logo       

Fw: Ke Republik Rakyat Tiongkok untuk kerja sama medis universitas Belanda : msg#00339

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Fw: Ke Republik Rakyat Tiongkok untuk kerja sama medis universitas Belanda dan RRT.doc

 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, September 25, 2005 3:16 PM
Subject: Ke Republik Rakyat Tiongkok untuk kerja sama medis universitas Belanda dan RRT.doc

Ke Republik Rakyat Tiongkok untuk kerja sama medis universitas Belanda dan RRT

Hawa udara di Belanda sangat bagus sejak beberapa minggu ini, banyak matahari, sedikit angin dan temperatur siang hari antara 19 -22 derajat Celsius, kalau malam antara 5-7 derajat Celsius. Hawa yang begini bagus jarang di dapat di Eropa Barat, biasanya banyak hujan dan sekali lagi hujan. Hawa panas pada periode ini di achir musim panas di USA dinamakan orang sebagai ?Indian Summer? dan di Belanda namanya ?na zomer weer.? Kalau pagi belakangan ini banyak kabut dan bagi orang yang bekerja dengan mengendarai mobil harus hati-hati karena penglihatan kurang jelas. Siang hari matahari cerah dan di restoran dan cafetaria banyak orang yang duduk makan di luar cafetaria atau resto dibawa matahari, apalagi pada hari-hari weekend. Toko-toko biasanya tidak begitu ramai karena orang yang beristirahat biasanya ke pantai atau duduk di cafetaria atau kebun rumah untuk minum bir, atau memanaskan diri dan wanita berpakean bikini, yang terachir ini terutama pada hari-hari yang panas dan temperatur meningkat sampai 30 derajat atau lebih.

Saya tidak pergi kemana-mana, berdiam dirumah berjalan-jalan di kebun dan latihan Qigong selama tiga puluh menit sampai satu jam lamanya. Saya juga memberi makan ikan dibarengi oleh cucu-cucuku sambil melihat ikan-ikan di empang yang beraneka warna dan berkumpul diatas kalau kita datang untuk memberi makanan. Dengan gesit ikan-ikan itu bergerak diatas air, cepat menyikat makanan yang ku taburkan. Mereka berlompatan dengan bebasnya dan penuh dengan tenaga kehidupan.

Karena sungsum tulang saya bekerjanya kurang baik sebagai akibat chemoterapi, kurang membuat sel-sel darah putih dan  trombocyt, karenananya kami diberi istirahat sebulan setengah. Nanti tanggal 19 oktober Chemoterapi akan dilanjutkan lagi. Maka ketika ?istirahat?ini saya gunakan untuk hari minggu yang akan datang, tanggal 2 oktober,  berangkat ke Republik Rakyat Tiongkok dengan delegasi beberapa professor dari bagian cardiologi, radiologi dan penyakit dalam dari Universitas Utrecht dan putri saya Dr. Han Shiuw Huey. Anak-anak saya membiarkan aktivitas social saya ini karena mereka berpemandangan bahwa ini adalah kesenangan saya dan kembali hidup normal dan Shiuw Huey dapat mengawasi saya.

Sejak beberapa tahun lamanya aku telah menghubungkan berbagai universitas kedokteran RRT dengan universitas Utrecht, Alma Mater saya dan dengan sangat gembira disini saya dapat katakan bahwa kerja saya sebagai jembatan antar dua negara ini berjalan menurut rencana apa yang saya inginkan sebelumnya. Delegasi dari university of Qingdao, RRT telah datang ke Belanda dan kami mengantar mereka, juga saya berfungsi sebagai interpreter dalam pembicaraan kerja sama dengan rector dan dekan dari universitas kedokteran Utrecht. Pada dasarnya disetujui bahwa Yuhuangding university hospital of  Qing Dao sebagai permulaan dapat mengirim dua scientist ilmu kedokteran untuk research di Utrecht guna mendapatkan gelar Ph.D. secara gratis.  Semua ini sesudah mereka pulang ke Yan tai saya bicarakan matang matang dengan kepala bagian of interest dari fakultas Yan Tai, dan kami telah mengetahui nama-nama kedua dokter yang akan datang ke Belanda nanti sesudah kedatangan kami.

Sekarang adalah giliran kami untuk pergi ke RRT untuk perkenalan dan melihat rumah sakit academis disana. Saya selama ini sangat sibuk untuk tilpon dan kirim e-mail agar kepergian kami ini kali mendapatkan sukses. Dari pengalaman saya, saya percaya bahwa fihak RRT akan berupaya sebisanya agar delegasi kedokteran Belanda merasa puas dan gembira atas penerimaan fihak tuan ruamah. Kami berkunjung selama sepuluh hari di RRT, lima hari di Beijing dimana kami mendapatkan undangan untuk mengunjungi universitas Beijing dan membicarakan kerja sama selanjutnya, dan lima hari di Yan Tai, provinsi Shan-Dong.  Dengan yang terachir ini sebetulnya semua sudah beres hanya tinggal memperdalam persahabatan antara dua universitas sebagai tujuan utama.

Karena penyakitku, aku tidak tahu sampai berapa tahun lagi aku masih bisa hidup, karenanya saya telah hubungkan putra saya Han Kuo-Sen, dosen neurosurgery, dengan Shanghai, dan dia dengan guru besarnya bersama-sama pada bulan april yang baru lalu  berkunjung ke universitas Shanghai. Disana mereka memberi ceramah atas penyelidikan mereka mengenai operasi pembuluh darah (bypass) otak tanpa pembuluh darahnya diklem waktu operasi. Methode ini sangat menguntungkan karena tidak teburu-buru untuk menyelesaikan penyambungan bypass dalam waktu enam menit. Karena lebih dari enam menit kalau sebagaian daerah otak tidak mendapatkan saluran darah sel-sel otak didaerah ini akan mati. Sebetulnya oleh fihak tuan rumah diminta agar mereka mengerjakan operasi tersebut di rumah sakitnya, tetapi karena tidak membawah alat-alatnya, maka tidak dapat dikerjakan. Tetapi seorang ahli bedah otak dari Shanghai akan berkunjung ke Belanda.

Guru besar ahli bedah otak dan putraku sangat gembira dan puas atas penerimaan fakultas kedokteran Shanghai. Methode bypass ini telah dimuat dalam majallah kedokteran neurosurgery dunia dan beberapa ahli bedah otak dari USA dan Eropa Barat berdatangan untuk melihat operasi ini. Sekarang metode ini akan diselidiki untuk dilanjutkan pada bypass jantung.

Dengan demikian kalau sampai ada apa-apa pada diri saya kedua anak saya bisa meneruskan pekerjaan sebagai jembatan antar universitas-universitas dari kedua  negara ini. Pekerjaan ini saya anggap sebagai pekerjaan sosial dan aku tidak mengharepkan untuk menerima apa apa. Saya sudah merasa gembira apabila cita-cita saya ini bisa berhasil.

Sebetulnya aku dan kolega-kolega kami telah bertahun-tahun menghubungkan dengan fakultas kedokteran Alma Mater kami Airlangga, namun tidak bisa jalan dengan lancar, kalau kami tidak mengambil inisiatif tidak ada lanjutannya, ini kami rasakan sayang sekali. Padahal dari fihak Belanda mempunyai hubungan hsitoris dengan Indonesia dan mereka mau membantunya. Mungkin mereka bisa mencari hubungan sendiri melalui saluran yang ada antara hubungan Belanda dan Indonesia. Sewaktu saya di Indonesia saya mengunjungi beberapa universitas suasta di Surabaya agar mereka membuka fakultas kedokteran dan kalau ini bisa dibuka kami akan membantunya dengan betul-betul, karena di sini banyak orang-orang Tionghoa asal Indonesia, yang mempunyai keahlian diberbagai bidang kedokteran yang bersedia membantu. Tentang ini telah saya muat dalam artikel saya Petite Essay perjalanan kami pulang kekampung halaman masa remaja saya. Kalau ini juga bisa goal, maka saya kalau harus menutup mata untuk selamanya, akan kurasakan penuh dengan kepuasan dalam penghidupan saya didunia ini; saya dapat menyumbangkan tenaga saya pada tiga negara dimana cinta kasih saya mempunyai tempat yang tetap di hati saya

 

Dr. Han Hwie-Song

Breda, 24 September 2005  The Netherlands



SPONSORED LINKS
Indonesia Culture Chinese


YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise