logo       

Babad Tionghoa Muslim: msg#00403

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Babad Tionghoa Muslim

Babad Tionghoa Muslim
Oleh :
Asvi Warman Adam
Visiting Fellow pada KITLV Leiden

Pada tahun 1968 terbit buku Prof Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan
Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Buku ini
dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971 karena mengungkapkan hal-
hal yang kontroversial waktu itu yakni sebagian Wali Songo berasal
dari Cina. Slamet Muljana membandingkan atau --lebih tepat--
melakukan kompilasi terhadap tiga sumber yaitu Serat Kanda, Babad
Tanah Jawi dan naskah dari Kelenteng Sam Po Kong yang ditulis
Poortman dan dikutip oleh Parlindungan.
Residen Poortman tahun 1928 ditugasi pemerintah kolonial untuk
menyelidiki apakah Raden Patah itu orang Cina. Raden Patah bergelar
Penembahan Jimbun dalam Serat Kanda dan Senapati Jimbun dalam Babad
Tanah Jawi. Kata ''jin bun'' dalam salah satu dialek Cina berarti
orang kuat. Penumpasan terhadap pemberontakan Partai Komunis
Indonesia (TKI) yang terjadi tahun 1926/1927 memberikan kesempatan
kepada pejabat pemerintah kolonial untuk memeriksa siapa saja. Maka
Sang Residen itu pun menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang
dan mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang, terdapat di sana --
sebagian sudah berusia 400 tahun-- sebanyak 3 cikar (pedati yang
ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh Mangaraja Onggang
Palindungan yang menulis buku -- jugakcontroversial -- Tuanku Rao.
Slamet Muljana banyak menyitir buku ini.

Keaslian sumber
Slamet menyimpulkan bahwa Bong Swi Hoo --yang datang di Jawa tahun
1445-- sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah dengan Ni
Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan Kapitan Cina di
Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan
ini lahirnya Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang.
Bonang ini diasuh oleh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian
dikenal sebagai Sunan Giri.

Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapitan
Cina di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid
Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang
penyangga mesjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal
yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang
itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang
terbuat dari kayu yang utuh. Akhirnya Slamet menyimpulkan bahwa
Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain
dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah menurut Slamet Muljana adalah Toh A Bo, putra dari
Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara
itu Sunan Kudus atau Jafar Sidik tak lain dari Ja Tik Su.

Tentu tak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali Songo
itu berasal dari Cina atau keturunan Cina. Namun kelemahan Slamet
Muljana, ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis
oleh MO Parlindungan. Sementara Parlindungan hanya melihat arsip
Poortman dan tidak membaca sendiri naskah Cina tersebut. Begitu
pula, Slamet sendiri tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang
berasal dari kelenteng Sam Po Kong Semarang itu. Bagi para sejarawan
di masa mendatang, dengan melakukan penelitian terhadap sumber
berbahasa Cina baik yang ada di Nusantara maupun di daratan Cina,
diharapkan periode ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di
Jawa abad XV-XVI) dapat dijelaskan dengan lebih baik.

Sebetulnya pada masa ini cukup banyak sumber mengenai Laksamana
Muslim Cheng Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV
dengan armada yang lebih besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri
mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga beragama Islam dan menuliskan
pengalaman ini dalam buku Yingyai Senglan. Di dalam buku ini
dilaporkan tentang masyarakat Cina yang bermukim di Jawa yang
berasal dari Kanton, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka telah
meninggalkan negeri Cina dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir
Jawa sebelah timur. Di Tuban mereka merupakan sebagian besar
penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai ''seribu keluarga lebih
sedikit''. Di Gresik hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum
orang Kanton menetap di sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk
juga orang Cina. Menurut Ma Huan kebanyakan orang Cina itu telah
masuk agama Islam dan menaati aturan agama.

Teori penyebaran Islam
Ada berbagai teori tentang penyebaran agama Islam ke Nusantara ini.
Pandangan pertama mengatakan bahwa Islam yang berkembang di sini
berasal Hadramaut, Arab Selatan. Pendapat kedua mengatakan bahwa
penyebarannya justeru datang dari India. Pandangan ketiga justeru
menyebutkan bahwa Islam yang berkembang di kepulauan ini berasal
dari Cina.

Menurut Nurcholish Madjid, teori tentang Islam datang dari Gujarat,
India antara lain karena persamaan motif batu nisan Maulana Malik
Ibrahim di Gresik dengan yang ada di Gujarat. Hal ini didukung pula
karena faktor bahasa, istilah pinjaman dari bahasa Arab tidak murni
menurut lafal aslinya, seperti terlihat dalam kata shalat, zakat,
dan seterusnya. Jadi kata itu dipinjam melalui bahasa Persia atau
bahasa-bahasa umat Islam di Asia Daratan yang menjadikan bahasa
Persi sebagai rujukan.

Namun mahzab di Asia daratan itu adalah Sunni-Hanafi bukan Sunni
Syafii yang banyak dianut di Nusantara. Maka muncul teori kedua
bahwa Islam itu datang dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan
Hadramaut yang juga menganut mahzab Sunni-Syafii. Didukung pula
dengan fakta bahwa kawasan itu terkenal dengan aktivitas perdagangan
laut internasionalnya. Tetapi teori kedua ini tidak sejalan dengan
persoalan istilah pinjaman di atas. Oleh sebab itu teori ketiga
yaitu Islam di Nusantara berasal dari Cina -paling tidak dalam satu
fase tertentu perkembangannya di Asia Tenggara-- patut
diperhitungkan, karena terdapat kesesuaian dalam hal mahzab (Sunni-
Syafii) dan faktor bahasa tadi.

Sebetulnya arus perdagangan waktu itu tidak mengenal batas wilayah,
bangsa dan agama. Kebenaran teori persebaran Islam yang satu tidak
berarti menutup kemungkinan teori yang lain. Bahkan bisa jadi
semuanya teori itu benar adanya. Jadi pengembangan Islam di
Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India dan Cina.
Peristiwa itu bisa terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau
berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama
Islam, mulai dianut oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah
masyarakat. Ketiganya merupakan tahapan yang berjalan sesuai dengan
perkembangan waktu.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise