logo       

Fw: Re:Han Hwie-Song: Melepaskan burung untuk mendapatkan reward: msg#00388

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Fw: Re:Han Hwie-Song: Melepaskan burung untuk mendapatkan reward

 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, November 29, 2005 4:15 PM
Subject: Re:Han Hwie-Song: Melepaskan burung untuk mendapatkan reward

Melepaskan burung untuk mendapatkan reward

Waktu mudaku di Surabaya, aku masih ingat orang-orang Tionghoa di Pecinan, memanggil bapak jualan burung, didalam kurungannya ada banyak sekali semacam burung yang kecil-kecil. Burung-burung ini dibeli semua, lalu burung-burung itu dilepaskannya (berarti membebaskan kembali ke alam bebas) untuk menebus dosanya didunia. Mereka mengharepkan dengan tindakannya ini mendapatkan reward dari Tuhan.

Saya rasa pemuda-pemudi jaman sekarang ini tidak menjumpai lagi senario ini, karena di Indonesia tidak begitu banyak lagi burung seperti dahulu. Banyak burung ditembak, atau mati karena polusi hawa udara, kekurangan ruangan karena banyaknya penduduk dan rumah-rumah dan gedung-gedung, menghalangi pertumbuhan dan berkembang biaknya burung-burung pada jaman modern ini.

            Cerita ini ternyata adalah satu kebiasaan orang Tionghoa di Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu dan persoalan ini pernah ditulis oleh salah seorang dari tiga taois terbesar Lie Zi, sesudah Lao Zi dan Zhuang Zi. Lie Zi nama sebetulnya ialah Lie Yukou yang hidup antara 2700-2500 tahun yang lalu. Zi disini berarti orang bijaksana.

            Lie Zi menulis dalam bukunya kira-kira seperti yang kutulis dibawah ini:

Pada setiap Tahun Baru merupahkan satu kebiasaan dari rakyat di suatu negara jaman ?The Warring States? untuk menangkap burung dara dan kemudian diberikan pada rajanya, raja sangat senang dengan kebiasaan ini dan pengasih burung lalu diberi reward yang menguntungkan, ada berupa material dan bahkan berupa kedudukan dalam pemerintahannya. Yang terachir ini tergantung hubungan raja dengan pemberi. Perlu diketahui bahwa tidak setiap orang dapat bertemu dengan raja dan pemberian itu harus melalui seorang pejabat kerajaan.

Pada satu hari waktu raja sedang sibuk memberikan reward pada seorang yang memberikan beberapa burung dara dan melepaskannya kembali, ada seorang bijaksana pembantu raja tanya pada beliau:? apakah maksud paduka raja dengan kebiasaan ini?? Raja menjawab:?aku lepas burung-burung itu untuk menunjukkan kebaikan saya, agar hewan-hewan yang hidup itu mendapatkan kebebasan kembali.? Penanya yang bijak itu lalu menjawab:? paduka yang mulia, karena rakyat paduka tahu bahwa paduka raja sukah dengan burung darah untuk dilepaskan kembali, mereka beramai-ramai menagkapnya. Realitetnya banyak burung dara tambah sengsara karena diburuh, bahkan banyak yang mati. Kalu anda bermaksud untuk berbuat kebaikan bagi hewan-hewan yang hidup, sebaiknya paduka raja melarang orang menangkap burung dara.? Pembantu yang bijak ini melihat  raja lalu meneruskan perkataannya:?Sebenarnya  anda menangkap burung-burung dan melapaskannya kembali, kebaikan anda tidak melebihi daripada kerusakan yang diakibatkan oleh penangkapan burung-burung yang sedang bebas dan hidup aman berterbangan di alam bebas.?

            Raja berpikir-pikir dan memang betullah apa yang dikatakan oleh orang yang bijak ini.

            Essay ini menunjukkan bahwa apa yang kita kerjakan harus dipikirkan dahulu. Pula kita harus memikirkan apa akibat dari handling yang kita kerjakan itu. Kalau kita ragukan dan tidak tahu sebab dan akibatnya, belajar dari sejarah dan diskusikan, mungkin dapat membantu penyelesainnya.

 

Dr. Han Hwie-Song

Breda, 28 november 2005  The Netherlands



.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise