|
ASAHAN ALHAM
AIDIT:
Roman Memoar
"ALHAMDULILLAH"
Bagian III
(15)
Merambat
tanah Pemukiman
Moskow - 1965 - Peking
Dari R, saya menerima secarik
kertas yang pengirimnya adalah tante Annie. Kata awalnya terasa agak lucu:
"Beste Sulaiman Divendal". Saya telah diberi marga oleh tante Annie, marga
orang yang saya tumpangi. Apakah ini satu sinyal dari tante bahwa saya
sudah harus memikirkan sebuah nama famili buatan karena tante Annie dan
teman-temannya telah mulai memikirkan soal naturalisasi saya, setelah
mendapat izin tinggal resmi, yang mereka bilang itu sangat perlu agar saya
bisa merambat secara kuat dan dilindungi hukum di pemukiman yang akan
saya jadikan tanah air ke dua ini. Tapi isi surat, cumalah meminta agar
saya datang ke Haarlem, ke rumah beliau untuk mengambil sepeda yang
telah beliau beli untuk saya pakai. Tante Annie memang selalu
memikirkan semua keperluan saya yang saya sendiri bahkan tak terpikirkan.
Di satu permulaan musim
gugur yang berangin dan kelabu saya berangkat dengan sebuah bus menuju kota
Haarlem. Ketika akan memasuki kota Haarlem, ada sebuah hutan
atau taman hutan yang saya lalui. Dedaunan mulai
berguguran dan bertukar warna. Saya lalu teringat akan sajak-sajak
Pushkin. Dia seorang penyair Rusia pemuja musim gugur yang digambarkanya
sebagai pesta warna dedaunan yang berjatuhan ke bumi diiringi symphonie alam
bersuasana puitis dan melankolik. Di kantong saya ada sebuah
Walkman pinjaman I, anak R yang sedang memutar konsert 4
musimnya Antonio Vivaldi. Musim gugur Belanda memang tidak seindah musim gugur
Rusia dan bahkan tidak seenak musim gugurnya Rusia, memang. Tapi saya lebih
merasakan suasana puitis alam Belanda di musum gugur. Mungkin oleh
Vivaldi yang telah becampur dengan anak bini saya di dalamnya yang
masih di luar keberadaan mereka di tengah saya. Saya lalu
mematikan walkman saya ,karena sudah terasa gejala serangan melankolik yang
bagaikan seorang diabetik dalam situasi hypoglucose
yang memerlukan gula, lemah lunglai yang ahirnya lumpuh.
Setibanya di rumah tante Annie, di tangga masuk ke
atas, sudah saya lihat sebuah sepeda yang akan saya terima nanti
itu. Tidak baru, tapi kuat dan saya
menyenanginya. Kami ngobrol bertiga, dengan Oom, yang tampak lebih tua dari
tante Annie, bertubuh tinggi dan masih aktif mengitari kota Haarlem dengan
Brommer-nya. Tapi kehadiran Oom tidak lama dan segera dia permisi naik ke atas
meninggalkan kami berdua, seolah dia tahu, tante Annie hanya untuk saya, setiap
saya datang ke rumah mereka.
- "Hei, Sulai, apa yang kau ketahui tentang
"Biro Khusus " dalam tubuh PKI dan apakah kau juga
pernah kenal dengan itu Syam Kamaruzzaman"?. Pertanyaan Tante Annie memang bisa
muncul mendadak di tengah pembicaran yang bagaimanapun. Bahkan kadang-kadang di
dalam tram atau bus yang sedang ramai penumpangnya. Dan sekarang
ketika saya sedang menikmati sepotong taart yang beliau
sajikan.
-"Saya tidak tahu apa dan siapa itu, Tante. Yang saya
tahu, itu cuma omong kosong yang dibikin Suharto yang harus diperankan oleh
Syam. Seperti Nero memfitnah orang Kristen yang membakar kota
Roma".
-"Kapan pertemuanmu yang terahir dengan
Aidit?".
Pikiran saya lalu terbang ke Cina, ke Peking pada bulan
Agustus 1965. Ketika sebagian besar teman-teman saya pada berlibur ke Eropa
Barat, Berlin Barat dan Belanda terutamanya, tapi saya menukar dollar yang kami
terima dari Kedutaan menjadi rubel untuk beli karcis kereta ke Peking. Ada
sebagian teman yang mengangap saya orang sinting. Dan memang sayapun merasa
sinting, mengapa tidak, ke Barat adalah selera remaja, kebebasan, barang
kelontong: baju dan kaos kaki nylon, sepatu milyuner, bumbu-bumbu
pedes Indonesia, dasi-dasi Trevira, Ray-ban, Parker, perca-perca lingeri
buat pacar-pacar Rusia dan selebihnya didjual dengan harga super mahal di
sekitar pintu masuk asrama Universitas. Sedangkan kalau ke Peking, yang
akan saya temui adalah cuma abang saya yang sudah bertahun tahun menjadi
spesialis di sana, cuma memburu kerinduan, dan saya akan hanya menjadi
orang asing dua kali lipat, bahasanya, budayanya dan hanya satu yang seperti di
rumah sendiri: makan! Saya punya bakat besar memakan semua makanan Cina dan
bakat itu sudah saya miliki sejak saya berusia 12 tahun yang dimulai dari Pasar
Senen , lalu Glodok dan terus merembet ke berbagai restoran Cina yang terenak.
Saya tumbuh dan membesar oleh makanan Cina dan saya telah menjadi fanatik
melebihi abang sulung saya sendiri. Tapi cuma di bidang makanan ini saja. Dan
saya memutuskan ke Cina karena selera saya bukan selera remaja seperti selera
teman-teman saya mahasiswa yang lainnya. Selera saya adalah selera
perut dan pilihan saya adalah Cina sebagai kiblat dan Peking sebagai Mekkah
kerajaan makan saya. Mengapa saya harus menolak dibilang sinting, bukankah
saya sendiri yang telah membuktikannya.
Baru beberapa hari saya bertemu dengan keluarga
abang saya yang menjadi spesialis di sana, saya lalu mendapat panggilan mendadak
dan harus meninggalkan hotel di mana saya diinapkan (gratis, dibayar
Negara) yang kalau tak salah nama hotel itu "Min Chu Fan Tien" yang
hidangan makanannya melebihi dari yang pernah saya impikan ketika masih di
Moskow. Dari hotel, saya harus pindah ke sebuah Guest House atau rumah tamu
Partai karena di sana abang sulung saya yang ketua Partai sedang menjadi tamu
Partai sebuah negara raksasa
yang ketika itu sedang cekcok besar dengan sebuah Partai
yang juga raksasa yang bernama Uni Sovyet di mana saya sedang belajar. Pertemuan
itu sama sekali di luar dugaan saya, karena ketika saya masih di Moskow, memang
abang sulung saya sedang mengadakan kunjungan di Rusia dengan delegasinya yang
cukup besar untuk juga barangkali cekcok di sana dengan Suslov,
teoretikusnya PKUS. Dugaan saya itu berdasarkan penglihatan saya dari dekat:
muka abang saya masih tampak merah, matanya juga merah, persis ketika ia baru
cekcok dengan istrinya di rumah ketika saya masih tinggal bersama mereka dulu
itu. Orang adik beradik tentu mengenal dari urat nadi hingga suara
hati masing-masing.
-"Tengkar?" , tanya saya ketika baru saja melepaskan
tangan dari salaman rindu dan tak di sangka-sangka itu.
-"Ya, tengkar. Bukan cuma tengkar. Tengkar besar. Bagus,
kau ke mari, Sulai. Cina juga perlu dilihat".
-"Tadi sebelum kemari , saya diperingatkan agar siap-siap
dimarain".
-"Siapa yang bilang begitu !",
-"Antara lain, Sobron".
-"Dia yang patut dimarain"
-"Ya, dia bilang juga sudah".
Hari pertama bersama abang sulung saya, saya masih
setempat tidur dengannya dan barulah kemudian di kamar tidurnya yang luas dan
besar itu ditambah lagi satu tempat tidur untuk saya. Semua kegiatan delegasi,
saya diajak ikut serta. Dari sinilah saya mengetahui betapa mesra dan
antusiasnya Partai Cina menerima delegasi Partai Komunis Indonesia. Sebuah
persahabatan yang tak mungkin habis diceritakan, betapa erat
dan kentalnya persahabatan dua Partai seolah dua saudara kembar yang
tak akan pernah bercerai lagi. Saya turut mernikmati kemanjaan yang
diberikan oleh tuan rumah meskipun saya bukan anggota delegasi Partai dan hanya
sebagai adik bungsu dari sang Ketua. Sobron bukan main irinya, tapi perasaan itu
sudah sangat biasa dirasakannya sejak di Indonesia dulu. Abang sulung saya
sering mengucapkan sikapnya di depan kami adik-adiknya bahwa ia tidak membedakan
yang satu dengan yang lain. Sama, tidak ada peng-istimewaan. Tapi dalam praktek,
tetap saja ada diskriminasi yang itu saya sendiri yang menikmatinya. Mungkin
karena saya memang lebih banyak mendampinginya dalam kerja-kerjanya sehari hari
ketika di Jakarta dulu atau mungkin juga saya punya sifat yang lain dengan
abang-abang saya yang lainnya sebagai manusia non politik sehingga berbicarapun
sangat terdengar lain di tengah-tengah 24 jam atmosfir politik dalam dumia
yang tak saya kenal itu. Dan saya selalu leluasa.
