Short visit oktober 2005
sebagai jembatan kerjasama antar Universitas Uterecht dan Yuhuangding (bagian
limabelas)
Ini hari adalah hari kelima dan
kami diajak berkunjung ke kota kecil yang cantik Benglai. Kota
ini dimasukkan dalam ?ecological environmental protection tourist city.?
Berbagai nama diberikan kota yang cantik ini seperti ?heaven on earth?, atau ?fairy land? oleh kaum inteletual dan
penulis dari seluruh abad di Tiongkok, karena delapanbelas dewa-dewa sering
berada disini. Kota ini sering
dikujungi oleh kaisar-kaisar dari Qin dan Han
dinasti.
Kami berangkat pagi hari jam
08.00 dengan minibus dan jarak ditempuh kira-kira satu jam lamanya. Jalanan
bersih dan besar , tetapi tidak begitu banyak lalu lintas, mungkin karena ini
hari bukan weekend dan rakyat RRT bekerja sesudah mendapat seminggu libur.
Tetapi sewaktu kami sampai di Penglai, tempat parkir cukup banyak bus dan mobil.
Kotanya sangat bersih dan pemandangannya cantik karena banyaknya tempat ?tempat
rekreasi dengan bangunan kuno Tiongkok.
Penglai adalah kota pantai dan
mempunyai tiga gunung yang ?supernatural? dan menurut legenda ditinggali oleh
dewa-dewa. Di gunung-gunung ini dahulu dikunjungi oleh kaisar-kaisar untuk
mencari ramuan-ramuan yang mustajab. Legenda yang ternama: ?Baxian Guohai? atau
delapan dewa menyebrang lautan. Dimana mereka menggunakan segala kepandaiannya
untuk menyebrang lautan dan menanggulangi kesulitan-kesulitan angin besar dan
ombak. Cerita ini mungkin berarti: ?dimana ada kemauan, disana ada jalan.? Nah
kami pergi ke tempat yang kuno ini, karena kami sudah pernah pergi kesana dan
jalannya jauh, pula naik turun, maka saya tidak ikut. Aku diantar oleh bapak
sopir yang kebetulan juga she-nya Han sama dengan aku, menunggu di hotel
restoran dengan bangunan tradisionil, dan menyewah satu kamar untuk nanti lunch
di restoran ini.
Kami menonton TV dengan
programma cerita kuno kerajaan Qing dinasti sambil minum teh bersma pak supir
yang baik hati, karena menganggap aku dalam sejarah tentunya satu keluarga.
Mungkin pak supir kurang interesan, maka beliau mengajak saya berjalan-jalan
menyebrang melihat laut, disana ada beberapa orang yang memancing ikan, dan
tidak jauh ada satu bangunan yang indah ialah Penglai Pavillion yang ternama
didunia. Kami tidak kesana, karena nanti sesudah makan direncanakan untuk
bersama dengan kawan-kawan lainnya kesana.
Kira-kira jam 12.30 pak supir
ditilpon untuk mengambil kawan-kawan yang akan kembali dari kunjungan Baxian
Guohai. Mereka semua merasahkan kepuasannya kesana dengan keantikannya barang
barang didalamnya dan architecturnya. Makanan di persilahkan Shiuw-Huey yang
milih, cukup delisius dan menghilangkan capai.
Kami berkunjung ke
Penglai Pavillion yang dibangun
pada tahun antara 1061 pada Song dinasti. Pavilyun ini termasuk salah satu dari
empat pavilyun yang ternama di Tiongkok Daratan. Gedung ini adalah gedung yang
kuno sebasar 1.89 kilometer persegi, terdiri dari tempel dan istana, menarik
sekali disini ada tulisan-tulisan, puisi dari penulis-penulis yang ternama.
Karen pavilyun ini terletak di
pantai yang tenang merupahkan kenikmatan bagi para turis. Aku percaya kelak
daerah ini pasti menarik turis-turis dari luar negeri, terutama dari Asia eperti
Jepang, Korea dan Nan-yang.
Kami lalu berkunjung ke satu
tempat dimana kami harus berjalan dipinggir yang sempit dan naik, maka kami
dianjurkan agar tidak ikut. Sesudah itu mereka naik dengan cable car ke satu
bukit untuk melihat pemandangan laut dan kota Penglai. Aku menunggu di mobil
berbicara dengan Dr. Huo, karena bapak sopir juga ingin melihat pemandangan laut
dan kota dari atas.
Waktu pulang kami diajak makan
Huoguo, fondue, ikannya setiap orang dapat memilih satu macam kesukaanya,
sepuluh orang berarti sepuluh macam: ikan/daging/sayuran: Udang, ikan yang
besar, daging sapi, daging kambing, daging babi, ayam, dan berbagai macam sea
food dan sayuran. Ini dipotong tipis-tipis dan setiap orang diberi satu alat
fondue yang sudah disisi dengan boullion dengan dibawahnya ada apinya untuk
memasak daging, ikan dan lainnya; juga setiap orang diberi satu mangkok untuk
makan dan disediakan juga bumbu-bumbunya. Restoran ini ruangannya besar dan
penuh sesak dengan orang yang makan.
Besok rencana kami ialah
bertemu dengan prof. Liu dan staf kedokteran Yuhuangding pada jam 11 pagi sambil
makan siang untuk membicarakan dan hasil kun jungan kami ke Yuhuangding. Aku
bilang pada kawan-kawan Belanda agar kami membicarakan dahulu sesudah makan pagi
apa yang kami mau bicarakan pada mereka tentang kerja sama selanjutnya. Kami ini
Semua merasahkan puas dengan pelayanan Yuhuangding hospital, ada yang
mengatakan: ?penerimaan seperti ini yang istimewa belum pernah kami alami sampai
sekarang ini.? Besok malam kami harus ke Beijing, lalu pulang ke Belanda. Dan
dengan ini kami pulang ke hotel dengan hati yang
senang.
Dr. Han
Hwie-Song
Breda, 24 November 2005 The
Netherlands