logo       

Fw: [wahana-news] G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN: msg#00287

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Fw: [wahana-news] G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN

Dalam acara "Pekan Seni Budaya < Menyingkap Tabir Merajut Masa Depan> " yang  akan diadakan  mulai 19 September hingga 5 Oktober 2005, saya tidak mendapatkan nama Sdr. Harsutejo sebagai peserta ataupun sebagai penymbang acara. Ter-asosiasi pada tema "Sejarah yang digelapkapkan"sebagai salah satu topik yang menjadi di acara Pekan tsb, dan juga oleh resensi terhadap buku Sdr Harsutejo dalam tulisan dibawah ini, saya menjadi agak keheran-heranan  kalau Sdr, Harsutejo tidak diikut sertakan sacara aktif dalam Pekan yang sangat penting dan menarik ini. Saya tidak menentang sifat akademis maupun rentetan nama-nama akademisi dengan gelar mereka yang dipasang. Itu bagus juga. Tapi kerendahan hati penulis buku :"G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN" janganlah hendaknya dianggap, begitulah mutu beliau seperti yang diakuinya. Seseorang itu bisa bertitel tapi tidak memasang titielnya, atau mungkin juga tidak bertitel tapi pikiran-pikirannya sama sekali tidak kalah dengan seorang akademisi yang bertitel sekalipun. Saya telah membaca tulisa sdr. Harsutejo. Kesan saya , pancaran pemikiran akademis beliau sangat jelas. Dan saya sendiri salah seorang pengkritik tulisan beliau meskipun terbatas dalam sebuah memoar sastra saya. Tapi saya menilai tinggi hasil karya Sdr, Harsutejo dan itu adalah satu buku atau tulisan yang terbaik dan juga lengkap dengan data-data yang bisa dipertanggunggung jawabkan sekitar sejarah yang digelapkan peristiwa 65. Tapi ini baru keheranan, mungkin acara itu memang belum lengkap dan kalau begitu, masih ada tempat bagi Sdr. Harsutejo untuk diundang memberikan sumbangannya dalam Pekan yang pasti akan meriah ini. Dan bila keheranan saya terhapuskan, anggaplah tulisan ini sebagai tidak pernah ada.
Salam dan selamat bekerja.
asahan aidit (penonton dari jauh).
 
 
----- Original Message -----
From: HKSIS
Sent: Wednesday, September 21, 2005 9:49 AM
Subject: [wahana-news] G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN

RESENSI BUKU

G-30-S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN

Setiap tahun atau tepatnya tanggal 30 September, kita teringat kepada peristiwa G-30-S yang imbasnya adalah drama kemanusiaan, pembantaian terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Angka pasti jumlahnya belum disepakati, tetapi angka antara 500.000 s/d 3.000.000 manusia yang hilang tercantum dari berbagai dokumen yang diketemukan. Korban terbesar adalah orang yang tidak tahu menahu, atau paling tidak tercap stigmata komunis. Dan betapa " jahat"nya komunis sudah kita saksikan melalui pemberitaan media massa Indonesia selama 32 tahun. Terutama melalui film G-30-S/PKI yang merupakan lagu wajib harus diputar oleh semua stasiun TV di Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun berturut-turut.

    Karena penyelesaiannya tidak melalui peradilan, maka sampai sekarang terus timbul tanda tanya, bagaimana peristiwa itu sampai terjadi ? Dan siapa-siapa terutama yang menjadi aktor utamanya? Memang, rujukan itu ada dari buku putih terbitan sekretariat negara ketika di bawah Moerdiono. Namun orang tahu buku itu bukan history, melainkan his story, cerita tentang satu sisi saja untuk melanggengkan kekuasaan Orde Baru. Contoh sudah dimulai ketika Pancasila, sebagai ideologi negara dikatakan bukan penemuan Bung Karno, melainkan Moh. Yamin, dalam rangka melenyapkan nama Bapak Proklamator Kemerdekaan RI. Dan paling jelas adalah " serangan umum 1 Maret", nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianulir bukan sebagai penggagas ide.

    Harsutedjo, atau nama lengkapnya adalah Harsono Sutedjo, menurut penerbitnya, ia seorang Muslim saleh yang menjunjung tinggi Islam sebagai agamanya dari buaian sampai masuk liang lahat. Berlatar belakang pendidikan S1 Sejarah IKIP Malang 1964, bekerja di sebuah bank asing di Jakarta. Mempunyai modal pandai tulis menulis human interst dengan berbagai penghargaan, sampai menjadi dosen tamu di Melbourne University Australia. Ia menulis buku " G30S, SEJARAH YANG DIGELAPKAN" 400 hal. Dan diterbitkan oleh Hasta Mitra. Penerbit ini sebelumnya juga telah menerbitkan DOKUMEN CIA,Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S.

    Buku Harsutedjo tidak berpretensi sebagai hasil penelitian ilmiah. Malahan dengan rendah hati ia menyebut diri sebagai penyusun. Uraiannya merupakan sebuah kompilasi yang dirangkum dari berpuluh-puluh sumber literatur dan hasil wawancara dengan mereka yang berkaitan dengan G30S. Kerajinannya ini membuahkan buah tangan sebuah buku bacaan, jika dibaca bak sebuah narasi yang lancar. Dan kerendahan hati juga terpancar dengan pernyataan bahwa buku ini bukan bermaksud untuk meluruskan sejarah. Sebagai buku bacaan umum, enak dibaca, terutama kepada mereka yang menggemari sejarah.

SIAPA DALANGNYA ?
    Dalam bab Tinjauan Kejadian, Harsutejo menulis secara jelas dan rinci dari berbagai dokumen, a.l. dokumen siaran RRI tanggal 1 dan 4 Oktober 1965. Tgl.1 Oktober pkl.13.00 dari pihak G30S tentang penurunan dan penaikan pangkat yang ditandatangani oleh Letkol. Untung. " karena Gerakan 30 September pada dasarnya adalah gerakan daripada prajurit bawahan, terutama daripada tamtama dan bintara, maka dengan ini dinyatakan, bahwa semua tamtama dan bintara daripada semua Angkatan Bersenjata RI yang mendukung Gerakan 30 September dinaikkan satu tingkat lebih tinggi daripada sebelum tanggal 30 September 1965.

    Dokumen kedua pidato Mayjen.Soeharto tanggal 4 Oktober,…..tidak mungkin tidak ada hubungan dengan peristiwa ini daripada oknum oknum daripada anggota AURI. Oleh sebab itu saya sebagai warga daripada anggota AD mengetok jiwa perasaan daripada patriot anggota AU bilamana benar-benar ada oknum oknum yang terlibat dengan pembunuhan yang kejam daripada para Jenderal kita yang tidak berdosa ini saya mengharapkan agar supaya para patriot anggota AU membersihkan juga daripada anggota anggota AU yang terlibat.

    Siapa pemilik gaya bahasa daripada yang pada waktu itu memang kurang lazim, namun kemudian selama 32 tahun lebih kita akrabi sebagai gaya bahasa seorang pemimpin tertentu. Ini hanya sebagian kecil dari sekian puluh kompilasi fakta, yang satu sama lain dihubungkan sehingga menjadi bahan renungan maupun untuk mengetahui fakta yang terjadi.

    Banyak buku tentang sekitar G30S yang sudah saya baca, baik pengalaman pribadi para korban, artikel-artikel di majalah/koran, maupun nonton film yang semua benang merahnya adalah untuk menguak, apa sebenarnya yang terjadi waktu itu beserta latar belakangnya. Sudah waktunya generasi penerus diberi catatan dan dokumen sebagai sumber sejarah, pengetahuan seputar G30S jangan terus menerus dijejali masih banyaknya fungsi kepada ingatan, remembered history. Terlebih-lebih ala film Orba yang selalu diputar terus menerus selama 15 tahun.

    Bagaimanapun sebuah kebohongan akhirnya akan terkuak. Sejarah mencatat, rezim-rezim otoriter masa lalu seperti Stalin, diktator Rusia, meskipun berhasil menjadi pemenang dari segala kebohongan, tetapi ia tidak mampu memonopoli penulisan kembali sejarah. Membaca buku Harsutedjo, sesuatu kita kenang karena ada maknanya. Apalagi di alam kebebasan ini, informasi adalah raja. Kaya informasi berarti kekayaan akan wawasan sehingga tidak mudah tertipu. (IGS)



YAHOO! GROUPS LINKS




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise