|
|
Re: menyusun buku turunan: msg#00164
culture.region.china.budaya-tionghua
|
Subject: |
Re: menyusun buku turunan |
Christine menulis:
Dear Bapak/ibu,
Apakah ada yang tau bagaimana menyusun buku turunan?
Keluarga kami (dari pihak suami) punya buku turunan yang sudah tua
umurnya.
Turunan tsb diawali dari generasi pertama sejak kedatangan nenek moyang
(kalo ga salah ingat) namanya Tantin dari kampung (kalo ga salah ingat)
namanya Kulamtaw tahun berapa yah? saya lupa harus nyontek buku turunan
dulu.
Tetapi buku tsb tidak diteruskan lagi sejak +/- 30 tahun yang lalu, dan
saya
berniat meneruskannya tetapi tidak tau caranya.
Mohon penjelasan dan pencerahan.
Terima kasih dan salam,
Christine
Rinto Jiang:
Buku silsilah sebenarnya tidak ada bentuk yang tetap atau standar,
artinya tiap keluarga boleh memiliki buku silsilah dengan gaya mereka
sendiri. Untuk kasus seperti Christine-jie yang ingin melanjutkan
catatan buku keturunan ini, saya kira sudah mudah karena tinggal
mengikuti cara pencatatan yang telah ada di dalam buku tersebut.
Kebetulan buku keturunan ini memang di-update beberapa puluh tahun
sekali, jadi 30 tahun lalu tidak termasuk terlalu lama atau jauh untuk
melanjutkannya.
Pertama, mungkin yang paling dasar adalah penguasaan bahasa Mandarin.
Bila generasi kita telah sulit karena ketiadaan waktu mempelajarinya,
mulai dorong anak2 kita untuk belajar bahasa Mandarin, bukan untuk
chauvinis, namun anggap saja itu sama pentingnya dengan bahasa Inggris
di masa depan. Setelah bisa Mandarin, ada 2 opsi untuk melanjutkan buku
keturunan ini, apakah akan ditulis dalam bahasa Mandarin atau
diteruskan dalam bahasa Indonesia saja. Saya kira sedapat2nya
dituliskan dalam 2 bahasa, bila tidak bahasa Indonesia saja juga tak
apa2.
Yang ketiga, pengumpulan informasi dan pencatatan data 2 generasi ke
atas, karena buku keturunan keluarga suami Christine-jie itu baru putus
30 tahun lalu, saya kira generasi kakek-nenek pasti sudah ada tercatat
di sana, jadi tinggal memasukkan saja generasi suami. Mengenai generasi
seterusnya, anak2 karena mungkin masih akan ada penambahan (misalnya
dari generasi suami masih ada yang belum menikah sehingga belum punya
anak) maka cukup dicatat dulu, namun tidak usah dibukukan dahulu.
Pembukuannya tunggu mereka punya generasi selanjutnya baru dibukukan
saja, jadi tidak usah terlalu banyak pengeditan dalam jangka waktu
tertentu.
Data2 yang menurut saya perlu dicatat:
1. Biografi singkat masing2 anggota keluarga, dicatat saja dalam bahasa
Indonesia atau bilingual bila memungkinkan. Singkat saja juga boleh,
nama Tionghoa/Indonesia, tempat/tanggal lahir, pernikahan, tempat
tinggal terakhir, tempat/tanggal meninggal bila telah mendiang.
2. Puisi generasi keluarga, buat nama generasi (karakter kedua dari
nama Tionghoa).
3. Pesan leluhur. Ini kalau perlu saja, karena ada beberapa keluarga
yang leluhurnya punya prestasi tinggi biasanya akan mencantumkan pesan2
moral untuk generasi berikutnya.
4. Letak (peta) lokasi makam atau tempat abu leluhur. Supaya dapat
dengan mudah tercari oleh generasi2 berikutnya.
Sementara ini saja dulu dari saya. Bila ingin referensi atau saran
lebih lanjut mungkin dapat menghubungi Steve-heng yang merupakan
anggota keluarga marga Gan yang juga telah berhasil menyusun buku
silsilah yang memuat 5000-an keturunan Gan Peng (mandarin: Yan Bin)
yang datang dari Hokkian 300 tahun lalu dan sekarang tersebat di
seluruh dunia.
Rinto Jiang
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
|
|