logo       

Menunggu Investor dari Guangdong - Provinsi Guangdong Mitra Potensial: msg#00322

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Menunggu Investor dari Guangdong - Provinsi Guangdong Mitra Potensial

SUARA PEMBARUAN DAILY

Potensi Guangdong

AKHIR Oktober lalu beberapa wartawan media elektronik dan cetak Indonesia, termasuk wartawan Pembaruan Edwin Karuwal, diundang pemerintah Provinsi Guangdong untuk berkunjung ke beberapa kota di wilayah itu.

Wartawan berkesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan pejabat provinsi, masyarakat, dan berkunjung ke dua perusahaan besar dan menjadi andalan di wilayah itu. Selain untuk melihat dari dekat perkembangan perekonomian di sana, kunjungan juga dimaksudkan mendapat informasi langsung tentang peran masyarakat Cina dalam menyukseskan pembangunan di provinsi tersebut.

Menunggu Investor dari Guangdong

Produk Keramik - Aneka keramik Cina pada Canton Fair Oktober 2005 banyak menyita perhatian calon pembeli.

BULAN April 2005, Presiden Cina Hu Jintao berkesempatan berkunjung ke Indonesia, sekaligus kunjungan itu sebagai tanda memperkuat hubungan kemitraan kedua negara. Hubungan itu, baik ekonomi maupun politik, berjalan untuk meluruskan keuntungan bersama baik secara bilateral maupun berdampak positif secara regional.

Salah satu wujud memantapkan kemitraan tersebut, pada 15 November ini sekitar 400 pengusaha Provinsi Guangdong berkunjung ke Indonesia. Dan, itu tidak lain adalah untuk menjajaki kemungkinan pengusaha di provinsi itu berinvestasi di Indonesia.

Hubungan Indonesia - Cina di berbagai bidang sebenarnya memiliki perjalanan panjang sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno. Sampai kini pun hubungan kedua negara, walaupun mengalami pasang-surut, dapat dikatakan baik. Salah satu contoh yang membesarkan hati dalam jalinan hubungan persahabatan itu bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga meliputi ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan serta kebudayaan. Namun, dari semua itu, hubungan di bidang ekonomi memiliki nilai tersendiri yang menjadikan kedua negara semakin erat.

Jalinan perdagangan kedua negara berkembang pesat. Apalagi diperkuat dengan kunjungan khusus pengusaha dan pejabat pemerintah Provinsi Guangdong itu. Artinya perhatian lebih yang diberikan pemerintah provinsi itu harus disambut positif oleh pemerintah dan pengusaha Indonesia.

Provinsi Guangdong, dalam sejarah perjalanan pembangunan di Negeri Cina, menarik disimak. Perkembangan pesat dalam mendukung kemajuan ekonomi Cina selama sekitar 25 belakangan ini, membuktikan Indonesia memang membutuhkan mitra di dunia internasional yang bersikap terbuka dan dilandasi semangat kebersamaan.

Tahun ini, tepatnya ketika Presiden Yudhoyono melawat ke Cina pada Juli 2005, presiden menandatangani dokumen kerja sama ekonomi di berbagai bidang seperti pengelolaan minyak bumi, gas alam, moneter, teknologi informasi bernilai 4 miliar dolar AS. Pada kesempatan itu ada harapan yang diinginkan presiden, hubungan ekonomi ini bisa meningkat terus, sehingga paling tidak pada 2010 total nilai kerja sama kedua mencapai 30 miliar dolar AS.

Kerja sama ekonomi kedua negara ini memiliki peluang sangat besar. Hal itu sebenarnya harus bisa dimanfaatkan Indonesia, terutama menjalin hubungan Indonesia dengan Provinsi Guang Dong. Guang Dong merupakan salah satu yang memiliki nilai-nilai strategis tinggi dalam membantu mengangkat nama Indonesia di percaturan ekonomi dunia.

Kekurangan

Di tingkat nasional, Provinsi Guangdong menduduki perangkat tiga dengan GDP tahun 2005 diperkirakan mencapai 2.500 miliar dolar AS. Sedangkan pendapatan per kapita 3.000 dolar AS. Jalinan perniagaan baik ekspor maupun impor Guangdong-Indonesia adalah sepertiga dari hubungan ekonomi Indonesia-Cina.

Keuntungan lain, industri Guangdong begitu maju. Tetapi, mereka tidak menutupi kekurangan provinsi itu masih membutuhkan atau kekurangan energi dan bahan mentah, sementara Indonesia memiliki banyak bahan mentah yang dibutuhkan provinsi itu.

Bagi pengusaha Guangdong, investasi di Indonesia merupakan salah satu pilihan terbaik. Ada beberapa peluang yang menurut mereka bisa menjadi pilihan utama, seperti di bidang energi. Ekonomi Cina berkembang cepat dan ini sesungguhnya membutuhkan energi yang memadai untuk mendukung perkembangan itu.

Pada 2004 Cina menduduki perangkat dua dunia sebagai negara pengimpor minyak bumi, setelah Amerika Serikat. Dalam kaitan ini, Guangdong yang menjadi salah satu andalan Negeri Tirai Bambu itu, menghadapi kendala yaitu kekurangan sumber energi, seperti minyak bumi, gas alam, batu bara. Kekurangan itu juga dipicu dengan diresmikannya proyek LNG senilai 1,2 miliar dolar AS. Ini jelas membutuhkan sumber energi yang memadai. Tetapi, kenyataannya dalam persaingan antara Indonesia dan Australia saja, menurut Prof Wen Beiyan dari Universitas Jinan Guangzhou Guangdong Cina, khususnya dalam pengadaan energi, Indonesia kalah.

Pengusaha Guangdong, katanya, membutuhkan sumber-sumber energi yang tidak dimiliki Cina, tetapi justru dimiliki Indonesia. Hanya dengan menjalin kerja sama di bidang itu, diharapkan dapat tercipta mitra usaha yang saling menguntungkan kedua negara.

Pertanian di Cina pun berkembang begitu cepat dalam beberapa puluh tahun belakangan ini, termasuk di Guangdong. Dana dan teknologi pengusaha provinsi itu, kata Prof Wen, dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Beberapa jenis komoditi pertanian yang diminati pengusaha provinsi itu adalah padi, kedelai, karet, jagung. Bahkan mereka juga berminat membuka pabrik pengolahan kelapa dan kepala sawit di Indonesia, dan hasilnya diekspor.

Selain itu, ada yang menarik di bidang perikanan. Menurut Wen, ada kelompok usaha perikanan yang ditugaskan pemerintah provinsi itu untuk menyuplai 500 ton ikan bagi penduduk di Kota Guangzhou, ibu kota provinsi itu. Itu tentu peluang lagi yang bisa diisi Indonesia.

Ia berharap Indonesia bisa menangkap peluang kerja sama itu. Dengan adanya sekitar 1.300 perusahaan provinsi itu, yang berada di 140 negara (patungan maupun modal sendiri), diharapkan jumlah perusahaan yang berinvestasi di Indonesia juga meningkat.

Saat ini, menurut analisis perguruan tinggi itu, ada sekitar tujuh perusahaan Guangdong yang berinvestasi di Indonesia. Total nilai investasi 26 juta dolar AS. "Jadi bukan hanya perusahaan besar, yang berinvestasi di Indonesia. Diharapkan perusahaan berskala kecil dan menengah pun bisa melakukan hal serupa," ia menambahkan. "Apalagi dari pemerintahan Cina sendiri, untuk berinvestasi di luar negeri tidak ada kendala, justru mereka didorong membantu negara-negara tetangga." *


Last modified: 22/11/05
 
SUARA PEMBARUAN DAILY

Provinsi Guangdong Mitra Potensial

FOTO-FOTO: PEMBARUAN/EDWIN KARUWAL

POS BARU - Jembatan baru dibangun pemerintah Kota Shenzhen. Jembatan itu sekaligus menjadi pos perbatasan baru kota itu dengan wilayah Hong Kong (di sebelah kanan sungai).

GUANGDONG kini maju pesat di berbagai bidang. Tidak salah bila 25 tahun lalu ketika Cina mulai memberlakukan kebijakan pintu terbuka, memilih tiga kota di Provinsi Guangdong, yaitu Shenzhen, Zhuhai, dan Shan- tou, sebagai salah satu pintu gerbang dari 13 pintu atau kota untuk dikembangkan menjadi kota industri. Guangdong, wilayah seluas 230.000 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 84 juta, dengan income per capita (tahun 2004) sekitar 3.000 dolar AS, berkembang menjadi tempat idaman bagi pencari kerja di seluruh negeri tirai bambu itu.

Bagi pemerintah pusat, tentu ada alasan tersendiri memilih tiga kota itu, baik dari sisi ekonomi, politik, sosial, maupun budaya, untuk mendukung reformasi yang dijalankan. Sebuat saja Kota Shenzhen berhadapan langsung dengan Hong Kong, kota Zhuhai dengan Makau, dan Chaozhou ke wilayah Asia yang ada di tenggara Cina.

Kebijakan pintu terbuka itu dari sudut pandang Pemerintah Cina, sungguh berdampak positif bagi perkembangan di dalam negeri. Menurut Dr Hou Songling, Wakil Direktur Pusat Studi, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Jinan Guangzhou, kebijakan itu paling tidak bisa mencegah penduduk Cina untuk meninggalkan negeri mereka menuju misalnya ke Hong Kong atau Makau.

Sebelum kebijakan itu diterapkan, banyak warga Cina yang menjadikan Kota Shenzhen sebagai terminal untuk menyeberang ke Hong Kong. Mereka berbondong-bondong bekerja di sana.

Tetapi, dengan dikembangkannya berbagai industri yang diikuti kebijakan investasi, termasuk perangkat hukum dan kesejahteraan tenaga kerja yang mendukung dunia usaha, maka wilayah itu menjadi menarik bagi warga Cina sendiri. Apalagi warga Cina diperketat keluar-masuknya, muncul keengganan untuk mencari nafkah ke wilayah lain, kecuali di dalam negeri sendiri. Warga keturunan Cina di perantauan pun akhirnya juga ikut mengembangkan usaha di provinsi itu, sebut saja di Kota Guangzhou, Shenzhen, Chang An, dan Dongguan.

Mendukung Ekonomi

Dalam perjalanannya, pejabat provinsi itu berusaha menyelaraskan dan menyeimbangkan segala perangkat kebijakan untuk menjaga stabilitas di berbagai bidang. Tetapi, salah satu pandangan utamanya, adalah semua kebijakan tetap mendukung perkembangan ekonomi yang berkesinambungan dengan bidang-bidang lain.

Kenyataan itu dipertegas lagi oleh Direktur Komisi Hukum Kongres Rakyat Provinsi Guangdong, Wang Xu Dong. Ia mengatakan, berbagai perundangan dan kebijakan ekonomi yang dibuat provinsi itu tidak lain untuk mendorong pertumbuhan dan keterbukaan ekonomi di wilayah tersebut dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Di provinsi itu yang berkembang pesat dan banyak membutuhkan perhatian adalah usaha kecil dan menengah. Karena itu, kebijakan yang ditetapkan kongres provinsi pun pada dasarnya harus memihak kepada kemajuan dan kemakmuran yang adil.

Dengan kata lain, Wang menambahkan, kebijakan yang dibuat itu, harus memastikan bahwa pengusaha kecil dan menengah berkembang, dan menjamin keberadaan mereka ikut memakmurkan rakyat. Undang-undang itu dimaksudkan bukan hanya semata-mata mengatur perdagangan atau perekonomian, tetapi jug kepada kepentingan dan kesejahteraan tenaga kerjanya. Termasuk di dalamnya usaha memberantas korupsi.

"Kebijakan yang dibuat ini berorientasi kepada rakyat. Selama 25 tahun ini telah diterbitkan 462 undang-undang, termasuk perundangan yang cocok dengan perkembangan ekonomi provinsi," Wang menegaskan. "Tetapi semua itu sekaligus untuk menjamin terselenggaranya politik keterbukaan di provinsi tersebut."

Ia mengakui, pesatnya perkembangan di bidang ekonomi di Guangdong itu juga menimbulkan berbagai masalah yang perlu diatasi secara bijak. Berbagai sengketa yang muncul diharapkan bisa diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang ada di tingkat provinsi. Wang pun menyadari akan persoalan yang muncul sebagai dampak perkembangan ekonomi ini. Yang pasti penegakan hukum sekarang jauh lebih baik dibanding sebelum diberlakukannya kebijakan reformasi. "Sebelum reformasi tidak ada UU yang dipercaya rakyat," ia menekankan. "Salah satu ukuran UU semakin dipercaya adalah orang semakin berhati-hati menjalankan usaha. Mereka takut dituduh korupsi."

Korupsi, adalah contoh nyata masalah yang muncul dari perkembangan ekonomi itu. Baik pemerintah pusat maupun provinsi, menurut Wang, tidak main-main soal pemberantasan korupsi. Korupsi banyak terjadi di berbagai lembaga pemerintah dan perusahaan. Akibatnya rakyat dirugikan.

SUNGAI MUTIARA - Kawasan di sebelah utara Sungai Mutiara yang membelah Kota Guangzhou.

Tenaga Kerja

Perhatian pemerintah setempat untuk menyejahterakan rakyat sungguh serius. Namun, pemerintah provinsi pun harus memutar otak untuk menekan tingkat pengangguran, artinya tetap berusaha menciptakan lapangan kerja bukan hanya bagi penduduk kota tetapi juga bagi penduduk kota lain yang mencari nafkah di Guangzhou atau kota-kota lain di Guangdong.

Pemerintah provinsi berusaha menjamin agar karyawan di setiap perusahaan mendapat dana jaminan hari tua, uang pensiun, dan tidak kalah penting adalah asuransi kesehatan.

Pada 2004 jumlah tenaga kerja di Guangzhou sekitar 46 juta. Tetapi pada 2000 tercatat 41 juta. Ada pertambahan 5 juta, atau naik sekitar 13 persen. Sementara tenaga kerja potensial dari luar provinsi sekitar 16 juta. Jumlah inilah yang selalu memusingkan pemerintah Guangzhou untuk selalu mencari terobosan-terobosan baru, sebab daya serap industri untuk tenaga kerja ini 500.000 saja. Di samping itu, bagi penduduk yang mencapai usia 50 tahun, tetapi belum mencapai masa pensiun, akan menjadi prioritas bagi pemerintah untuk mendapat pekerjaan.

Dengan tingkat perekonomian seperti yang ada sekarang, perhatian kepada tenaga kerja juga semakin tinggi. Apalagi setelah reformasi, keharusan setiap tenaga kerja untuk menjadi peserta asuransi menjadi salah satu program utama kesejahteraan mereka. Asuransi ini bukan hanya bagi mereka yang masih aktif bekerja. Pemerintah jug memberikan tunjangan itu bagi orang lanjut usia atau pengangguran selama mereka belum mendapatkan pekerjaan. Program asuransi itu, seperti juga dipraktikan di negara lain, yaitu pengobatan, kesehatan kerja atau melahirkan anak, bagi tenaga kerja wanita. Tidak mengherankan bila jumlah peserta yang mengikuti program asuransi di Guangdong mencapai 10 juta orang dengan nilai 10 miliar RMB. Ini jumlah paling tinggi di tingkat nasional.

Bukan cuma itu, pemerintah menyalurkan kredit bagi tenaga kerja yang belum memiliki rumah. Kredit perumahan dari pemerintah mencapai nilai 20.000 RMB per orang. Di samping itu, pemerintah provinsi memberikan dana berupa modal kerja untuk kepentingan usaha bagi pengangguran yang ingin memiliki usaha sendiri bila tidak ingin terikat dengan suatu perusahaan. Sejak 2003, modal yang tersalurkan untuk usaha itu mencapai 3,8 miliar RMB. Sayangnya, pemerintah setempat tidak memiliki data pasti jumlah orang yang mendapat bantuan modal kerja itu.

Pemerintah Provinsi Dongguan, tidak berhenti sampai di situ saja. Ada program yang jauh lebih dan sudah menjadi perhatian sekitar tiga tahun belakangan ini, yaitu pendidikan tenaga kerja, terutama mereka yang datang dari desa. Sekitar 1,1 juta pencari kerja menjadi fokus pemerintah provinsi setempat untuk ditingkatkan kualifikasi pendidikan mereka. Angka itu, menurut beberapa pejabat setempat adalah angka paling tinggi di Cina.

