logo       

Re: Mengapa harus mengharamkah istilah Pribumi dan Non Pribumi?: msg#00160

culture.region.china.budaya-tionghua

Subject: Re: Mengapa harus mengharamkah istilah Pribumi dan Non Pribumi?

Dirgahayu

jawaban kawan Asahan Aidit untuk bung Chan CT
sangat menarik. saya banyak mendapat pelajaran
dan informasi dari uraian bung Asahan Aidit ini.
sehingga perkenankan saya untuk menambahkan
diskusi baik antara kawan Asahan Aidit vs bung
Chan CT.

masalah istilah untuk menamakan diri suatu etnis
adalah sepenuhnya HAK ETNIS BERSANGKUTAN. pemaksaan
penamaan untuk seseorang, sekelompok etnis, sebuah
bangsa adalah sebuah bentuk represif yang sangat
vulgar. kolonial belanda pernah menamakan rakyat
indonesia dgn istilah 'inlander'. tetapi harian
SIN PO akhirnya menolak penggunaan kata 'inlander'
dan menggantinya dengan istilah INDONESIA. harian
SIN PO ini adalah harian pertama yang menggunakan
kata INDONESIA dalam tajuk beritanya.

SIN PO tidak memaksakan kata INDONESIA. tetapi karena
terdapat konsensus di antara para pejuang kemerdekaan
saat itu yang memilih kata INDONESIA maka SIN PO
telah bertindak benar dengan menolak kata 'inlander'
dan menggantinya dengan kata INDONESIA. sekalipun SIN PO
adalah terbitan golongan etnis tionghoa tetapi ternyata
kalangan SIN PO sangat menghormati, kooperatif dan
menunjukkan solidaritasnya terhadap perjuangan kemerdekaan
INDONESIA.

bung Asahan Aidit perlu mengetahui bahwa selain
penindasan fisik terdapat juga penjajahan psikologis
dan represif bahasa/istilah. Lenin memberi perhatian
yang sangat besar untuk masalah POLITIK ISTILAH. kawan
DN. Aidit mengetahui hal ini. sehingga setau saya,
hanya PKI saja yang paling baik menggeluarkan begitu
banyak slogan perjuangan.

golongan tionghoa telah membuktikan diri sebagai
golongan yang sangat toleran, sekalipun belum tentu
bersimpati dan mendukung, terhadap rezim orde baru
dengan tidak terlalu memaksakan kehendak ketika dirinya
diberi-nama CINA, demi semata-mata menghindari konflik
horisontal dan memperparah jalannya kehidupan berbangsa
pasca tragedi 65 yang begitu berdarah dan keji. tetapi
saat ini masanya sudah agak berbeda. diktator suharto
telah mundur sekalipun tak tersentuh, dan sudah saatnya
kita kembali pada proses nation-building yang pernah
diintervensi oleh soehato dan orde baru. salah satu
usaha itu adalah dengan menghormati pilihan penamaan
diri untuk etnis tionghoa.

saatnya, kita menegaskan bahwa bukan hanya golongan
etnis tionghoa saja yang perlu berkontemplasi spt
yang selalu bung Asahan Aidit serukan. tetapi proses
kontemplasi ini harus dilakukan oleh seluruh golongan
rakyat Indonesia. agar kerukunan, saling menghormati
sesama saudara sebangsa dll dapat mulai dipraktekan
oleh seluruh golongan dan latar belakang.

dan sebagai orang yang telah berpihak untuk menentang
segala bentuk penjajahan, saya mengira, kawan Asahan
Aidit pun akan menentang jenis penjajahan 'bahasa'.
sebagai orang muda, saya hendak belajar banyak dari
sikap anti-penjajahan dari para senior saya spt bung
Asahan Aidit ini. sehingga saya pun berusaha dengan
objektif dan terbuka menentang usaha-usaha segregatif
sebuah rezim mulai dari pola-pola represif sampai pada
kebijakan penggunaan istilah yang tampaknya remeh.

sebagai seorang nasionalis kebangsaan indonesia, bung
Asahan Aidit seharusnya tidak mudah terjebak masuk
jerat parochialisme segregatif yang mengutamakan politik
etnisitas. nasionalisme kebangsaan tentu saja memiliki
bobot lebih tinggi dari politik etnis sehingga yang perlu
diutamakan adalah nasionalisme kebangsaan dan pola
identifikasi diri sebagai BANGSA sehingga maksud-maksud
dan usaha-usaha untuk merenggangkan harmonisasi antar
golongan etnis dan usaha membagi rakyat ke dalam golongan
etnis dengan sistem berlapis spt terlihat dalam proyek
penggunaan istilah "pribumi" dan "non-pribumi" harus
DITOLAK, DIHARAMKAN, DILAWAN....

Mayat




--- In budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "BISAI"
<annakarenina@xxxx>
wrote:
> Bung ChanCT yang sangat baik.
>
>
> Saya dapat menangkap makna yang terpositif dari uraian bung:
memblokir rasialisme di semua sudut dan pintu-pintunya yang terkecil
sekalipun. Tapi yang tersisa, juga masih memerlukan peneropongan
lebih lanjut. Di luar karantina, masih ada faktor-faktor terselubung
lainnya yang selalu siap menyebarkan virus gelap dengan berbagai
cara yang salah satunya adalah elitisme, dengan kata atau
phraselogisme, terminologi, yang itu biasanya dilakukan oleh
penguasa dan pejabat tinggi.
> Kata <pribumi> sebagai kata biasa di antra puluhan ribu kata
lainnya di dalam bahasa Indonesia sebenarnya lebih banyak dikaitkan
dengan istilah Antropologi yang bersinonim dengan <penduduk asli>
atau < bumiputera>. Itu juga yang saya maksudkan dengan arti netral
atau arti sesungguhnya dari kata <pribumi>. Tapi lalu kata itu
diberi warna politik oleh para elit bangunan atas yang tentu saja
untuk tujuan politik atau keuntungan politik. Melalui instrusksi,
atau mungkin Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden atau
rencana Undang-Undang dan sebagainya, sebuah kata netral direnggut
dari kamus umum bahasa Indonesia dan dipindahkan ke kamus Politik.
Kamus umum bahasa Indonesia bertambah menipis sedangkan kamus
Politik bertambah tebal. Salah satu budaya bangsa kita adalah budaya
akronim, budaya phraseologi, budaya semboyan dan budaya verbalisme.
Tapi semua budaya itu dimaksudkan untuk membuat tabir kabut,
filsafat semu sebagai senjata buram penguasa bila berhadapan dengan
rakyatnya yang mereka anggap masih bodoh, tidak kritis. Kita ambil
contoh dari yang paling hangat sekarang ini. Perundingan antara
Pemerintah dengan GAM telah diahiri dengan persetujuan yang disebut
MoU itu. Pemerintah NKRI sudah jelas kalah dan mendapat banyak
kritik dari kalangan masyarakat luas di Indonesia. Saya pribadi
menganggap kekalahan itu adalah kekalahan positif karena saya selalu
berpihak kepada semua rakyat yang berontak untuk melawan ketidak
adilan. Lalu apa yang dikatakan oleh salah seorang perunding penting
dari Pihak Pemerintah atas kritik bahwa NKRI tak disebut-sebut dalam
persetujuan itu yang itu juga berarti GAM telah punya senjata
strategis di masa yad untuk kemungkinan memerdekakan diri secara
penuh dan tidak ada keterikatan dengan NKRI. Sang Perunding
mengatakan, itu kan cuma soal "semantik". Dia mengambil dari istilah
Linguistik untuk menghindari kata <penafsiran> karena kalau kata itu
yang dia gunakan risikonya akan lebih besar untuk dikrubutin banyak
orang. Tapi kata <semantik> tidak semua rakyat jelata mengenalnya
yang berarti sang perunding ingin menyemukan kekalahan besarnya dan
berharap sudahlah untuk apa diributkan dan jawabannya cuma sebegitu
saja, masak rakyat mau repot-repot lihat kamus.
> Saya kembali ke istilah <pribumi>. Penguasa ingin mengusir kata
itu dari kamus umum Bahasa Indonesia ,ke kamus Politik dengan diberi
arti rasialisme lalu melarang penggunaan kata itu untuk yang katanya
melawan rasialisme. Nasib kata <pribumi> agak sedikit sama dengan
kata < CINA> yang juga oleh penguasa di suatu periode diganti dengan
kata "TIONGKOK" atau "TIONGHOA"
> Diinstruksikan bahwa kata<Cina> puya sifat penghinaan,
rasialistis. Ini tidak lebih dari sebuah komidi omong penguasa yang
bahkan di bidang bahasapun ingin main diktator. Mungkin di masa yang
akan datang yang tidak terlalu jauh akan ada lagi instruksi tidak
bolen menyebut kata < JAWA> untuk etnis Jawa, karena kata itu
mengandung penghinaan, karena di tengah pasar ada dua orang anak
yang bertengkar yang berlainan etnis, lalu yang satu bilang: "Jawa
lu!!!" dan yang lain bilang: " Dasar lu Batak!!!", Dan ketika ada
yang melerai salah seorang pembela bilang: "Lu Sunda jangan ikut-
ikut!!!". Dan ketika pertengkaran itu bubar seorang dewasa yang lain
bilang sebagai kesimpulan: "Payah deh Melayu...". Bukankah itu semua
mengandung penghinaan ras dan lalu apakah kata: Jawa, Batak, Sunda
dan Melayu harus diganti menurut instruksi Presiden hasil Pilpres
2009?. Kalau kita menuruti norma-norma yang berlaku di pasar atau di
lorong-lorong kampung yang dikuasai geng- geng atau para jagoan yang
mempunyai jargon-jargonnya sendiri dan lalu dijadikan standar umum
bahasa Indonesia dan lalu dikebiri oleh para elit penguasa bangunan
atas untuk tujuan-tujuan politik gelap mereka, maka beginilah nasib
bangsa Indonesia, terpuruk disegala bidang. Ingin memerangi
rasialisme, ahirnya jadi rasialis. Ingin jadi rasialis sejati, eh,
kok dianggap anti rasialis akibat berputar putar di lingkaran setan
istilah bahasa yang diperumit sendiri, sedangkan para elit
menggunakannya sebagai senjata tak terlihat, senjata wasiat untuk
mengadu domba rakyatnya sendiri demi mengeruk keuntungan dan
menyembunyikan
> dosa-dosa mereka agar tak terlihat oleh rakyatnya. Saya setuju
dengan ajakan: Kembalikan kata kepada asalnya yang semula. Tapi
tidak dalam pengertian membikin puisi absurd yang hakekatnya
menegasi semua ujud kata menjadi nihil dan tak berfungsi.
>
> Apakah etnis Cina memang paling banyak menderita
diskriminasi? Ini pertanyaan saya yang timbul dari uraian bung
ChanCT sendiri, tidak bisa saya jawan dengan pasti. Mungkin relatif
ya, mungkin juga relatif bukan. Jawaban yang mendekati kebenaran
obyektif adalah dari hasil jajak pendapt dan statistik yang akurat.
Tapi dari gejala yang lepas dan tersebar di sana sini, jumlah
milyuner Cina dari segi kwalitas jauh lebih banyak dari milyuner
pribumi( ah maaf kalau saya melanggar instruksi ex Presiden Habibi,
tapi betul saya masih belum ada selera lain untuk mengharamkan kata
<pribumi>; hak setiap orang apakah saya akan dituduh rasialis atau
tidak).Tapi bahwa etnis Cina juga menderita akibat diskriminasi
rasialis, itu tidak bisa dibantah. Tapi juga harus dilihat dan
diakui pula bahwa setiap etnis atau seluruh etnis di Indonesia juga
menderita ras diskriminasi di antara mereka sendiri, oleh Penguasa,
bahkan termasuk didiskriminasi etnis Cina juga. Itu juga hal yang
tak bisa dibantah. Oleh karena itu seperti yang juga saya tulis
dalam tulisan sebelum ini, masaalah diskriminasi rasial adalah
masaalah bersama, masaalah seluruh etnis-etnis di Indonesia,
masaalah seluruh bangsa Indonesia dan Etnis Cina bukan satu-satunya
korban. Ini tak akan saya bicarakan lebih banyak. Soal persaingan di
antara etnis-etnis untuk suatu kehidupan yag lebih baik. Dari
pendapat umum Internasional memang diakui bahwa Bangsa Cina adalah
bangsa yang ulet, rajin bekerja dan punya tekad yang luar biasa
dalam mencapai tujuannya. Karenanya, di manapun mereka hidup, mereka
selalu atau hampir selalu menang dalam persaingan yang paling
sengitpun dengan pribumi(maaf) bangsa manapun terutama di Asia. Tapi
apakah rakyat Indonesia bukan rakyat yang ulet dan rajin bekerja?.
Kalau kita melihat kehidupan tani miskin di desa-desa yang bekerja
keras turun temurun yang entah sudah berapa puluh keturunan, tapi
tetap saja miskin, miskin dan miskin hingga detik ini. Apakah mereka
selalu kalah bersaing? Dengan siapa mereka bersaing? Tentu saja yang
pertama-tama dengan tuan tanah atau tani kaya dan juga tidak jarang
dengan tani-tani Cina yang jauh lebih ulet dari mereka ,dan nasib
tani miskin ini sudah berabad-abad selalu kalah bersaing.Kemiskinan
seolah abadi dan memang begitulah kenyataannya. Bila tidak ada
campur tangan rasa keadilan, rasa senasib sepenanggungan sebagai
satu bangsa, maka persaingan yang tidak seimbang itu memang akan
menimbulkan kecemburuan sosial dan pada gilirannya lalu menuju ke
kecemburuan ras dan ini termasuk hukum alam. Perjuangan untuk hidup
selalu menegasi kehidupan yang lain untuk mempertahankan hidup
sendiri. Hal itu hanya bisa dihindari dengan campur tangan rasa
keadilan, rasa senasib sepenanggungan, rasa sebangsa dan tentu saja
rasa sosial yang tebal.Yang menang suka membagi sedikit hasil
kemenangannya pada yang dikalahkan. Karena dalam persaingan
membangun hidup bermasyarakat yang harmonis, keadilan tidak diukur
dari siapa menang berhak menikmati kemenangannya seratus persen
sedangkan yang kalah, matipun tiada ada yang bisa disalahkan. Kalau
begitu, namanya sudah hukum rimba.
> Tentang politik Teng siau Ping yang membikin lokomotif dari orang-
orang yang telah menang bersaing dan telah menjadi kaya lebih duluan
dan sah-sah saja kekayaannya, memang sudah menjadi kenyataan di
Cina. Tapi saya kira tidak bisa diterapkan di Indonesia. Kaum
borjuasi dan konglomerat Indonesia telah dulu dulu dan sejak dulu
sudah kaya-kaya dan Indonesia tidak pernah menjadi negeri Sosialis
seperti Cina atau Vietnam.Pabrik orang kaya di Indonesia umurnya
jauh lebih tua dari umur pabrik orang kaya di negeri Sosialis Cina
maupun Vietnam. Kalaupun mereka mau dianggap lokomotif, maka
lokomotif mereka secara historis cuma menarik gerbong-gerbong
bangkai rakyatnya sendiri untuk dijadikan pupuk alam di seluruh bumi
Indonesia yang sudah semakin gersang itu. Tapi di Cina sekalipun,
lokomotifnya Teng Siau Ping dalam perjalanannya yang masih jauh
belum tentu selalu menarik gerbong-gerbongnya ke desa-desa yang maha
luas itu sambil membagi bagikan harta para multi milyuner yang jadi
masinis itu kepada tani miskin yang masih luar biasa banyaknya di
Cina. Bisa saja lokomotif - lokomotif para Multi milyuner itu
berlalu dengan kecepataan ekspres dan non stop dan para masinis
milyuner cuma melambai-lambaikan tangan pada tani miskin sambil
kadang-kadang melemparkan kue tahun baru dan lalu lenyap begitu
saja. Perbedaan antara super milyuner di Cina dengan kemiskinan
rakyat diseluruh negri adalah mega bak puncak gunung Himalaya dengan
pasir di dasar lautan Atlantik. Mengikuti jalan Cina, Indonesia
sudah punya pengalaman meskipun itu cuma dilakukan oleh PKI.
Kegagalan dan kehancuran PKI justri karena PKI ingin menterapkan
revolusi Cina di Indonesia. Saya tidak anti pikiran ketua Mao, saya
pernah mempelajarinya secara kolektif yang diselenggarakan Partai
secara amat intensif di Cina sendiri maupun di Vietnam. Pikiran
ketua Mao adalah baik dan tidak ada yang jelek. Tapi tidak mungkin
Pikiran ketua Mao dijadikan pedoman revolusi untuk Indonesia karena
Indonesia punya kehususan sendiri sebagai negeri, bangsa dan adat
istiadat.Lain dengan negeri Cina. Begitu pula apa yang sedang
dilakukan di Cina sekarang ini, menurut saya tidak bisa diterapkan
di Indonesia meskipun orang Indonesia bisa menarik pelajaran dan
belajar dari Cina meskipun itu bukan berarti harus menurut jalan
Cina, karena bila demikian ,Indonesia akan sesat jalan seperti di
waktu yang lalu lalu itu. Belajar bukan berarti menuruti tanpa pikir
dan fanatik pada sang guru tapi selalu mencari solusi yang sesuai
dengan keadaan obyektif dan subyektif diri sendiri. Jalan Cina tidak
bisa menjadi jalan Indonesia. Ini bukan soal diskriminasi rasial
atau anti Cina. Saya sangat setuju antara Indonesia dan Cina membina
dan memelihara hubungan yang baik dan sungguh-sungguh, saling
menguntungkan, saling menghormati dan sama derajat dan juga
memajukan perdagangan di antara kedua bangsa. Tapi tidak main jiplak
betapapun hebatnya Cina yang akan datang.
> Bung ChanCT yang saya hormati, inilah beberapa pikiran saya yang
juga sebagai tanggapan atas uraian bung. Saya berpendapat bahwa
keterus terangan di antara kita lebih penting daripada perbedaan
pendapat. Saya berani berterus terang kepada bung karena saya tidak
memasang jarak antara pribumi dan non pribumi melainkan sebagai
orang sebangsa dan setanah air dan mungkin juga senasib.
> Salam yang sehangat hangatnya dari saya.
> asahan aidit.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster :
budaya_tionghua-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx :.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
budaya_tionghua-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise