logo       

KISAH SERBA-SERBI ( Ibu Saya - bagian empat ): msg#00270

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: KISAH SERBA-SERBI ( Ibu Saya - bagian empat )

Sobron Aidit :



K I S A H S E R B A - S E R B I
( Ibu Saya - bagian empat )


Ada masa-masa ibu saya dalam keadaan yang sangat sedih - kesal dan termasuk
menangis berkepanjangan. Ketika itu yang saya lihat ada "masa-masa gila bagi
bapak-bapak" yang berkedudukan di pemerintahan. Yang saya sebutkan masa gila
itu adalah masa di mana para bapak-bapak - pemimpin - pembesar pada punya
istri lebih dari satu. Contoh yang paling mudah dan terlihat nyata adalah
Presiden sendiri. Ketika itu Presiden mempesunting nyonya Hartini. Jadi
ketika itu resminya Presiden punya istri lebih dari satu. Lalu banyak lagi
para bapak-bapak - anggota eksekutif lainnya maupun anggota legislatif yang
juga pada ramai-rami punya istri baru.

Nah, penyakit ini menjangkiti ayah saya. Diam-diam ayah sayapun punya istri
baru. Dan saya sudah melihatnya sudah menyaksikannya. Istri barunya itu
dengan terang-terangan dibawanya ke rumah kami di Kepu Selatan. Bukan main
ibu saya sedihnya dan marahnya dan kesal-bencinya kepada ayah. Kami
anak-anaknyapun sangat marah. Bang Amat - yang Ketua Partai itu sudah tentu
sangat terpukul melihat dan mengetahui ayahnya punya kelakuan seperti itu.
Dan lalu merembetlah ke soal-soal lain. Istri Bang Amat, kak Tanti yang
dokter itu, juga ada kekuatiran kalau-kalaui Bang Amatpun juga akan
mengikuti kelakuan ayahnya! Kami anak-anaknya menjadi satu front menentang
ayah kami!

Dan saya sangat marah dan sangat sedih dan sangat malu - punya ayah yang
memiliki istri baru. Dan istrinya itu tidak lebih cantik dari ibu saya - dan
tidak sangat lebih muda dari ibu saya. Dan termasuk tak ada peningkatan yang
akan mengangkat ayah ke tingkat yang lebih atasan! Sebab yang saya lihat dan
yang saya tahu - ibu-baru itu adalah orang desa - pemakan sirih - seperti
ibu juga dan sudah di atas 40-an, siapa tahu sudah 50-an. Orang Sunda dari
Sumedang - barangkali dapat pesan dari orang-orang desa dari Sumedang -
siapa tahu.

Ibu saya menangis sangat sedih dan merasa sangat benci kepada ayah.
Keheranan saya bertambah segunung karena pernah saya lihat ibu saya sedang
bercakap-cakap dengan ibu-baru itu. Ini satu hal yang aneh! Mereka berdua
pernah sama-sama makan sirih di ruangan tengah dan bercakap-cakap biasa -
bukannya saling memaki atau ngomel atau melampiaskan kemarahannya. Lama saya
endapkan rasa keheranan saya ini. Tetapi ketika saya tanyakan kepada ibu
saya - jawabannya sangat mengherankan saya. " Aku bukan sangat membenci dia
- tapi sangat membenci ayahmu itu. Dia kan yang sangat bersalah kenapa mau
memadukan aku. Dan aku tidak mau dimadu! Sekali-kali aku tidak mau dimadu!
Aku sudah minta cerai. Selekasnya minta cerai!", demikian kata ibu suatu
kali ketika kami berdua ibu dan ibu sambil menangis.

Melihat keadaan ini semangat saya mau brontak menentang ayah semakin
menjadi-jadi! Entah setan mana yang sudah merasuki tubuh dan jiwa saya.
Diam-diam saya punya tekad buat membunuh ayah! Sudah saya siapkan sebuah
belati yang tajam-runcing - sudah saya asah di belakang rumah. Tekad saya
hanya satu - pabila ayah tidak menceraikan istri-barunya itu - ayah akan
saya bunuh. Dan tekad ini rasanya ketika itu sudah bulat! Ayah harus
mengusir dan mengembalikan wanita istri-baru-nya itu - dan menceraikannya
secara total! Kalau tidak - alamat akan ada pertumpahan darah di rumah ini!
Rupanya diam-diam ibu saya mengetahui rencana saya ini. Dan ibu tidak setuju
dengan cara pembunuhan begitu - kata ibu - itu bukan cara kita orang Islam,
demikian kata ibu kepada saya. Oleh
beberapa nasehat ibu itu ada sedikit penurunan dalam tekad-semangat saya mau
membunuh ayah. Tetapi semua tekad awal-mulanya itu, tetap akan saya
bentangkan sama ayah! Sedikitpun tak ada rasa takut saya sama ayah walaupun
dia terkenal sangat garang - sangat galak kepada kami. Dan itu dulunya
ketika kami masih kecil. Tapi sekarang - ketika itu usia saya sudah 18 ke 19
tahun. Dan saya sudah bertumbuh menjadi pemuda yang kuat - sehat dan sangat
suka berolahraga.

Kepada ayah sudah saya katakan terang-terangan.
"Kalau kamu tidak menceraikan istri-baru kamu itu, boleh rasakan akan
akibatnya! Akan ada pertumpahan darah di rumah ini. Dan paling besar
kemungkinan kamulah yang akan menjadi korban. Aku tidak tahan melihat
penderitaan ibuku - beliau yang begitu setia hidup bersama kita selama
belasan tahun- bahkan puluhan tahun ini, tiba-tiba saja mau kamu perduakan -
jadikan istri kedua kamu!",- begitulah kata saya dengan sangat keras dan
marah kepada ayah. Saya tidak berkata dengan memanggil ayah lagi - tetapi
saya sebutkan nama "kamu". Saya sudah tak sempat berpikir - apakah dengan
begitu saya akan bertambah berdosa atau akan masuk neraka. Persetan yang
namanya dosa dan neraka - pokoknya saya membela ibu saya yang sangat saya
cintai - habis perkara. Saya tidak tahan melihat ibu menangis setiap hari -
mengisak terus-terusan. Padahal ibu sudah dengan keras minta cerai dari
ayah. Ketika itu adik saya - Asahan-pun berada satu front dengan saya dan
kami anak-anak ayah. Tetapi saudara saya yang lainnya - tentu saja tidak
seperti saya kerasnya - mungkin mereka masih pakai akal - sedangkan saya
ketika itu semata-mata hanya pakai perasaan dan pakai emosi yang
melonjak-lonjak saja!

Keadaan begini menurut saya tidak boleh berlangsung lama, sebab ibu saya
sangat menderita dan wanita istri-baru ayah itu belum juga pergi dari rumah
kami. Lagi-lagi sebuah ultimatum saya lontarkan kepada ayah. Dengan ancaman
dalam hari-hari ini di rumah ini akan ada perkelahian - bahkan pembunuhan.
Hal ini sekiranya ayah saya belum juga mengambiul keputusan dengan apa yang
saya ultimatumkan. Dan ayah minta agar diberi waktu satu dua hari ini. Saya
katakan - lebih dari 48 jam, tidak juga ada perubahan buat mengembalikan ibu
saya pada kedudukannya yang lama - sebelum ada wanita istri-baru-nya itu,
ultimatum akan dilaksanakan - dan sambil mengatakan kata-kata itu, saya
lemparkan sebuah pisau-belati yang tajam-runcing ke atas sebuah meja kayu
yang ada di ruangan tengah rumah kami. Dan pisau itu menancap di tengah meja
itu! Dan ayah terkejut dan mungkin ada juga rasa takutnya. Dan saya menjadi
tambah berani - semua ini dalam rangka membela ibu saya dan membela
kehidupan kami sekeluarga seutuhnya,-


---------------------------------------------------------------------------

Paris,- 21 september 05,-




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/







<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise