cino! Ini adalah reaksi goblog > yang buta tuli sama kenyataan!? Tahu kenapa? Karena, KALAU SAJA muka > saya sama-sama coklatnya dan sama-sama huananya sama mukanya si tentara, > maka tentu saja saya bakal tambah mampus disiksa si tentara dalam > konteks kejadian yang serupa, yaitu 'nyrempet mobilnya si tentara'. > Gara-gara muka saya muka muka Cino, maka si tentara pun masih mikir > 'kalau-kalau' muka saya yang Cino ini kenal dengan atasannya!? Tapi, > coba saja muka saya ini mukanya si kulit coklat, maka nggak cuman > ditampar, muka saya pun diinjek-injek sama si TNI/ABRI bajingan itu! > > Anda para Cino di sini HARUS sadar atas realitas itu! > > Kita itu ditindas BUKAN karena KITA CINO atau pun karena Indonesia itu > secara 'de facto' rasis model tulisannya si tolol Wong Chi No di > milis-milis, tapi karena Negara Indonesia itu memang yang masih sangat > represif dan sangat barbar! > > Singkatnya, JANGAN secara eksklusif menggolongkan kasus Anda sebagai > kasus tersendiri yang UNIK sebagai 'nasibnya si Cino di Indonesia'; > tapi, kembangkan kasus diskriminasi tersebut menjadi wacana GENERIK atas > SALAH SATU CONTOH kasus penindasan terhadap salah satu suku bangsa di > Indonesia dalam rangka penegakan IDENTITAS ke-Indonesia-an! > > 3. Integrasi si Cino, atau pun Asimilasi si Cino ... sudah terbukti GAGAL > Dan bukan cuman di Indonesia toq proses begituan GAGAL! Di Perancis pun > itu gagal sebagaimana bisa kelihatan jelas di TV-TV belakangan ini! Juga > di Amerika! Karena itulah, di Amerika pun mereka meninggalkan kebijakan > asimilasi alias 'melting pot' dalam aksen Inggrisnya dan memprioritaskan > 'affirmative action'. > > 'Affirmative action' sukses besar bukan cuman di Amerika, tapi juga di > Singapore. Di Singapore dan di Amerika muka-muka Cino tanpa > sungkan-sungkan pacaran dengan muka-muka India atau pun Melayu; bukannya > kayak di Indonesia di mana Cinonya malah merasa paling tinggi sendiri, > paling jadi korban sendiri dan paling beradab sendiri! Mentalitas Cino > goblog nan feodal kayak mentalitasnya para Cino di Indonesia inilah yang > perlu kita kikis habis! > > Tapi cara pengikisan itu pun tidak bisa melalui jalur ASIMILASI di mana > si Cino dibuat MENJADI dan DIPAKSA jadi 'Indonesia nan abstrak'; si Cino > sebaliknya harus dibiarkan eksis dan KO-eksis dengan suku-suku lainnya! > > 4. Singkatnya > Singkatnya, Cino di Indonesia memang adalah si minoritas atau pun si > suku yang secara kultural maupun sukuis KEBETULAN sekali memang lebih > dari pada suku-suku yang lain. Orang Indonesia dari suku mana saja yang > mau tutup mata sama fakta ini yach lebih baik memperbaiki kaca matanya > biar bisa melihat lebih jelas. > > TAPI, itu jangan lantas dilihat sebagai alasan untuk MERASA SUPERIOR dan > LEBIH dibandingkan dengan suku-suku lainnya! > > Cino Indonesia itu 10000000000 kali masih lebih untung nasibnya > dibandingkan, misalnya, orang Aceh atau orang TimTim dulu. Faktanya, > orang Aceh atau TimTim itu secara bajingan sekali disiksa sama si > tentara-tentara Indonesia anjing itu jauh lebih buruk dari pada > perlakuan terhadap suku Cino-Indonesia. > > So, berpikirlah secara luas dan obyektif model: > a. Cino-Indonesia didiskriminasi? Iya, memang! Tapi suku-suku lain pun > juga didiskriminasi secara sistematis oleh wacana ke-Indonesia-an ini > dan lebih buruk lagi, suku-suku lain itu BETUL-BETUL disiksa DI TANAH > KELAHIRAN mereka sendiri, nggak kayak si Cino yang disiksa karena dia > sukunya suku asing! > b. Cino-Indonesia diperlakukan tidak adil? Iya, memang! Tapi suku- suku > Indonesia lainnya pun juga didholimi oleh para penguasa di negara fasis > Pancasilais ini! So, jangan sok eksklusif merasa diri sendiri yang jadi > korban model tulisannya cino-cino goblog kayak si Wong ChiNo itu! > > Kita keturunan Cino di Indonesia ini punya satu keunggulan yang TIDAK > dimiliki oleh suku-suku lainnya di Indonesia. Yaitu: kita punya dukungan > internasional. Waktu perempuan Cino disikat sama tentara-tentara > bajingan, maka Cino huaqiao sedunia pun langsung teriak-teriak menekan > si Indonesia! > > Tapi coba waktu si perempuan Aceh atau TimTim tempeknya dijejelin > bedilnya tentara Indonesia; maka si perempuan itu yach membujur > sendirian jadi mayat kesepian! Tidak ada satu orang pun yang sudi > berteriak atas kematiannya; nggak ada satu orang pun yang merasa > keberatan dengan fasisme si TNI/ABRI bajingan di Indonesia itu! > > Betapa beruntungnya jadi Cino! > > So, Cino Indonesia, HORIZONTAL-KAN pengalaman Anda itu! Artinya, Anda > disiksa? Okey, tapi lihat juga tetangga Anda si Aceh, si Dayak, si Bali, > si Maluku yang juga disiksa! Pengalaman Anda itu sebagai Cino di > Indonesia itu jangan malah diekspose sendirian menjadi SEOLAH-OLAH saja > satu kasus yang terpisah dan unik dari kasus-kasus lainnya di dalam > bingkai ke-Indonesia-an sialan ini! > > Sekali Anda bisa begitu, maka Anda pun bisa langsung berdamai dengan > identitas Anda! Anda jadi Cino di Indonesia, sekaligus jadi orang > Indonesia juga? > > Ngerti nggak? > > > > JD > > -------------------------------- > mayatperempuan wrote: > > > Dirgahayu > > > > saya kira, beberapa kalangan tionghoa tidak > > pernah memiliki 'krisis identitas' seperti > > yang dituduhkan beberapa kalangan. beberapa > > kalangan tionghoa ini pun tidak pernah punya > > semacam 'loyalitas ganda' terhadap negara. > > > > sebut saja kalangan BAPERKI dan tokoh-tokoh > > seperti LIEM KOEN HIAN, SIAUW GIOK TJHAN, YAP > > THIAM HIEN, GO GIEN TJWAN, TAN LING DJIE dsb. > > mereka-mereka ini agak berbeda dengan ketokohan seperti > > Injo Beng Goat yang pernah mendukung kolonialisme > > belanda tetapi bersikap sangat heroik pasca > > kemerdekaan 17 agustus 45 atau berkelakuan > > seperti Junus Jahja yang kalo udah ngomong > > 'lebih pribumi dari pribumi'. > > > > beberapa kalangan leluhur tionghoa yang datang > > ke nusantara ini pun telah "berdamai dengan > > hati dan pikiran" mengenai 'identitas tionghoa'. > > > > ya, kami beretnis tionghoa dan berbudaya lain > > dengan saudara-saudara jawa, batak, sunda, madura. > > tetapi kita tetap bersaudara. dan 'bersaudara' > > tidak berarti kehilangan identitas tionghoa kita. > > seperti layaknya, seorang saudara sepupuh tidak > > meminta saudar sepupuh lainnya untuk berganti nama > > yang identik dengan namanya atau apalagi berganti > > kelamin. tetapi tetap mereka bersaudara dalam > > satu keluarga besar. antara etnik tionghoa dan > > suku-suku lain tetap bersaudara di dalam keluarga > > indonesia. > > > > identitas tionghoa dan budaya tionghoa lebih > > tepat dikatakan 'DIPERMASALAHKAN' oleh golongan > > rasis anti-tionghoa yang berkehendak menyingkirkan > > golongan etnik tionghoa dari muka tanah indonesia, > > negara yang turut diperjuangkan oleh segolongan > > tionghoa dengan wadah PARTAI TIONGHOA INDONESIA dan > > juga didukung oleh TIONGHOA HWE KOAN (THHK) dan > > harian SIN PO yang sama-sama menentang imperialisme > > dan kolonialisme eropa sekalipun dengan konsep yang > > berbeda. > > > > sehingga yang tampaknya harus > > 'berdamai dalam hati dan pikiran' adalah mereka-mereka > > yang sampai saat ini merasa canggung dengan keberadaan > > tionghoa di Indonesia. ingatlah, seorang tionghoa bangka > > yang bernama Tony Wen turun merobek bendera belanda > > di hotel orange yang legendaris itu. > > > > akibat politik 'mempersalahkan tionghoa' mungkin > > menjadi salah satu penyebab munculnya milis budaya > > tionghoa ini. > > > > tetapi peringatan bung JD mengenai betapa luasnya > > budaya tiongkok itu perlu dan mesti dihayati oleh > > teman-teman yang mengorganisir milis budaya tionghoa > > ini. > > > > benarlah apa yang dikatakan oleh bung JD. bahwa begitu > > banyak budaya yang dihasilkan oleh peradaban yang berusia > > 5000 tahun itu. dan hendaknya kawan-kawan BT tidak > > menjadi subjektif dan partial hingga menjadi chauvinistik > > dalam menentukan apakah seseorang itu tionghoa atau > > setengah tionghoa. jangan meniru kalangan 'baba'. > > > > ada satu hal yang lebih mengikat kalangan tionghoa > > yaitu DARAH. > > > > Mayat > > > > > > --- In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "ulysee" > > <ulysee@xxxx> wrote: > > > > > > Budaya tionghoa ada, yaitu budaya Cina rantau yang berdiam di > > Indonesia > > > dan menyebut diri suku Tionghoa, hehehe. Istilah nya budaya Cina > > > Peranakan, kalau di singapur/Malay dibilangnya budaya Nonya/Baba, > > disini > > > namanya budaya Tionghoa, hihihi. Rada maksa ngga apa-apa lah, > > pokoknya > > > ada, lain dari yang beda. > > > > > > Saya baru tahu ada perbedaan antara huaqiao dengan huayi, ooo, > > ternyata > > > saya ini huayi, bukan huaqiao toh. Lha kalau yang disebut chinese > > > overseas itu yang huaqiao atau yang huayi atau dua duanya? Kalo > > cina > > > diaspora smaa chinese overseas sama atau beda? > > > > > > Menarik sekali. Beberapa literatur pun menyebutkan bahwa masalah > > orang > > > tionghoa pada dasarnya adalah masalah 'identitas' > > > > > > Koh, apa maksudnya tuh berdamai dengan identitas? > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | RE: Re: Usul: Gathering Budaya Tionghoa yuk...: 00406, Farah Dina |
|---|---|
| Next by Date: | OOT: Re: Salut untuk A Badawi: 00406, adipranata . suryadi-SBFlAiN0CktBDgjK7y7TUQ |
| Previous by Thread: | Masalah Identitas 'WNI keturunan Cina' Indonesia [Budaya Cina => JD]i: 00406, JD |
| Next by Thread: | Re: Masalah Identitas 'WNI keturunan Cina' Indonesia [Budaya Cina => JD]: 00406, Catherine Seafia |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |