Short visit oktober 2005
sebagai jembatan kerjasama antar universitas Utrecht dan Yuhuangding (Bagian
duabelas-1)
Pagi hari sesudah makan pagi
bersama, kami berangkat ke Yuhuangding hospital, Dr. Fang dan Dr. Huo pengantar
kami mengatakan bahwa kami ditunggu oleh Prof. Liu dan stafnya untuk membuat
foto bersama didepan hospital. Kedua dokter inilah yang akan dikirim ke Utrecht
untuk mengambil Ph.D. Statement mereka disalin dalam bahasa belanda dan
disampaikan oleh putri kami pada kawan-kawan
Belanda.
Jalanan kota Yantai pada pagi hari macet, banyak sekali mobil, kami tdak
melihat orang yang naik sepeda, ada sebagaian kecil yang naik sepeda montor,
juga wanita. Karena macet kami bisa melihat kanan dan kiri tampak gedung-gedung
yang besar-besar terutama gedung-gedung pemerintah, bank, trust dan perusahan.
Berbagai mobil dari yang mahal, dan mobil-mobil kecil, buatan dalam dan luar
negeri jalan pelahan-lahan untuk mencari jalan dan mencegah agar tidak tercadi
kecelakaan. Siapa yang nyana kota yang dahulu tidak beken, ternyata seperti kota
besar internasional penuh dengan kendaraan dan gedung-gedung yang tinggi dan
besar, orang-orang yang sedang tilpon dengan GSM, menunjukkan kemakmuran kota
ini.
Sampai di hospital, kami sudah ditunggu oleh Prof. Liu dan stafnya,
sesudah itu kami langsung berdiri didepan gedung Yuhuangding. Kami berbaris,
saya diminta berdiri dipinggirnya prof. Liu dan jumbah orang yang membuat foto
empat belas orang, dari fihak kami tujuh orang, karena istri dari ahli oncolog
tidak mau ikut serta tinggal di hotel, berhubung beliau bukan dokter.
Diantaranya satu-satunya seorang wanita secretaris partai rumah sakit, beliau
berpakean barat, necis tidak seperti jaman waktu saya berada di RRT empat puluh
tahun yang lalu, berpakean celana ala Chongsan Zhuang berwarna biru atau coklat.
Kami sedikitpun tidak merasahkan kekuasaan scretaris partai ini, yang kami
rasakan ialah prof. Liu yang menentukan segala protokol penerimaan, sebagai
direktur rumah sakit. Seterusnya sampai kami kembali ke Belanda tidak bertemu
lagi dengan wanita secretaris partai ini. Disini menunjukkan adanya reformasi
hirarchi, struktur kekuasaan RRT pada masa post-Mao sekarang
ini.
Kami dibagi dua bagian putriku ke bagian radiologi, kedokteran nuklir dan
oncologi dengan diantar oleh Dr. Huo. Dr. Huo, wakil profesor radiologi,
meskipun beliau tidak begitu pandai bicara bahasa Inggeris, tetapi cukup
dimengerti, karena beliau berani untuk bicara dalam bahasa Inggeris, seorang
pemuda yang open dan baik hati. Saya pergi ke bagian cardiologi dan bedah
jantung diantar oleh wakil profesor Dr. Fang. Berlainan degan dokter Huo, Dr.
Fang tidak banyak bicara, low profile, seorang yang simpatik dan mukanya selalu
bersenyum.
Kami ditrima
dibagian cardiologi oleh kepala bagian cardiologi seorang wanita kira-kira
berumur 55 tahun. Wanita ahli
ini kalm dan halus bicaranya. Kami melihat kamar-kamarnya bersih dan setiap
kamar dirawat empat pasien. Ada kamar VIPnya yang ditinggali hanya satu
penderita saja, didalam kamar comfortabel ada TV, kamar mandi dan kamar toilet
sendiri.
Waktu jalan kami tanyakan, apakah dirumah sakit ini dikerjakan
intervention cardiologi. Dr. Fang jawab:?ya di rumah sakit kami dikerjakan intervention cardiologi dan bedah
jantung.? Lalu oleh fihak Belanda ditanyakan jumblah pasien yang dirawat dengan
myocardial infarction dan berapa jumblah intervensi kardiologi. Pertanyaan ini
tidak bisa dijawab dengan tepat, mungkin tidak dibuat statistik yang terperinci.
Aku bisik-bisik dengan Dr. Fang:? ini perlu dikerjakan, karena dari sini kita
bisa menganalisa kemajuan perawatan dan tecknologi kalian. Kalu mau publikasi
artikel ilmu, statistik sering diperlukan.?Dr. Fang manggut-manggut. Dr. Kepala
bagian berkata pada Dr. Fang:?tanyakan pada guru besar cardiologi Belanda dua
pasien yang kami diskusikan tadi, apakah betul tindakan
kami??
Kami menujuh ke kamar pemeriksaan film Koroner Angiografi, di Belanda
dikatakan ?hart catheterisatie? disini terdapat monitor yang agak besar dan
seorang technikus mengerjakannya menurut permintaan prof. Wanita Tionghoa ini.
Sesudah diputar film koroner angiografi yang pertama, prof. Belanda ini
mengatakan: ?pandangan saya penderita ini, jangan di kerjakan PTCA (Percutaneous
Transluminal Coronary Angioplasty, membesarkan pembuluh darah coroner). Lebih
baik dikerjakan operasi, karena kalau dikerjakan PTCA bisa bahaya. Pada
penderita yang kedua dikatakan boleh dikerjakan PTCA. Lalu Dr. Wanita ini
mengatakan pada Dr. Fang:?nah kalau begitu keputusan kami cocok dengan beliau.?
sambil bersenyum. Dr. Fang berkata pada saya dalam bahasa mandarin:? prosedur
PTCA ini sekarang umum dikerjakan untuk mengembalikan peredaran darah coroner
yang sumbat. Sekarang prosedur ini di lakukan di banyak centres di RRT, karena
prosedurnya simpel, tidak begitu agressive dan penyembuhannya cepat, dibanding
dengan operasi bypass yang jelas lebih invasive.?
Dr. Han
Hwie-Song
Breda, 20 november 2005 The
Netherlands