logo       

Re: Mengapa harus mengharamkah istilah Pribumi dan Non Pribumi?: msg#00169

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Re: Mengapa harus mengharamkah istilah Pribumi dan Non Pribumi?

Kawan-kawan sekalian yang budiman,

Jadi makin menarik diskusi kita mengenai istilah "Pribumi" dan
"Non-Pribumi" ini. Tapi, saya tidak melihat adanya perbedaann hakiki diantara
kita. Ini perasaan saya dari yang tersirat dalam kata-kata yang ada, ya.

Kalau boleh saya katakan, bung Asahan yang menentang diharamkannya
penggunaan istilah "Pribumi" dan "Non-Pribumi" tidak dengan demikian berarti
menyetujui diskriminasi rasial, yang anti Tionghoa. Juga sebaliknya,
kawan-kawan lain (termasuk saya) yang menyetujui dihentikan penggunaan istilah
"Pribumi" dan "Non-Pribumi" ini tidak berarti berdiri dipihak mantan Presiden
Habvibie, kelanjutan pemerintah Orba Soeharto itu.

Cobalah kita fokuskan kembali pada istilah "Pribumi" itu lebih dahulu.
Tidak ada diantara kita yang menentang pengertian secara bahasa, "Pribumi"
adalah netral, tidak sedikitpun ada pengertian negatif. Istilah "Pribumi"
menjadi masalah justru karena dipolitisir untuk menyudutkan sekelompok warga,
khususnya kelompok etnis Tionghoa. Dan sampai disini, semua pihak yang berdebat
sama-sama mengakui kebenaran ini. Saya sejak awal, dalam tulisan pertama
"Pribumi & Non-Pribumi" sudah menyatakan:

"Dan jelas, istilah Pribumi dan Non Pribumi adalah istilah politis yang
dipergunakan Pemerintah Kolonial Belanda dan Pemerintah Orde baru dengan
maksud untuk memecah belah golongan penduduk di negara Indonesia dan
melanggengkan kekuasaanya."

Coba, lebih lanjut kita perhatikan betul istilah "Pribumi" dan sebutan
"Non-Pribumi" yang ditujukan pada etnis Tionghoa ini, bagaimanapun juga tidak
bisa dibenarkan. Siapa yang berhak menyandang "Pribumi" di Nusantara ini?
Karena kenyataan mayoritas mutlak penghuni Nusantara ini adalah juga
"pendatang" dari daerah Yunan sana, penghuni yang masih bisa dikatakan
"Pribumi", yang masih asli adalah kelompok Negroid dan Wedoid yang berkulit
kehitam-hitaman dan berambut keriting dan sekarang menetap di Nusatenggara dan
Irian itu. Jadi, dalam pengertian dimana kita semua sama-sama "pendatang", yang
berbeda hanya waktu, sebagian lebih dahulu dan yang belakangan, pengkategorian
"Pribumi" dan "Non-Pribumi" selama ini jelas adalah salah! Dan kalau kita sudah
tahu salah, kenapa harus diteruskan? Apalagi jelas, penggunaan istilah
"Pribumi" dan "Non-Pribumi" ini sebagai salah satu alasan untuk mend
iskriminasi sekelompok warga yang etnis Tionghoa, dengan puncak kerusuhan yang
meletus Mei '98 itu.

Lalu, kalau kita tarik lebih lanjut penggunaan istilah Pribumi dan Non
Pribumi dengan selalu mempertentangkan yang "Pribumi" dan "Non-Pribumi", maka
jelas akan menimbulkan perpecahan bangsa Indonesia karena :
- Orang-orang Aceh akan mengatakan bahwa Aceh mereka adalah Pribumi sedangkan
pendatang dari luar Aceh seperti suku Batak, Minang, Jawa, dan lain-lain adalah
Non Pribumi.

- Orang-orang Betawi akan mengaatakan bahwa di Jakarta mereka adalah Pribumi
sedangkan pendatang dari luar Jakarta seperti suku Aceh, Batak, Minang, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya adalah Non Pribumi.


- Orang-orang Papua akan mengatakan bahwa di Papua mereka adalah Pribumi
sedangkan pendatang dari luar Papua seperti suku Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan
lain-lain adalah Non Pribumi.


- Orang-orang Dayak di Kalimantan akan mengatakan di Kalimantan Barat mereka
adalah Pribumi sedangkan pendatang dari luar Kal-Bar seperti suku Jawa, Madura,
dan lain-lain adalah non Pribumi.



Untuk apa kita membuat masyarakat yang kenyataan plural dan majemuk di
Nusantara ini terpecah-pecah dengan selalu mengkotak-kotakan menjadi "Pribumi"
dan "Non-Pribumi"? Siapa sesungguhnya yang "Pribumi", siapa yang "Non-Pribumi"?
Bukankah jauh lebih baik dan akan lebih sehat, seandainya kita semua yang
berbeda-beda itu, baik beda warna kulit, beda suku, beda etnis dan beda agama,
semua bisa hidup rukun ber-damai-damai, bersama-sama membangun masyarakat ini
lebih baik lagi, bersama-sama memusatkan segenap energi dan perhatian mendorong
maju ekonomi yang nyaris bangkrut ini.



Dan hendaknya janganlah kita trapkan semboyan yang pernah diteriakkan jaman
RBKP (Revolusi Besar Kebudayaan Proletar) di Tiongkok dahulu: "Apa yang
ditentang musuh, kita sokong. Apa yang yang disokong musuh, kita tentang". Saya
yakin semboyan itu hanya berlaku pada masalah pendirian, dan tidak berlaku
secara umum dalam soal-soal praktis. Jadi, jangan kita menentang mengharamkan
penggunaan istilah "Pribumi" hanya karena itu instruksi Mantan Presiden Habibie
yang kelanjutan pemerintah Orba. Juga jangan karena masih menyetujui pengunaan
istilah "Pribumi" lalu dikatakan rasis anti-Cina.



Tidak mesti begitu.



Salam,

ChanCT



----- Original Message -----
From: BISAI
To: BUDAYA TIONGHUA ; WAHANA
Sent: Thursday, September 15, 2005 7:59 AM
Subject: Fw: [budaya_tionghua] Re: Mengapa harus mengharamkah istilah Pribumi
dan Non Pribumi?


Saudara Zhou Fy dan Saudara Mayat yang terhormat.
Bila seseorang mengatakan kepada saya:"dasar pribumi!!" meskipun yang
dimaksudkan seseorang( umpamanya seorang asing yang suka menghina kita secara
historis) adalah barbar, maka saya tidak akan marah, saya tidak tersinggung.
Mengapa saya harus marah dan tersinggung. Pribumi adalah identitas Antroplogis
saya. Memang saya seorang pribumi meskipun saya tidak bangga sedikitpun
menerima takdir yang tidak bisa saya tolak itu. Tapi siapa saja yang mengatai
saya:"dasar barbar!!" meskipun dengan maksud baik, saya pasti akan bertindak
lain. Saya setuju sekali dengan anda bahwa kata <pribumi> telah di distorsi
oleh Orba secara sangat serius seperti juga sama halnya dengan kata <Cina>.
Pendistorsian inilah yang saya tentang . Tapi bukan dengan cara mengharamkan
kata yang telah dicemari itu. Pada hakekatnya sangat banyak orang menentang
pengharaman kata <pribumi> , secara sadar atau tidak sada
r, spontan maupun nuchter. Yang melakukan pengharaman itu adalah Orba, mesin
politiknya Suharto dan bukan rakyat Indonesia. Mengapa Suharto dan Orbanya
berbuat demikian?. Sejak pembantaian Suharto terhadap PKI dan rakyat Indonesia
yang tidak bersalah yang mulai di tahun 1965 itu, Suharto ingin menyaring etnis
Cina dengan tangguk rapat yang hampir-hampir tak tembus air untuk membedakan
antara etnis Cina yang dia sangka ikut PKI, simpatisan komunis, simpatisan
negeri dan Partai Komunis Cina, dengan Cina yang masih bisa dia pakai yang
tentu saja pertama-tama yang kaya-kaya atau yang super kaya, yang bukan
Komunis, yang tidak ber-orientasi ke Cina Daratan atau PKC. Hasil penyaringan
itu, saya sebut saja satu nama untuk sementara, seperti yang kita kenal yang
telah bernama Bob Hasan dan tentu saja masih banyak yang lainnya yang yang
sekelas kakap seperti Bob Hasan untuk dijadikan Suharto
menjadi para bendahara pribadinya. Suharto itu tidak bodoh seperti yang
disangka sebagian orang, dia tahu dia tidak mungkin bicara soal atau mengelola
ekonomi Indonesia tanpa para kapitalis Besar Cina yang kaya pengalaman, sukses
dan lebih m!
udah dik
endalikan karena bukan pribumi. Sedangkan waktu itu boleh dikatakan,
Indonesia tidak punya kapitalis kakap yang sesunguhnya dan hanya memproduksi
kapitalis birokrat yang bodoh berdagang tapi lihai mengeruk uang tanpa kerja
dan susah payah. Tapi tentu saja Suharto tidak mau menggunakan terlalu banyak
dan memberikan kesempatan kepada para kapitalis Cina saja. Itu akan menimbulkan
kecemburuan di kalangan kroni-kroninya sendiri dan juga para pengusaha pribumi
yang ingin berhasil tapi mendapatkan saingan yang maha berat bila harus
bersaing dengan para kapitalis kakap dari etnis Cina. Dengan kata lain Suharto
telah membikin kontradiksinya sendiri yang mana yang harus diistimewakan( baca:
didiskriminasi).Sekali lagi dia seorang licik, lihai, cerdik dan juga tidak
bodoh. Sambil memelihara dan menggunakan Bob Hasan dan sebangsanya, sambil juga
mendiskriminir
antara pengusaha pribumi dan pengusaha Cina. Cina yang mulai dari yang miskin
hingga agak kaya dia babat, yang miskin dia tuduh komunis untuk dibabat dan
ahirnya sebagian terbesar dari etnis Cina menderita diskriminasi. Dia (Orba)
lalu menyebarkan kata yang telah dia beri racun: "PRIBUMI DIPERAS, DIJAJAH,
OLEH NON PRIBUMI" dan dijadikannya sebagai psikologi massa yang bermakna: "Cina
musuh orang Indonesia melalui penjajahan ekonomi". Akibat dari penyebaran
psikologi massa yang beracun itu dengan sendirinya telah menyuluh kerusuhan
atau teror rasial anti Cina sebagaimana yang antara lain, kita kenal ngerinya
di bulan Mei 1998. Sesudah kejatuhannya(Suharto), dia menunjuk Habibi sebagai
penggantinya. Kita tahu Habibi seorang cendekiawan yang betul-betul pintar,
tapi juga tidak semata cuma pintar, ia juga lihai dan licik. Akibat dari
kerusuhan terror rasial 98, banyak kapitalis dan pengus
aha besar Cina kelas kakap lari ker luar negeri, seperti yang kita kenal ,dan
tahulah dia, apa itu artinya bagi ekonomi Indonesia yang telah dihancurkan
Suharto hingga mendekati angka nihil. Untuk memperbaiki sedikit muka Indonesia
yang sudah coreng moreng itu di mata dunia dan juga muka dirinya , maka
keluarlah dia punya instruksi untuk mengharamkan kata < pribumi> dan sebagai
analogi tentu saja kata <Non pribumi>. Indah kedengarannya bukan?. Habibi bisa
diangkat jadi pahlawan anti rasialist yang ingin menghapus rasialisme anti Cina
di Indonesia hanya dengan dua buah kata <pribumi> dan <non pribumi> harus
menghilang dari kamus perbendaharaan kata bahasa Indonesia karena menurut dia
berbau rasialis dan dengan maksud agar kembali menanamkan psikologi massa bahwa
timbulnya rasiais atau pun penyebab rasialisme di Indonesia adalah karena kata
<pribumi> dan <non pribumi> dan bukan karena w
atak rasialis yang sesungguhnya dari Suharto dan Orbanya. Cerdik bukan? Dan
bukan hanya cerdik, pandai dan lihai, tapi juga ada orang yang mempercayainya,
seperti sebagian dari golongan anda hingga sekarang ini.Penyebab kerusuhan
rasialis maup!
un rasil
aisme menurut mereka, bukan di hati dan tindakan Suharto, bukan pada manusia
dan oleh manusia, bukan oleh Suharto dan tentu saja bukan oleh Habibi tapi oleh
sebuah kata: < <PRIBUMI>. Di sinilah juga yang saya maksudkan perkosaan kata,
korupsi kata, penghianatan terhadap kata dan yang lebih serius lagi,menjadi
diktator bahkan di dalam sebuah kamus.Dan tentu saja tidak semata cuma itu,
tapi kata telah dijadikan tameng untuk berdemagogi bagi menipu rakyatnya yang
selalu mereka anggap bodoh dan memang sengaja mereka bodohkan itu setiap hari
hingga saat ini. Saya tidak sependirian dengan anda maupun dari segolongan yang
berpikir seperti anda dalam hal ini. Saya kembali ke hakekat kata, kepada
semantika dasar yang belum diracuni dan saya tidak bersedia jadi budak Suharto
maupun Habibi untuk turut-turut mengharamkan kata yang tidak berdosa, apalagi
sebuah kata yang sangat berdekatan dengan is
tilah ilmiah ilmu Antropologi. Kata <pribumi> bagi saya sama nilainya dengan
kata <Cina> karena dua-duanya adalah sebuah identitas Antropologis, Geografis
seseorang. Siapa yang akan memberikan arti positif atau negatif itu terserah
saja. Dan jangan lupa, kebanyakan kata mempunyai sejarah etimologi-nya sendiri
yang tidak dibikin bikin tapi oleh hasil proses yang wajar yang diterima oleh
masyararakat bahasa terbesar sesuatu nasion. Habibi dan Suharto, terlalu kecil
untuk dianggap wakil masayarkat bahasa terbesar dari bangsa Indonesia. Dia
ingin membikin etimologi dan semantika-nya sendiri di bidang bahasa demi untuk
kepentingan politik yang busuk. Itu terlalu naif, sama naifnya dengan
keinginannya untuk jadi peresiden seumur hidup. Tapi bila dengan pernyataan ini
saya akan tetap kalian( yang saya maksud sebagian dari kalian) cap anti Cina
dan kalian telah begitu bertekad untuk memaksa
saya agar "anti Cina" atau "rasialist", sayapun akan berusaha mengabulkan
harapan kalian yang begitu teguh dan kukuh tidak mundur setapakkpun. Tapi
kalian tidak bisa memaksa saya, agar saya anti semua Cina, anti bangsa Cina.
Saya sudah sangat!
sering
bilang memang saya tidak suka sama Cina jelek, sama tidak sukanya dengan
pribumi yang jelek. Dan seperti juga telah saya bilang, memang di Indonesia
ada dua jenis Cina: yang baik dan yang jelek. Saya memilih etnis Cina yang
merakyat, yang baik, yang dengan sungguh-sungguh ingin jadi orang Indonesia dan
bukan setengah-setengah sambil mendua hati. Cina yang tahu hak-haknya sebagai
warga Indonesia yang sederajat dengan yang lain-lainnya dan bukan cuma suka
pasang radar super sensitif untuk membaui setiap tubuh pribumi apakah berbau
"anti Cina" untuk dikasi vonnis: "rasialist!!!". Saya percaya, bahkan di antara
kalian, cukup banyak orang yang masih bisa berpikir waras bahkan baik dan
sangat baik. Sia-sia kalian menuduh saya anti Cina, tanpa dasar, tanpa argumen
yang masuk akal. Kalau hanya pribadi saya, saya tidak akan anti Cina kalau
hanya dari stempel yang kalian berikan, tapi orang
lain , sangat mungkin, yang akan menambah musuh kalian semakin banyak saja
menimbang cara berfikir kalian yang suka gampang-gampangan: berbeda pendapat
bisa dituduh hingga sebagai rasialis atau fasist. Menjawab tuduhan, lalu
dituduh menyerang pribadi tanpa pernah ditunjukkan di mana letak serangan
pribadi yang dimaksudkan. Tapi kalau menyerang orang lain dengan tuduhan yang
paling besar dan kosong , tidak pernah merasa dirinya telah menyerang pribadi
orang lain. Bisakah kita bersahabat dengan cara lain dan tidak dengan
mentalitas yang begini ini.
Salam.
asahan aidit (saya tidak marah kok).




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise