Ke Republik Rakyat Tiongkok untuk
kerja sama medis universitas Belanda dan RRT
Hawa udara di Belanda sangat bagus sejak
beberapa minggu ini, banyak matahari, sedikit angin dan temperatur siang hari
antara 19 -22 derajat Celsius, kalau malam antara 5-7 derajat Celsius. Hawa yang
begini bagus jarang di dapat di Eropa Barat, biasanya banyak hujan dan sekali
lagi hujan. Hawa panas pada periode ini di achir musim panas di USA dinamakan
orang sebagai ?Indian Summer? dan di Belanda namanya ?na zomer weer.? Kalau pagi
belakangan ini banyak kabut dan bagi orang yang bekerja dengan mengendarai mobil
harus hati-hati karena penglihatan kurang jelas. Siang hari matahari cerah dan
di restoran dan cafetaria banyak orang yang duduk makan di luar cafetaria atau
resto dibawa matahari, apalagi pada hari-hari weekend. Toko-toko biasanya tidak
begitu ramai karena orang yang beristirahat biasanya ke pantai atau duduk di
cafetaria atau kebun rumah untuk minum bir, atau memanaskan diri dan wanita
berpakean bikini, yang terachir ini terutama pada hari-hari yang panas dan
temperatur meningkat sampai 30 derajat atau lebih.
Saya tidak pergi kemana-mana, berdiam
dirumah berjalan-jalan di kebun dan latihan Qigong selama tiga puluh menit
sampai satu jam lamanya. Saya juga memberi makan ikan dibarengi oleh cucu-cucuku
sambil melihat ikan-ikan di empang yang beraneka warna dan berkumpul diatas
kalau kita datang untuk memberi makanan. Dengan gesit ikan-ikan itu bergerak
diatas air, cepat menyikat makanan yang ku taburkan. Mereka berlompatan dengan
bebasnya dan penuh dengan tenaga kehidupan.
Karena sungsum tulang saya bekerjanya
kurang baik sebagai akibat chemoterapi, kurang membuat sel-sel darah putih
dan trombocyt, karenananya kami diberi istirahat sebulan setengah. Nanti
tanggal 19 oktober Chemoterapi akan dilanjutkan lagi. Maka ketika ?istirahat?ini
saya gunakan untuk hari minggu yang akan datang, tanggal 2 oktober,
berangkat ke Republik Rakyat Tiongkok dengan delegasi beberapa professor dari
bagian cardiologi, radiologi dan penyakit dalam dari Universitas Utrecht dan
putri saya Dr. Han Shiuw Huey. Anak-anak saya membiarkan aktivitas social saya
ini karena mereka berpemandangan bahwa ini adalah kesenangan saya dan kembali
hidup normal dan Shiuw Huey dapat mengawasi saya.
Sejak beberapa tahun lamanya aku telah
menghubungkan berbagai universitas kedokteran RRT dengan universitas Utrecht,
Alma Mater saya dan dengan sangat gembira disini saya dapat katakan bahwa kerja
saya sebagai jembatan antar dua negara ini berjalan menurut rencana apa yang
saya inginkan sebelumnya. Delegasi dari university of Qingdao, RRT telah datang
ke Belanda dan kami mengantar mereka, juga saya berfungsi sebagai interpreter
dalam pembicaraan kerja sama dengan rector dan dekan dari universitas kedokteran
Utrecht. Pada dasarnya disetujui bahwa Yuhuangding university hospital of
Qing Dao sebagai permulaan dapat mengirim dua scientist ilmu kedokteran
untuk research di Utrecht guna mendapatkan gelar Ph.D. secara gratis.
Semua ini sesudah mereka pulang ke Yan tai saya bicarakan matang matang dengan
kepala bagian of interest dari fakultas Yan Tai, dan kami telah mengetahui
nama-nama kedua dokter yang akan datang ke Belanda nanti sesudah kedatangan
kami.
Sekarang adalah giliran kami untuk pergi ke
RRT untuk perkenalan dan melihat rumah sakit academis disana. Saya selama ini
sangat sibuk untuk tilpon dan kirim e-mail agar kepergian kami ini kali
mendapatkan sukses. Dari pengalaman saya, saya percaya bahwa fihak RRT akan
berupaya sebisanya agar delegasi kedokteran Belanda merasa puas dan gembira atas
penerimaan fihak tuan ruamah. Kami berkunjung selama sepuluh hari di RRT, lima
hari di Beijing dimana kami mendapatkan undangan untuk mengunjungi universitas
Beijing dan membicarakan kerja sama selanjutnya, dan lima hari di Yan Tai,
provinsi Shan-Dong. Dengan yang terachir
ini sebetulnya semua sudah beres hanya tinggal memperdalam persahabatan antara
dua universitas sebagai tujuan utama.
Karena penyakitku, aku tidak
tahu sampai berapa tahun lagi aku masih bisa hidup, karenanya saya telah
hubungkan putra saya Han Kuo-Sen, dosen neurosurgery, dengan Shanghai, dan dia
dengan guru besarnya bersama-sama pada bulan april yang baru lalu
berkunjung ke universitas Shanghai. Disana mereka memberi ceramah atas
penyelidikan mereka mengenai operasi pembuluh darah (bypass) otak tanpa pembuluh
darahnya diklem waktu operasi. Methode ini sangat menguntungkan karena tidak
teburu-buru untuk menyelesaikan penyambungan bypass dalam waktu enam menit.
Karena lebih dari enam menit kalau sebagaian daerah otak tidak mendapatkan
saluran darah sel-sel otak didaerah ini akan mati. Sebetulnya oleh fihak tuan
rumah diminta agar mereka mengerjakan operasi tersebut di rumah sakitnya, tetapi
karena tidak membawah alat-alatnya, maka tidak dapat dikerjakan. Tetapi
seorang ahli bedah otak dari Shanghai akan berkunjung ke Belanda.
Guru besar ahli bedah otak dan putraku
sangat gembira dan puas atas penerimaan fakultas kedokteran Shanghai. Methode
bypass ini telah dimuat dalam majallah kedokteran neurosurgery dunia dan
beberapa ahli bedah otak dari USA dan Eropa Barat berdatangan untuk melihat
operasi ini. Sekarang metode ini akan diselidiki untuk dilanjutkan pada bypass
jantung.
Dengan demikian kalau sampai ada apa-apa
pada diri saya kedua anak saya bisa meneruskan pekerjaan sebagai jembatan antar
universitas-universitas dari kedua negara ini. Pekerjaan ini saya anggap
sebagai pekerjaan sosial dan aku tidak mengharepkan untuk menerima apa apa.
Saya sudah merasa gembira apabila cita-cita saya
ini bisa berhasil.
Sebetulnya aku dan kolega-kolega
kami telah bertahun-tahun menghubungkan dengan fakultas kedokteran Alma Mater
kami Airlangga, namun tidak bisa jalan dengan lancar, kalau kami tidak mengambil
inisiatif tidak ada lanjutannya, ini kami rasakan sayang sekali. Padahal dari
fihak Belanda mempunyai hubungan hsitoris dengan Indonesia dan mereka mau membantunya.
Mungkin mereka bisa mencari hubungan sendiri melalui saluran yang ada antara
hubungan Belanda dan Indonesia. Sewaktu saya di Indonesia
saya mengunjungi beberapa universitas suasta di Surabaya agar mereka membuka
fakultas kedokteran dan kalau ini bisa dibuka kami akan membantunya dengan
betul-betul, karena di sini banyak orang-orang Tionghoa asal Indonesia, yang
mempunyai keahlian diberbagai bidang kedokteran yang bersedia membantu. Tentang
ini telah saya muat dalam artikel saya Petite Essay perjalanan kami pulang
kekampung halaman masa remaja saya. Kalau ini juga bisa goal, maka saya kalau
harus menutup mata untuk selamanya, akan kurasakan penuh dengan kepuasan dalam
penghidupan saya didunia ini; saya dapat menyumbangkan tenaga saya pada tiga
negara dimana cinta kasih saya mempunyai tempat yang tetap di hati
saya
Dr. Han Hwie-Song
Breda, 24 September 2005 The Netherlands