Suatu hari, abang saya mengatakan kepada saya bahwa saya
harus tinggal di rumah (saya sudah tidak boleh keluar sendirian) karena hari itu
delegasi Partai akan menemui Ketua Mao. Untuk itu katanya saya belum punya hak.
Sebetulnya saya cukup kecewa karena sebuah pemikiran yang sederhana saja: kalau
sudah sama-sama menjadi tamu Partai begini, kenapa tidak sekalian saja , menemui
Ketua Mao-pun diikut sertakan. Tapi sekali ini abang saya benar-benar
mendiskriminasi saya dan itu saya kira juga baik, paling tidak untuk
tidak menumpuk ke-irian Sobron. Tapi saya tidak dibiarkan sendiri di rumah
yang bagaikan istana itu. Seorang nona dengan sebuah pelampung telah mengatur
semuanya untuk kami berdayung di danau yang luas dalam wilayah rumah tamu itu.
Tentu ini nona bukan datang begitu saja dari langit untuk menghibur saya yang
sedang sendirian tidak kebagian jatah ketemu dengan Ketua Mao. Ini juga sebuah
pengaturan dari kebijakan tuan rumah yang sangat menyenangkan saya.
Sayangnya ini nona manis tidak bisa bicara Inggris, atau mungkin tidak
diperbolehkan. Tanpa bahasa tapi banyak senyum, banyak menuntun tangan saya
dan imbalan dari saya satu-satunya cumalah: sie,sie,sie,sie dan
sie-sie hingga membuat dia tertawa terpingkal-pingkal. Saya duga mungkin ia
telah menawarkan sesuatu secara bergurau yang merugikan saya dan jawaban saya
tetap saja sie-sie. Saya bayangkan mungkin dia menanyai saya apakah
setuju kalau saya dia pukul dengan pendayung yang sedang dipegangya dan saya
menjawab: sie-sie. Tapi sungguh dia sangat manis. Dan kalau saya
bandingkan kecantikannya dengan gadis manis peranakan Indonesia Cina, yang saya
temui di bus-bus atau di tengah kota Peking ,yang masih bicara Indonesia dengan
lancanya, maka kecantikan mereka yang peranakan itu, tidaklah berlebih lebihan
kalau saya katakan ,setara dengan seorang Miss Universe yang tidak
resmi. Percampuran ras sering melahirkan kwalitas ekstra: atau yang
terpintar di dalam klas, tercantik di seluruh sekolah atau yang tersehat dan
terganteng di antara teman-temannya. Di bidang pertanian umpamanya, buah atau
ubi hasil cangkokan selalu lebih manis, lebih besar dan lebih bagus kwalitasnya.
Bahkan Mie Peking yang mie asli itu rasanya jauh lebih kurang dari Mie di Pasar
Senen yang bumbu-bumbunya sudah campuran dengan bumbu-bumbu pribumi. Yang kita
perangi bukan perbedaan ras tapi kesombongan ras kalau itu memang ada.Tapi
setidaknya, kecantikan nona Cina yang totok sekarang ini, yang sedang
berkayuh dengan saya dalam perahu kecil hanya untuk berdua, bisa melupakan
sejenak atau mungkin sangat banyak jenak, pacar saya yang ada di Jakarta.
Betapa bahagia yang saya rasakan hari itu. Kami tertawa tanpa mengerti satu sama
lain dan hanya dengan bahasa badan. Dan ketika kami akan berpisah, dia lalu
menanyai saya dan cepat saya jawab: sie-sie. lalu
ia memukuli belakang saya dengan geramnya sambil tertawa. Mungkinkah yang
dia tanyakan pada saya itu kira-kira begini: "Sukakah kamu saya cemplungkan
ke dalam air danau ini?" Dan dengan senang hati saya jawab:
"SIE-SIE".
BERSAMBUNG...
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|