Pendidikan demokrasi pada
kanak-kanak
Kalau kita sering membaca koran, majalla,
kita dapat menyimpulkan bahwa di Eropa, Amerika Utara terjadi polarisasi antara
pribumi dan non-pribumi, antara mayoritas dan minoritas sebagai akibat
masing-masing meradicaliseer diri dan tidak percaya lagi pada politik negaranya.
Ini mengakibatkan masing-masing mengisolir dalam ?dunia golongan
sendiri-sendiri?, menimbulkan dunia yang tidak dapat menerima pikiran dan
adat-adat yang berlainan; suatu dunia yang tidak
demokratis.
Untuk kepentingn ini dibeberapa sekolah basis (sekolah rendah jadi satu dengan
kinder garten) dilakukan perdebatan demokratis selama satu minggu. Mereka
menyimpulkan bahwa sekolah basis adalah tempat yang cocok untuk mendidik
konstitusional negara. Anak-anak dilihat pada umur ini paling terbuka buat
pemasukan informasi-informasi baru, sebagai tanah yang subur untuk menanam
bibit-bibit demokrasi, apalagi mereka belum di pengaruhi dengan pikiran-pikiran
diskriminasi dan pikiran jelek lainnya. Atas inisiatif dari parlemen (tweede
kamer, kamar kedua) dan konstituante (Eerste Kamer, Kamar Kesatu) perdebatan
dalam sekolah basis agar anak-anak penduduk Belanda memperhatikan dan concern
terhadap politik. Tempat perdebatan disekolah-sekolah rendah ini dinamakan Derde
Kamer atau kamar ketiga.
Di Kamar ketiga ini anak-anak diberi ketika
untuk dapat berbicara dan didengar lalu dapat di debatkan oleh teman-teman
sekolahnya. Masing-masing murid mempunyai hak suara yang sama. Ini memberikan
pada mereka kesan bahwa mereka ikut serta dan ikut sertanya itu sangat penting
baik dirinya maupun suaranya. Faedahnya? Ada anak yang sering digodain
mengatakan apakah fenomen yang negatif yang dia alami ini dapat dibicarakan di
kamar ketiga ? Disimpulkan oleh semua murid dengan persetujuan suara yang besar.
Dari sini pemerintah dan para guru dapat pelajaran yang baik bagaimana mendidik
anak-anak agar bibit demokarasi ini berakar kuat dalam jiwa mereka dan
diharepkan kelak mereka menjadi pembelah demokrasi. Dengan demikian pemertintah
telah mengkultivir, mengembangkan pemilih-pemilih dan politisi-politisi
baru.
Sekarang ada usul-usul untuk memasukkan vak demokrasi dalam mata pelajaran di
sekolah sekolah basis, dan mata pelajarannya harus sesuai dan dapat menarik pada
anak-anak agar mereka mau belajar vak ini. Ini diharepkan agar nanti apabila
mereka mencapai umur delapan belas tahun ikut pemilihan umum, anak-anak ini
dapat menentukan pilihan partainya yang cocok dengan pikiran mereka.
Saya rasa ini adalah satu visi yang baik bagi
negara dikemudian hari untuk menciptakan negara yang multiculturil, saling
respek dan toleransi. Mencius serang confucianis yang besar mengatakan:?hanya di
Negara yang stabil rakyat dapat bersatu dan membangun masyarakat yang sejahtera
dan makmur!?
Dr. Han Hwie-Song
Breda, 29 September 2005 The Netherlands