logo       

Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ?: msg#00347

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ?

Arifin Tanzil :
Mas Rinto, alm. Nio Joe Lan (NJL) dalam bukunya "Tiongkok sepandjang abad" bilangnya gini : ... jadi gerakan perkumpulan (Shang Ti Hui) ... mula-mula adalah bersifat agama. Dan sesuai dengan tudjuan perkumpulan itu, patung-patung dewa dirusakkannja.
Mereka mengikuti peraturan agama kristen dengan merajakan hari Minggu. Dimana-mana mereka sampai rumah-rumah berhala dimusnahkan dan patung-patung dihantjurkan mereka.
 
Kalo sampe menang apa benar2 jadi fosil, mas Rinto?


Rinto Jiang:

Saya ingin mengklarifikasikan 1 kekeliruan yang sering ada di kalangan Tionghoa. Nio Joe Lan saya kira tidak salah, karena ada "mula-mula"-nya. Asumsi saya, Nio Joe Lan kalau masih hidup seharusnya setuju dengan saya bahwa Taiping Tianguo pada pertamanya menggunakan agama Kristen untuk mengkonsolidasi kekuatan.

Kemudian, kekeliruan yang ingin saya klarifikasi adalah bahwa kebudayaan Tionghoa bukan hanya pegang hio atau penghormatan dewa-dewi. Kepercayaan tradisional dan unsur religius dalam kebudayaan Tionghoa itu sebenarnya hanya sedikit sekali komposisinya, dikarenakan orang Tionghoa yang relatif sekular. Saya percaya, kalaupun Taiping Tianguo benar meruntuhkan Dinasti Qing dan memaklumatkan Kristen sebagai agama negara, berdasarkan sifat sekularisme yang umurnya sudah ribuan tahun di dalam gaya dan sejarah pemerintahan Tiongkok, kebudayaan Tionghoa akan berevolusi menjadi bentuknya yang sesuai tuntutan zaman.

Bagaimana pula dengan eksistensi kebudayaan Tionghoa sekarang di Tiongkok? Lain pasti dengan kebudayaan Tionghoa yang ada di zaman Qing, apalagi setelah mengalami banyak momen yang menjadikan kebudayaan Tionghoa itu harus berevolusi dan tenggelam hanya dilakukan sendiri2 di rumah masing2. Kondisi Tiongkok di zaman revolusi kebudayaan itu tak ada bedanya dengan masa represi dan pelarangan resmi Orba terhadap kepercayaan dan adat tradisi Tionghoa di Indonesia.

Saya ingin kasih pencerahan masalah tradisi Tionghoa di mainland sana. Jangan pikir mereka lebih pintar membuat bakcang daripada kita2 Tionghoa di Indonesia. Tahun lalu, pemerintah Beijing baru sibuk2 mendorong orang2 Beijing belajar membuat bakcang hanya karena festival Pehcun (Duanwu) mau diklaim dan didaftarkan Korea Selatan ke UNESCO sebagai festival warisan dan peninggalan budaya orang Korea.

Bagaimana pula ini? Kalau saja Korea tidak mengklaim Pehcun sebagai peninggalan budaya mereka, kalau saja Empat Serangkai terus berkuasa? Kalau saja pemerintah Tiongkok sekarang tidak pernah sadar bahwa warisan kebudayaan itu penting. Dulu di zaman Mao, jangan harap bisa minum teh di kedai teh karena minum teh dianggap sebagai perilaku orang borjuis. Kedai teh juga tidak boleh diizinkan berusaha karena tidak boleh ada usaha privat. Bagaimana ini? Apakah tidak hampir jadi fosil itu budaya minum teh? Namun tidak demikian halnya. Karena saya percaya, kebudayaan yang sudah ada 5000 tahun ini akan menemukan bentuk evolusinya sesuai dengan tuntutan zaman, geografi wilayah dan interaksi dengan kebudayaan lainnya.

Makanya saya sering bilang, kebudayaan Tionghoa di Indonesia itu unik, tidak boleh disamakan dengan kebudayaan Tiongkok di sana. Walau sama2 berasal dari 1 hulu sungai, namun kita telah berada di anak sungai yang lain.

