logo       

The Truth about Walisongo: msg#00343

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: The Truth about Walisongo

Cerita ini saya dapat dari seorang teman, mungkin teman-teman di sini
bisa menanggapi?

Terima Kasih,
Ahmen

=======================================================

Entah kenapa banyak sekali sdr kita umat Muslim merasa gerah, apabila
mendengar bahwa delapan dari Sunan Walisongo itu adalah orang
Tionghoa, padahal Nabi Muhammad saw sendiri pernah bersabda "Tuntutlah
ilmu walau sampai negeri Cina" (Al Hadits), nah pada saat itu orang
Tionghoa nya sendirilah yg datang ke Indonesia, sehingga mereka tidak
perlu repot2 harus pergi ke belajar Tiongkok untuk menuntut ilmu
disana.

Prof Slamet Mulyana pernah berusaha untuk mengungkapkan hal tsb diatas
dlm bukunya "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara
Islam di Nusantara", tetapi pada th 1968 dilarang beredar, karena
masalah ini sangat peka sekali dan mereka menilai menyakut masalah
SARA. Kenapa demikian?

Bayangkan saja yg mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah
orang Tionghoa, bahkan Sultan nya yg pertama pun adalah orang
Tionghoa: Chen Jinwen alias Raden Patah alias Panembahan Tan Jin
Bun/Arya (Cu-Cu).

Walisongo atau Walisanga yg berarti sembilan (songo) Wali, tetapi ada
juga yg berpendapat bahwa perkataan songo ini berasal dari kata
"tsana" yg berarti mulia dlm bhs Arab sedangkan pendapat lainnya
mengatakan bahwa kata tsb berasal dari kata "sana" dlm bhs Jawa yg
berarti "tempat" Para wali tsb mendapatkan gelar Sunan, yg berarti
guru agama atau ustadz, namum perkataan Sunan itu sebenarnya diambil
dari perkataan "Suhu/Saihu" yg berarti guru dlm bhs dialek Hokkian,
sebab para wali itu adalah guru2 Pesantren Hanafiyah, dari mazhab
(sekte) Hanafi. "Su" singkatan dari kata "Suhu" dan "Nan" berarti
selatan, sebab para penganut sekte Hanafi ini berasal dari selatan
Tiongkok.

Perlu diketahui bahwa sebutan "Kyai" yg kita kenal sekarang ini
sebagai sebutan untuk guru agana Islam setidak-tidaknya hingga jaman
pendudukan Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi seorang lelaki
Tionghoa Totok, seperti pangggilan "Encek".

Walisongo ini didirikan oleh Sunan Ampel pada th. 1474. Yg terdiri
dari 9 wali yaitu:

Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
Sunan Gunung Jati alias Du Anbo - Toh A Bo
Sunan Kudus alias Zha Dexu - Ja Tik Su
Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho
Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen
Yinghua/Tan Eng Hoat

Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias raden Rahmat lahir pada th 1401 di
Champa (Kamboja), ia tiba di Jawa pada th 1443. Pada saat itu di
Champa banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim yg bermukim
disana. Pada th 1479 ia mendirikan Mesjid Demak. Ia juga perencana
kerajaan Islam pertama di Jawa yang beribu kota di Bintoro Demak,
dengan mengangkat Raden Patah alias Chen Jinwen - Tan Jin Bun sebagai
Sultan yang pertama, ia itu puteranya dari Cek Kopo di Palembang.

Orang Portugis menyebut Raden Patah "Pate Rodin Sr." sebagai "persona
de grande syso" (orang yg sangat bijaksana) atau "cavaleiro"
(bangsawan yg mulia), walaupun demikian orang Belanda sendiri tidak
percaya moso sih sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa.
Oleh sebab itulah Residen Poortman 1928 mendapat tugas dari pemerintah
Belanda untuk menyelidikinya; apakah Raden Patah itu benar2 orang
Tionghoa tulen?

Poortman diperintahkan untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan
menyita naskah berbahasa Tionghoa,dimana sebagian sudah berusia 400
tahun sebanyak tiga cikar/pedati. Arsip Poortman ini dikutip oleh
Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial Tuanku Rao, dan
Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini.

Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dlm Serat
Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun,dan dalam Babad Tanah
Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam
dialek Hokkian berarti "orang kuat".

Cucunya dari Raden patah Sunan Prawata atau Chen Muming/Tan Muk Ming
adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak, berambisi untuk
meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa
menjadi "segundo Turco" (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan
Turki Suleiman I dengan kemegahannya.

Sumber:
- D. A. Rinkes "De heiligen van Java"
- Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang - Utrecht: Den Boer
- G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century
Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague:
Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse Vorstendommen op Java" -
"Islamic states in Java 1500 -1700".
- Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia"
- Prof. Slamet Mulyana "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya
Negara-negara Islam di Nusantara





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/







<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise