Pendidikan anak-anak di
Belanda
Pada hari minggu tanggal 25 September yang
baru lalu, kami merayakan pesta hari ulang tahun ke sembilan cucu perempuan saya
yang paling besar Li-Shen dalam kalangan keluarga. Sebetulnya hari lahirnya
ialah tanggal 19 September, tetapi berhubung hari itu hari kerja maka tidak bisa
di kerjakan. Anak-anak murid di kelasnya pada hari itu di beri kuwe taart.
Tetapi pada nanti tanggal 9 oktober dirayakan pula dengan teman-teman yang
baik sekelasnya , teman-teman bermain sport hockey, dan teman-temannya
dari tetangga. Pada kesempatan itu nanti mereka dibawa ke sport centrum dan
bermain Ice skating.
Pada hari minggu kira-kira jam tiga sore,
datang keluarga dari fihak ibu dan fihak ayahnya dengan anak-anaknya. Mereka
berdatangan membawah kado dibungkus dengan kertas kado yang beraneka warna,
kado-kado itu tidak langsung dibuka, semua diletakkan dahulu di meja. Sesudah
yang datang komplit baru dibuka bungkusan sambil kami semua berkumpul melihatnya
dan istri saya bermain piano dengan lagu-lagu chusus untuk HUT. Disamping
kado-kado yang diberi oleh ibu dan ayahnya, anak-anak yang datang juga memberi
kado dan kebanyakan berupa lukisan-lukisan yang mereka buat sendiri. Ada yang
melukis seorang gadis, mencerminkan Li-Shen dengan jantung menunjukkan
kecintaaannya, ada pula yang melukis pelangi, berupa sembilan garis-garis yang
multiwarna, sembilan bunga-bunga, yang laki-laki kebanyakan melukis mengenai
panorama Belanda, sungai-sungai dengan awan, tanah rumput dengan sapinya dan
molen (kincir angin), semua tanah datar tanpa gunung-gunung; jangan menanyakan
saya apakah lukisan-lukisan itu persis dengan sungai, awan, sapi, tetapi
kira-kira demikian dapat di simpulkan kalau kita lihat menyeluruh isi lukisan
itu. Saya dengan interesan melihat lukisan-lukisan semua, dan menurut saya
menyerupai lukisan-lukisan orang dewasa yang dikenal dan di senangi sebagai
lukisan-likisan primitif. Juga mengherankan saya kenapa tiada gunung, mereka
tahu bahwa negeri Belanda memang tidak ada gunung dan panorama Belanda adalah
tanah datar penuh dengan sapi dan molen.
Anak-anak yang mengambar ini masih berumur
dibawah 7 tahun. Saya melihat lukisan lukisan itu dan sambil ketawa berkata
kepada ayah dan ibu anak-anak itu:?anak-anak kamu sudah mengerti tentang seni,
kita mengeluh tentang pendidikan, tetapi anak-anak yang masih berumur dibawah
tujuh tahun sudah mendalami dan mengerti tentang seni, bukankah ini suatu
prestasi?!? Semua ketawa dan bertepuk tangan untuk meramaikan dan mengembirakan
suasana sewaktu membuka kado-kado, mungkin juga karena mereka bangga atas
keberhasilan anak-anaknya.
Kanak-kanak di Belanda di stimulir agar
dengan secara main-main mengembangkan kemampuan masing-masing dibawah pinpinan
guru-guru yang ahli, sebelum mereka nanti belajar membaca, menulis dan
menghitung. Mereka belajar hubungan-hubungan satu dengan yang lainnya; seperti
mengumpulkan blok-blok kayu dengan lukisan yang ada hubungannya. Seperti lukisan
bunga dikumpulkan dengan bunga-bunga dan buah-buahan dikumpulkan dengan
buah-buahan, mengenal nama buah-buahan, hewan dan suaranya, warna etc. dan
tentunya juga norma-norma hubungan antar manusia, saling respek etc.. Biarlah
anak-anak mengembangkan kemampuan dirinya dengan temponya sendiri-sendiri.
Karenanya jangan terlalu memberatkan tekenan untuk menguji mereka. Biarkanlah
mereka kerjakan secara bermain main, sambil dilihat
hasilnya.
Pendidikan anak-anak di Belanda dilakukan
sejak mereka berumur 4 tahun, mereka diharuskan sekolah dua tahun lamanya dan
namanya kleuterschool, mungkin nursery class, kindergarten dan sekolah rendah
enam tahun. Kedua ini dijadikan satu dan namanya ialah Basisschool. Jadi sekolah
untuk anak-anak kecil di Belanda menjadi delapan tahun, yang dulu enam tahun.
Seperti cucu Saya Li-Shen yang sekarang kelas 6
berarti kelas 4 jaman dulu. Tetapi Li Shen karena kecepatan menangkap
pelajarannya dia didudukkan bercampur dengan kelas 7, jadi Li-Shen duduk dikelas
6-7, meskipun dia termasuk yang termuda di kelasnya.
Mungkin pendidikan ini lain dari
Negara-negara lainnya, dan saya rasa di luar Belanda tidak ada sekolah rendah
yang disatukan dengan kindergarten. Ini adalah keunikan sekolah rendah Belanda
yang sudah berjalan selama 20 tahun. Seperti saya katakan diatas setiap anak
dinilai dari prestasinya masing-masing secara main-main, maka kalau anak dari
kindergarten naik kelas dan masuk ke kesekolah rendah (artinya sekarang kelas 3)
maka dilihat kemampuan setiap anak dan yang pandai dipilih dan dimasukkan
dikelas yang campuran dengan kelas atasannya. Tentunya tidak semua cucu-cu saya
nanti masuk dikelas campuran. Pendidikan di Belanda tidak saja
mementingkan pendidikan intelektual, tetapi juga hubungan sosial. Guru-gurunya
mendapatkan pendidikan chusus untuk mengajar sekolah
Basisschool.
Dr. Han Hwie-Song
Breda 26 September 2005 The Netherlands