|
|
Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ?: msg#00337
culture.region.china.budaya-tionghua
|
Subject: |
Re: Tai Ping Tien Guo menang, kebudayaan tionghua jadi fosil ? |
Arifin Tanzil menulis:
Makasih banyak ya mas Tantono untuk
informasi Tai Ping Tien Guo.
meskipun kronik riwayat kegagalan pemberontakan tersebut tidak ada.
barangkali nyusul ya...
Mas Tantono dan rekan lainnya, Apakah
pendapat/ungkapan : untung
pemberontakan Tai Ping Tien Guo gagal !. Kalau tidak kebudayaan
tiongkok akan jadi fosil (seperti Yunani sekarang?) bisa dibenarkan ?
Rinto Jiang:
Pendapat di atas tidak dapat dibenarkan karena sebenarnya Hong Xiu-quan
dan Taiping Tianguo yang diproklamirkannya adalah berbasis agama
Kristen, namun Hong sebenarnya hanya menggunakan Kristen, doktrin agama
sebagai alatnya untuk meraih kekuasaan. Ini lumrah, kekuatan agama
adalah sebuah kekuatan tak kasat mata yang sangat ampuh untuk
mengendalikan dan mengontrol serta menghimpun kekuatan, hal ini
diperparah dengan keadaan Qing yang waktu itu memang sudah sangat
lemah, korup dan kehilangan kredibilitas di mata rakyat. Kemudian,
memang orang Han punya cita2 untuk mengenyahkan orang Manchu (Qing)
dari Tiongkok.
Taiping Tianguo sendiri ditumpas pasukan Qing dengan bantuan tentara AS
dan Inggris yang waktu itu berada di Shanghai.
Sebelum Taiping Tianguo, juga ada banyak pemberontakan lainnya seperti
pemberontakan Teratai Putih dan pemberontakan Tiandihui (yang merupakan
cikal bakal Triad modern). Teratai Putih adalah sebuah aliran agama
tradisional rakyat yang kemudian mengambil sebagian doktrinnya dari
agama Buddhis.
Saya lampirkan sepenggal diskusi tentang pemberontakan Taiping tahun
lalu di milis ini:
---------------------------------------------------------------
Chris menulis :
Kondisi demikian menjadikan orang
Hakka lebih independent minded
(berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan
menangkap idea baru untuk hidup. Tidak heran, orang Hakka adalah
termasuk orang tionghoa yang cepat mengadopsi Christianity dibanding
dengan dialek2 lain. Dengan cara mereka sendiri, mereka
mengkombinasikan Christianity dengan culture Hakka. Dan tekanan
kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka
lebih "revolusioner", lebih progresif, dan lebih berani maju untuk
menuntut pembaharuan.
Salah satu pemberontakan melibatkan puluhan juta manusia, dan
termasuk paling berdarah, adalah Pemberontakan Taiping, yang
dimotori oleh orang Hakka (pemimpinnya Hong Xiuquan), dan hampir
meruntuhkan Dynasty Manchu. Sejarah Dunia terlalu kecil memberi
perhatian pada Pemberontakan Taiping, yang sebenarnya jauh lebih
besar daripada banyak pemberontakan2 di Eropa. Dengan ditumpasnya
pemberontakan Taiping dengan susah payah oleh pasukan Ching,
menambah tekanan terhadap orang2 Hakka tersebut.
Rinto Jiang :
Maaf yah, karena beberapa minggu ini sedang sibuk sono sini, maka
banyak yang terlewatkan oleh saya. Tulisan Bung Chris di atas dapat
menimbulkan kerancuan seakan2 bahwa culture orang Hakka + nilai Kristen
menjadikan pemberontakan Taiping, salah satu yang dianggap sebagai
tuntutan pembaharuan itu berkobar.
Ada sedikit yang perlu saya tambahkan di sini, nilai baru Kristen
memang mencerahkan bagi kemandegan kebudayaan Tionghoa pada masa Qing,
seperti yang saya sering tekankan bahwa persentuhan budaya Timur dan
Barat mulai terjadi dalam permukaan friksi yang besar pada zaman akhir
Ming dan kemudian Qing. Ini sama saja dengan nilai Konfusianisme yang
juga dibawa oleh misionaris ke Eropa dan memberikan satu jenis
pencerahan lain bagi kebudayaan Barat.
Kembali ke Taiping, pemberontakan Taiping sebenarnya bukan digerakkan
oleh Hong Xiuquan karena ia beragama Kristen, karena ia mengerti nilai
pembaruan tersebut. Tidak sama sekali. Hong Xiuquan hanyalah seorang
yang telah gagal ujian berkali2 dan tidak dapat menjadi pejabat Dinasti
Qing. Ini menjadikan ia memendam kebencian kepada kekaisaran Qing.
Dalam keputusasaannya, ia kemudian menemukan beberapa kitab misionaris
Kristen dan merasa bahwa kekuatan tersebut dapat digunakan sebagai satu
kekuatan untuk memberontak. Kekuatan yang saya maksudkan tersebut tentu
doktrin dan dogma agama.
Yang melucukan, ia kemudian mentabhiskan diri sebagai anak Tuhan dan
adik Yesus. Setelah merebut Nanjing, ia kemudian menggantikan nama
Nanjing menjadi Tianjing (Ibukota Langit) dan mendirikan Taiping
Tianguo (Negara Langit Aman Sentosa). Lalu mereka terbuai akan
keberhasilan mereka, berfoya2 dan mabuk kekuasaan. Dari sini dapat kita
lihat, ini hanya ulah seseorang yang memanfaatkan kekuatan agama
sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan membalas dendam. Tidak ada
kaitannya dengan ia orang Hakka or nilai Kristen yang ia pelajari.
Pemberontakan lainnya yang dilancarkan oleh kekuatan2 lain juga sama
saja, ada atau tidak punya kaitan dengan keagamaan. Cuma satu alasan
bersama, yaitu meruntuhkan Dinasti Qing.
Rinto Jiang
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.
.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.
.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
YAHOO! GROUPS LINKS
|
|
|