Pentingnya pendidikan bagi pemimpin provinsi ini tentu memiliki tujuan lain. Artinya meningkatnya kualitas pendidikan penduduk atau tenaga kerja di wilayahnya, tingkat kesejahteraan pun akan naik, sehingga kesenjangan antara mereka yang kaya dan miskin semakin kecil.

Persoalan kesenjangan kaya dan miskin di negara itu, bukan hal yang main-main. Pemerintah terus berusaha menghilangkan kesenjangan tersebut.

Guangdong, kota yang terbelah Sungai Mutiara (Pearl River), terdapat perbedaan yang mencolok. Tingkat kesejahteraan pun berbeda. Dari sisi gaji saja, di selatan sungai itu rata-rata gaji yang diperoleh di atas 13.000 RMB, sedangkan di wilayah utara, timur, dan barat hanya sekitar 6.000 RMB.

Hal itu disebabkan lebih berkembangnya berbagai usaha dan pusat bisnis di kawasan selatan itu. Pantaslah wilayah tersebut lebih berkembang dibanding wilayah lain di seputar sungai tersebut.

Karena itu, sekarang pemerintah setempat menetapkan gaji minimum di di setiap kota. Sebut saja di Guangzhou gaji atau upah regional sekitar 680 RMB. Pemerintah setempat berprinsip, kalau memang kenyataan suatu wilayah bisa berkembang lebih makmur, biarkan itu berjalan sendiri. Namun ada saat kelebihan dari wilayah itu harus disubsidikan untuk menopang dan memompa kemajuan wilayah-wilayah yang masih tersendat pembangunannya

Karena itu, beberapa pejabat di pemerintah setempat menegaskan, rencana di masa depan, pemerintah tetap terfokus pada peningkatan pendidikan tenaga kerja, mengurangi tingkat pengangguran, memberikan bantuan dana modal kerja termasuk tunjangan-tunjangan yang adil.

AJANG PROMOSI - Canton Fair, salah satu pameran dagang terbesar di Cina, digelar dua kali dalam setahun diikuti berbagai industri Cina. Para pembeli dari berbagai negara bisa langsung bertransaksi dengan para pedagang.

Industri Penting

Selama perjalanan 25 pembangunan di Guangdong, pemerintah setempat berhasil membangun sembilan industri penting, yaitu di bidang peralatan elektronik dan teknologi informasi, mesin, petrokimia, otomotif, obat, pabrik kertas, tekstil dan garmen, makanan dan minuman, serta bidang konstruksi.

Kemajuan itu membuat Guangdong menjadi salah satu basis manufaktur impor di Cina, sekaligus menjadikan provinsi itu pusat penghasil produk-produk teknologi informasi dan barang-barang impor lainnya.

Pada 2004, total nilai perdagangan bilateral dengan Indonesia misalnya, mencapai 13,2 miliar dolar AS. Dan pada 2005, diperkirakan 14 miliar - 20 miliar dolar AS. Bahkan sepertiga atau sekitar 30 persen, dari total ekspor/impor Cina, hasil perdagangan dengan Indonesia. GDP Provinsi Guangdong sendiri pada 2004 mencapai 197 miliar dolar AS (sepersembilan total GDP nasional) dan total volume ekspor/impor mencapai 350 miliar dolar AS pada tahun yang sama.

Selama 25 tahun pembangunan di negeri itu, investasi langsung di provinsi itu telah berkembang menjadi lebih dari 150 miliar dolar AS (seperempat investasi nasional). Bahkan sepanjang perjalanan itu, ada sekitar 1.400 pengusaha yang menginvestasikan modal mereka di 88 negara dengan total nilai 4,28 miliar dolar AS.

Salah satu lirikan mereka untuk mengembangkan mitra usaha adalah ke ASEAN, termasuk Indonesia. Pemerintah Provinsi Guangdong sangat berkeinginan meningkatkan jalinan kerja sama dengan Indonesia, yang sekarang menempati posisi kelima mitra dagang dengan provinsi tersebut.

Tidak segan-segan pemerintah Provinsi Guangdong, selain mengundang berbagai negara, juga mengundang ASEAN untuk menghadiri Canton Fair yang diselenggarakan dua kali dalam setahun. Canton Fair menggelar berbagai produk Cina dari seluruh unit industri yang ada. *


Last modified: 22/11/05


.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.




SPONSORED LINKS
Indonesia Culture Chinese


YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise