|
Dalam acara "Pekan Seni Budaya < Menyingkap Tabir
Merajut Masa Depan> " yang akan diadakan mulai 19 September
hingga 5 Oktober 2005, saya tidak mendapatkan nama Sdr. Harsutejo sebagai
peserta ataupun sebagai penymbang acara. Ter-asosiasi pada tema "Sejarah yang
digelapkapkan"sebagai salah satu topik yang menjadi di acara Pekan tsb, dan juga
oleh resensi terhadap buku Sdr Harsutejo dalam tulisan dibawah ini, saya menjadi
agak keheran-heranan kalau Sdr, Harsutejo tidak diikut sertakan sacara
aktif dalam Pekan yang sangat penting dan menarik ini. Saya tidak menentang
sifat akademis maupun rentetan nama-nama akademisi dengan gelar mereka yang
dipasang. Itu bagus juga. Tapi kerendahan hati penulis buku :"G-30-S, SEJARAH
YANG DIGELAPKAN" janganlah hendaknya dianggap, begitulah mutu beliau seperti
yang diakuinya. Seseorang itu bisa bertitel tapi tidak memasang titielnya, atau
mungkin juga tidak bertitel tapi pikiran-pikirannya sama sekali tidak kalah
dengan seorang akademisi yang bertitel sekalipun. Saya telah membaca tulisa sdr.
Harsutejo. Kesan saya , pancaran pemikiran akademis beliau sangat jelas. Dan
saya sendiri salah seorang pengkritik tulisan beliau meskipun terbatas dalam
sebuah memoar sastra saya. Tapi saya menilai tinggi hasil karya Sdr, Harsutejo
dan itu adalah satu buku atau tulisan yang terbaik dan juga lengkap dengan
data-data yang bisa dipertanggunggung jawabkan sekitar sejarah yang digelapkan
peristiwa 65. Tapi ini baru keheranan, mungkin acara itu memang belum lengkap
dan kalau begitu, masih ada tempat bagi Sdr. Harsutejo untuk diundang memberikan
sumbangannya dalam Pekan yang pasti akan meriah ini. Dan bila keheranan saya
terhapuskan, anggaplah tulisan ini sebagai tidak pernah ada.
Salam dan selamat bekerja.
asahan aidit (penonton dari jauh).
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, September 21, 2005 9:49 AM
Subject: [wahana-news] G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN
RESENSI
BUKU
G-30-S, SEJARAH YANG
DIGELAPKAN
Setiap tahun atau tepatnya tanggal 30 September, kita teringat
kepada peristiwa G-30-S yang imbasnya adalah drama kemanusiaan, pembantaian
terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Angka pasti jumlahnya belum
disepakati, tetapi angka antara 500.000 s/d 3.000.000 manusia yang hilang
tercantum dari berbagai dokumen yang diketemukan. Korban terbesar adalah orang
yang tidak tahu menahu, atau paling tidak tercap stigmata komunis. Dan betapa "
jahat"nya komunis sudah kita saksikan melalui pemberitaan media massa Indonesia
selama 32 tahun. Terutama melalui film G-30-S/PKI yang merupakan lagu wajib
harus diputar oleh semua stasiun TV di Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun
berturut-turut.
Karena penyelesaiannya tidak
melalui peradilan, maka sampai sekarang terus timbul tanda tanya, bagaimana
peristiwa itu sampai terjadi ? Dan siapa-siapa terutama yang menjadi aktor
utamanya? Memang, rujukan itu ada dari buku putih terbitan sekretariat negara
ketika di bawah Moerdiono. Namun orang tahu buku itu bukan history, melainkan
his story, cerita tentang satu sisi saja untuk melanggengkan kekuasaan
Orde Baru. Contoh sudah dimulai ketika Pancasila, sebagai ideologi negara
dikatakan bukan penemuan Bung Karno, melainkan Moh. Yamin, dalam rangka
melenyapkan nama Bapak Proklamator Kemerdekaan RI. Dan paling jelas adalah "
serangan umum 1 Maret", nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianulir bukan
sebagai penggagas ide.
Harsutedjo, atau nama
lengkapnya adalah Harsono Sutedjo, menurut penerbitnya, ia seorang Muslim saleh
yang menjunjung tinggi Islam sebagai agamanya dari buaian sampai masuk liang
lahat. Berlatar belakang pendidikan S1 Sejarah IKIP Malang 1964, bekerja di
sebuah bank asing di Jakarta. Mempunyai modal pandai tulis menulis human interst
dengan berbagai penghargaan, sampai menjadi dosen tamu di Melbourne University
Australia. Ia menulis buku " G30S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN" 400 hal. Dan
diterbitkan oleh Hasta Mitra. Penerbit ini sebelumnya juga telah menerbitkan
DOKUMEN CIA,Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi
G30S.
Buku Harsutedjo tidak berpretensi sebagai
hasil penelitian ilmiah. Malahan dengan rendah hati ia menyebut diri sebagai
penyusun. Uraiannya merupakan sebuah kompilasi yang dirangkum dari
berpuluh-puluh sumber literatur dan hasil wawancara dengan mereka yang berkaitan
dengan G30S. Kerajinannya ini membuahkan buah tangan sebuah buku bacaan, jika
dibaca bak sebuah narasi yang lancar. Dan kerendahan hati juga terpancar dengan
pernyataan bahwa buku ini bukan bermaksud untuk meluruskan sejarah. Sebagai buku
bacaan umum, enak dibaca, terutama kepada mereka yang menggemari
sejarah.
SIAPA DALANGNYA
? Dalam bab Tinjauan Kejadian, Harsutejo
menulis secara jelas dan rinci dari berbagai dokumen, a.l. dokumen siaran RRI
tanggal 1 dan 4 Oktober 1965. Tgl.1 Oktober pkl.13.00 dari pihak G30S tentang
penurunan dan penaikan pangkat yang ditandatangani oleh Letkol. Untung. "
karena Gerakan 30 September pada dasarnya adalah gerakan daripada prajurit
bawahan, terutama daripada tamtama dan bintara, maka dengan ini dinyatakan,
bahwa semua tamtama dan bintara daripada semua Angkatan Bersenjata RI yang
mendukung Gerakan 30 September dinaikkan satu tingkat lebih tinggi daripada
sebelum tanggal 30 September 1965.
Dokumen
kedua pidato Mayjen.Soeharto tanggal 4 Oktober,…..tidak mungkin tidak ada
hubungan dengan peristiwa ini daripada oknum oknum daripada
anggota AURI. Oleh sebab itu saya sebagai warga daripada anggota AD
mengetok jiwa perasaan daripada patriot anggota AU bilamana benar-benar
ada oknum oknum yang terlibat dengan pembunuhan yang kejam daripada
para Jenderal kita yang tidak berdosa ini saya mengharapkan agar supaya para
patriot anggota AU membersihkan juga daripada anggota anggota AU yang
terlibat.
Siapa pemilik gaya bahasa
daripada yang pada waktu itu memang kurang lazim, namun kemudian selama
32 tahun lebih kita akrabi sebagai gaya bahasa seorang pemimpin tertentu. Ini
hanya sebagian kecil dari sekian puluh kompilasi fakta, yang satu sama lain
dihubungkan sehingga menjadi bahan renungan maupun untuk mengetahui fakta yang
terjadi.
Banyak buku tentang sekitar G30S yang
sudah saya baca, baik pengalaman pribadi para korban, artikel-artikel di
majalah/koran, maupun nonton film yang semua benang merahnya adalah untuk
menguak, apa sebenarnya yang terjadi waktu itu beserta latar belakangnya. Sudah
waktunya generasi penerus diberi catatan dan dokumen sebagai sumber sejarah,
pengetahuan seputar G30S jangan terus menerus dijejali masih banyaknya fungsi
kepada ingatan, remembered history. Terlebih-lebih ala film Orba yang
selalu diputar terus menerus selama 15
tahun.
Bagaimanapun sebuah kebohongan akhirnya
akan terkuak. Sejarah mencatat, rezim-rezim otoriter masa lalu seperti Stalin,
diktator Rusia, meskipun berhasil menjadi pemenang dari segala kebohongan,
tetapi ia tidak mampu memonopoli penulisan kembali sejarah. Membaca buku
Harsutedjo, sesuatu kita kenang karena ada maknanya. Apalagi di alam kebebasan
ini, informasi adalah raja. Kaya informasi berarti kekayaan akan wawasan
sehingga tidak mudah tertipu. (IGS)
YAHOO! GROUPS LINKS
|