Melepaskan burung untuk
mendapatkan reward
Waktu mudaku di Surabaya, aku
masih ingat orang-orang Tionghoa di Pecinan, memanggil bapak jualan burung,
didalam kurungannya ada banyak sekali semacam burung yang kecil-kecil.
Burung-burung ini dibeli semua, lalu burung-burung itu dilepaskannya (berarti
membebaskan kembali ke alam bebas) untuk menebus dosanya didunia. Mereka
mengharepkan dengan tindakannya ini mendapatkan reward dari Tuhan.
Saya rasa pemuda-pemudi jaman
sekarang ini tidak menjumpai lagi senario ini, karena di Indonesia tidak begitu
banyak lagi burung seperti dahulu. Banyak burung ditembak, atau mati karena
polusi hawa udara, kekurangan ruangan karena banyaknya penduduk dan rumah-rumah
dan gedung-gedung, menghalangi pertumbuhan dan berkembang biaknya burung-burung
pada jaman modern ini.
Cerita ini ternyata adalah satu kebiasaan orang Tionghoa di Tiongkok
sejak ribuan tahun yang lalu dan persoalan ini pernah ditulis oleh salah seorang
dari tiga taois terbesar Lie Zi, sesudah Lao Zi dan Zhuang Zi. Lie Zi nama
sebetulnya ialah Lie Yukou yang hidup antara 2700-2500 tahun yang lalu. Zi
disini berarti orang bijaksana.
Lie Zi menulis dalam bukunya kira-kira seperti yang kutulis dibawah
ini:
Pada setiap Tahun Baru
merupahkan satu kebiasaan dari rakyat di suatu negara jaman ?The Warring States?
untuk menangkap burung dara dan kemudian diberikan pada rajanya, raja sangat
senang dengan kebiasaan ini dan pengasih burung lalu diberi reward yang
menguntungkan, ada berupa material dan bahkan berupa kedudukan dalam
pemerintahannya. Yang terachir ini tergantung hubungan raja dengan pemberi.
Perlu diketahui bahwa tidak setiap orang dapat bertemu dengan raja dan pemberian
itu harus melalui seorang pejabat kerajaan.
Pada satu hari waktu raja
sedang sibuk memberikan reward pada seorang yang memberikan beberapa burung dara
dan melepaskannya kembali, ada seorang bijaksana pembantu raja tanya pada
beliau:? apakah maksud paduka raja dengan kebiasaan ini?? Raja menjawab:?aku
lepas burung-burung itu untuk menunjukkan kebaikan saya, agar hewan-hewan yang
hidup itu mendapatkan kebebasan kembali.? Penanya yang bijak itu lalu menjawab:?
paduka yang mulia, karena rakyat paduka tahu bahwa paduka raja sukah dengan
burung darah untuk dilepaskan kembali, mereka beramai-ramai menagkapnya.
Realitetnya banyak burung dara tambah sengsara karena diburuh, bahkan banyak
yang mati. Kalu anda bermaksud untuk berbuat kebaikan bagi hewan-hewan yang
hidup, sebaiknya paduka raja melarang orang menangkap burung dara.? Pembantu
yang bijak ini melihat raja lalu
meneruskan perkataannya:?Sebenarnya
anda menangkap burung-burung dan melapaskannya kembali, kebaikan anda
tidak melebihi daripada kerusakan yang diakibatkan oleh penangkapan
burung-burung yang sedang bebas dan hidup aman berterbangan di alam bebas.?
Raja berpikir-pikir dan memang betullah apa yang dikatakan oleh orang
yang bijak ini.
Essay ini menunjukkan bahwa apa yang kita kerjakan harus dipikirkan
dahulu. Pula kita harus memikirkan apa akibat dari handling yang kita kerjakan
itu. Kalau kita ragukan dan tidak tahu sebab dan akibatnya, belajar dari sejarah
dan diskusikan, mungkin dapat membantu penyelesainnya.
Dr. Han
Hwie-Song
Breda, 28 november 2005 The
Netherlands