|
Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ?: msg#00357culture.region.china.budaya-tionghua
Kebangkitan kembali budaya Tionghoa: Dalam sejarah, budaya Tionghoa beberapa kali mengalami masa pahit, baik akibat penguasa dalam negeri Tiongkok sendiri, ataupun akibat tekanan pengaruh dari luar. Dari dalam negeri terutama datang dari penguasa yang ketakutan atau aliran yang ingin mengubah jalannya perkembangan budaya. Sebagai contoh: pembakaran buku dan penghuburan hidup-hidup ilmuwan yang menganut ajaran Khongcu pada zaman Qin Shihuang. Rujia atau penganut falsafah yang didasarkan ajaran Khongcu mengalami pukulan berat, tetapi tidak mati, bahkan berkembang lagi dengan subur. Zaman akhir revolusi kebudayaan abad lalu, kelompok 4 yang didalangi isteri Mao dan secara tak resmi direstui Mao sendiri mengadakan gerakan anti Confusianisme besar-besaran, semua yang berbau ajaran Khongcu dimusnahkan. Demontrasi anti Confusianisme dilakukan dalam skala besar di seluruh negara tiap hari.Tapi setelah mereka jatuh Confusianisme muncul kembali dengan pengaruh yang lebih besar dari sebelum revolusi kebudayaan. Sekarang hari lahir Khongcu mulai diperingati lagi secara resmi tiap tahun di Qufu, kampung halaman Khongcu, di kelenteng yang khusus untuk memhormati Khongcu. Selain itu, lihat makan Huangdi atau Ui Te di Shaanxi, sekarang sudah puluhan ribu orang berziarah ke sana apalagi dalam upacara hari lahirnya.Pengunjung semakin lama semakin besar jumlahnya. Lihat lagi perayaan hari lahirnya Mazu Niangniang di Pulau Meizhou propinsi Fujian. Penziarah dari Taiwan maupun dari dalam negeri makin lama makin banyak, kalau saja ada pesawat dari Taiwan langsung terbang ke sana, maka puluhan ribu pengunjung baru, mungkin ratusan ribu yang akan datang, sekarang harus melalui Hongkong, ongkos terlalu berat untuk rakyat biasa. Tantangan dari barat terutama datang melalui agama. Agama adalah kepercayaan individu yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, baik pribadi ataupun oleh institusi dan negara. Kebebasan agama harus dijamin oleh undang-undang di manapun di dunia ini. Kebebasan agama hak individu yang tak boleh dicampuri dengan alasan apapun. Penyebaran agama oleh para penyebar agama harus didasarkan pendidikan bukan paksaan atau ancaman, atau melului pelecehan agama lain, dengan menggunakan berbagai tuduhan yang keji. Khotbah seharusnya bersifat khidmad, bukan berkoar seperti kampanye pemilu. Kampanye pemilu memang bertujuan menjatuhkan lawan politik, sedang khotbah agama adalah mendidik umatnya agar berbuat baik. Mendidik anak muda untuk memberontak melawan kepercayaan orang tuanya hanya akan merusak keluarga orang lain. Pluralisme dan kerukunan beragama harus dijamin oleh undang-undang. Dengan demikian diharapkan penyalahgunaan agama oleh kelompok tertentu atau oleh para politisi atau pemerintah dapat dikurangi bahkan diatasi. Demikian pula penggunaan agama sebagai alat untuk menguasai negara lain oleh negara-negara maju dapat dicegah. Kebebasan demikian prinsipnya sudah dipunyai oleh rakyat negara maju di negara barat, sayang mereka mempunyai standar ganda. Untuk keluar agama masih dipergunakan sebagai alat politik terutama untuk membendung pengaruh Tiongkok. Sekarang Tiongkok dianggap satu-satunya yang bisa menyaingi Amerika secara budaya, politik maupun ekonomi. Padahal pendapatan per capita Tiongkok baru sekitar 1400-an, mungkin kurang, sedang Amerika dan Jepang sudah sekitar 37.000 dolar per tahun per kapita.Toh mereka sudah iri dan benci, apakah tidak terlalu tamak? Meskipun demikian kebangkitan budaya Tiongkok tak akan hilang bahkan sedang mengalami peningkatan dan mengalami kebangkitan kembali. Kita di Indonesia, setelah tertekan selama 30 tahun lebih, sudah saatnya menggali kembali budaya kita. Indonesia negara bersukubangsa banyak, orang Tionghoa Indonesia adalah salah satu di antaranya, karena itu kita mempunyai kewajiban dan hak untuk mengembangkan dan melindungi budaya leluhurnya, baik masa sekarang maupun yad, sebagaimana hak yang dipunyai oleh suku lain, Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Dayak dsb. Penggalian dan pengembangan budaya Tionghoa di Indonesia mempunyai nilai yang tinggi, karena banyaknya peninggalan di Indonesia, baik yang berbentuk bangunan, bahasa, adat istiadat, kepercayaan dll. Membangkitkan budaya Tionghoa tidak bertentangan dengan agama yang dianut masing-masing. Yang Buddha, Islam, Keristen, Katolik, Tao, Khongcu dll bisa bekerja sama. Borobudur adalah candi Buddha, apakah hanya orang Buddha yang boleh melihat dan melestarikan Borobudur? Jangan sekali-kali mencampurkan agama dengan politik, sebab anda akan kecewa berat dan terjerumus ke dalam kepentingan orang dan anda hanya dijadikan alat. Politik selalu membela kepenting suatu golongan atau negara, sedang agama bersifat individu tapi universal, hubungan manusia dan Penciptanya yang tak boleh dicampuri oleh orang.Contohnya Mengapa yang Kristen harus benci Khonghucu? Khonghucu mengajari orang berbuat baik, kenapa orang Kristen tak boleh berbuat baik? Celakanya kalau ditanya mengapa benci dan benci apanya, mereka sering tak tahu, paling menjawab: Menurut pendeta anu. Inilah fanatisme yang merendahkan diri sendiri dari seorang manusia bebas menjadi boneka. Inilah fanatisme, fanatiisme yang harus dihindarkan oleh semua orang di dunia ini.Fanatisme selalu membawa bencana. Dalam beragama dan berbudaya, pluralisme dan kerukunan harus dijamin. Apapun yang terjadi, cepat atau lambat, mau atau tidak, budaya Tionghoa akan bangkit kembali. Liang U --- Rinto Jiang <rinto-e/okvV/AduUAepHBdVXc9KxOck334EZe@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: > Arifin Tanzil : > Mas Rinto, alm. Nio Joe Lan (NJL) dalam bukunya > "Tiongkok sepandjang > abad" bilangnya gini : ... jadi gerakan perkumpulan > (Shang Ti Hui) ... > mula-mula adalah bersifat agama. Dan sesuai dengan > tudjuan perkumpulan > itu, patung-patung dewa dirusakkannja. > *Mereka mengikuti peraturan agama kristen dengan > merajakan hari Minggu. > *Dimana-mana mereka sampai rumah-rumah berhala > dimusnahkan dan > patung-patung dihantjurkan mereka. > > Kalo sampe menang apa benar2 jadi fosil, mas Rinto? > > > Rinto Jiang: > > Saya ingin mengklarifikasikan 1 kekeliruan yang > sering ada di kalangan > Tionghoa. Nio Joe Lan saya kira tidak salah, karena > ada "mula-mula"-nya. > Asumsi saya, Nio Joe Lan kalau masih hidup > seharusnya setuju dengan saya > bahwa Taiping Tianguo pada pertamanya menggunakan > agama Kristen untuk > mengkonsolidasi kekuatan. > > Kemudian, kekeliruan yang ingin saya klarifikasi > adalah bahwa kebudayaan > Tionghoa bukan hanya pegang hio atau penghormatan > dewa-dewi. Kepercayaan > tradisional dan unsur religius dalam kebudayaan > Tionghoa itu sebenarnya > hanya sedikit sekali komposisinya, dikarenakan orang > Tionghoa yang > relatif sekular. Saya percaya, kalaupun Taiping > Tianguo benar > meruntuhkan Dinasti Qing dan memaklumatkan Kristen > sebagai agama negara, > berdasarkan sifat sekularisme yang umurnya sudah > ribuan tahun di dalam > gaya dan sejarah pemerintahan Tiongkok, kebudayaan > Tionghoa akan > berevolusi menjadi bentuknya yang sesuai tuntutan > zaman. > > Bagaimana pula dengan eksistensi kebudayaan Tionghoa > sekarang di > Tiongkok? Lain pasti dengan kebudayaan Tionghoa yang > ada di zaman Qing, > apalagi setelah mengalami banyak momen yang > menjadikan kebudayaan > Tionghoa itu harus berevolusi dan tenggelam hanya > dilakukan sendiri2 di > rumah masing2. Kondisi Tiongkok di zaman revolusi > kebudayaan itu tak ada > bedanya dengan masa represi dan pelarangan resmi > Orba terhadap > kepercayaan dan adat tradisi Tionghoa di Indonesia. > > Saya ingin kasih pencerahan masalah tradisi Tionghoa > di mainland sana. > Jangan pikir mereka lebih pintar membuat bakcang > daripada kita2 Tionghoa > di Indonesia. Tahun lalu, pemerintah Beijing baru > sibuk2 mendorong > orang2 Beijing belajar membuat bakcang hanya karena > festival Pehcun > (Duanwu) mau diklaim dan didaftarkan Korea Selatan > ke UNESCO sebagai > festival warisan dan peninggalan budaya orang Korea. > > Bagaimana pula ini? Kalau saja Korea tidak mengklaim > Pehcun sebagai > peninggalan budaya mereka, kalau saja Empat > Serangkai terus berkuasa? > Kalau saja pemerintah Tiongkok sekarang tidak pernah > sadar bahwa warisan > kebudayaan itu penting. Dulu di zaman Mao, jangan > harap bisa minum teh > di kedai teh karena minum teh dianggap sebagai > perilaku orang borjuis. > Kedai teh juga tidak boleh diizinkan berusaha karena > tidak boleh ada > usaha privat. Bagaimana ini? Apakah tidak hampir > jadi fosil itu budaya > minum teh? Namun tidak demikian halnya. Karena saya > percaya, kebudayaan > yang sudah ada 5000 tahun ini akan menemukan bentuk > evolusinya sesuai > dengan tuntutan zaman, geografi wilayah dan > interaksi dengan kebudayaan > lainnya. > > Makanya saya sering bilang, kebudayaan Tionghoa di > Indonesia itu unik, > tidak boleh disamakan dengan kebudayaan Tiongkok di > sana. Walau sama2 > berasal dari 1 hulu sungai, namun kita telah berada > di anak sungai yang > lain. > > ---------------------------------------------- > > NJL : Tatkala Shanghai terantjam akan direbut > tentera Tai Ping, > maka ..., seorang amerika, Frederick Townsend Ward, > membentuk suatu > pasukan jang terdiri dari orang tionghoa dan > filipina dengan beberapa > opsir amerika .dengan pasukan itu Ward dapat membela > Shanghai dan > menolak penjerangan tentera Tai Ping. Ward datang ke > Tiongkok sebagai > seorang jang hendak mentjari peruntungannja. > ... Inggeris dan Perantjis sekarang melihat lebih > menguntungkan kalau > mereka membantu fihak keradjaan Manchu... . Maka > negeri-negeri tersebut > memperkenankan warganegara mereka masuk tentera > Manchu. Seorang > mayor Inggeris, Charles George Gordon,... > > Jadi bukan tentara Amerika dan Inggris ya mas ? > melainkan tentara > kerajaan Manchu yang dipimpin oleh "orang-orang > jang mentjari > peruntungannja di Tiongkok" > > Rinto Jiang: > > Saya kurang tahu opini apa yang ingin anda arahkan > dalam diskusi ini. > > Saya ingin anda menaruh perhatian pada "Inggris dan > Perancis sekarang > melihat lebih menguntungkan membantu pihak kerajaan > Manchu". Walau > seperti yang kita tahu, pihak Barat itu selalu saja > meletakkan > kepentingan dan keuntungan mereka di atas segalanya, > namun paling tidak > mereka mendukung Manchu dan tidak mendukung Taiping > Tianguo. Ini > sebenarnya sudah menyalahi pendapat dan opini anda > sendiri yang terlalu > menekankan Taiping Tianguo pada unsur agamis mereka. > Bila Taiping > Tianguo bersifat agamis, apakah tidak harus Inggris, > Perancis dan AS > yang juga beragama "wajib" mendukung mereka? Saya > anggap pendapat NJL > ini malah menguntungkan dan mendukung opini saya, > bahwa Taiping Tianguo > pada akhirnya sudah melenceng ke arah politis dan > tidak menekankan pada > tendensi religius mereka. > > ------------------------------------------------------- > > masih menurut NJL : ... Gerakan Tai Ping mendapat > perhatian perhatian > pendeta-pendeta kristen..., mereka mengira bahwa > orang tionghoa banjak > jang telah dikristenkan. Padri-padri Amerika > mengabarkan hal ini kepada > geredja-geredja mereka di Amerika dengan senang > hati.... Padri-padri > protestan ada jang mengandjurkan negeri mereka > supaja segera mengakui > keradjaan Tai Ping. > > Mas Rinto kalo gitu, menurut NJL, pemberontakan Tai > Ping Tian Guo ada > faktor unsur-unsur asing ?. dengan demikian tidak > sama dengan > gerakan Teratai Putih (Bai Lian Jiao?) dll yg justru > menolak unsur asing ? > > Rinto Jiang: > > Bagi orang2 religius, orang2 sepihak itu, right or > wrong harus dibela. > Demikian pula dengan pendeta2 Kristen di AS. > Pergerakan Protestan di > Tiongkok pada zaman Qing memang didanai oleh > pergerakan Protestan di AS, > sedangkan Katolik didanai oleh Italia, Spanyol dan > Inggris. > > Faktor unsur asing itu sangat kabur, karena paa > akhirnya AS tidak pernah > secara resmi mendukung Taiping Tianguo ataupun Hong > Xiuquan. Faktor > paling penting karena di Tiongkok harus ada 1 > pemerintah yang dapat > mempersatukan Tiongkok dan paling tidak Manchu-lah > satu2nya yang paling > memegang legitimasi ini. Bila tergesa2 bertaruh pada > Taiping === message truncated === __________________________________ Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/LeSULA/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Fw: Re:Han Hwie-Song: Short visit oktober 2005 sebagai jembatan kerja sama antar universitas Utrecht dan Yuhuangding (bagian empatbelas).: 00357, HKSIS |
|---|---|
| Next by Date: | Re: Re: Paipai /soja itu Sangat Praktis!: 00357, liang u |
| Previous by Thread: | Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ?i: 00357, Rinto Jiang |
| Next by Thread: | Fw: Han Hwie-Song: Short visit oktober 2005 sebagai jembatan kerjasama antar universitas Utrecht dan Yuhuangding (Bagian duabelas-1): 00357, HKSIS |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |