Ilmu kedokteran
Yuhuangding di Yantai RRT- pandangan saya
hari depan ilmu kedokteran Indonesia
Sejak reformasi
pada tahun 1978 ekonomi Tiongkok daratan meningkat dan bahkan sejak lebih dari
satu decade, persentage peningkatan ekonomi negeri yang dahulu beken dengan nama
Cathay mengagumkan setiap ekonom, padahal ekonomi dunia macat. Karena
perkembangan sosioekonomi ini, memberi kemungkinan perkembangan dalam berbagai
bidang technologi, termasuk kemajuan dalam bidang kedokteran. Kemajuan ini mendapatkan bantuan dengan
kemajuan dalam bidang technologi peralaten kedokteran. Ini meningkatkan kwalitet
dan standar efisiensi sehinga berbagai penyakit dapat di diagnosa pada waktu
masih dalam stadia permulaan. Disini perlu saya jelaskan bahwa praktek
kedokteran pada jaman sekarang ini adalah bekerja sama dari para dokter dengan
berbagai disiplin seperti apoteker dan physicist atau insinyur. Kerja sama ini
jelas tampak dalam bidang radiologi, kedokteran nuklir, radioterapi, cardiologi
etc.etc.
Waktu kami dengan para ahli
kedokteran dari fakultas kedokteran Utrecht berkunjung ke Yuhuangding, dari
Qingdao University Medical College, kami sangat impres atas kecakapan dan
keahlian para dokter dirumah sakit ini. Jelas bagi kita sekarang bahwa RRT
mempunyai banyak dokter yang kompeten, kemampuan untuk mengerjakan intervensi
dan operasi yang sulit dan pula mempunyai material klinis yang sangat banyak,
interesan untuk research. Karena banyaknya
material penderita, mengakibatkan banyaknya pengalaman dan kemahiran para dokter
di berbagai hospital-hospital di Tiongkok daratan. Yang mungkin mereka perlu belajar ialah
terutama bagaimana caranya agar mereka melakukan research dan menghindari
kesalahan-kesalahan, juga belajar medical statistik. Aku rasa apabila mereka
pandai bahasa Inggris dan komunikasi lancar, mungkin universitas-universitas
luar negeri datang antri untuk bekerja sama dengan RRT. Ini adalah pikiran
saya ?melihat bunga dengan naik kuda?, short visit ke Yuhuangding hospital!
Kami jakin mungkin dalam jarak
waktu lima tahun lagi mereka tidak perlu lagi bantuan dari luar negeri. Kami
juga kagum atas peralatannya yang modern, ini menunjukkan tidak saja kekayaan
rumah sakit ini, tetapi memberi kesan bahwa merekapun sudah mengikuti jaman dan
kami juga melihat bahwa mereka memakainya alat-alat itu secara intensif.
Universitas-universitas luar
negeri tahu bahwa faktor-faktor yang saya sebut diatas, merupahkan potensi yang
nyata buat bekerja sama untuk research untuk kemajuan ilmu kedokteran. Saya rasa
ini akan merupahkan satu stimulasi
bagi universitas-universitas luar negeri yang berdatangan ke Tiongkok daratan
untuk bekerja sama; dan disampingnya itu mereka bisa membawa industri-industri
alat kedokteran dari negaranya, seperti CT, MRI, PET-CT dan berbagai alat-alat
kedokteran untuk ICU, cardiologi etc.etc. untuk menjual produk-produk dari
negaranya.
Aku pernah tanya pada kolega di
Yantai, dari manakah mereka belajar kemajuan technologi kedokteran, mengingat
Yantai bukan kota yang besar dan tidak ada hubungan yang erat dengan universitas
luar negeri. Pertanyaanku ini dijawab bahwa kemajuan mereka ini terutama
disebabkan di RRT sering diadakannya exchange programme, simposia dan kerja sama
antar berbagai institutions di seluruh negeri. Dari pertemuan-pertemuan ilmiah
semacam ini, menimbulkan forum yang dapat memperluas dokter-dokter dalam negeri
untuk mempertinggi ilmunya dengan pengetahuan yang baru; disampingnya mereka
tahu dimana di Tiongkok yang mengerjakan prosedur-prosedur yang paling baru dan
tidak invasive. Mereka dapat bekerja disana untuk memperdalam teori dan terutama
dalam bidang praktek. Saya tahu bahwa ada satu cardiolog dari Yuhuangding yang
pergi ke Wu-han untuk mengambil Ph.D. dan seorang dokter nuklir medicine
sekarang berada di Beijing untuk belajar technik-technik yang paling
achir.
Melihat kemahiran mereka,
seandainya saya tidak tinggal di Belanda, saya mau berobat di RRT kalau saya
sakit, ini bukannya saya berkata karena emosionil, mendapatkan penerimaan yang
hangat di Yantai, tetapi saya dengar dari kawan-kawan belanda yang membicarakan
dalam bidangnya masing-masing, tetapi aku juga melihat dengan mata kepala
sendiri kemajuan dalam bidang kedokteran terutama dalam bidangku kedokteran
nuklir.
Mengenai negara dimana aku
dilahirkan, saya percaya bahwa Indonesia juga bisa maju seperti RRT, kalau
beleid kedokterannya dirobah. Dari pengalaman saya waktu sekolah menegah dan
sebagai mahasiswa, saya tahu orang Indonesia seperti orang Asia lainnya banyak
yang pinter dan punya kemampuan untuk meraih kepandaian yang tinggi. Ini dapat dilihat,
Indonesia mendapatkan rangking kedua sesudah Singapore pada International
Mathematics and Science Olympics for Elementary School Students di jakarta.
Sebetulnya sewaktu aku lulus dari fakultas kedokteran Airlangga, kedokteran
Indonesia pada periode itu tidak kalah dibanding dengan Singapore, Malaisia dan
Thailand, tetapi sayangnya pelahan-pelahan terbelakang dan ketinggalan dari
negara-negara tersebut.
Kalau dibanding dengan RRT pada
masa yang lalu, saya rasa juga sama atau bedah tidak jauh, sebagai contoh
bolehlah saya ambil dosen bedah di fakultas kedokteran airlangga, Dr. Pouw Tek
Hie, dokter yang terkenal kemahiran bedah dan dokter sosial di surabaya; Beliau
sama sekali mendapatkan pendidikan di Indonesia. Karena peraturan P.P. 20 pulang
ke RRT pada tahun 1960 (? ingat saya). Masyarakat Surabaya itu waktu merasahkan
kehilangan suatu ahli bedah yang canggi.
Karena kepandaian dan kemahiran beliau dalam ilmu bedah, beliau
dikerjakan oleh inspektur kedokteran di Fu Wai hospital di Beijing yang
terkenal, dan berfungsi sebagai wakil kepala bagian bedah. Di rumah sakit ini
beliau mendapatkan penghargaan yang tinggi. Di Jakarta, Surabaya, Semarang pada
masa itu banyak ahli-ahli kedokteran dalam banyak bidang yang canggi pada
masanya dengan nama internasional.
Disini maksudku tidak lain
ialah menyatakan bahwa ilmu kedokteran, chususnya dalam bidang bedah, pada masa
itu setingkat dengan RRT. Dalam hal memajukan ilmu kedokteran Indonesia sekarang
ini, harus belajar dari negara negara yang saya sebut diatas, sedikitnya sifat
proteksionisme di hilangkan, lebih open untuk mendidik dokter-dokter muda tanpa
diskriminasi.
Kita mengetahui bahwa rumah sakit adalah perusahan yang mempunyai arti
economi yang penting. Ini dapat kita lihat dari jumblah pegawai, intelektualitas
para pekerjanya dan pemutaran uang setiap harinya, tergolong perusahan yang
besar. Apalagi kalau kita pandang seluruh rumah sakit yang ada dalam negeri,
mungkin salah satu bea negara yang paling besar.
Kemakmuran akan meningkatkan kesadaran kesehatan rakyat Indonesia, kalau
pemerintah tidak mulai sekarang dengan memajukan ilmu kedokteran, maka dalam
jangka waktu dimana ekonomi Indonesia meningkat, Indonesia akan kekurangan
dokter-dokter ahli yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Aku percaya akan kemajuan
ekonomi Indonesia, mengingat kepandaian rakyatnya dan terdorong oleh kemajuan
ekonomi di Asean, Asia Timur (Jepang, RRT, Kore Selatan) dan
India.
Kalau kita ke rumah sakit-rumah sakit di Singapore anda bisa jumpah
orang-orang Indonesia, atau dengar orang yang sedang bicara dengan bahasa
Indonesia dan tampak hospital ini penuh dikunjungi oleh penderita-penderita dari
Indonesia. Ini juga penting untuk mengurangi keluarnya berjuta-juta dollar
devisa Indonesia keluar negeri untuk turis kesehatan. Jelas kalau penderita
?penderita ini tidak ke luar negeri untuk berobat, akan menguntungkan pemerintah
Indonesia dan bagi penderita yang sedang sakit, akan mengurangi penderitaannya
jika mereka berobat di negaranya sendiri.
Dr. Han
Hwie-Song
Breda, 25 november 2005 The
Netherlands