----------------------------------------------

NJL : Tatkala Shanghai terantjam akan direbut tentera Tai Ping, maka ..., seorang amerika, Frederick Townsend Ward, membentuk suatu pasukan jang terdiri dari orang tionghoa dan filipina dengan beberapa opsir amerika .dengan pasukan itu Ward dapat membela Shanghai dan menolak penjerangan tentera Tai Ping. Ward datang ke Tiongkok sebagai seorang jang hendak mentjari peruntungannja.
... Inggeris dan Perantjis sekarang melihat lebih menguntungkan kalau mereka membantu fihak keradjaan Manchu... . Maka negeri-negeri tersebut memperkenankan warganegara mereka masuk tentera Manchu. Seorang mayor Inggeris, Charles George Gordon,...
 
Jadi bukan tentara  Amerika dan Inggris ya mas ? melainkan tentara kerajaan Manchu yang dipimpin oleh "orang-orang  jang mentjari peruntungannja di Tiongkok"

Rinto Jiang:

Saya kurang tahu opini apa yang ingin anda arahkan dalam diskusi ini.

Saya ingin anda menaruh perhatian pada "Inggris dan Perancis sekarang melihat lebih menguntungkan membantu pihak kerajaan Manchu". Walau seperti yang kita tahu, pihak Barat itu selalu saja meletakkan kepentingan dan keuntungan mereka di atas segalanya, namun paling tidak mereka mendukung Manchu dan tidak mendukung Taiping Tianguo. Ini sebenarnya sudah menyalahi pendapat dan opini anda sendiri yang terlalu menekankan Taiping Tianguo pada unsur agamis mereka. Bila Taiping Tianguo bersifat agamis, apakah tidak harus Inggris, Perancis dan AS yang juga beragama "wajib" mendukung mereka? Saya anggap pendapat NJL ini malah menguntungkan dan mendukung opini saya, bahwa Taiping Tianguo pada akhirnya sudah melenceng ke arah politis dan tidak menekankan pada tendensi religius mereka.

-------------------------------------------------------

masih menurut NJL : ... Gerakan Tai Ping mendapat perhatian perhatian pendeta-pendeta kristen..., mereka mengira bahwa orang tionghoa banjak jang telah dikristenkan. Padri-padri Amerika mengabarkan hal ini kepada geredja-geredja mereka di Amerika dengan senang hati.... Padri-padri protestan ada jang mengandjurkan negeri mereka supaja segera mengakui keradjaan Tai Ping.
 
Mas Rinto kalo gitu,  menurut NJL, pemberontakan Tai Ping Tian Guo ada faktor unsur-unsur asing ?. dengan demikian tidak sama dengan gerakan Teratai Putih (Bai Lian Jiao?) dll yg justru menolak unsur asing ?

Rinto Jiang:

Bagi orang2 religius, orang2 sepihak itu, right or wrong harus dibela. Demikian pula dengan pendeta2 Kristen di AS. Pergerakan Protestan di Tiongkok pada zaman Qing memang didanai oleh pergerakan Protestan di AS, sedangkan Katolik didanai oleh Italia, Spanyol dan Inggris.

Faktor unsur asing itu sangat kabur, karena paa akhirnya AS tidak pernah secara resmi mendukung Taiping Tianguo ataupun Hong Xiuquan. Faktor paling penting karena di Tiongkok harus ada 1 pemerintah yang dapat mempersatukan Tiongkok dan paling tidak Manchu-lah satu2nya yang paling memegang legitimasi ini. Bila tergesa2 bertaruh pada Taiping Tianguo, perang saudara yang berlarut2 di Tiongkok hanya akan merugikan kepentingan asing di Tiongkok. It's a cruel life dan reality.

Padri2 asing dan pendeta2 Protestan di AS tidak mewakili seluruh AS, hanya pemerintah AS-lah yang dapat mewakili AS. Bila ada sekelompok muslim militan di Indonesia mendukung terorisme, lalu apakah berarti seluruh Indonesia mendukung teorisme. Kira2 begitulah analoginya.

Memang, masalah misi Kristen di Tiongkok adalah salah satu masalah pelik karena benturan 2 budaya yang relatif kuat. Yang satu umurnya sudah 5000 tahun, yang lain sangat konservatif dan mengikat. Dan inilah yang kemudian menjadi bom waktu yang meledak menjadi pemberontakan Boxer tahun 1900.

Mudah2an jelas.


Rinto Jiang


.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise